<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912</id><updated>2011-04-21T13:01:20.541-07:00</updated><title type='text'>HM SOEHARTO MEMBANGUN CITRA ISLAM</title><subtitle type='html'>HM SOEHARTO TELAH WAFAT. KITA MENUNGGU ORANG BESAR YANG AKAN MEMIMPIN NEGERI INI MENUJU ADIL DAN MAKMUR</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>39</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-8701726994544364570</id><published>2008-02-15T23:30:00.000-08:00</published><updated>2008-02-16T12:15:16.869-08:00</updated><title type='text'>Kembalikan Orde Baru (?)</title><content type='html'>Sekitar 53% rakyat Indonesia tak puas dengan jalannya demokrasi. Itulah salah satu hal yang diungkapkan LSI, lembaga survei yang bisa dipercaya.&lt;br /&gt;Andrianto Soekarnen dan Ahimsa Sidarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah habiskah Orde Baru? Ternyata belum, setidaknya, menurut hasil sebuah survei, hampir 60% responden survei tersebut menyatakan bahwa kondisi di masa Orde baru lebih baik daripada sekarang. Tapi, tidakkah demokrasi dengan plus-minusnya kini sudah berjalan di Indonesia dibandingkan dengan pemerintahan otoriter di masa Soeharto? Benar, 65% responden bilang bahwa sistem demokrasi adalah pilihan terbaik bagi Indonesia. Tapi, harap maklum, menurut teori, demokrasi baru berjalan positif bila setidaknya didukung oleh 80% rakyat.&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Itulah hasil survei pertama Lembaga Survei Indonesia, sebuah lembaga yang dimotori oleh Denny J.A. dan kawan-kawan. Para pendiri lembaga ini percaya bahwa demokrasi tak akan berjalan baik bila pemerintah tidak responsif terhadap â€�persepsi, harapan, dan kekecewaan publik yang luas.â€� Dan karena persepsi, harapan, dan kekecewaan publik itu berubah-ubah, penting untuk mengetahui perubahan tersebut. Untuk itulah LSI didirikan, dan lembaga ini akan melakukan survei sekali setiap tiga bulan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap â€�pemimpin nasional, partai politik, lembaga pemerintahan, serta sistem dan nilai demokrasi.â€�&lt;br /&gt;Dalam setiap survei, selain pertanyaan pokok berkaitan dengan topik tetap yang hendak diketahui perubahannya, juga ditambahkan topik yang aktual. Seperti survei LSI pertama ini, yang pengumpulan datanya dilakukan pada 1-20 Agustus lalu dengan 2.240 responden yang tersebar di seluruh Indonesia (kecuali di Nanggroe Aceh Darussalam), selain topik tetap, juga ditanyakan mengenai persepsi responden terhadap para calon presiden (lihat: tulisan kedua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRO-KONTRA ORDE BARU&lt;br /&gt;Usia zaman reformasi yang sudah lebih dari lima tahun ini ternyata belum cukup menghapus hal-hal yang bertentangan dengan kaidah demokrasi. Selain kerinduan akan zaman Orde Baru, sebagian besar responden juga masih mendukung militerâ€”yang mestinya menyingkir dari dunia politik dan pemerintahan (kecuali yang sudah pensiun)â€”masuk ke dalam pemerintahan. Hanya kurang dari 40% responden yang tidak setuju kepemimpinan tentara aktif. Angka ini menunjukkan bahwa ide supremasi sipil pada kenyataannya belum didukung oleh mayoritas masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menjelaskan lemahnya dukungan rakyat terhadap demokrasi? Mayoritas responden menilai sukses-tidaknya sebuah sistem pemerintahan dan negara rupanya dari perspektif ekonomi. Survei ini mengungkapkan, sebagian besar responden berpendapat bahwa kondisi ekonomi mereka dan ekonomi nasional sekarang lebih buruk daripada di masa Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diketahui pula bahwa para pendukung demokrasi adalah mereka-mereka yang tergolong berpendidikan dan mempunyai pendapat yang relatif lebih dari cukup. Mereka inilah yang membutuhkan sistem politik yang memungkinkan mobilitas politik, sehingga mereka dapat terlibat di dalamnya. Dan ini hanya dimungkinkan oleh sistem politik yang terbuka, yang menganggap perbedaan sebagai nilai. Inilah sistem demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila responden survei ini dibagi dua, yang pro Orde Baru dan pro pemerintahan sekarang, akan terlihat bahwa mereka menilai pemerintahan sekarang gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kelompok pro Orde Baru, yang menilai kinerja pemerintahan Megawati tidak membawa kemajuan ternyata jumlahnya lebih banyak daripada yang mengakui sebaliknya. Perbandingannya, 9:7. Sedangkan dari kelompok pro pemerintahan sekarang, yang menilai Megawati membawa kemajuan ternyata lebih besar daripada yang menganggap pemerintahan sekarang tak membawa kemajuan (29:7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula pendapat responden tentang kinerja PDIP, partai pemenang pemilu yang lalu. Ada sedikit perbedaan sebenarnya, bahwa dalam kelompok pro Orde Baru yang menilai PDIP berkinerja baik ternyata sama kuatnya dengan yang menilai sebaliknya. Sedangkan di kelompok pro pemerintahan sekarang yang berpendapat bahwa kinerja PDIP baik ternyata hampir empat kali lebih banyak daripada yang berpendapat PDIP berkinerja buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PARTAI-PARTAI&lt;br /&gt;Survei LSI ini juga mencoba mengungkapkan penilaian beberapa partai terhadap kondisi sekarang dibandingkan di masa Orde Baru. Dari responden yang pendukung PDIP, yang berpendapat kondisi sekarang lebih baik dan yang menilai sebaliknya, jumlahnya sama-sama kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari responden pendukung Partai Golkar, yang menyatakan bahwa kondisi di zaman Orde Baru lebih baik, jumlahnya empat kali lebih banyak daripada yang menyatakan sebaliknya. Di kalangan Partai Kesatuan Bangsa begitu juga, namun perbandingan antara yang menyebutkan Orde Baru lebih baik dengan yang menilai sebaliknya tidak sebesar di kalangan pendukung Golkar. Di PKB, perbandingan itu hanya hampir 2:1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana di dalam partai Amien Rais alias Partai Amanat Nasional? Ternyata responden dari kalangan PAN juga menganggap zaman Orde baru lebih beres, meski perbandingan dengan yang menilai masa kini lebih baik jumlahnya tidaklah begitu besar (hanya 8:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survei LSI ini, sebagaimana survei-survei di negara maju, pun tak mungkin 100% mencerminkan kenyataan. Derajat kesalahannya tentu masih ada. Namun, dibandingkan survei-survei yang lain, setidaknya survei LSI ini lebih luas lingkupnya, dengan pertanyaan-pertanyaan yang saling mengonfirmasi. Dengan demikian, jawaban yang diperoleh lebih bisa dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, hasil survei ini penting. Bila pemerintahan sekarang merasa tak cukup waktu guna melakukan perbaikan-perbaikan, setidaknya hasil ini bermanfaat bagi pemerintahan hasil pemilu tahun depan. Menegakkan demokrasi tanpa membuka kemungkinan kesejahteraan masyarakat meningkat tak akan mendapat dukungan luas. Keberhasilan pemerintahan (demokratis) terancam gagal bila pendukungnya kurang dari 80% rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dalam perkembangannya kemudian LSI bisa membuktikan sebagai lembaga survei yang layak diandalkan, kira-kira LSI akan menjadi lembaga survei yang kredibel seperti Gallup Organization di Amerika Serikat dan Social Weather Stations di Filipina. Hasil survei dua lembaga itu menjadi pegangan politisi dan pejabat dalam mengambil berbagai kebijakan di negara masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat, misalnya, segera setelah George W. Bush mencanangkan perang terhadap terorisme pasca-Tragedi 11 September 2001, Gallup melakukan survei. Hasilnya, 85% penduduk Amerika mendukung kebijakan presiden mereka. Itu sebabnya dengan yakin Bush mengirimkan pasukan ke Afganistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gallup pula yang kemudian mengungkapkan bahwa setelah tentara Amerika mendapat banyak kesulitan di Irak dan kondisi ekonomi dalam negeri memburuk, dukungan terhadap Bush tinggal sekitar 40%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil survei Gallup itu menjadi referensi buat siapa saja di AS yang berniat menyuarakan pendapatnya tentang pemerintahan Bush. Mereka yang semula mendukung Bush dalam survei, misalnya, bukannya tak mungkin akan berpikir ulang: masihkah George W. Bush layak didukung. Yang pasti, tim sukses Bush dalam pemilihan presiden tahun depan harus bekerja keras untuk memenangkan Bush kembali. Dan lawan-lawan Bush nanti tentu tak akan melepaskan peluang dalam kondisi ketika antusias masyarakat AS terhadap Bush menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, sebuah hasil survei sifatnya netral. Hasil ini bisa positif atau negatif tergantung penggunanya. Misalnya saja, menurut survei LSI, seorang calon presiden dari partai tertentu ternyata kurang mendapat dukungan rakyat, lalu si calon dan partainya itu menggunakan segala cara untuk menangâ€”misalnyaâ€”dengan memainkan politik uang sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bagaimanapun, hasil survei bisa menjadi semacam pegangan: bila calon tak populer bisa menang, ataukah survei tersebut yang tidak akurat, atau ada sesuatu yang terjadi. Bila kemudian lembaga pemilu dan pers mencoba mencari jawabannya, bukankah survei bisa menjadi alat bantu untuk mengontrol ada tidaknya penyimpangan dalam pemilu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-8701726994544364570?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/8701726994544364570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=8701726994544364570' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/8701726994544364570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/8701726994544364570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/kembalikan-orde-baru.html' title='Kembalikan Orde Baru (?)'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-6336252012182965245</id><published>2008-02-15T11:49:00.000-08:00</published><updated>2008-02-15T11:50:10.732-08:00</updated><title type='text'>Soeharto dan Teknologi</title><content type='html'>REPUBLIKA&lt;br /&gt;Jumat, 01 Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triharyo Soesilo&lt;br /&gt;Direktur Utama Rekayasa Industri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kriteria kesuksesan seorang pemimpin bangsa adalah melihat keberhasilannya dalam mengembangkan teknologi di negeri yang ia pimpin. Presiden Kennedy pada 25 Mei 1961 di depan anggota kongres dan senat Amerika Serikat mencanangkan untuk mendaratkan seorang manusia di bulan dan mengembalikannya ke bumi sebelum dekade 1960-an berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan ini dicapai oleh AS pada 20 Juli 1969 yang diwakili seorang astronot bernama Neil Armstrong. Walaupun pencapaian ini tidak mampu disaksikan Kennedy yang tertembak di Kota Dallas, Texas, pada 22 November 1963, sejarah tetap mengakui space race (balapan ke bulan) dicanangkan oleh Kennedy tahun 1961.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Ronald Reagan pada 23 Maret 1983 juga membuat sejarah dengan mencanangkan strategi baru untuk meningkatkan pertahanan terhadap serangan peluru kendali bermuatan nuklir. Strategi ini sering dijuluki Star Wars yang intinya meningkatkan teknologi untuk menembak jatuh peluru kendali Rusia yang sedang terbang menuju AS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia berkembang, kita mengenal Presiden Brasil Luiz Incio da Silva (Lula) yang dilantik pada 2003. Sejarah membuktikan berkat dorongannya pengembangan industri bioetanol dari produk sampingan gula di Brasil menjadi semakin maju. Ia memberikan keringanan pajak bagi mobil dengan bahan bakar etanol. Pada 2004 jumlah mobil flex fuel yang hanya 17 persen waktu itu meningkat menjadi 53,6 persen tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto sebagai anak petani pada awal kepemimpinannya memusatkan perhatian pada pembangunan pertanian. Ia kembangkan teknologi intensifikasi dan ekstensifikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena umumnya petani tak puas jika tidak ditunjukkan bukti, Soeharto mengembangkan lahan percontohan. Ia mempunyai lahan penelitian di Tapos untuk mencoba teknologi pertanian dan peternakan. Dia juga menerapkan teknologi informasi penyuluhan dan bimbingan yang disebut intensifikasi massal (inmas) dan bimbingan massal (bimas). Program penyuluhan menggunakan teknologi radio dan televisi, seperti temu wicara program kelompencapir, dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia bisa melipatgandakan produk beras. Indonesia pada 1969 hanya memproduksi 12,2 juta ton beras. Lalu, dengan teknologi baru pada 1984 mencapai produksi 25,8 juta ton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 14 November 1985 Mr Edouard Saouma, dirjen FAO, memberikan penghargaan kepadanya. Soeharto terus mencari teknologi untuk meningkatkan produktivitas. Dia mendorong pemakaian pupuk yang lebih besar ukurannya sehingga lebih hemat (pupuk briket). Namun, program ini terhenti karena berbagai kepentingan pribadi keluarga Soeharto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana kepiawaian Soeharto dalam merangkul dan mengembangkan teknologi di luar teknologi pertanian, misalnya di bidang industri? Di sinilah peran Soeharto terlihat tidak fokus. Dia mengembangkannya secara lebar (broad-based strategy). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya pengembangan teknologi industri diarahkan pada substitusi impor. Seluruh pengembangan untuk memproduksi produk secara mandiri. Pada era 1970-an sebagian besar pabrik dibangun oleh teknolog asing untuk menghasilkan produk substitusi impor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilang Dumai yang dibangun oleh kontraktor Jepang Ishikawajima Harima Industries Co diresmikan tanggal 8 September 1971, Kilang Sei Pakning yang dibangun Refican Ltd (Refining Associates Canada Limited) dialihkan ke Pertamina pada September 1975. Kilang minyak Cilacap yang dibangun oleh Fluor, AS, diresmikan tahun 1977, pabrik pupuk Kujang, dan pabrik pupuk Pusri yang juga dibangun oleh perusahaan AS, Kellogg, adalah berbagai industri yang dibangun untuk melakukan substitusi impor. Namun, pembangunan pabrik maupun kilangnya dilakukan oleh kontraktor asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang 1980-an, setelah melihat cadangan minyak dan gas mulai menurun, mulailah Soeharto mengembangkan program pembangunan kemandirian industri dalam negeri, tidak hanya untuk melakukan substitusi impor. Tujuan utamanya untuk meningkatkan produk ekspor nonmigas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto tetap menerapkan broad-based strategy dengan berbagai regulasi. Keputusan Presiden yang mensyaratkan kandungan lokal pada semua tender pemerintah dikeluarkan. Keppres ini pada awalnya diterapkan dan dikendalikan oleh Mensesneg Soedharmono dan kemudian dilanjutkan oleh Menko Ekkuwasbang Hartarto dan Saleh Afif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk setiap tender pemerintah waktu itu, semua kontraktor harus menghadap ke kantor Sekretariat Negara. Pada era ini dibentuk departemen baru yang mengurus peningkatan penggunaan produksi dalam negeri yang antara lain dijabat oleh Ginandjar Kartasasmita. Pada era inilah tumbuh berbagai industri dalam negeri dan perusahaan nasional. Mereka mendapatkan kesempatan membangun dan memproduksi produk dalam negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, kelompok Bakrie memperoleh preferensi mengembangkan industri perpipaan, kelompok Bukaka mendapat kesempatan untuk membangun industri belalai pesawat terbang dan pompa angguk, kelompok Arifin Panigoro mendapat kesempatan membangun industri transmisi listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ada PT Rekayasa Industri mendapatkan kesempatan untuk membangun pabrik pupuk, PT Inti Karya Persada Teknik mengembangkan kemampuan membangun pabrik LNG, PT Tripatra Engineers mendapat kesempatan membangun fasilitas pengolahan gas alam. Juga ada industri strategis, seperti PT Dirgantara Indonesia, PT Inti, PT Pindad, dan PT PAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang patut disayangkan adalah fokus industri pada pengolahan produk pertanian yang disarankan oleh para ekonom saat itu tidak digubris oleh Soeharto. Karena kepiawaian Habibie, Soeharto lebih memilih teknologi tinggi (high-technology) industri pesawat terbang ketimbang teknologi pengolahan industri agro pascapanen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri penggilingan padi menjadi tidak terintegrasi. Industri gula tidak efisien. Industri produk oleokimia yang merupakan produk hilir kelapa sawit tidak mendapat perhatian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah membuktikan kebijakan meninggalkan teknologi pascapanen produk pertanian adalah kesalahan utama Soeharto di bidang teknologi. Ini yang membuat Indonesia saat ini belum memiliki keunggulan industri pengolahan produk pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sebuah negara yang mempunyai keunggulan lintasan matahari yang sangat panjang di khatulistiwa. Salah satu keunggulan kompetitif dibanding negara lain adalah cuaca yang baik dan juga energi matahari sangat berlimpah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal pemerintahannya, Soeharto menyadari itu dengan menerapkan berbagai teknologi untuk mendorong swasembada produk beras. Namun, pada akhir masa kepemimpinannya, Soeharto melupakan keunggulan ini dan terpukau pada teknologi tinggi yang bahan bakunya tidak tersedia di Indonesia. Itulah catatan sejarah Soeharto di bidang teknologi hingga kita bernasib seperti sekarang ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-6336252012182965245?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/6336252012182965245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=6336252012182965245' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/6336252012182965245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/6336252012182965245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/soeharto-dan-teknologi.html' title='Soeharto dan Teknologi'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-525333474897476737</id><published>2008-02-15T11:42:00.001-08:00</published><updated>2008-02-15T11:42:43.179-08:00</updated><title type='text'>Melihat Pak Harto sebagai Paradoks</title><content type='html'>SINAR HARAPAN &lt;br /&gt;14 JANUARI 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Syafruddin Azhar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan, Vladimir Ilych Lenin (1870-1924) bertanya kepada seorang sahabatnya, Sigizmund Krzhizhanovsky (1887-1950): “Tahukah kau kebusukan terbesar itu?” Rekannya ini tidak menjawab. Maka jawab Lenin, “Yaitu berumur lebih dari 55 tahun.” &lt;br /&gt;Lenin sendiri tak sampai mencapai “kebusukan” itu. Dia mati muda, 54 tahun. Setahun kurang untuk mencapai “kebusukan” itu. Namun sesuatu yang lebih busuk mulai merusak: belum lama jasad Lenin dibalsem di mausoleum, para wakilnya berebut kuasa.&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, persaingan keras dan kejam dalam memperebutkan kursi kekuasaan itu terjadi antara Gregory Zinoviev (1883-1936), Leon Trotsky (1879-1940), dan Joseph Stalin (1878-1953). Sejarah Uni Soviet membuktikan Stalin-lah yang memenangi persaingan itu, walaupun dalam salah satu “surat wasiat”-nya Lenin menyatakan bahwa “Stalin terlalu kasar”.&lt;br /&gt;Belum lama berada di puncak kekuasaan, Stalin segera membersihkan lingkungannya dari musuh dan rival politik. Dia segera menyeret Zinoviev ke pengadilan bersama seluruh bekas pimpinan teras Partai Komunis semasa Lenin. &lt;br /&gt;Ia pun mengasingkan rival utamanya, Trotsky, ke luar negeri dan membunuhnya di kemudian hari. Dan rakyat pun dikerahkan untuk berseru, “Tembak saja anjing-anjing gila itu!” &lt;br /&gt;Di hari-hari terakhirnya, Stalin semakin parah dengan “penyakit” megalomania itu. Kepada stafnya yang berkunjung, dia kerap bertanya penuh selidik, “Kenapa hari ini kau selalu menghindari pandanganku?” Yang ditanya esok harinya bisa masuk bui.&lt;br /&gt;Sejarah politik di sini, mungkin pernah mengalami situasi buruk seperti itu. Dulu, politik represif—menekan, mengekang, menahan, dan menindas—menjadi semacam momok mimpi buruk bagi para oposan atau mereka yang berseberangan (berbeda pendapat) dengan rezim. Orde Lama dan Orde Baru, konon, sama saja. &lt;br /&gt;Soekarno dan Soeharto adalah “orang kuat” yang pernah memimpin negeri ini. Ada hitam dan putih di sana. Tentu saja kemelut, krisis, dan kekejaman politik di masa lalu itu tidak sama dengan yang terjadi di Uni Soviet era Stalin. Namun, di sini ada kelompok “Petisi 50”, seteru Soeharto. Dulu, ada pemberontak republik yang dimusuhi Soekarno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Pembangunan&lt;br /&gt;Bangsa ini pun pernah mengingat Soeharto dengan kebijakannya yang progresif: stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi. Dalam menggerakkan kebijakan itu, ada canda tawa dan isak tangis sebagai sebuah dampak sosial-politik. Sayangnya, terlalu banyak terdengar isak tangis jeritan daripada canda tawa riang. Lalu kita mengenang Soeharto sebagai “Bapak Pembangunan”. &lt;br /&gt;Orangtua itu, kini telah senja di pembaringan. Orangtua itu, Haji Muhammad Soeharto tak lagi berada di singgasana. Pada 21 Mei 1998, ia mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia, dan menyerahkan jabatan itu kepada wakilnya, B.J. Habibie. Setelah tak lagi berkuasa, Pak Harto mulai dihujat dan didakwa telah melakukan tindak pidana korupsi atas tujuh yayasan yang dipimpinnya. Orang kuat yang selama 32 tahun menjadi pusat “penghadapan” itu dituntut menghadap “kursi pesakitan” sebagai terdakwa.&lt;br /&gt;Dulu, ketika rezim Orde Baru masih berkuasa (1967-1998), siapa pun yang menghadap Pak Harto, mereka selalu duduk teratur dengan kedua tangan disilangkan. Kadang-kadang para penghadap itu menunduk dan mencium tangannya. Di sini terlihat, Pak Harto adalah pengayom dan panutan. &lt;br /&gt;Mereka menerima dengan rasa bangga. Orang-orang terdekatnya tak ada yang berani berkata aneh. Ketika menyaksikan di televisi detik-detik Pak Harto mengumumkan pengunduran dirinya, Amien Rais, tokoh yang berada bersama mahasiswa di ujung tombak gerakan reformasi (1998), tertegun dalam perasaan sentimentil.&lt;br /&gt;“Ketika mencermati pengumuman Pak Harto berhenti menjadi presiden, 21 Mei 1998 lalu, saya lega dan bahagia, tetapi juga sedih dan terharu. Lega dan bahagia karena apa yang diperjuangkan mahasiswa bersama rakyat, akhirnya berhasil. Namun juga sedih dan terharu karena sebagai bangsa yang besar, kita telah mengulangi kesalahan sejarah dalam waktu yang sangat singkat, ” tulis Amien Rais di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran yang Asing&lt;br /&gt;Seorang perempuan Jawa yang santun, pernah berkata jujur. Ia tak kuasa menahan tangis haru ketika Pak Harto berhenti menjadi presiden. Di matanya, Pak Harto adalah sosok Jawa yang sempurna dalam mengendalikan rasa. Pak Harto adalah sebuah nasib tragis, juga paradoks. Pelajaran selalu ada di mana-mana. Tetapi, kesalahan juga selalu dihamparkan ke mana-mana. Seperti juga partai politik yang mati karena menelan dustanya sendiri.&lt;br /&gt;Penyair Inggris, Lord Byron (1788-1828), dengan agak romantik bicara ihwal kebenaran. Katanya, “This is strange, but true, for truth is always strange.” Ini adalah asing, tetapi benar karena kebenaran itu selalu asing, katanya. Suatu gugatan terhadap kebenaran, bagaimana yang asing tetap kebenaran, dan karena itu kebenaran selalu asing. Setidaknya, kita mencoba memahami tentang kebenaran, yang di dalam kenyataan, bukan mustahil kebenaran itu sebagai sesuatu yang asing. Namun kendati asing, kita masih mujur bahwa kebenaran itu ada.&lt;br /&gt;Kita barangkali ingin terlibat dalam diskursus persuasif, bahwa proses peradilan yang melibatkan Pak Harto perlu dilihat dari dua sisi mata uang yang berbeda. Ada kaitan antara keadilan, penegakan dan kepastian hukum dengan pemulihan ekonomi. Untuk menjalin komponen ini, dibutuhkan sikap kenegarawanan yang menempatkan kepentingan negara dan bangsa sebagai yang tertinggi.&lt;br /&gt;Eratnya korelasi antara penegakan hukum dan pemulihan ekonomi ini pernah ditegaskan oleh sosiolog dan ahli ekonomi-politik Jerman, Max Weber (1864-1920). Kehidupan ekonomi menuntut terciptanya sistem hukum yang dapat memberikan prediktabilitas tinggi, sehingga dapat dimasukkan dalam perhitungan ekonomi. Penulis esai populer, “Die protestanische Ethik und der ‘Geist’ des Kapitalismus” (1904-1905) ini tak berharap terciptanya undang-undang (UU) dan peraturan hukum sebanyak-banyaknya. Ia lebih berharap, bagaimana peraturan yang ada itu capable sebagai alat penegakan hukum. Dengan kata lain, masih ada satu soal komplementer, yakni perilaku. Sebab UU dan peraturan hukum satu soal, perilaku—keseriusan dalam menegakkan hukum—soal lain lagi.&lt;br /&gt;Kini, Pak Harto terbaring di RS Pertamina. Orang yang telah sepuh ini tampak tak berdaya, penuh dengan alat bantu medis di tubuhnya. Bagi bangsa ini, dilema proses peradilan perkara korupsi yang dituduhkan kepadanya merupakan sebuah paradoks politik. Kita, rasanya, perlu memperhalus nurani dalam melihat hitam putihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah peneliti pada Lembaga Pemerhati Kebijakan Publik (LPKP)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-525333474897476737?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/525333474897476737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=525333474897476737' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/525333474897476737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/525333474897476737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/melihat-pak-harto-sebagai-paradoks.html' title='Melihat Pak Harto sebagai Paradoks'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-471676024459887987</id><published>2008-02-15T11:40:00.001-08:00</published><updated>2008-02-15T11:40:34.339-08:00</updated><title type='text'>Soeharto sebagai Militer</title><content type='html'>SINAR HARAPAN&lt;br /&gt;28 JANURAI 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Daud Sinjal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Jenderal Purnawirawan Soeharto sejak 1978 sudah menjadi mantap dan tak tergoyahkan. Sidang umum MPR di Bulan Maret tahun itu telah menetapkan Soeharto untuk meneruskan jabatan kepresidenannya pada periode ketiga, dan masih membekalinya dengan wewenang penuh untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk menyelamatkan Pancasila dan pembangunan nasional. Perlawanan terakhir dari gerakan penentangnya, yang center of gravity-nya di ITB Bandung sudah ditumpas sejak 1 Februari 1978.&lt;br /&gt;Memang masih ada kelompok kelompok dissident seperti Forum Studi dan Komunikasi (Fosko) TNI, Lembaga Kesadaran Berkonstitusi, dan Petisi 50. Mereka secara terbuka terus mengingatkan Soeharto untuk menjalankan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen serta tidak mempersonifikasi Pancasila sebagai dirinya pribadi. &lt;br /&gt;Tapi, kendati para concerned citizen itu banyak yang mantan komandan tentara, kegiatan mereka itu tidak punya kekuatan dan tidak memberi dampak pada kedudukan Soeharto karena “di luar aturan main yang konstitusional dan institusional”. Lagi pula, ABRI sudah terintegrasi, dan panglima, para kepala staf angkatan dan kepala kepolisian sudah berikrar mendukung kepemimpinan Soeharto. &lt;br /&gt;Tapi, di luar gerakan moral yang berbicara terbuka itu, banyak pula pihak yang mengutuk di belakang punggung Soeharto. Mereka adalah para keluarga korban yang terbunuh dalam operasi pemulihan keamanan dan ketertiban, atau mereka yang dipenjara atas berbagai tuduhan, mulai dari keterlibatan dengan PKI, gerakan subversi, separatisme yang mengancam kestabilan dan merongrong kewibawaan pemerintah, sampai kriminal yang non-idelogis dan a-politis. &lt;br /&gt;Ada juga yang gemar “ngrasani” Pak Harto. Dan kebanyakan dari mereka itu juga adalah para purnawirawan jenderal. Mereka menggunjingkan Soeharto dengan nada merendahkan dan mengecilkan kepemimpinannya. &lt;br /&gt;Sesama mantan pejuang kemerdekaan yang sinis ini sempat “makan sekolahan”—di MULO, AMS, dan HBS. Mereka banyak membaca buku dan karenanya merasa lebih tahu, “HBA” (has been abroad), berbahasa Indonesia yang baik dan benar, serta lancar bercakap-cakap dalam bahasa Belanda atau Inggris. &lt;br /&gt;Mereka melihat Pak Harto sebagai hanya sekolah “ongko loro”, cuma lulusan sekolah calon prajurit (kaderschool) KNIL Gombong, tidak membaca buku strategi perang, apalagi berpengetahuan sosial politik. Bahasa Belandanya tidak bagus, dan dalam pidato resminya, Soeharto sering mengucapkan kata dan frase “daripada”, “semangkin”, dan “sudah barang tamtu”, yang jelas-jelas menyalahi kaidah bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan Soeharto sebagai Militer&lt;br /&gt;Tapi tidak semua orang dari kalangan elite perwira yang pandai-pandai itu punya negative thinking terhadap Soeharto. Sebagai wartawan yang meliput bidang Hankam, saya sering bertemu dan mengobrol dengan perwira-perwira, baik yang suka menggerutu maupun yang memandang Soeharto secara lebih objektif. &lt;br /&gt;Oleh karena yang menggunjingkannya adalah kalangan militer, perwira-perwira yang lebih gentleman itu membandingkan kelebihan Pak Harto sebagai militer dengan para jenderal yang merasa dirinya pintar itu. Dari sisi militer, Soeharto harus dinilai keberhasilannya yang menentukan di empat titik persimpangan jalannya sejarah RI. &lt;br /&gt;Pertama, sekalipun dirinya diragukan sebagai pencetus ide serangan umum atas Yogyakarta pada 1 Maret 1949, tapi pelaksanaan serangan itu jelas terletak di tangan Soeharto. Keberhasilannnya menggariskan strategi dan taktik yang jitu, serta kepemimpinannya memimpin operasi mengagetkan Belanda dan menyadarkan dunia internasional tentang masih tegaknya TNI dan RI. Pihak Belanda sendiri mengakui kebolehan dari serangan Letkol Soeharto ke Yogyakarta tersebut. Serangan Yogyakarta mempengaruhi jalannya perang diplomasi dan memaksa Belanda menyelesaikan permasalahannya dengan RI melalui perundingan. &lt;br /&gt;Persimpangan yang kedua adalah pada 1 Oktober 1965. Apa yang akan terjadi dalam sejarah RI kalau ketika itu Mayjen Soeharto, sebagai Panglima Kostrad, tidak segera bertindak menangkal usaha kudeta dan memulihkan keamanan dan ketertiban.&lt;br /&gt;Ketiga, ia adalah satu-satunya panglima militer di Indonesia yang pernah memimpin kekuatan tentara terbesar setelah Perang Dunia II. Sebagai Panglima Komando Mandala perebutan Irian Barat, dari Januari sampai Agustus 1962, ia mengonsentrasikan satu korps tentara berkekuatan sampai 200.000 prajurit, serta menyiapkan operasi gabungan dari keempat angkatan, darat, laut, udara, dan kepolisian, juga sukarelawan. Operasi yang diberi nama Jayawijaya ini memang tidak terjadi karena keburu tercapai kesepakatan damai dengan Belanda di New York. &lt;br /&gt;Bagaimanapun, Panglima Kostrad merangkap Panglima Wilayah Indonesia Timur itu sempat membawahi segenap arsenal ABRI yang cukup modern masa itu, ada 120 kapal mulai dari penjelajah berat, kapal perusak, kapal selam, sampai kapal angkut. Ada puluhan pesawat tempur, terdiri dari pengebom strategis Tupolev -16 dan 16 KS, penyergap MIG 17 dan 21, Ilyushin. Ditambah pula kapal dan pesawat Pelni dan Garuda serta awaknya yang dimiliterkan. Ia mengontrol mandala perang yang terentang mulai dari Utara di Moroati, sampai Selatan di Kupang. Kepadanya juga di bawah-komandokan (BKO) pangkalan udara utama (Lanuma) Halim PK, Lanud Madiun dan Malang, serta pangkalan armada di Surabaya. Pangkalan penyerangannya terpusat di Teluk Peleng, Banggai Kepulauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi Khusus ke Malaysia&lt;br /&gt;Kalau mau ditambahkan, masih sebagai Panglima Kostrad, merangkap Panglima Mandala Darat Siaga (dalam rangka Dwikora–mengganyang Malaysia), ia mengendalikan “operasi khusus“ untuk menghentikan konfrontasi dengan Malaysia. Operasi intelijen ini cukup rumit, karena PM Malaysia Tengku Abdulrahman Putra dan Presiden RI Sukarno saat itu masih dalam suasanan “marahan”. &lt;br /&gt;Di Jakarta, Soeharto berhasil mem-fait-accompli Sukarno untuk berdamai lagi dengan Malaysia. Di Kuala Lumpur, Wakil PM Tun Razak berhasil membujuk Tengku Abdulrahman untuk rujuk dengan Indonesia. Kerukunan kembali dua bangsa serumpun itu menjadi ancang-ancang bagi pembentukan perhimpunan bangsa bangsa Asia Tenggara (ASEAN). &lt;br /&gt;Siapa di antara jenderal-jenderal yang meragukan Soeharto yang punya prestasi secara militer yang melebihi atau sekurangnya sama seperti yang ditunjukkan oleh Soeharto. Jenderal Yani dikenal cuma ketika menyelesaikan PRRI di Sumatera Barat, Kawilarang jadi berita ketika berhasil mengatasi situasi di Medan, Makassar, dan Jawa Barat (saat operasi tahap I terhadap DI/TII). &lt;br /&gt;Panglima Siliwangi Ibrahim Adjie berhasil memimpin divisinya menyelesaikan pemberontakan Andi Selle, Kahar Muzakkar, Suomokil, dan Kartosuwiryo. Tapi empat operasi yang dijalankan Soeharto di atas adalah menentukan jalannya sejarah RI. Dan kesemua keberhasilan itu dilakukannya ketika ia masih murni sebagai militer profesional. &lt;br /&gt;Soeharto boleh jadi bukan pemikir, dia cuma mengandalkan insting. Tapi begitu ia memegang komando dan harus melaksanakannya, dia melakukannya dengan lugas dan tuntas. Ketika ia berkuasa ia menjalankan kekuasaannya itu tanpa bimbang dan ragu. Soegeng Sarjadi, pengamat politik, pembawa acara perbincangan di TV, pernah bertamu pada Soeharto setelah beliau lengser. Kepada Soegeng, Pak Harto bilang: “Kekuasaan itu untuk dipergunakan dan dijalankan, bukan untuk dibagi-bagi”.n&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-471676024459887987?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/471676024459887987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=471676024459887987' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/471676024459887987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/471676024459887987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/soeharto-sebagai-militer.html' title='Soeharto sebagai Militer'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-3702360051623609241</id><published>2008-02-15T11:38:00.000-08:00</published><updated>2008-02-15T11:39:22.045-08:00</updated><title type='text'>Soeharto dan Orde ”Tak Tersentuh”</title><content type='html'>SINAR HARAPAN&lt;br /&gt;30 JANUARI 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Andi Arief&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto adalah diktator yang berhasil. Apa boleh buat, dari satu iklim politik yang suka latah seperti sekarang, saya terpaksa mencatatnya begitu. Kepergiannya kemarin diiringi liputan media massa luar biasa, live, on the spot, real time, menit per menit. Kentara sekali jika obituarinya telah selesai ditulis, atau direkam, jauh hari sebelum bekas penguasa rezim Orde Baru itu meninggal dunia.&lt;br /&gt;Media massa, meski tak semua, menghadirkan liputan kematiannya bak sebait ode bagi seorang yang sarat tanda jasa. Satu stasiun televisi bahkan memutar kembali riwayat hidupnya dengan iringan lagu “Gugur Bunga”. Terkesan kepada kita Soeharto seperti seorang pahlawan besar yang tamat berlaga di medan perang. Tapi bagi saya, lagu itu justru menyeret ke arah komplikasi sejarah, dan juga hari depan politik Indonesia. Satu momen yang tiba-tiba membuat saya terlempar ke masa sepuluh tahun silam. &lt;br /&gt;Dari sudut sel gelap tempat saya ditahan aparat keamanan Orde Baru, sayup-sayup terdengar lagu “Gugur Bunga” menyayat. Hari-hari di Bulan Mei 1998, dari radio transistor penjaga sel, telinga saya menangkap berita tiga mahasiswa ditembak mati di Universitas Trisakti. Mereka jadi martir gerakan mahasiswa pro demokrasi dan rakyat yang tak percaya lagi dengan rezim Orde Baru. Saya dan kawan-kawan mahasiswa yang diculik, lalu ditahan itu yakin, inilah orkes pembuka bagi tumbangnya kediktatoran. &lt;br /&gt;Sepekan kemudian, Soeharto mundur. Lakon Indonesia yang hamil tua itu akhirnya usai. Orde politik baru telah lahir. Tapi, rupanya perubahan tak selalu menghasilkan kemurnian. Ratusan ribu mahasiswa hari itu bermimpi rakyatlah yang menang. Lalu, pemerintahan baru bisa membawa cita-cita tentang Indonesia yang makmur dan adil, yang bebas represi dari tentara bangsanya sendiri. &lt;br /&gt;Demokratis dan bermartabat. Pokoknya semua hal normatif, dan yang kini terdengar naif. Sepuluh tahun terakhir kita mencatat bahwa Soeharto adalah ”sang tak tersentuh”. Semangat menumbangkan sang diktator satu dekade silam, kini hampir sama kencangnya dengan gairah merayakannya kembali sebagai pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Marcos dan Chun Do Hwan&lt;br /&gt;Apa boleh buat. Mimpi reformasi itu pun kini hanya sepertiganya berhasil. Memang, ada kelegaan bahwa politik kini sudah menjadi urusan sipil. TNI dengan besar hati kembali menjadi militer profesional. Pers boleh bebas bicara, dan partai politik tumbuh seperti jamur. Ekonomi relatif lebih baik, meski banyak yang mengigau bahwa zaman Soeharto keadaan jauh lebih enak. Tak soal. Mungkin mereka adalah orang-orang dari kaum yang memilih perut kenyang, tapi rela jika bermimpi pun dilarang. &lt;br /&gt;Tetapi, sebagai bekas penguasa satu rezim terpanjang dalam sejarah Republik Indonesia—mengalahkan Soekarno, pendahulunya, Soeharto adalah produser sekaligus produk dari satu tradisi politik yang berbahaya bagi demokrasi. Dia percaya rakyat tak butuh demokrasi, karena pemimpin tahu segalanya. Pancasila dipermak menjadi mantra menghidupkan kembali negara organis gaya fasisme Jepang. Soeharto, dengan patrimonialisme yang ditanamkan pada pengikutnya, menjelma menjadi struktur otoriter itu sendiri. &lt;br /&gt;Dia tak cukup lagi dilihat sebagai pribadi. Kekuasaan otoriter, oligarki ekonomi bertopang kronisme, tradisi politik “asal bapak senang”, wadah tunggal, penangkapan kaum oposan dengan brutal, agaknya telah menjadi bagian dari ”Soehartoisme”. &lt;br /&gt;Di tengah politik Indonesia yang kian liberal hari ini, ajaran itu mungkin mulai lapuk. Tapi toh, politik liberal itu juga membuat Soeharto bisa menutup hari akhirnya dengan lebih terhormat. Nasibnya, jelas lebih baik ketimbang koleganya bekas presiden Filipina&lt;br /&gt;Ferdinand Marcos, yang digulingkan people power pada 1986. Hingga ajalnya tiba, Marcos sempat tak diizinkan pulang ke negerinya oleh penguasa baru hasil reformasi politik di sana. Di Korea Selatan, bekas presiden Chun Do Hwan, yang sebetulnya sulit disebut diktator ulung, tapi tersandung kasus korupsi. Dia akhirnya bersedia masuk bui. Chun lalu dikenang sebagai contoh moral politik bertanggung jawab dari bangsa Korea.&lt;br /&gt;Perginya Soeharto jelas meninggalkan warisan perkara publik yang belum tuntas. Bahkan, kita merasakan Soehartoisme seperti berdenyut kembali. Ketika dia sedang sakit berat pun, tiba-tiba segelintir elite politik melantunkan koor maaf, minta kejahatan politik dan ekonomi Suharto dihapuskan saja dari benak rakyat. Kita lalu seperti putus asa dengan hukum. Lebih parah lagi, kita lupa bahwa penyelesaian kasus Soeharto adalah amanat reformasi, dan telah menjadi satu ketetapan di MPR RI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memburu Pewarisnya &lt;br /&gt;Tentu, setelah Soeharto pergi, warisan perkara itu menjadi beban negara, keluarganya dan juga masyarakat. Bagi negara, pintu rekonsiliasi bagi masa lalu lenyap sudah, padahal masih banyak perkara korban pelanggaran hak asasi manusia oleh rezim Orde Baru belum lagi tuntas. &lt;br /&gt;Sepatutnya, saat Soeharto minta maaf dulu, sewaktu dia turun, penguasa baru membawanya ke pengadilan. Mereka yang menjadi korban politik kejahatan atas kemanusiaan, dari tragedi 1965 sampai kasus Lampung, Aceh, Papua, dan banyak lagi, bisa menemukan jawaban pasti secara legal dari negara. Kini, pemerintah tentu menjadi lebih sulit merebut kembali harta yang diselewengkan Soeharto melalui berbagai yayasan, atau mengeduk kembali timbunan uangnya di luar negeri, termasuk mengadili perannya dalam kasus BLBI yang macet itu. &lt;br /&gt;Saya turut bersedih, bukan mengikuti anjuran berkabung nasional selama sepekan itu. Yang menyedihkan adalah kepergian Soeharto dengan warisan perkara. Sebagai bangsa, kita seakan telah gagal memberi contoh yang baik bagaimana menamatkan sebuah transisi dari rezim otoroiter ke demokrasi. Tidak jelasnya status hukum Soeharto sampai dia meninggal, adalah tragedi besar bagi reformasi politik dan hukum Indonesia. Ketidakjelasan kasusnya sekaligus menjadi pendidikan politik buruk bagi generasi penerus, seakan menjadi pemimpin berarti berhak menjadi yang ”tak tersentuh”.&lt;br /&gt;Apa boleh buat. Soeharto adalah diktator yang berhasil. Dia mungkin pergi dengan tenang. Tetapi rakyat yang mencatat kesalahannya, mungkin akan terus memburu keadilan dari siapa pun yang menjadi pewarisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah mantan Ketua Umum Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-3702360051623609241?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/3702360051623609241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=3702360051623609241' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/3702360051623609241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/3702360051623609241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/soeharto-dan-orde-tak-tersentuh.html' title='Soeharto dan Orde ”Tak Tersentuh”'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-1789273937462529632</id><published>2008-02-14T18:47:00.000-08:00</published><updated>2008-02-14T18:48:38.846-08:00</updated><title type='text'>Berebut Rp 14 Triliun</title><content type='html'>TEMPO Edisi. 51/XXXVI/11 - 17 Februari 2008 &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGUSUT harta Soeharto, sebetulnya, tak semusykil mencari jarum di tumpukan jerami. Yang dibutuhkan hanyalah sikap keras hati, tekad bulat, dan keyakinan. Di mana ada niat, di situ ada jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan itu sudah terbentang di depan mata. Kalau mau, aparat penegak hukum bisa jelas melihatnya: sidang perceraian anak ketiga Soeharto, Bambang Trihatmodjo, dengan Halimah Agustina Kamil. Yang menarik bukan soal hakim mengabulkan permohonan cerai Bambang dan dilawan Halimah dengan naik banding, melainkan aset luar biasa besar dalam sidang itu. Jumlah yang diperebutkan Rp 14 triliun—barangkali merupakan harta gono-gini terbesar dalam sejarah Republik Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, cerita perceraian itu bagai telenovela yang membius. Simak saja. Pengacara Halimah meminta pengadilan menyita sejumlah aset milik pasangan itu. Halimah khawatir harta mereka dipindahtangankan sebelum perceraian itu mendapat ketetapan hukum. Ibu tiga anak itu curiga Bambang memindahkan harta mereka kepada Mayangsari, penyanyi sintal yang kini menjadi istri kedua suaminya. Tentu Halimah takut seribuan hektare tanah yang tersebar di Jakarta, Purwakarta, Pulau Seribu, dan Bali, juga puluhan ribu lembar saham, belasan mobil, dan kapal, tiba-tiba lepas begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aparat bisa mulai dengan menilai harta milik Bambang. Majalah Time tahun 1999, misalnya, pernah menyebut Bambang Trihatmodjo memiliki duit Rp 1,8 triliun. Forbes, Desember 2007, menaksir pundi Bambang menyimpan Rp 2 triliun sekaligus mendapuk lelaki itu sebagai orang terkaya ke-33 di Indonesia. Dari mana hartanya bisa bertambah begitu hebat? Kenyataan ini bertentangan dengan pernyataan Keluarga Cendana, yang selalu membantah punya banyak banda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit mempercayai bahwa kekayaan Bambang diperolehnya dari bisnis yang ”normal-normal” saja. Sudah jadi rahasia umum, Keluarga Cendana mendapat banyak fasilitas dalam menjalankan usahanya. Bimantara, induk bisnis Bambang Trihatmodjo, didirikan pada 1981, tahun yang dipercaya banyak pengamat sebagai awal ”masa keemasan” kroni Soeharto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimantara, misalnya, melalui Satelindo, adalah perusahaan pertama yang mendapat lisensi jaringan seluler GSM. Bambang pula yang paling dulu mendapat izin mendirikan stasiun televisi swasta di Indonesia. Bambang pernah memonopoli perdagangan jeruk di Kalimantan melalui PT Bima Citra—meski kemudian dilepas karena dikritik merugikan petani. Pada 1999, Bambang membeli 99 persen saham Bank Alfa—hanya dua pekan setelah Bank Andromeda miliknya dilikuidasi pemerintah. Tak seperti bankir lain yang masuk kategori ”orang tercela”—karena itu tak boleh memiliki atau memimpin bank—Bambang justru melenggang tanpa hambatan. Kala itu beredar kabar bahwa Bank Indonesia menutup Andromeda agar tidak muncul kesan bank sentral itu tebang pilih. Sebagai kompensasi, Bambang diberi kesempatan memiliki Bank Alfa. Catatan Badan Penyehatan Perbankan Nasional pada 1999 menunjukkan Bambang Trihatmodjo adalah peminjam terbesar Bank Mandiri dengan nilai di atas Rp 20 triliun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta-fakta ini mestinya bisa membuat pemerintah bergerak. Kekayaan Keluarga Cendana harus diaudit dengan saksama untuk dipilah mana yang berasal dari kebijakan nepotis Soeharto dan mana yang bukan. Beslah terhadap harta Bambang harus dilakukan tak hanya untuk mencegah uang itu lari dari genggamannya, tapi lebih dari itu untuk diuji di pengadilan apakah dana berasal dari sumber yang legal atau haram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi dengan fulus Tommy Soeharto di Bank Paribas cabang London tak boleh lagi terjadi. Ketika itu, tanpa banyak diketahui publik, pemerintah ”memulangkan” sekitar Rp 100 miliar duit Tommy yang dibekukan Paribas karena dicurigai merupakan bagian dari praktek pencucian uang. Mantan menteri Hamid Awaludin dan Yusril Ihza Mahendra ditengarai ”tahu banyak” skandal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak boleh lagi kita dengar pemerintah menawarkan jalan damai di luar pengadilan kepada Keluarga Cendana seperti yang dilakukan Jaksa Agung Hendarman Supandji saat Soeharto masih sakit dulu. Gugatan perdata terhadap Soeharto yang kini diturunkan ke anak-anaknya harus dilanjutkan. Pemerintah harus percaya diri bahwa tanpa jalan damai pun mereka bisa menarik kembali uang yang disangka hasil penyalahgunaan kekuasaan itu. Penyelesaian di luar pengadilan, selain menghasilkan uang yang jumlahnya lebih kecil, juga tak secara tegas ”memastikan” Soeharto bersalah dalam perkara perdata itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhtiar itu tentu membutuhkan napas tak pendek. Pemerintah Filipina menghabiskan 18 tahun untuk mengembalikan sebagian dana jarahan bekas presiden Ferdinand Marcos yang disimpan di pelbagai bank di Swiss. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengusut kasus Soeharto tak sesulit mencari jarum dalam tumpukan jerami—kalau mau dan punya niat. Harta gono-gini Bambang-Halimah hanya salah satu pintu masuk.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-1789273937462529632?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/1789273937462529632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=1789273937462529632' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/1789273937462529632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/1789273937462529632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/berebut-rp-14-triliun.html' title='Berebut Rp 14 Triliun'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-4387107107300974017</id><published>2008-02-14T18:46:00.001-08:00</published><updated>2008-02-14T18:46:57.974-08:00</updated><title type='text'>Giliran Anak Mengganti Bapak</title><content type='html'>TEMPO Edisi. 51/XXXVI/11 - 17 Februari 2008 &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejaksaan mengajukan keenam anak Soeharto sebagai tergugat dalam perkara Yayasan Supersemar. Tak perlu dokumen yang membuktikan mereka anak Soeharto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASA berkabung yang membuat sidang itu libur kini sudah lewat. Pekan ini sepucuk surat segera disampaikan tim jaksa Kejaksaan Agung kepada Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Isinya, menyatakan Siti Hardijanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Harijadi, Hutomo Mandala Putra, dan Siti Hutami Endang Adiningsih sebagai tergugat dalam kasus penyelewengan dana Yayasan Supersemar. ”Keenam anak itu harus bertanggung jawab menggantikan posisi Soeharto,” kata anggota tim jaksa, Yoseph Suardi Sabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Soeharto meninggal akhir Januari lalu, sidang kasus gugatan Yayasan Supersemar ini memang diliburkan sementara. Sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata), perkara ini tidak otomatis ikut mandek, tapi dilanjutkan ahli warisnya. Anak-anak Soeharto memikul tanggung jawab yang sama untuk menggantikan posisi sang bapak. ”Sama halnya dengan hak mereka mendapat harta warisan ayahnya,” kata Yoseph. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya, pelimpahan tanggung jawab itu tak berlangsung begitu saja. Ada tahap yang mesti dilalui sebelum pengadilan menghadirkan keenam anak mantan penguasa Orde Baru itu ke ruang sidang. Tahap terpenting, jaksa menyampaikan kepada majelis hakim perihal kematian Soeharto sembari menunjuk ahli waris yang menggantikannya. Tahap selanjutnya, jaksa meminta majelis hakim memanggil ahli waris tersebut ke persidangan. Nah, Selasa pekan ini, tahap pertama itulah yang dilakukan. ”Secara tertulis dan langsung,” kata Yoseph.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal ahli waris ini, menurut aturan hukum perdata, perlu ada bukti yang bersangkutan benar ahli waris. Buktinya bisa berupa keterangan surat lahir, surat dari kelurahan, dari kecamatan, atau dari notaris. Tapi, khusus untuk perkara Soeharto ini, kejaksaan menganggap tak perlu mengumpulkan dokumen atau keterangan seperti itu. Alasannya, masyarakat sudah mengetahui keenam tergugat itu anak-anak Soeharto. ”Kecuali kalau mereka menyangkal,” kata Yoseph. Kalaupun mereka menyangkal, kejaksaan sudah memiliki ”senjata” lain. ”Kami sodorkan bukti, termasuk saksi atau rekaman gambar yang memperlihatkan mereka anak Soeharto,” kata Yoseph.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juru bicara Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Efran Basuning, sependapat dengan Kejaksaan Agung. Menurut Efran, sudah menjadi pengetahuan umum, keenam tergugat itu anak-anak Soeharto. Hanya, untuk ”hitam putih” di pengadilan, menurut Efran, harus disiapkan surat yang menunjuk mereka memang ahli waris. ”Bisa menggunakan surat keterangan dari pamong praja atau akta kelahiran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gugatan ini berawal dari dugaan penyimpangan dana Yayasan Supersemar pada saat Soeharto berkuasa. Dana yayasan itu sendiri diperoleh dari sisa laba bersih bank-bank pemerintah. Saat itu, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1976, yang kemudian diatur lagi lewat Keputusan Menteri Keuangan, setiap bank harus menyetor 50 persen dari 5 persen sisa laba bersih mereka ke rekening yayasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana itu, sesuai dengan tujuan yayasan, digunakan membantu pendidikan pelajar dan keluarga tak mampu. Tapi prakteknya yayasan ternyata menggelontorkan duit itu ke sejumlah perusahaan keluarga dan kroni Soeharto. Pada 9 Juli 2007 Kejaksaan Agung melayangkan gugatan ke pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kejaksaan menggugat Soeharto, sebagai tergugat pertama, dan Yayasan Supersemar sebagai tergugat dua, membayar ganti rugi material sebesar dana yang diperoleh yayasan. Selain itu, juga menuntut ganti rugi imaterial Rp 10 triliun. Pada akhir Januari lalu, sidang yang dimulai sejak Agustus 2007 itu seharusnya masuk agenda kesimpulan. Tapi, karena Soeharto meninggal, sidang pada akhir Januari lalu itu pun dibatalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya tergugatnya yang baru lantaran Soeharto meninggal, pengacara Soeharto dalam kasus ini pun otomatis dianggap gugur. Jadi, jika memakai pengacara, anak-anak Soeharto harus menunjuk pengacara baru. ”Mereka bisa saja menggunakan pengacara sebelumnya, asal ada surat kuasa baru,” kata Yoseph. Efran Basuning juga berharap anak-anak Soeharto secepatnya mengambil sikap. ”Supaya segera jelas, siapa yang mewakili mereka di persidangan nanti.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara hukum, anak-anak Soeharto itu bisa saja menolak menggantikan posisi ayahnya sebagai tergugat. Hanya, jika ini terjadi, kata Yoseph, akan muncul konsekuensi lain. Mereka tak boleh menerima semua harta yang ditinggalkan Soeharto. ”Singkatnya, susahnya ditolak, enaknya juga tidak boleh diterima,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, jika anak-anak Soeharto menolak jadi tergugat, jaksa tetap masih punya celah lain menuntut ganti rugi. Kali ini ”mengalir” ke cucu atau cicit Soeharto yang sudah dewasa. Atau bisa juga ke saudara atau keponakan Soeharto. Menurut Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Agung, Untung Udji Santoso, jika semua menolak menjadi ahli waris, pihaknya akan menyerahkan aset Soeharto ke Balai Harta Peninggalan karena harta itu dianggap tidak bertuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal ”warisan gugatan” itu, anak-anak Soeharto sendiri sampai kini masih menunggu. Menurut kuasa hukum Keluarga Cendana, Juan Felix Tampubolon, sebelum ada panggilan pengadilan, keluarga Soeharto belum menentukan sikap: apakah tetap melanjutkan persidangan dan menentukan siapa yang mewakili mereka jika sidang itu dilanjutkan. ”Menurut undang-undang, hakim harus memanggil, baru nanti yang dipanggil menentukan sikap, mau memenuhi atau tidak,” kata Juan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juan beberapa kali menyambangi putra-putri Soeharto setelah kematian ayah mereka. Namun sejauh ini, kata Juan, belum ada pembicaraan antara pengacara dan Keluarga Cendana tentang lanjutan sidang Yayasan Supersemar. ”Suasananya belum memungkinkan. Tapi, dalam satu atau dua hari, ada rencana membicarakan hal ini,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pakar hukum perdata dari Universitas Gadjah Mada, Nindyo Pramono, langkah kejaksaan menunjuk enam putra-putri Soeharto sebagai ahli waris Soeharto sudah tepat. ”Itu memang tercantum dalam KUH Perdata,” ujarnya. Hanya, dalam hal ini, kata Nindyo, syaratnya kejaksaan harus terlebih dulu mendata seluruh harta Soeharto. Selain itu, kejaksaan seharusnya juga membuktikan apakah anak cucu Soeharto pernah mendapat harta hibah pada saat Soeharto masih hidup. ”Kalau terbukti ada dan bisa dipertimbangkan menjadi bagian dari harta warisan, mereka ini bisa digugat,” ujar Nindyo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejaksaan rupanya tidak hanya menggugat ahli waris Soeharto dan Yayasan Supersemar. Sebuah langkah baru disiapkan kejaksaan: mengejar para penerima duit yayasan itu. Surat izin untuk menggugat mereka ini sudah dilayangkan kejaksaan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. ”Kami akan menggugat kalau sudah turun surat kuasa dari Presiden,” kata Yoseph. Kisah yayasan Soeharto di meja hijau—setelah sang penggagasnya mangkat—memang bakal panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunariah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana Pendidikan untuk Beragam Bisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan Beasiswa Supersemar didirikan Soeharto pada 16 Mei 1974. Sejak berdiri sampai meninggal, Soeharto duduk sebagai ketua organ pembina. Ketua organ pengurus dijabat Arjodarmoko, 82 tahun. Yayasan memiliki dana abadi Rp 600 miliar yang didepositokan dan diinvestasikan di sejumlah perusahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan yayasan: membantu pelajar tidak mampu melanjutkan pendidikan dan untuk kepentingan pendidikan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal dana: Sisa laba bersih bank-bank milik pemerintah. Setiap bank diharuskan menyetor 50 persen dari 5 persen sisa laba bersih yang mereka peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana terkumpul: US$ 420 juta (sekitar Rp 3,78 triliun) dan Rp 185,9 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyimpangan:&lt;br /&gt;US$ 419,9 juta dikucurkan ke PT Bank Duta (September 1990)&lt;br /&gt;Rp 13 miliar dikucurkan ke PT Sempati Air (23 September 1989—17 November 1997)&lt;br /&gt;Rp 150 miliar dikucurkan ke PT Kiani Lestari dan PT Kiani Sakti (13 November 1995)&lt;br /&gt;Rp 12,74 miliar dikucurkan ke PT Kalhold Utama, Essam Timber, dan PT Tanjung Redep Hutan Tanaman Industri (Desember 1982—Mei 1993) &lt;br /&gt;Rp 10 miliar dikucurkan ke Kelompok Usaha Kosgoro (28 Desember 1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian negara: &lt;br /&gt;US$ 420 juta (sekitar Rp 3,78 triliun) dan Rp 185,9 miliar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sita jaminan:&lt;br /&gt;Tanah dan bangunan Gedung Granadi di Jalan H.R. Rasuna Said Kav. 8-9 Kuningan, Jakarta Selatan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergugat:&lt;br /&gt;Soeharto (kini diteruskan ke ahli warisnya)&lt;br /&gt;Yayasan Beasiswa Supersemar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-4387107107300974017?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/4387107107300974017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=4387107107300974017' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/4387107107300974017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/4387107107300974017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/giliran-anak-mengganti-bapak.html' title='Giliran Anak Mengganti Bapak'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-1964228064172738316</id><published>2008-02-14T18:43:00.000-08:00</published><updated>2008-02-14T18:45:33.875-08:00</updated><title type='text'>Sepenggal Harta Trah Cendana</title><content type='html'>Sebagian daftar harta Bambang Trihatmodjo dan istrinya dibuka di sidang perceraian. Konfirmasi atas laporan berbagai lembaga tentang pundi-pundi keluarga Cendana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI ruang sidang Pengadilan Agama Jakarta Pusat, sebagian harta keluarga mantan presiden Soeharto mulai terbuka. Lama menjadi teka-teki publik, jawaban datang justru dari sidang perceraian Bambang Trihatmodjo, anak ketiga Soeharto, dengan Halimah Augustina Kamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya adalah sidang perceraian biasa, walau menjadi buruan media hiburan. Bambang menggugat cerai Halimah, yang dinikahinya 27 tahun lalu, tapi sang istri menolak. Ia justru meminta Pengadilan Agama menyita harta keluarganya agar tidak bisa dialihkan kepemilikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini kasus pertama di Indonesia,” kata Nuheri, anggota majelis yang menangani permohonan sita harta. Di sinilah Halimah, melalui pengacaranya, pada 12 November tahun lalu, menyodorkan segepok daftar harta keluarganya. Menurut daftar itu, harta keluarga Bambang terdiri dari beberapa kelompok: tanah, kapal, mobil, dan saham. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah atas nama Bambang atau sejumlah perusahaannya tersebar di Jakarta, Bogor, Purwakarta, Pulau Seribu, Situbondo, dan Kuta, Bali. Total luasnya 1.000 hektare lebih atau sekitar 10 kilometer persegi. Ini hampir seperlima wilayah Jakarta Pusat yang luasnya 55 kilometer persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Bambang memiliki tujuh kapal dan 18 mobil, di antaranya adalah VW Touareg yang di pasar harganya Rp 1,5 miliar serta Porsche Cayenne yang pada 2003 dijual Rp 1 miliar. Sebagian besar kendaraan itu atas nama Bambang dan sebagian lainnya Halimah.Bambang, 55 tahun, dan Halimah, 51 tahun, juga menguasai ratusan juta lembar saham baik langsung maupun tidak. Mereka memiliki 175 juta lembar atau 99,99 persen saham Asriland, perusahaan yang beranak-pinak ke puluhan perusahaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Asriland, Bambang, antara lain, memiliki 13,82 persen saham PT Global Mediacom Tbk. Ini adalah induk perusahaan yang menaungi, di antaranya, stasiun televisi RCTI, Mobile-8 Telecom (operator telepon Fren), dan Plaza Indonesia. Mereka juga menguasai separuh kepemilikan PT Cardig yang dua tahun lalu membeli maskapai penerbangan Mandala Air dari Yayasan Dharma Kostrad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut daftar yang sama, Bambang juga menguasai 99,74 persen saham PT Hyundai Indonesia Motor. Singkat kata, harta keluarga ini menjelajah berbagai sektor: dari stasiun televisi hingga operator telepon, dari pabrik kapsul hingga industri otomotif, dari pengelolaan hotel hingga kepemilikan pulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada taksiran resmi nilai semua harta itu, namun Lelyana Santosa, pengacara Halimah, kepada media hiburan pernah mengakui nilainya berkisar Rp 14 triliun. Kepada Tempo, ia menyatakan semua data itu valid. ”Paling tidak, dari keyakinan klien saya,” katanya. ”Itu semua aset murni, sudah dikurangi dengan utang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juan Felix Tampubolon, pengacara Bambang, menganggap daftar kekayaan itu ngawur. Banyak nama perusahaan dalam daftar yang, menurut dia, tidak akurat. ”Pak Bambang malah bingung, tertawa sendiri. Banyak perusahaan, padahal dia nggak tahu,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lelyana, data itu dikumpulkan segera setelah Halimah digugat cerai suaminya, pertengahan tahun lalu. Memang, tidak ada pembukuan khusus. Yang ada catatan-catatan lepas pada perusahaan tempat Halimah pernah menjadi komisaris. Ada sejumlah data yang masuk dari kantor pengacara Lelyana. ”Misalnya, yang ini sudah tidak lagi atau ini ada tambahan, dan klien kami membenarkan,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak masuk dalam daftar itu adalah aset Bambang di luar negeri, di antaranya apartemen di Beverly Hills, Los Angeles, tempat keluarga ini biasa tinggal saat berkunjung ke Amerika Serikat. ”Saya tidak tahu kenapa tidak dimasukkan,” kata Lelyana (lihat ”Yang Gelap di Seberang Samudra”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l l l&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAMBANG Trihatmodjo dan Halimah Augustina Kamil menikah pada 24 Oktober 1981. Lima bulan sebelum menikah, Bambang mendirikan Bimantara Citra. Perusahaan ini tumbuh besar karena diselimuti praktek kolusi dan kroniisme ayahnya. Di masa jayanya, pernah dalam setahun Bimantara beranak hingga 100 perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, Bimantara bergerak di bidang perdagangan. Hanya dalam sekejap, mereka merambah ke bidang perbankan, asuransi, rumah mewah, konstruksi, televisi, perhotelan, transportasi, perkebunan, perikanan, otomotif, makanan, kimia, dan pariwisata. Bimantaralah yang pertama kali memperoleh izin pendirian stasiun televisi swasta di Indonesia, RCTI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1991, Bambang menguasai tata niaga jeruk di Kalimantan. Para petani harus menjual hasil panen mereka ke PT Bima Citra Mandiri milik Bambang. Perusahaan ini menerima 10 persen dari harga jual. Mereka juga mengutip Rp 1.500 per kilogram untuk sewa gudang plus ongkos bongkar-muat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1990-an, produksi jeruk di Kalimantan Barat sangat melimpah, sekitar 120 ribu ton per tahun. Artinya, dari sewa gudang dan ongkos bongkar-muat saja, Bima Citra menangguk Rp 180 miliar per tahun. Alih-alih meningkatkan pendapatan petani, tata niaga menghancurkan kehidupan penanam jeruk. Pada 1993, tata niaga ini dihapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama ayahnya, Bambang mendirikan Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) 15 Januari 1996. Soeharto menjadi ketua dan Bambang bendahara. Tujuan yayasan ini mulia: ”menjadi wadah masyarakat bergotong-royong untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga prasejahtera dan sejahtera.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ”tujuan mulia” itu, Soeharto membuat aturan memotong 2 persen pajak penghasilan atas wajib pajak berpenghasilan di atas Rp 100 juta untuk disetor ke rekening Damandiri. Menurut perhitungan kejaksaan, terkumpul dana Rp 4,5 triliun selama dua tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1997, Rp 112,7 miliar duit itu ditanam sebagai deposito di Bank Andromeda milik Bambang. Dana itu raib karena Andromeda dibekukan pada 1 November 1997. Dana Rp 330,3 miliar lalu disetor ke Bank Alfa, yang dibeli Bambang dua pekan setelah Andromeda ditutup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, dana itu pun tak bisa ditarik karena Bank Alfa dilikuidasi pada 13 Maret 1999. ”Kerugian negara pada kasus Damandiri ini Rp 442,8 miliar,” demikian tertulis dalam berkas perkara pidana Soeharto, yang urung dibacakan karena sang Jenderal Besar dinyatakan sakit permanen pada 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah daftar harta yang disodorkan Halimah ke Pengadilan Agama berkaitan dengan riwayat abu-abu bisnis keluarga itu? Lelyana mengaku tidak tahu. ”Sebagai pengacara, saya tidak pernah bertanya asal-usul harta yang ada di daftar itu,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juan Felix mengatakan, meski hartanya terkesan melimpah, utang Bambang juga sangat banyak. ”Kalau diperhitungkan semua utangnya, mungkin semua hartanya nggak cukup untuk membayar,” kata Felix tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, majalah Forbes punya perhitungan lain. Menurut majalah itu, edisi Desember 2007, Bambang Trihatmodjo adalah orang terkaya nomor 33 di Indonesia. Hartanya diperkirakan US$ 200 juta atau hampir Rp 2 triliun. Hitungannya berdasarkan harga saham dan kurs mata uang saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang sendiri tak bisa dimintai konfirmasi. Tempo menunggu seharian, Jumat pekan lalu, di tempat tinggalnya, Simprug Golf, kawasan Patal Senayan, Jakarta Selatan. Rumah bercat cokelat muda itu tertutup pagar hampir dua meter. Dalam daftar Halimah, rumah ini tercantum atas nama suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini pula Bambang tinggal bersama Mayangsari. Di depan rumah didirikan pos darurat dari kayu beratap terpal biru. Di dalamnya dua polisi berteduh. ”Bapak nggak ada, kemarin juga nggak ada,” kata Rois, salah seorang polisi. Menjelang pukul 14.00, Toyota Alphard yang kerap dipakai Mayangsari melintas dari ujung gang. Hanya sopir yang terlihat di dalam mobil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam berselang, Alphard yang sama sudah terlihat parkir di Jalan Tasikmalaya 17, Menteng, Jakarta Pusat. Ini kediaman Bambang yang lain, dekat tempat tinggal keluarga besarnya. Polisi penjaga rumah pun berkukuh: ”Bapak tidak ada.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi Setyarso, Arif A. Kuswardono, Wahyu Dhyatmika, Adek Media Rosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gono-gini Itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah sejak 24 Oktober 1981, Bambang Trihatmodjo dan Halimah Agustina Kamil rajin mengumpulkan harta. Luas tanah mereka seribuan hektare, tersebar di Jakarta, Purwakarta, Pulau Seribu, hingga Bali. Butuh dua ratusan meter persegi untuk memarkir 18 mobil mereka. Saham mereka juga tertanam di pelbagai perusahaan.&lt;br /&gt;Gono-gini Itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah sejak 24 Oktober 1981, Bambang Trihatmodjo dan Halimah Agustina Kamil rajin mengumpulkan harta. Luas tanah mereka seribuan hektare, tersebar di Jakarta, Purwakarta, Pulau Seribu, hingga Bali. Butuh dua ratusan meter persegi untuk memarkir 18 mobil mereka. Saham mereka juga tertanam di pelbagai perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal&lt;br /&gt;Bimantara Merek mesin kapal: Mercruiser&lt;br /&gt;Citra Merek mesin kapal: Mercruiser&lt;br /&gt;Fountain Merek mesin kapal: Yamaha&lt;br /&gt;Lemuru Merek mesin kapal: Yamaha&lt;br /&gt;Madrim Merek mesin kapal: Detroit&lt;br /&gt;Sumbadra Merek mesin kapal: Yamaha&lt;br /&gt;Utik Merek mesin kapal: Yamaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil&lt;br /&gt;Satu BMW Jeep&lt;br /&gt;Satu Porsche Cayenne&lt;br /&gt;Satu Volkswagen Toureg&lt;br /&gt;Satu Toyota Rush&lt;br /&gt;Satu Volkswagen Caravelle&lt;br /&gt;Satu Mercedes-Benz Jeep&lt;br /&gt;Satu Mercedes-Benz Sedan&lt;br /&gt;Satu BMW Sedan&lt;br /&gt;Satu Hyundai Trajet&lt;br /&gt;Satu Mercedes-Benz Jeep&lt;br /&gt;Satu Range Rover&lt;br /&gt;Satu Hyundai Santa Fe&lt;br /&gt;Lima Kijang&lt;br /&gt;Satu Pickup &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah&lt;br /&gt;Jalan Tanjung 24, 26, Jakarta Pusat: 1.259 meter persegi&lt;br /&gt;Jalan Raya Ciganjur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan: 3.105 meter persegi&lt;br /&gt;Cisarua, Tugu Selatan, Bogor: 3.579 meter persegi&lt;br /&gt;Jalan Tanjung 23, Menteng, Jakarta Pusat: 1.985 meter persegi&lt;br /&gt;Jalan KH Wahid Hasyim 40, Kebon Sirih, Jakarta Pusat: 510 meter persegi&lt;br /&gt;Jalan Raya Ciganjur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan: 3.000 meter persegi&lt;br /&gt;Megamendung, Bogor: 4.650 meter persegi&lt;br /&gt;Kampung Satu, Ciganjur, Jakarta Selatan: 867 meter persegi&lt;br /&gt;Jalan Simprug Garden II, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan: 2.534 meter persegi&lt;br /&gt;Jalan Simprug Blok G No. 19, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan: 492 meter persegi&lt;br /&gt;Jalan Simprug Garden II, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan: 4.114 meter persegi&lt;br /&gt;Jalan Moh. Kahfi I, Kamp. Setu, Ciganjur, Jakarta Selatan: 2.290 meter persegi&lt;br /&gt;Pondok Karya, Pondok Aren, Tangerang: 1.480 meter persegi&lt;br /&gt;Kuta, Jimbaran, Bali: 4.350 meter persegi&lt;br /&gt;Kuta, Jimbaran, Bali: 300 meter persegi&lt;br /&gt;Kuta, Jimbaran, Bali: 5.550 meter persegi&lt;br /&gt;Kuta, Jimbaran, Bali: 13.725 meter persegi&lt;br /&gt;Ciganjur RT 006/06, Jagakarsa, Jakarta Selatan: 200 meter persegi&lt;br /&gt;Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan: 157 meter persegi&lt;br /&gt;Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu: 44.765 meter persegi&lt;br /&gt;Jalan Simprug Garden II, Grogol Selatan: 2.705 meter persegi&lt;br /&gt;Jalan Casablanca, Jakarta Selatan: 21.250 meter persegi&lt;br /&gt;Jalan Wahid Hasyim 46-A, Kebon Sirih, Jakarta Pusat: 563 meter persegi&lt;br /&gt;Wanakerta, Campaka, Purwakarta: 319.360 meter persegi&lt;br /&gt;Cinangka, Campaka, Purwakarta, Jawa Barat: 219.500 meter persegi&lt;br /&gt;Cikopo, Campaka, Purwakarta, Jawa Barat: 3.678.140 meter persegi&lt;br /&gt;Situbondo, Jawa Timur: 479,6 hektare&lt;br /&gt;Tanah di Jalan Cempaka Putih Raya No. 1, Jakarta Timur&lt;br /&gt;Jalan Simprug Golf XVI No. 36, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;Jalan Tanjung 29, Jakarta Pusat: 1.130 meter persegi &lt;br /&gt;Tarogong Kecil, Pondok Pinang, Jakarta Selatan: 1.118 meter persegi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekening Bank&lt;br /&gt;Rekening di Bank of America Beverly Hills Main 460 N Beverly Drive, Beverly Hills, California&lt;br /&gt;Dua rekening giro bank di BNI Jakarta Pusat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemilikan 99,9 % saham Asriland&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyertaan melalui Asriland:&lt;br /&gt;PT Bumi Kusuma Prima: 55 %&lt;br /&gt;PT Global Mediacom Tbk (PT Bimantara Citra): 13,82 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyertaan Bimantara&lt;br /&gt;PT Media Nusantara Citra Tbk: 70 %&lt;br /&gt;PT Mobile-8 Telecom Tbk: 60,76 % &lt;br /&gt;PT Indonesia Air Transport Tbk: 79,81 %&lt;br /&gt;PT Plaza Indonesia Realty Tbk: 18,29 %&lt;br /&gt;PT Rajawali Citra Televisi Indonesia: 69,82 %&lt;br /&gt;PT Elektrindo Nusantara: 51 %&lt;br /&gt;PT Trans Javagas Pipeline: 49 %&lt;br /&gt;PT Trihasra Bimanusa Tunggal: 35 %&lt;br /&gt;PT Cardig Air: 50 %&lt;br /&gt;PT Bima Kimia Citra: 30 %&lt;br /&gt;PT Multi Nirotama Kimia: 40 %&lt;br /&gt;PT Nusadua Graha International: 36,56 %&lt;br /&gt;PT Duta Nusabina Lestari: 30 %&lt;br /&gt;PT Usaha Gedung Bimantara: 100 %&lt;br /&gt;PT. Citra International Finance &amp; Investment Corporation: 55 % &lt;br /&gt;PT Citra International Under-writers: 55 %&lt;br /&gt;PT Jasa Angkasa Semesta: 25,50 %&lt;br /&gt;PT Plaza Nusantara Realty: 13,5 %&lt;br /&gt;PT Serasi Tunggal Karya: 7 %&lt;br /&gt;PT Polychem Undo: 60 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT Bukit Sentul Tbk.&lt;br /&gt;PT Gemini Sinar Perkasa: 65 %&lt;br /&gt;PT Javalas Artha Asri: 99,99 %&lt;br /&gt;PT Andromeda Sekuritas: 33,33 %&lt;br /&gt;PT Asri Pelangi Nusa: 96 %&lt;br /&gt;PT Bhakti Investama Tbk.: 0,59 %&lt;br /&gt;PT Tugure: 20 %&lt;br /&gt;PT Asia Pacific Petroleum Refinery Indonesia: 2.500 saham&lt;br /&gt;PT Kapsulindo Nusantara: 63 %&lt;br /&gt;PT Binajasa Hantarindo: 70 %&lt;br /&gt;PT Herwindo Rintis: 35 % &lt;br /&gt;PT Bina Cakra Niaga: 45 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyertaan Bina Cakra:&lt;br /&gt;PT Hyundai Indonesia: 99,74 %&lt;br /&gt;PT Kawasaki Motor Indonesia: 7,5 %&lt;br /&gt;PT Citrakarya Pranata: 70 %&lt;br /&gt;PT Senantiasa Makmur: 10 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saham melalui pihak ketiga:&lt;br /&gt;PT Panji Rama Otomotif: 1.050 saham melalui Djoko Leksono Sugiarto&lt;br /&gt;PT Bina Cakra Niaga: 45 % melalui Abraxas Capital Limited II&lt;br /&gt;PT Asri Wahana Intinusa melalui Junanda Puce Syarfuan dan Aziz Mochtar&lt;br /&gt;PT Kekar Plastindo melalui Anas Bahfen&lt;br /&gt;PT Dinamika Bahari Sejahtera melalui Bimmy Indrawan Tjahja dan Sugeng Tunggono&lt;br /&gt;PT Binajasa Hantarindo melalui Bob Hippy&lt;br /&gt;PT Javalas Artha Asri melalui Bambang Wibowo&lt;br /&gt;PT Grandauto Dinamika melalui Djoko Leksono Sugiarto&lt;br /&gt;Brinkley Associates Ltd&lt;br /&gt;PT Karang Agung Asri: 70 %&lt;br /&gt;PT Cilegon Saran Industria: 25 %&lt;br /&gt;PT Cilegon Centra Petrokemin: 25 %&lt;br /&gt;PT Pacific Tribina Petrokimia: 25 %&lt;br /&gt;PT Asri Safari Bali: 100 %&lt;br /&gt;PT Asri Sentra Citraindo: 100 %&lt;br /&gt;PT Zaman Bangun Perwita: 100 %&lt;br /&gt;PT Cipta Bintani Megah: 50 %&lt;br /&gt;PT Mutiara Citra Jayasanti: 60 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyertaan lainnya: &lt;br /&gt;PT Dutarendra Mulia Sejahtera: 20 %&lt;br /&gt;PT Karunia Alam Abadi: 43 %&lt;br /&gt;PT Kresna Sarana Media: 60 %&lt;br /&gt;Berita Yudha Press: 51 %&lt;br /&gt;PT Kapsulindo Nusantara: 62,75 %&lt;br /&gt;PT Lamicitra Nusantara&lt;br /&gt;PT Laksana Citra Nusantara&lt;br /&gt;PT Graha Tama Wisesa: 50 %&lt;br /&gt;PT Adipuri Inti Satya: 10 %&lt;br /&gt;PT Panen Lestari Internusa&lt;br /&gt;PT ITCIKU&lt;br /&gt;PT Tugu Reasuransi Indonesia: 20 %&lt;br /&gt;PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk&lt;br /&gt;PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk&lt;br /&gt;PT Cardig Lep Internasional: 45 % melalui Cardig Air&lt;br /&gt;PT Batamindo Investment Cakrawala (BIC): 50 % melalui Herwindo&lt;br /&gt;PT Batamindo Executive Village: 60 % melalui BIC&lt;br /&gt;Private Holding Ltd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO FEBRUARI 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-1964228064172738316?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/1964228064172738316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=1964228064172738316' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/1964228064172738316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/1964228064172738316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/sepenggal-harta-trah-cendana.html' title='Sepenggal Harta Trah Cendana'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-9204538390896434161</id><published>2008-02-14T18:31:00.000-08:00</published><updated>2008-02-14T18:35:26.272-08:00</updated><title type='text'>Cendana Pulang ke Beringin</title><content type='html'>SUMBER SINDO, Selasa, 12/02/2008 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinyal itu datang juga.Keluarga   Cendana yang dimotori Siti   Hardiyanti Rukmana binti Soeharto   akan kembali ke Partai Golkar.   Pergerakan politik seperti ini sulit   diduga ketika Soeharto masih hidup.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah kadung diingat betapa Golkar   telah menjadi ”Brutus”yang menaikkan   dan menurunkan Soeharto pada   akhir masa jabatannya.Dendam politik   bisa berusia lama, bahkan cenderung   berdarah pada era monarki.   Tetapi dendam itu segera berakhir,   seiring dengan koor pengampunan   dan pemaafan atas kesalahan-kesalahan   Soeharto. Definisi kesalahan   Soeharto sebetulnya juga datang dari   frase-frase politik yang dimasukkan   ke dalam Tap MPR No XI/1998. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala   itu mayoritas anggota MPR berasal   dari Golkar. Sepuluh tahun menghadapi   ”status tak berstatus”, kasus-kasus   yang ditimpakan kepada Soeharto   seperti hendak dikubur, seiring dengan   pemakaman yang dipimpin   langsung oleh Presiden Susilo Bambang   Yudhoyono (SBY). Pidato SBY   atas Soeharto menunjukkan simpati   dan empati yang dalam atas jasa-jasa   yang sudah dibuat oleh Soeharto   semasa hidupnya.   Nyatanya Mbak Tutut lebih memberikan   apresiasi kepada Partai Golkar.   Bakti terakhir partai ini memang   luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping menggerakkan   kader-kader utama untuk memintakan   permaafan dan pengampunan   atas Soeharto,Partai Golkar juga berupaya   menjadikan Soeharto sebagai   pahlawan nasional, sebagaimana sudah   dibe-rikan kepada Ibu Tien Soeharto.   Ba-rangkali sebuah jalan juga   diberikan nama Jalan Soeharto, berikut   patung megah, kalau perlu di jalanan   yang paling padat kendaraan   yang lewat.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai Tanpa Bapak   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama sepuluh tahun terakhir ini   Partai Golkar seperti kehilangan bapak.   Pergantian kepemimpinan menghasilkan   tokoh-tokoh luar Jawa,Akbar   Tandjung dan Jusuf Kalla. Dari sisi   kultur politik, tokoh-tokoh itu lebih   memainkan semangat egaliter dan terbuka.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akbar,yang beristrikan orang Solo, telah menunjukkan pola kepemimpinan   transisional yang menggabungkan   otoritas dengan demokrasi.Hanya   Akbar yang tidak berada di jalur eksekutif  saat memimpin Partai Golkar.  Pola Akbar itu tidak dilanjutkan oleh Kalla.Ketimbang melihat Partai   Golkar muncul sebagai kekuatan oposisional di DPR,Kalla memajukan diri sebagai  ketua umum dan menang atas dukungan elite-elite utama Partai Golkar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beringin kembali memasuki halaman   Istana.Pengandaian bisa saja terjadi di   sini,yakni duet SBY-Kalla akan mudah   sekali goyang bila tidak ditopang oleh   Fraksi Partai Golkar di DPR.   Sungguhpun begitu,Partai Golkar   tetap terlihat sedang mencari bapak.   Dalam masyarakat tradisional dan   transisional Indonesia yang bergulat   dengan krisis, figur karismatis tetap   diperlukan.Ini sebenarnya bukan khas Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak juga bisa dikatakan   bahwa ini keadaan yang buruk.Tokoh   pemersatu dalam tubuh partai politik   untuk tingkat kemajemukan masyarakat   yang tinggi juga terjadi di India,   Pakistan,Thailand,Malaysia,Filipina,   bahkan Amerika Serikat. Dari sisi ketiadaan   bapak ini kematian Soeharto   seolah memberikan pencerahan kepada   keluarga Cendana dan keluarga Beringin   untuk menyatukan diri yang dulu   memang satu keluarga politik besar.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh keluarga Cendana meningkat   da-lam kancah politik dan pemerintahan   pada pertengahan 1980-an.Mereka sudah mulai besar dan mengerti   dengan urusan ekonomi.Dalam   fase itu kesuksesan Soeharto dalam melakukan   swasembada pangan juga menyeruak,   termasuk peranan yang mulai   meningkat secara regional dan internasional.   Kalau jarum jam sejarah di   balik, itulah saat yang tepat bagi Soeharto   berhenti dari jabatannya sebagai   presiden.Kita tahu,Soeharto tidak berhenti,   tetapi melanjutkan kiprah kepresidenannya.   Ketika anak-anak Soeharto makin   besar,sejumlah benturan kepentingan   menyeruak dan makin besar pada   pertengahan 1990-an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalnya   sang buah hati, Ibu Tien, sebetulnya   sudah memotong satu sayap Soeharto.   Tetapi, ia pun makin terbelit kepentingan   di sekelilingnya.Hanya dengan   satu sayap,Soeharto diangkat lagi sebagai   presiden pada 1998. Beban krisis   multidimensional yang berat ternyata   mematahkan sayap yang satunya lagi.   Soeharto berhenti dengan tragis.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tutut sebagai Simbol   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan anak-anak   Soeharto yang lain,Tutut telah mendapatkan   jalur politik yang lempang.   Ia pernah mencetak banyak buku yang   menceritakan kisah heroik ayahnya   pada saat menduduki Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia   juga menyebarkan jutaan buku lain yang bercerita tentang Orde Baru.Bahkan   seingat penulis, Mbak Tutut pernah   mengatakan Orde Baru akan abadi,   sesuatu yang menyalahi logika kesejarahan.   Mbak Tutut kini menjadi simbol   keluarga Cendana. Beringin yang   telah menegaskan diri sebagai partai   politik nomor satu dalam pemilu 2004,   semakin hari semakin turun pesonanya,   dilihat dari penanjakan suara   PDIP yang dipimpin Megawati Soekarnoputri.   Dibandingkan dengan   Megawati, Mbak Tutut jelas sudah lebih   berpengalaman di   bidang politik dan pemerintahan,   serta kegiatan-   kegiatan sosial.   Dulu, tidak ada yang   yakin bahwa Mbak Mega akan mampu   menjadi presiden dan simbol utama   PDIP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, siapa yang yakin bahwa   Mbak Tutut bisa seperti ayahnya?   Roda kekuasaan seperti pedati.   Bisa naik, bisa turun. Sepuluh tahu   masa ”pemasungan” politik barangkali   memberi bekal cukup bagi keluarga   Cendana. Memang, terdapat   PPKB yang didukung Mbak Tutut dalam   Pemilu 2004.Namun, dukungan   itu tidak terlalu meriah alias hanya   menunjukkan perbedaan dengan   partai-partai lain.Mbak Tutut paham   mengulur waktu.Apalagi, kekuatan   Cendana belum lengkap, mengingat   Tommy Soeharto masih di penjara.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangan satu-dua pekan   terakhir ini,terdapat dua skenario   yang dilakukan keluarga Cendana.   Pertama masuk ke semua parpol,   terutama parpol besar. Ada usaha   memasukkan Tommy ke PDIP,Titiek ke   PKB,dan Tutut ke Partai Golkar.Kedua,   karena yang memiliki talenta politik   hanya Mbak Tutut, bisa jadi hanya dia   yang aktif di politik.Keluarga Cendana   yang lain akan sibuk dengan kegiatan   ekonomi,sosial,atau budaya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto tidak hanya mewariskan   harta kekayaan yang banyak, melainkan   juga kasus-kasus hukum. Kalau   hanya sendirian, keluarga Cendana   sulit menghadapi kasus-kasus itu.   Beban tentu akan dibagi merata, termasuk   lewat partai-partai politik. Sudah   merupakan hal yang lumrah   ketika orang-orang yang memiliki   kasus tetap bertahan di parpol atau   mendirikan parpol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon Beringin   yang rindang, walau mulai berbagi   lahan dengan PDIP dan Partai Demokrat,   masih menyisakan tempat   nyaman bagi Cendana. Dan kita akan   saksikan,betapa akan banyak yang terusik   kenyamanannya atau juga bertepuk   tangan dengan bersemangat.(*)   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indra Jaya Piliang   &lt;br /&gt;Analis Politik dan Perubahan   Sosial CSIS, Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-9204538390896434161?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/9204538390896434161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=9204538390896434161' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/9204538390896434161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/9204538390896434161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/cendana-pulang-ke-beringin.html' title='Cendana Pulang ke Beringin'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-7933827997776178986</id><published>2008-02-14T17:21:00.000-08:00</published><updated>2008-02-14T17:33:54.383-08:00</updated><title type='text'>Mega dan Rekonsiliasi Nasional</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R7TqK_6famI/AAAAAAAAAEc/ZAjbtb3nvAQ/s1600-h/20MEGAWATI_ent-lead__200x219.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R7TqK_6famI/AAAAAAAAAEc/ZAjbtb3nvAQ/s200/20MEGAWATI_ent-lead__200x219.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167012147177155170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanggal :  09 Feb 2008&lt;br /&gt;Sumber :  Harian Terbit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh TB Januar Soemawinata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAFATNYA mantan Presiden RI ke-2 Jenderal Besar Haji Muhammad Soeharto sebenarnya sebuah peluang untuk melakukan rekonsiliasi nasional, dan peluang ini akan sangat bagus jika inisiatif tersebut diambil mantan Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri. Sebab, persoalan nasional dan keruwetan politik bangsa sejatinya berasal dari dua kubu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan ini, seharusnya Mega dengan kebesaran hati dan jiwa datang secara langsung kepada keluarga almarhum HM Soeharto, sekaligus mengucapkan simpati yang sebesar-besarnya. Lebih bijaksana lagi, jika Mega berani mengucapkan menerima maaf segala macam dosa dan kesalahan yang dibuat almarhum semasa hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian semacam ini tentu akan menjadi catatan sejarah tersendiri dan akan mampu menokohkan Mega sebagai seorang negarawan yang sulit dicari padanannya. Dalam kaitan ini, mungkin ada pembisik yang mengingatkan agar jangan dekat keluarga Cendana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembisik tersebut dapat saja mengatakan jika Mega melayat HM Soeharto, popupeleritasnya bisa menurun. Sebenarnya asumsi yang demikian, tidaklah dapat dibuktikan. Sebab, fakta di lapangan telah membuktikan kepada kita jika rakyat masih mencintai almarhum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, persoalannya terpulang kepada Mega sendiri, apakah ia akan mengikuti bisikan orang lain, atau menuruti kata hatinya. Dalam kaitan ini Mega seharusnya sadar pula, kekalahan dalam Pemilu 2004 lalu adalah karena ia banyak menerima bisikan dari orang-orang sekitarnya. Pengalaman tersebut mestinya kita jadikan pelajaran bahwa tidak semua nasehat dan bisikan orang dekat mesti dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu tidak semua kritikan atau masukan dari pihak luar bahkan musuh ditanggapi sebelah mata. Karena bukan mustahil kritikan atau masukan dari luar itu jauh lebih baik dan bermanfaat daripada bisikan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, sebagai seorang pemimpin yang cukup berpengalaman dan anak seorang proklamator, Mega pastilah memiliki jiwa besar sebesar jiwa Bung Karno. Dengan jiwa besar dan pengalaman itulah, Mega dapat memikirkan untuk melakukan kunjungan ke Cendana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan itu jangan diartikan kalah menang dalam percaturan politik, namun jadikanlah kunjungan tersebut sebagai upaya untuk membuka keruwetan perpolitikan nasional yang dari hari ke hari tidak pernah kunjung selesai. Jika Mega memang mencintai rakyat, tentu tidak ada salahnya melakukan kunjungan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, berdasarkan berita yang dilansir berbagai macam media, menyebutkan jika mantan Presiden RI ke-5 itu mengutus orang kepercayaannya melayat sekaligus menyampaikan bela sungkawa. Bukan itu saja, beberapa media juga mengatakan sebenarnya hubungan antara kedua keluarga mantan presiden RI itu sangat baik. Contohnya, setiap ulang tahun Mbak Tutut atau Mbak Mega, keduanya saling berkirim bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tentu saja hal tersebut akan sangat bagus dan hampir pasti akan mendongkrak popularitas Mega, jika ia mau melakukan kunjungan ke Cendana. Dalam hal ini bukan tanpa risiko. Akibat yang timbul berkaitan dengan kebijakan tersebut pasti ada, misalnya Mega dapat saja mendapat tentangan keras dari para pembisiknya yang benci terhadap almarhum HM Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga Mega dapat saja dicap miring oleh orang-orang yang selama ini berseberangan politik dengan Jenderal Besar tersebut. Namun demikian, kalau masalah ini dijadikan alasan Mega takut berkunjung ke Cendana, dan membiarkan peluang itu hilang percuma, sungguh benar-benar sangat disayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Guruh Soekarnoputra berani datang melayat dan kemudian berbicara di hadapan media. Mengapa Mega tidak berani melakukan kebijakan yang barangkali dianggap cukup kontroversial tersebut. Di sinilah sebenarnya untuk pembuktian bagi seorang Mega, apakah ia benar-benar seorang negarawan yang berjiwa besar atau tidak. Dan tentu saja rakyat di nusantara ini akan menjadi saksi sejarah yang luar biasa tersebut. (Penulis adalah pengamat politik dari Universitas Nasional Jakarta)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-7933827997776178986?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/7933827997776178986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=7933827997776178986' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/7933827997776178986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/7933827997776178986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/mega-dan-rekonsiliasi-nasional.html' title='Mega dan Rekonsiliasi Nasional'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R7TqK_6famI/AAAAAAAAAEc/ZAjbtb3nvAQ/s72-c/20MEGAWATI_ent-lead__200x219.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-7384904586804065496</id><published>2008-02-11T04:45:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T04:46:24.384-08:00</updated><title type='text'>Soehartonomics</title><content type='html'>"SAYA meminta kepada pimpinan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, agar memikirkan penjabaran yang lebih luas dan lengkap mengenai demokrasi ekonomi yang kita kembangkan berdasarkan Pancasila. Kita semua berharap agar pemikirpemikir kita di bidang ekonomi dapat mengembangkan pemikiran mengenai demokrasi ekonomi itu; yang di satu pihak memiliki integritas ilmiah secara universal,dan di lain pihak dikaitkan dengan pengamalan semua sila dalam Pancasila selaku kesatuan...." (Presiden Soeharto dalam Pidato Kenegaraan 16 Agustus 1989).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tidak mudah menjawab harapan Presiden Soeharto saat itu. Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di bawah kepemimpinan Prof JB Sumarlin kemudian menyerahkan sumbangan pemikirannya pada Agustus 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui perdebatan seru sesudah itu, akhirnya muncul semacam kesepakatan bahwa yang dimaksudkan dengan demokrasi ekonomi khas Indonesia adalah sistem ekonomi pasar terkelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak kesan dan kenangan atas wafatnya Soeharto, banyak kalangan kembali menyinggung tentang keberhasilan pembangunan ekonomi era Soeharto,seperti pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pengendalian inflasi yang efektif, ketahanan pangan yang meningkat, dan pendapatan per kapita yang naik berlipat-lipat. Bahkan muncul istilah Soehartonomics untuk menandai paradigma pembangunan ekonomi periode tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak mudah menjabarkan apa itu Soehartonomics karena Pak Harto sendiri - yang tampaknya terus bergumul dengan tarik-menarik (trade-off) antara pertumbuhan dan pemerataan, antara liberalisasi dan intervensi negara-justru meminta ISEI untuk menjabarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep demokrasi ekonomi yang digagas Bung Hatta kemudian dikembangkan ekonom seperti Sarbini Sumawinata, Mubyarto, Kwik Kian Gie, Emil Salim, dan Sri Edi Swasono,memang terus-menerus mengundang polemik. Terkait erat dengan Soehartonomics adalah istilah Mafia Berkeley. Istilah ini muncul pada forum "Indonesian Investment Conference" yang diselenggarakan di Jenewa, November 1967, antara delegasi Indonesia dan para pebisnis global yang disponsori James A Linen,Presiden Time Inc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir dalam konferensi itu nama-nama beken seperti David Rockefeller (Chase) dan Robert Hills (Freeport). Konon istilah tersebut dilontarkan oleh David Rockefeller karena begitu terkesan dengan sejumlah ekonom muda lulusan Universitas California, Berkeley, yang begitu fasih berbicara dalam bahasa yang dimengerti para pebisnis global tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya,para ekonom yang membantu Soeharto sejak awal, yang telah mengundang kembali Dana Moneter Internasional (IMF) sejak Juli 1966 dan Bank Dunia sejak Agustus 1966,seperti Widjojo Nitisastro,Ali Wardhana,MohammadSadli, danEmilSalim, sering dijuluki sebagai Mafia Berkeley generasi pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak mudah menemukan benang merah pemikiran ekonomi Widjojo dan kawan-kawan atau yang juga pernah diistilahkan sebagai Widjojonomics.Penyederhanaan berlebihan terhadap pemikiran mereka bisa membawa kesimpulan seakanakan mereka tidak memiliki nasionalisme ekonomi, percaya membabi-buta kepada ekonomi pasar dan modal asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai forum mereka sendiri selalu menyatakan sebagai ekonom kubu Keynesian yang percaya bahwa ekonomi pasar bekerja dengan baik apabila dikawal oleh perangkat regulasi pemerintah yang kuat. Prestasi para ekonom yang mendampingi Pak Harto memang cukup mencengangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tak sedikit pula kalangan yang menyatakan sesungguhnya tugas memulihkan perekonomian Indonesia pasca-Orde Lama tergolong cukup ringan.Jika diibaratkan dengan kapal dan nakhoda, para ekonom tersebut seperti berlayar di atas kapal dengan bahan baku penuh, geladak yang tidak gaduh, dan suasana lautan yang tenang. Selain, tentu saja, pemulihan tersebut sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat (AS) dan proyek besar kapitalisme internasional (Jeffrey Winters, 1999; Revrisond Baswir,2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis hebat yang melanda Indonesia 1997/1998 menyadarkan kita ternyata pembangunan Orde Baru amat mengandalkan pada utang luar negeri dan dilakukan pada tingkat efisiensi yang rendah. Efisiensi rendah ini merupakan akibat dari maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita menyesal mengapa Soehartonomics atau Widjojonomics yang dipraktikkan saat itu tidak disertai dengan pemerintahan yang bersih (clean government), sehingga kita bisa benar-benar menjadi salah satu Macan Asia.Padahal, secara universal telah muncul pemikiran bahwa kesejahteraan masyarakat dalam sistem ekonomi pasar mensyaratkan tiga pilar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar yang efisien, pemerintahan yang bersih, dan modal sosial yang kuat. Dengan demikian, dalam menimbang jasa Soeharto,kita tetap harus bersikap objektif, mengemukakan keberhasilan, tetapi juga kekurangannya. Hanya dengan sikap seperti ini kita bisa belajar dari masa lalu dan tetap terbuka untuk melakukan perbaikan terus-menerus di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap menonjol-nonjolkan keberhasilan tanpa mau mengakui kekurangan akan membuat kita dungu, romantis, dan melodramatik. Sebaliknya, sikap mencela sematamata membuat kita lupa,bahwa sebagai bangsa kita pernah belajar secara kolektif untuk waktu yang lama dengan biaya belajar yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan,Pak Harto. Sebagai bangsa kami akan mengenangmu dengan segala kelebihan dan kekurangan. Yang baik akan terus kami pupuk,yang buruk akan kami buat menjadi lapuk. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROF HENDRAWAN SUPRATIKNO PhD&lt;br /&gt;Direktur Program Pascasarjana dan Program Doktor IBII&lt;br /&gt;Ketua ISEI Salatiga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-7384904586804065496?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/7384904586804065496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=7384904586804065496' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/7384904586804065496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/7384904586804065496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/soehartonomics.html' title='Soehartonomics'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-3448517224823578471</id><published>2008-02-11T04:44:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T04:45:19.988-08:00</updated><title type='text'>Nasionalisme Pangan Pak Harto</title><content type='html'>Kenangan yang paling membekas pada saya tentang Pak Harto adalah penghargaan upakarti yang diberikan pada 1989 atas prestasi kami di Bukaka dalam membuat barang-barang yang dibutuhkan untuk mendukung kelancaran pembangunan seperti pompa angguk, mesin pembuat jalan raya, dan gangway untuk pesawat terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau sendiri yang memberikan nama Indonesia yang sangat bagus, yaitu garbarata. Penghargaan ini merupakan bentuk kepercayaan beliau terhadap orang muda. Jika diberi kesempatan, orang muda mampu berprestasi dan menghasilkan produk yang tidak kalah dengan buatan luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa bangga terhadap prestasi anak muda Indonesia tidak sebatas pada pemberian penghargaan, tetapi diikuti dengan kebijakan yang memberikan ruang yang leluasa untuk berprestasi melalui kompetensi. Untuk meningkatkan penggunaan produk yang sudah dapat dibuat di dalam negeri oleh putra-putra terbaik Indonesia, beliau mengangkat Ginanjar Kartasasmita sebagai Menteri Muda UPDN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan inilah yang kemudian melahirkan pengusaha-pengusaha tangguh tamatan perguruan tinggi yang mampu bersaing di kancah internasional seperti Arifin Panigoro melalui Medco, Aburizal Bakrie melalui Bakrie Brothers, Iman Taufik melalui Tri Patra, dan masih banyak lagi. Prestasi aksi dan prestasi hasil yang ditunjukkan oleh anak-anak muda menjadikan kami kerap diajak ngobrol santai untuk masalah yang serius. Beliau menekankan pentingnya visi pembangunan yang jelas dan operationable.Topik kesukaan beliau adalah pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau tahu dengan detail masalah pertanian dan merupakan obsesinya untuk menjadikan petani Indonesia makmur dan mampu menikmati hasil pembangunan. Mayoritas masyarakat Indonesia adalah petani yang berkategori peasant, yaitu yang hanya berorientasi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sendiri (petani subsisten) bukan farmer, petani yang berorientasi komersial. Meski demikian, petani Indonesia merupakan soko guru sejati pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memiliki tugas mulia menyediakan produk pangan dengan harga terjangkau agar semua lapisan masyarakat dapat mudah mengakses sumber pangan. Nasihat Pak Harto yang terus kami ingat adalah jangan lupakan petani karena jasa merekalah maka kita yang hidup di kota menjadi lebih nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangkitkan kepercayaan masyarakat pada awal pemerintahannya, langkah darurat yang diambil adalah membuka keran impor beras dan mencari bantuan luar negeri untuk impor beras. Setelah kepercayaan diraih, stabilitas teraih. Pak Harto mulai melakukan revitalisasi sektor pertanian dan mendirikan Bulog sebagai penyangga harga beras agar terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal 1970-an, ketika minyak dijadikan senjata diplomasi oleh negara-negara Timur Tengah dalam menekan Amerika dan Eropa agar lebih fair dalam menjalankan kebijakan politik luar negerinya di Timur Tengah, Indonesia kebagian rezeki minyak akibat kenaikan harga yang cukup signifikan. Rezeki minyak ini dimanfaatkan dengan saksama oleh Pak Harto untuk membangun sektor pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang 1970-an hingga 1980-an dilakukan investasi besar-besaran untuk infrastruktur pertanian. Sejumlah waduk, bendungan, dan irigasi dibangun. Bendungan Karang Kates di Jawa Timur, Waduk Mrica, Gajah Mungkur dan Kedung Ombo di Jawa Tengah, Bendungan Riam Kanan dan Riam Kiwo di Kalimantan, Bendungan Asahan di Sumatra, jalan-jalan pedesaan diperbaiki, juga program listrik masuk desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, diperkenalkan manajemen usaha tani, dimulai dari Panca Usaha Tani, Bimas, Operasi Khusus, dan Intensifikasi Khusus yang terbukti mampu meningkatkan produksi pangan, terutama beras. Budi daya padi di Indonesia adalah yang terbaik di Asia. Pemerintah memfasilitasi ketersediaan benih unggul, pupuk, pestisida melalui subsidi yang terkontrol dengan baik. Pabrik pupuk dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petro Kimia Gresik di Gresik, Pupuk Sriwijaya di Palembang, dan Asean Aceh Fertilizer di Aceh. Langkah pembangunan pertanian yang dilakukan Pak Harto dikenal dengan nama "revolusi hijau". Dari revolusi hijau ini dihasilkan peningkatan produksi beras secara besar-besaran. Produksi beras nasional praktis dapat memenuhi permintaan dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada puncaknya, pada 1984 Indonesia berhasil meraih surplus produksi beras. Bahkan, dapat membantu Afrika yang kala itu sedang dilanda kelaparan. Di saat yang sama, pemerintah berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat di pedesaan dan memperkecil tingkat ketimpangan antarmasyarakat desa dan kota di Indonesia walau pada saat yang sama ada penurunan tingkat harga produk pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi aksi dan prestasi hasil di bidang pembangunan pertanian telah mengantarkan Pak Harto mendapatkan penghargaan dari FAO pada 21 Juli 1986 di Roma. Ini adalah magnum opus Pak Harto yang sulit ditandingi. Setelah Pak Harto menarik diri dari pemerintahan, terjadi titik balik dalam prestasi pengelolaan pangan. Sejak akhir 2006, harga beras mulai merangkak naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan minyak goreng dan kacang kedelai sebagai bahan baku tempe naik lebih dari dua kali lipat. Ketahanan pangan kita demikian rapuh karena petani tidak diberi insentif yang menjamin keberlangsungan usahanya. Lebih ironis lagi karena euforia reformasi, jabatan penyuluh pertanian oleh beberapa pemerintah daerah dihapuskan. Kalau begitu jangan heran bila kita sekarang sulit menaikkan produktivitas pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masih belum terlambat merevitalisasi sektor pertanian. Pemberdayaan petani melalui pendekatan budaya wirausaha adalah sebuah keharusan. Ini dilakukan dengan penguatan SDM petani melalui pelatihan dan bimbingan yang berkesinambungan. Selain itu, perlu sertifikasi aset petani agar bankable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini akan membantu penguatan modal petani. Semangat swadaya petani perlu dibangkitkan. Titik masuknya adalah melalui dana bergulir yang dipertanggungjawabkan secara tanggung renteng. Jika ini dilakukan, impian Pak Harto menjadikan petani makmur dan bermartabat adalah suatu keniscayaan. Selamat jalan, Pak Harto. Semoga mendapat kemuliaan di sisi Allah. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadel Muhammad&lt;br /&gt;Gubernur Gorontalo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-3448517224823578471?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/3448517224823578471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=3448517224823578471' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/3448517224823578471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/3448517224823578471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/nasionalisme-pangan-pak-harto.html' title='Nasionalisme Pangan Pak Harto'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-6627217718979858979</id><published>2008-02-06T05:25:00.000-08:00</published><updated>2008-02-06T05:26:03.296-08:00</updated><title type='text'>Masa Kecil Soeharto, Orang Tua Cerai</title><content type='html'>Mantan Presiden Soeharto menapaki perjalanan hidupnya dengan kisah yang panjang. Salah satunya, tercermin dari buku otobiografi Soeharto, Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku tulisan G Dwipayana dan Ramadhan KH ini, Soeharto menuturkan kisah hidupnya secara panjang lebar, falsafah hingga harapan-harapannya. Berikut nukilan salah satu bagian yang bercerita masa kecil Soeharto:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan saya tentang perjalanan hidup ini bermula ketika saya berumur tiga tahun. Waktu itu saya sudah bersama mBah Kromodiryo, dukun yang biasa menolong orang yang melahirkan. Nama panggilannya adalah mBah Kromo, adik kakek saya. mBah Kertoirono. Beliaulah yang menolong ibi saya. Ibu Sukirah sewaktu melahirkan saya. Maka beliau pun bercerita bahwa saya dilahirkan pada tanggal 8 Juni 1921, di rumah orang tua saya yang sederhana, di desa Kemusuk, dusun terpencil, di daerah Argomulyo, Godean, sebelah barat kota Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah saya, Kertosudiro, adalah ulu-ulu, petugas desa pengatur air, yang bertani di atas tanah lungguh, tanah jabatan selama beliau memikul tugasnya itu. Beliau yang memberi nama Soehaarto kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah anak ketiga. Dari istri yang pertama beliau mempunyai dua anak. Sebagai duda, beliau menikah lagi dengan ibu saya. Tetapi hubungan orang tua saya kurang serasi hingga akhirnya setelah saya dilahirkan, mereka bercerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian Ibu Sukirah menikah lagi dengan seseorang yang bernama Atmopawiro. Pernikahannya ini melahirkan tujuh orang anak. Sementara itu ayah saya pun menikah lagi dan mendapatkan empat anak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terkira sebelumnya, bahwa pada suatu waktu di hari tua saya, saya mesti menjelaskan silsilah saya karena ada yang menulis yang bukan-bukan di bulan Oktober 1974 disebuah majalah. Saya menyuruh Dipo (G. Dwipayana) membantah tulisan itu, dan memuatkan bantahannya di dalam majalah dan surat kabar harian yang terbit di Jakarta. Tetapi selang sehari saya perintahkan supaya wartawawartawan berkumpul di Bina Graha, di kamar kerjanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin secara pribadi menjelaskan silsilah saya itu. Di depan wartawan luar dan dalanm negeri saya beberkan, saya bukan seseorang dari keturunan ningrat. Saya hadapkan dalam pertemuan dengan wartawan-wartawan itu beberapa orang tua, saksi-saksi yang masih hidup yang mengetahui benar silsilah saya.  Saya adalah keturunan Bapak Kertosudiro alias Kertorejo, ulu-ulu yang secara pribadi tidak memiliki sawah sejengkal pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berterus terang, di dalam menghadapi kehidupan sewaktu kecil, saya mengalami banyak penderitaan yang mungkin tidak dialami oleh orang-orang lain. Saya katakan, tulisan-tulisan yang tidak benar mengenai silsilah saya itu mungkin bisa ditafsirkan yang tidak-tidak atau memberikan bahan yang mungkin tidak hanya merugikan saya kepada negara dan bangsa Indonesia. Dalam bahasa Jawa, ada pepatah "Sadamuk bathuk, sanyari bumi". Sekalipun hanya di-dumuk, tapi batuknya, berarti mengenai harga diri keluarga dan pribadinya, sanyari bumi. Sanyari, walaupun hanya kecil sejari mengenai bumi, warisan, itu juga bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Sedangkan saya percaya bahwa setidak-tidaknya berita tersebut bisa membingungkan. Sebenarnya Presiden yang sekarang itu keturunan dari mana ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau itu sudah menimbulkan pembicaraan, timbul kemudian pro dan kontra. Kalau timbul pro dan kontra, dengan sendirinya mereka saling mempertahan kan pendapat masing-masing dan bisa terjadi perselisihan. Ini kesempatan yang baik untuk pihak yang melakukan subversi dalam melaksanakan gerpolnya, dan dapat meningkatkan gangguan stabilitas nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal stabilitas nasional sangat kita butuhkan dalam melaksanakan pembangunan. Bahkan saya kira lebih dari itu. Kalau tulisan itu benar, itu menunjukkan bahwa seorang anak yang sudah berumur enam tahun oleh ibunya diserahkan dengan begitu saja kepada temannya di desa Kemusuk. Ini menggambarkan martabat seorang wanita yang tidak ada harganya. Timbul dengan sendirinya pertentangan antara lelaki dan wanita dalam urusan harga menghargai. Ini juga menggambarkan keadaan yang tidak baik. Mungkin bisa menimbulkan kesan lebih dari itu; kenapa begitu mudah, diserahkan dengan begitu saja istri dan anak yang beumur enam tahun; mungkin karena perkawinannya tidak sah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau tidak sah, bearti anak haram atau anak jadah. Apakah ini tidak akan merugikan nama bangsa dan negara ? Karena itu, melihat jangka jauh yang tidak hanya mengenai nama pribadi saya, leluhur saya, tetapi juga mengenai saya yang secara kebetulan memperoleh kepercayaan dari rakyat menjadi Presiden, tulisan semacam itu tidak bisa dilepaskan dari kemungkinan dijadikan bahan dalam subversi dan gerpol. Karena itu, silsilaha saya harus dijelaskan. Sekalipun terpaksa rahasia pribadi dibuka, demi kepentingan pengabdian saya kepada negara dan bangsa, maka saya ceritakan semuanya itu, dan saya sedikitpun juga tidak merasa menyesal menceritakannya. Sebagai orang yang beriman, syarat dari iman adalah percaya kepada Tuhan, percaya kepada malaikat-malaikatnya, kepada rosul, kepada kitab-kitab suci, kepada hari kiamat dan percaya kepada takdir- semuanya itu saya terima sebagai keadaan yang menimpa diri saya, mulai lahir sampai sekarang, sebagai bekal hidup saya hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya setelah saya dilahirkan, saya tidak lama bersama ibu saya. Belum empat puluh hari saya sudah dibawa ke rumah mBah Kromodiryo, karena ibu saya sakit sehingga tak bisa menyusui. Di rumah mBah Kromo- saya digendong-gendong oleh mBah Amat Idris. Mbah Kromo yang mengajar saya berdiri dan berjalan, dan sering kali beliau membawa saya kemana-mana kalau beliau pergi bertugas ke luar rumah. Kalau mBah Kromo putri menjalankan prakteknya sebagai dukun bayi dan saya tidak dibawanya, maka saya sering diajak mBah Kromo ke sawah. Kadang-kadang saya digendongnya sambil membalik-balikkan tanah, atau dinaikkannya di atas garu. Kesenangan tersendiri yang tetap terkenang sampai tua, sewaktu saya didudukkan di atas garu dan memberi isyarat kepada kerbau untuk maju, untuk membelok ke kiri, ke kanan. Lalu turun ke sawah, bermain air, bermandikan lumpur. Maka kalau merasa capek atau kepanasan, saya disuruhnya menunggu di pinggir, di pematang atau di jalan. Pada kesempatan ikut dengan mBah Kromo di sawah tersebut saya suka mencari belut yang jadi kesukaan saya waktu makan, sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari saya menebang pohon pisang dengan sebuah sabit. Perkakas itu lepas dari tangan saya dan jatuh serta melukai kaki saya. Rupanya seisi rumah menganggap kejadian itu sepele pada mulanya. Tetapi kemudian ternyata luka di kaki saya menjadi borok. Maka Mbah Kromo menjadi risau dan beliaulah yang mengobati saya dengan penuh kasih. Memang, terasa sekali sampai sekarang betapa sayangnya beliau kepada saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-6627217718979858979?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/6627217718979858979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=6627217718979858979' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/6627217718979858979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/6627217718979858979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/masa-kecil-soeharto-orang-tua-cerai.html' title='Masa Kecil Soeharto, Orang Tua Cerai'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-8983172710406809451</id><published>2008-02-06T05:24:00.002-08:00</published><updated>2008-02-06T05:25:10.727-08:00</updated><title type='text'>Sekolah Soeharto Membaik Setelah Dititipkan ke Sang Paman</title><content type='html'>Salah satu tonggak perubahan hidup masa kecil almarhum Soeharto adalah saat dirinya dititipkan ke paman dan bibinya yang mempunyai penghidupan lebih baik. Hal ini tertuang dalam buku otobiograsi Soeharto, Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku tulisan G Dwipayana dan Ramadhan KH ini, Soeharto menuturkan kisah hidupnya selama bersama paman dan bibinya yang bertempat tinggal jauh dari orangtuanya di Kemusuk, Godean, Yogyakarta. Berikut nukilan salah satu bagian yang bercerita masa kecil Soeharto:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengiang di telinga saya sampai sekarang ialah ucapan ayah saya waktu beliau menyerahkan saya kepada paman dan bibi saya : "Saya menyerahkan Soeharto kepadamu. Silahkan asuh. Saya kuatir, kalau dia terus tinggal di Kemusuk, dia tidak akan menjadi orang. Saya sangat bersyukur jika anak ini memperoleh pendidikan dan bimbingan yang baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sangat mengandung arti, memberikan gambaran apa yang ada pada orang tua saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bersyukurlah saya, bahwa Pak Prawirowihardjo dan bibi saya menerima saya sebagai anaknya sendiri. Saya dianggapnya sebagai putranya yang tertua dan diberlakukan sama dengan putra-putranya sendiri, seperti Sulardi. Maka di tempat ini saaya disekolahkan dan mendapat pendidikan lebih baik daripada sewaktu di Kemusuk. Saya menekuni semua pelajaran, lebih-lebih pelajaran berhitung yang saya sukai, yang menyebabkan saya mendapat pujian dari guru. Di samping itu saya mendapat pendidikan agama yang cukup kuat, karena keluarga paman saya itu terbilang tebal ketaatannya kepada agama.&lt;br /&gt;Tetapi baru satu tahun tinggal pada keluarga Pak Prawirowihardjo, ayah tiri saya, Pak Atmopawiro, bersama kakaknya, Pak Sumowijatmo dan kakak iparnya, Pak Sastroharjono, datang menjenguk saya yang sudah lama tidak dilihatnya. Dikatakannya ibu saya sangat rindu kepada saya, dan dijanjikannya saya akan dikembalikannya seetelah Lebaran, waktu sekolah dibuka lagi. Tetapi ternyata janjinya itu tidak dipenuhinya dan akibatnya saya mesti tinggal lama di Kemusuk dan di sekolahkan di desa Tiwir. Setahun kemudian saya dijemput lagi oleh Bapak dan Ibu Prawirowihardjo dan bisa kembali tinggal dan sekolah di Wuryantoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu terasa latar belakang kehidupan saya di Kemusuk tumbuh menyubur selama saya menetap di Wuryantoro. Pengalaman di Kemusuk di tengah-tengah kaum tani, di tahun-tahun sembilan belas dua puluhan yang sedang sulit itu, menanamkan dalam diri saya benih-benih ini dipupuk bukan saja oleh hubungan saya yang berlanjut dengan kehidupan petani, tetapi juga dihidupkan oleh pengetahuan dan pengalaman yang saya peroleh  di bidang pertanian di bawah bimbingan Pak Mantri Tani Prawirowihardjo. Saya sering menyertai paman saya itu dalam peninjauannya ke pelbagai tempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Pak Prawirowihardjo bukan saja memberikan pengetahuan di bidang pertanian secara teoretis kepada saya, melainkan juga lewat praktek. Di tiga kebun percontohan yang saya ingat, yang ditekuni oleh Pak Prawirowihardjo, yakni yang di desa Ngungkring, Kenongo, dan Tangkil, saya diberi kesempatan untuk menggumuli tanah yang jadi kecintaan saya. Di samping itu saya mendengarkan tanya jawab antara Pak Prawirowihardjo dengan para petani yang memberikan tambahan pengetahuan kepada asaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kagum kepada Pak Prawirowihardjo. Beliau sungguh-sungguh menekuni tugasnya sebagai mantri tani. Terbukti pula dengan penghargaan yang diterimanya dari bupati, berkat keberhasilannya memanfaatkan tumbuhan orok-orok sebagai pupuk untuk menyuburkan tanah gersang. Kebun percontohan di Tangkil yang mulanya sangat tandus, dari waktu ke waktu mendapat kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketekunan dan kreativitas Pak Prawiro itu memberikan inspirasi kepada saya. Semangat saya dijadikannya hidup. Maka sewaktu diadakan semacam adu kemahiran membuat perladangan, saya bisa mengalahkan putra-putra Pak Prawiro. Berambang dan bawang putih tanaman saya ternyata dinilai paling baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari saya belajar mengaji di Langgar. Sering-sering saya semalam suntuk berada di langgar itu dengan teman-teman sepengajian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu pula, saya masuk kepanduan Hizbul Wathan, pramuka sebutannya sekarang, yang berdasarkan keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu pula saya mulai mengenal pahlawan-pahlawan kita, melihat potret Raden Ajeng Kartini, mendapatkan guntingan potret Pangeran Diponegoro dari sebuah koran yang sampai di desa kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keprihatinan hidup yang saya alami, pendidikan keluarga yang menjunjung tinggi warisan nenek moyang, pendidikan kebangsaan sewaktu di sekolah lanjutan rendah, pendidikan agama waktu mengaji, rasanya besar pengaruhnya dalam pembentukan watak saya. Saya juga diberi latihan spriritual oleh ayah angkat saya seperti puasa tiap Senin dan Kamis dan tidur di tritisan ( dibawah ujung atap di luar rumah). Semua anjurannya saya kerjakan dengan tekun dan penuh keyakinan.. Ada satu anjuran yang belum saya kerjakan, yaitu tidur di pawuhan, di tempat bekas bakaran sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu saya ditempa mmengenal dan menyerap budipekerti dan filsafat hidup yang berlaku di lingkungan saya. Mengenai agama dan tata cara hidup Jawa. Pada masa itulah saya mengenal ajaran tiga"aja", "aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh", (jangan kagetan, jangan heran, jangan mentang-mentang), yang kelak jadi pegangan hidup saya, yang jadi penegak diri saya dalam menghadapi soal-soal yang bisa mengguncangkan diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat terus akan ajaran leluhur,"hormat kalawan Gusti, Guru, Ratu lan wong atuwo karo", hormat kepada Tuhan Yang Maha Esa, guru, pemerintah, dan kedua orang tua. Sampai jadi Presiden saya merasa tidak berubah dalam hal ini. Saya junjung tinggi ajaran itu dan saya percaya akan kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasakan mencintai dan dicintai orang-orang tua saya, pengasuh-pengasuh saya, dan saudara-saudara saya, baik yang seibu maupun yang sebapak atau saudara angkat saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu saya tahu bahwa Wedana Wuryantoro adalah RM. Sumoharjomo, dan ada seorang putrinya, Siti Hartinah yang satu kelas dengan Sulardi. Saya mesti menyebutkan nama anak Wedana ini, sebab saya menemukannya lagi kelak sewaktu saya sudah dewasa, cukup untuk membentuk keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menamatkan sekolah rendah lima tahun, saya dimasukkan sekolah lanjutan rendah (schakel school) di Wonogiri. Untuk ini saya pindah rumah ke Selogiri, 6 Km dari Wonogiri, bersama-sama dengan Sulardi dan tinggal di rumah kakak perempuan yang menjadi istri pegawai pertanian*).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan pertanian saya berlanjut di Selogiri itu. Sudiarto kakak Sulardi, juga tinggal bersama di Selogiri itu. Semasa itu Sulardi- yang sudah dibelikan sepeda oleh kakaknya, Sudiarto- dan saya suka bergoncengan naik sepeda ke sekolah, atau ke Kemusuk di hari-hari libur, menengok orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhitung sudah agak tua waktu saya disunat, yakni pada umur 14 tahun. Mungkin sebabnya Cuma karena tidak gampang mengumpulkan biaya. Dan begitu pun selamatan yang diadakan amat sederhana saja. Namun bagaimanapun, rasanya saya merasa gembira. Dan memang saya mesti bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan percakapan orang tua, setelah saya disunat, rasanya badan saya cepat menjadi tinggi dan kekar, tumbuh jadi besar. Padahal apa yang disediakan untuk saya tetap sama. Makanan yang tersedia tidak bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan keluarga Citratani yang retak, menyebabkan kemudian saya mesti pindah ke Wonogiri dan tinggal pada keluarga teman ayah saya, seorang pensiunan pegawai kereta api, Pak Hardjowijono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Pak Hardjowijono tidak punya anak. Saya jadi tangan kanan mereka dalam membantu ini dan itu di rumahnya. Saya membersihkan rumah sebelum pergi ke sekolah. Saya disuruh belanja ke pasar dan menjual hasil kerajinan tangan Ibu Hardjo. Dan bahkan saya suka-suka harus memasak pada sore hari atau kalau sedang tidak bersekolah. Tetapi mengenal hal itu saya tidak mengeluh. Saya mendapat didikan yang bermanfaat, sangat bermanfaat di rumah Pak Hardjowijono. Saya jadi pekerja, jadi tukang yang akan bisa berdiri sendiri jika keadaan memaksa. Dan rasa-rasanya bisa belajar dengan cepat melakukan hal-hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu waktu saya mendapat perhatian dari seorang pemilik warung yang biasa menerima hasil kerajinan tangan Ibu Hardjo untuk dijualkan. Pemilik warung itu mengajak saya untuk tinggal di rumahnya dan membantunya. Tetapi saya tahu diri, saya merasa tidak patut meninggalkan keluarga Pak Hardjowijono begitu saja, walaupun ada harapan yang lebih cerah jika ikut dengan pemilik warung itu. Dan saya ingat kepada ayah saya, yang menitipkan saya kepada Pak Hardjo. Saya tidak bisa melangkahi ayah saya. Di samping itu, saya mendapat kesenangan khusus bersama Pak Hardjo. Ia adalah seorang pangikut Kiai Darjatmo yang setia. Kiai Darjatmo itu mubalig terkenal di Wonogiri waktu itu. Malahan ia suka mengobati orang sakit dan dipercaya orang banyak dalam hal meramal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya masih bisa membayangkan keramahan Kiai Darjatmo yang juga opzichter irigasi. Apabila Pak Hardjo berkunjung kepada Kiai Darjatmo itu, saya suka dibawanya dan diizinkan mendengarkan tanya jawab mengenai agama antara kedua orang tua itu. Saya jadi bisa meresapkan ajaran filsafat hidup Pak Kiai Darjatmo itu. Saya mendengarkan penjelasannya mengenai isi kitab suci Al-Qur`an. Saya mendapatkan pengertian mengenai apa itu samadi dan apa itu kebatinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang terpikat oleh Pak Kiai Darjatmo yang alim, jujur, dan tidak suka melihat kecurangan berlaku disekitarnya itu. Tidak berapa lama setelah kemerdekaan, Pak Darjatmo terpilih menjadi anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) di Wonogiri dan dipercaya untuk memimpin di bidang kerohanian dalam perjuangan menghadapi Belanda di waktu-waktu sesudah itu. Orang inilah pula yang sering saya kunjungi waktu saya menjadi komandan resimen di Salatiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa tertarik oleh cara kiai Darjatmo itu dalam menjelaskan dan mengajar orang. Minat saya besar untuk sering mendengarkan Pak Kiai itu bicara mengenai filsafat hidup. Rasa-rasanya Pak Kiai Darjatmo itu pun tertarik kepada saya. Maka kemudian, dengan seizin Pak Hardjo, saya diizinkan kadang-kadang datang sendiri ke rumah Kiai Harjatmo yang letaknya tidak berjauhan dengan tempat tinggal Pak Harjo. Di langgar Kiai Darjatmo inilah saya banyak belajar mengenai agama dan kepercayaan. Saya mendengarkan secara langsung nasihat-nasihat yang diberikan oleh Kiai Darjatmo pada mereka yang memerlukan, orang-orang terpelajar, pedagang, pegawai, maupun petani sampai bakul-bakul.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-8983172710406809451?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/8983172710406809451/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=8983172710406809451' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/8983172710406809451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/8983172710406809451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/sekolah-soeharto-membaik-setelah.html' title='Sekolah Soeharto Membaik Setelah Dititipkan ke Sang Paman'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-3224808042063400081</id><published>2008-02-06T05:24:00.001-08:00</published><updated>2008-02-06T05:24:20.541-08:00</updated><title type='text'>Ketika Soeharto Masuk Sekolah Muhammadiyah</title><content type='html'>Masa masa sulit almarhum Soeharto adalah saat menyelesaikan studi. Keterbatasan biaya dari orangtua membuatnya harus berpindah dari Yogyakarta ke Wonogiri, ikut pamannya yang mempunyai penghidupan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ikut bersama dengan paman dan bibi tidak semuanya mulus. Ia harus kembali ke orangtuanya di Kemusuk, Yogyakarta dan menyelesaikan sekolah. Masuklah Soeharto ke sekolah Muhammadiyah yang tidak memerlukan sepatu. Hal ini terungkap dalam buku otobiografi Soeharto, Ucapan, Pikiran dan Tindakan  Saya. Berikut nulikannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang saya kenang mengenai hidup di rumah  Kiai Darjatmo ialah sewaktu saya diizinkan membantunya dalam membuat catatan (resep) obat-obatan tradisional yang diberikan sewaktu mengobati orang sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama obat-obatan yang ganjil, ramuan yang aneh, tanam-tanaman yang langka dan yang banyak terdapat di tengah kampung serta peringatan-peringatan saya tuliskan untuk orang yang sakit, yang kadang-kadang saya kerjakan hingga larut malam. Maka saya mengenal pelbagai macam daun-daunan, akar-akaran, pohon-pohonan, rerumputan. Memang Pak Darjatmo itu suka memberikan petunjuk apa yang mesti dimakan atau dioleskan dan apa larangan-larangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermacam orang datang minta tolong kepada Pak Darjatmo, dari mulai yang sakit kulit, sakit panas sampai kepada yang mempersoalkan perkawinan dan perceraian, yang mendambakan anak, kesulitan dalam berdagang, urusan dengan penguasa, yang merasa kemasukan setan, yang tertimpa oleh pemerasan orang ketiga, dan macam-macam lagi. Dan saya tahu dari dekat bahwa memang banyak diantara mereka yang meminta tolong itu, kemudian sembuh setelah mengikuti petunjuk Pak Darjatmo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu waktu berakhir juga hubungan saya dengan Pak Darjatmo. Saya kembali ke kampung asal, ke Kemusuk. Dan dari sana saya pergi setiap hari ke Yogya, naik sepeda, untuk menyelesaikan pelajaran di sekolah Muhammadiyah. Saya terpaksa meninggalkan Wonogiri dan langgar Kiai Darjatmo gara-gara peraturan sekolah yang mengharuskan murid pakai celana pendek dan bersepatu, sedang orang tua saya tak mampu membelikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Yogya, walaupun di kota, saya bersekolah pakai sarung atau kain, dan tidak bersepatu. Namun, saya tidak merasa kikuk, karena saya tidak seorang diri yang demikian. Masih ada sejumlah murid lagi yang datang seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu saya mendengar tentang protes menentang penjajahan Belanda. Saya dengar adanya rapat-rapat umum di kota Yogya, yang digerakkan oleh tokoh-tokoh politik. Sampai di sekolahpun para pelajar ikut-ikutan membicarakan apa-apa yang telah didengar di tempat-tempat rapat umum itu. Tetapi semua ini belum memberi kesan yang kuat kepada saya. Saya memusatkan pikiran pada pelajaran dan menamatkan sekolah pada tahun 1939.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menamatkan sekolah schakel Muhammadiyah sebenarnya saya masih ingin melanjutkannya. Tetapi baik ayah maupun keluarga lainnya tidak ada yang sanggup membelanjai saya sekolah. Keadaan ekonomi- keluarga kami rendah sekali. Saya masih ingat saja akan apa yang dikatakan ayah saya waktu itu. "Nak," katanya,"Tak lebih dari ini yang dapat kulakukan untuk melanjutkan sekolahmu. Dari sekarang kamu sebaiknya mencari pekerjaan saja. Dan kalau sudah dapat, Insya Allah, kamu dapat melanjutkan pelajaranmu dengan uangmu sendiri." Sulit mendapatkan pekerjaan tanpa bantuan orang yang berkedudukan atau yang berpengaruh, tanpa uluran tangan orang kaya ataupun pengusaha besar waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berusaha kian kemasi mencoba mendapatkan sumber nafkah. Tetapi tidak juga berhasil.  Akhirnya saya kembali ke Wuryantoro, tempat banyak kenalan yang saya harapkan akan bisa membuka jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar juga. Setelah sekian banyak jalan yang saya tempuh, akhirnya saya diterima sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volks-bank). Walaupun saya tidak begitu senang dengan pekerjaan ini, saya anggap lebih baik melakukannya daripada `nganggur di tengah suasana yang muram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengikuti klerek bank berkeliling kampung dengan sepeda, dengan mengenakan pakaian Jawa lengkap, dengan kain blangkon dan baju beskap. Di kantor-kantor lurah kami menampung permintaan para petani, pedagang kecil dan pemilik warung yang menginginkan pinjaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sudah mengetahui cukup banyak mengenai kebutuhan orang-orang kecil itu sewaktu saya bersama Pak Prawirowihardjo tempo hari dan sewaktu membantu Pak Hardjowijono dan Pak Darjatmo. Tetapi saya tidak banyak bicara. Saya merasa pada tempatnya kalau lebih banyak mendengarkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dibilang setiap malam saya mengajak Kamin, seorang teman waktu itu, untuk belajar pembukuan. Mantri Bank Desa itu mengakui, bahwa otak saya encer. Tidak sampai dua bulan saya sudah menguasai seluruh pembukuan. Waktu itu saya memakai sepeda hitam. Kamin memakai sepeda hijau. Saya selalu disuruh Kamin mendayung sepeda di muka. "Ayo Mas Harto yang di depan, saya di belakang", kata Kamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu saya meminjam kain pada bibi karena kain saya sendiri sudah usang, tak patut lagi dipakai mendampingi klerek Bank Desa. Pada suatu hari saya bernasib jelek. Waktu turun dari sepeda yang sudah reot, kain yang saya pakai tersangkut pada per sadel yang menonjol keluar dan sobek. Saya dicela oleh klerek yang saya dampingi. Padahal saya tidak bersalah, cuma jalan hidup saya saja yang demikian. Tetapi bibi juga memarahi saya. Saya dibentaknya, dengan mengatakan, kain itu adalah satu-satunya kain yang baik. Tak ada lagi yang lainnya yang bisa diberikan, sekalipun mungkin saja sebenarnya ia masih mau menolong saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kejadian ini merupakan perpisahan dengan tempat saya bekerja. Tidak begitu menyesal, sebab memang saya tidak mendapat kesenangan bekerja di sana. Cuma waktu berjabatan tangan dengan Kasmin, saya mesti menundukkan muka. Terharu meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menganggur lagi, tetapi saya tidak putus asa. Saya cari kesempatan yang lebih baik. Saya pikir saya akan mencoba mengadu nasib di Solo. Saya benar-benar mendambakan pekerjaan. Apa saja, asal halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang teman yang menganjurkan untuk melamar ke Angkatan Laut Belanda. Tetapi lowongan yang ada di sana ialah sebagai juru masak. Saya pikir, biarlah itu nanti saya jadikan sebagai cadangan yang paling akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Solo pun ternyata tidak ada pekerjaan. Maka saya kembali ke Wuryantoro. Waktu itu saya isi dengan pekerjaan gotong-royong, membangun sebuah langgar, menggali parit, dan membereskan lumbung. Tetapi setelah itu, hari depan saya gelap lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-3224808042063400081?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/3224808042063400081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=3224808042063400081' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/3224808042063400081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/3224808042063400081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/ketika-soeharto-masuk-sekolah.html' title='Ketika Soeharto Masuk Sekolah Muhammadiyah'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-8286737911698907261</id><published>2008-02-06T05:22:00.000-08:00</published><updated>2008-02-06T05:23:27.159-08:00</updated><title type='text'>Soeharto dan Falsafah Mikul Dhuwur Mendhem Jero</title><content type='html'>Salah satu falsalah yang sering disampaikan almarhum Soeharto kepada para seniornya atau orang yang dituakan adalah sikapnya untuk menerapkan sikap "mikul dhuwur, mendhem jero."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Falsalah ini ditulis dalam buku otobiografi  Suharto, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya; Berikut nukilan lengkapnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat demonstrasi mahasiswa mewarnai suasana Jakarta, di Istana Merdeka saya mengadakan dialog dengan Bung Karno. Itu menyambung pembicaraan mengenai situasi dan mengenai PKI. Saya berkeyakinan bahwa pikiran Bung Karno mengenai jalan keluar kurang tepat. Saya terus berusaha supaya beliau mengerti dan menyadari perubahan yang telah terjadi. Sampai akhirnya rupanya beliau bertanya-tanya, mengapa saya tidak patuh kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kami berdua, Bung Karno bertanya dalam Bahasa Jawa, di tengah-tengah suasana Jakarta, "Harto, jane aku iki arep kok apakake ?" (Harto, sebenarnya aku ini akan kamu apakan ?) Aku ini pemimpinmu." Saya memberikan jawaban dengaan satu ungkapan yang khas berakar pada latar belakang kehidupan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak Presiden," jawab Saya, "Saya ini anak petani miskin. Tetapi ayah saya setiap kali mengingatkan saya untuk selalu menghormati orang tua. Saya selalu diingatkannya agar dapat mikul dhuwur mendhem jero (memikul setinggi-tingginya, memendam sedalam-dalamnya; menghormati) terhadap orang tua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jawaban itu saya bermaksud dan bertujuan seperti kudangan ayah saya kepada saya. Orang tua saya, sekalipun petani, orang kecil, orang yang tidak mendapatkan pendidikan formal, mempunyai kudangan terhadap anaknya, mempunyai cita-cita mengenai anaknya, yakni agar saya ini menjadi anak yang bisa mikul dhuwur mendhem jero pada orang tua. Saya pun mempunyai keyakinan, bahwa pegangan hidup seperti itu adalah benar, dan tepat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ingat, waktu itu kita masih sama-sama naik sepeda ke Desa Beji dan Semin," kata Kamin. "Di dekat sekolah sepeda kita tidak bisa lagi kita naiki, karena kedua desa itu merupakan pegunungan. Sepeda kita titipkan di rumah janda sebelah utara sekolah. Terus kita berdua jalan kaki ke desa itu. Di perempatan desa yang nanjak, Pak Harto berkata, "Kalau pekerjaan begini terus, saya tidak sanggup, berat sekali, saya besok tidak masuk lagi, Min."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita Kamin begitu langsung saya berkata : "Sudah.... sudah.... saya ingat." Dan saya kenang masa remaja itu dengan rasa yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamin bercerita lagi, dia pernah mimpi bertemu dengan singa besar. Dan ternyata ia dipanggil oleh Presiden, katanya. Kami tertawa-tawa dalam ngobrol bersama Kamin dan Kamsiri lebih dari satu jam lamanya itu. Bisa dimengerti, bahwa Kamsiri merasa bangga melihat bekas murid mengajinya menjadi Presiden negeri ini. Kamsiri pernah juga bercerita mengenai teman yang lainnya, Kang loso, yang jadi buta ketika berjuang dan keadaannya sangat memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Warikun lain lagi ceritanya. Ia masih ingat, ia selalu mengajak teman-temannya membantu saya mengisi bak air dari sumur. Ceritanya begini :"Mereka senang main sepak bola, tetapi kalai tidak dengan saya kurang senang, merasa gothang (kurang lengkap), lebih-lebih bila pertandingan antar desa. Sedang saya punya pekerjaan, dilatih disiplin oleh ayah saya. Tidak boleh main sore bila bak mandi belum penuh. Maka Warikum dan teman-temannya ini yang membantu. Setelah pekerjaan selesai, baru kami main bola."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tangkap dari ucapan mereka juga, adalah bahwa mereka sama sekali tidak kecewa mengenai nasibnya masing-masing. Mereka mengatakan,"Setiap orang memiliki nasibnya sendiri. Kita sebagai manusia kan saderma nglakoni (sekedar menjalani)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Istana, saya pikir, Istana Presiden bukan untuk Presiden saja. Gedung itu adalah Istana Negara, Istana Kepala Negara, milik rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mengadakan perubahan besar di gedung itu. Tetapi memang saya perintahkan untuk mengatur isinya dan iklimnya sedemikian rupa sehingga benar-benar representatif sebagai Istana. Istri saya sangat teliti dalam mengaturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini diadakan acara-acara yang terbuka sifatnya, yang bisa dilihat oleh orang banyak. Dengan begitu dimaksudkan, supaya rakyat merasa dekat. Pembelian cenderamata untuk keperluan Presiden dibeli oleh Rumah Tangga Kepresidenan yang ditunjang oleh anggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang kita terima dari negara sahabat, maka saya tetapkan itu menjadi milik negara. Dan semuanya itu diinventarisasikan, dicatat, kecuali yang tidak disa disimpan, seperti makan, atai minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang-barang berharga, semuanya disimpan di museum khusus di Istana yang jadi tempat menyimpan cenderamata yang kita terima dan menggambarkan keseluruhan dari daerah mana dan negara mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(//sjn)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-8286737911698907261?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/8286737911698907261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=8286737911698907261' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/8286737911698907261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/8286737911698907261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/soeharto-dan-falsafah-mikul-dhuwur.html' title='Soeharto dan Falsafah Mikul Dhuwur Mendhem Jero'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-687495805709766930</id><published>2008-02-06T05:21:00.000-08:00</published><updated>2008-02-06T05:22:15.793-08:00</updated><title type='text'>Kisah Soeharto Menyusun Kekuatan di Yogya</title><content type='html'>Rentang waktu tahun 1945-1950 menjadi periode sangat menentukan dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan Soekarno dan Moh Hatta. Periode ini pula menjadi konsolidasi para tokoh kemerdekaan hingga TNI yang mulai menyusun kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah menariknya apa yang dilakukan mantan Presiden Soeharto yang saat itu memimpin pasukan di Yogyakarta. Bagaimana Soeharto menyusun kekuatan pada periode ini dari Yogyakarta, berikut nukilan kisahnya seperti ditulis dalam buku Soeharto, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 17 Agustus 1945, hari Jumat Legi, bulan puasa, pukul 10.00, Bung Karno dan Bung Hatta, atas nama rakyat, memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Begitulah berita yang saya terima beberapa waktu kemudian. Memang kabar gembira itu diterima terlambat di Yogya seperti juga halnya di kota-kota lainnya di Jawa. Lebih-lebih lagi di pulau-pulau lainnya, karena larangan penguasa Jepang, untuk menyiarkan peristiwa penting tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum itu, di bulan Februari terjadi pemberontakan terhadap Jepang di bawah pimpinan Supriyadi di Blitar. Shodancho dan Bundancho yang terlibat ditangkap dan diajukan ke pengadilan militer, sehingga batalyon itu tidak mempunyai komandan regu lagi. Seluruh batalyon itu kemudian dipindahkan ke Brebeg, di daerah Nganjuk, dan diasramakan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di Madiun saya tidak tinggal di asrama, melainkan di luar, karena dapat rumah sendiri. Saya tinggal di rumah dinas itu tidak lama, karena segera ditugasi melatih prajurit-prajurit dari Batalyon Blitar untuk menjadi komandan regu (Bundancho). Latihannya di Brebeg, di tengah-tengah hutan jati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu Bung Karno mengumandangkan kemerdekaan kita itu, saya masih di Brebeg, sedang melatih para prajurit. Pada tanggal 18 Agustus, begitu saya selesai melatih prajurit-prajurit PETA tersebut, kami diperintahkan bubar. Kami disuruh menyerahkan kembali senjata-senjata kami. Mobil pun dirampas oleh Jepang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tanpa mengetahui apa yang telah terjadi di Jakarta, saya pergi dari Brebeg ke Madiun, lalu ke Yogyakarta. Mula-mula saya tidak tahu apa-apa tentang kemerdekaan kita itu. Setelah tiba di Yogya, barulah saya tahu samar-samar, dan kemudian menjadi lebih jelas lagi. Saya paham akan hal itu dari teman-teman, dari orang-orang di jalan dan di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar berita seperti itu saya pikir, "Wah, ini artinya panggilan." Perasaan dan perhitungan saya sewaktu berada di asrama-asrama PETA itu terbukti benar. Saya sudah merasakan, bahwa bangsa Indonesia sungguh-sungguh menginginkan kemerdekaan. Dan sekarang kemerdekaan itu sudah diproklamasikan. Itu berarti panggilan bagi kita untuk membelanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun membaca surat kabar 'Matahari" yang terbit di Yogya tanggal 19 Agustus, yang memberitakan kabar besar mengenai proklamasi dan Undang-Undang Dasar serta terpilihnya Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden negara kita yang baru lahir. Rupanya hari itu pula Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII mengirimkan kawat ucapan selamat kepada Presiden dan Wakil Presiden RI serta menyatakan ikut bergembira atas terbentuknya Negara Republik Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kata sambutan Sultan Hamengku Buwono IX dimuat pula dalam harian "Matahari" yang menyebutkan bahwa semua, tidak ada yang terkecuali, harus bersedia dan sanggup mengorbankan kepentingan masing-masing untuk kepentingan kita bersama, ialah menjaga, memelihara dan membela kemerdekaan nusa dan bangsa. Anjuran yang sudah ada dalam pikiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jepang masih ada di Yogya dan kelihatan masih tetap ingin berkuasa, sementara pemuda-pemuda kita menunjukkan hasratnya yang meluap-luap untuk mendapatkan senjata guna mempertahankan kemerdekaan kita. Dalam pada itu, tentara Jepang rupanya mulai menyadari bahwa rakyat Yogya sudah tahu akan kekalahan mereka dalam peperangan. Tetapi mereka bertahan di asramanya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kemudian timbul inisiatif saya untuk mengumpulkan teman-teman bekas PETA. Secara kebetulan semua teman itu tinggalnya tidak berjauhan. Saya menemui Oni Sastroatmodjo. Komandan Kompi Polisi Istimewa, dan bersama dengannya saya mengumpulkan bekas-bekas Chudancho dan Shodancho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaini, bekas-bekas PETA dan sejumlah pemuda lainnya berkumpul. Kami berhasil membentuk satu kelompok yang kemudian jadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang pembentukannya sudah diumumkan oleh Pemerintah RI. Presiden Soekarno menyerukan, agar bekas PETA, bekas Heiho, bekas Kaigun, bekas KNIL dan para pemuda lainnya segera berduyun-duyun bergabung dan mendirikan BKR-BKR di tempatnya masing-masing. Seruan Bung Karno itu bukan sesuatu yang baru buat kami. Kami sudah bergerak sejalan dengan seruan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di dalam kelompok kami ada unsur polisi yang buat saya tidak asing, karena saya pun pernah jadi polisi.Umar Slamet, teman dekat saya, terpilih jadi ketua BKR. Dan saya terpilih jadi wakilnya. Kelompok kecil ini yang adanya di Sentul, di Jalan Kusuma Negara sekarang, adalah tangga pertama dalam zaman baru yang menaikkan saya ke tangga-tangga berikutnya. Anggota-anggotanya terdiri atas bekas-bekas PETA, Heiho dan pemuda- pemuda lainnya. Saya memimpin kelompok ini dalam melucuti Jepang yang di luar asrama. Beberapa kendaraan militer juga kami rebut untuk keperluan pasukan kami. Kompi kami ini segera menjadi kuat dan banyak yang menyegani, sementara sejumlah pasukan Jepang masih tinggal di tangsinya, antara lain di Kotabaru, dengan utuh dan lengkap persenjataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resminya saya tercatat sebagai Tentara Republik Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1945, yakni pada lahirnya "Tentara Keamanan Rakyat" (TKR). Tetapi saya sudah bergerak sebelum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya pun kemudian menghadiri pertemuan bekas PETA dan Heiho dan pemuda-pemuda serta beberapa wanita yang berkumpul di sebuah gedung yang dipakai oleh Badan Penolong Korban-korban Perang (BPKKP), badan tempat BKR bernaung. Hadir waktu itu antara lain Kepala Polisi Istimewa Sudarsono, Mohamad Saleh, Ibu Ruswo, dan lain-Iainnya. Saya termasuk pendiam dalam rapat itu. Maka pertemuan itu menghasilkan kesepakatan membentuk BKR di Yogya dan memilih Sudarsono dan Umar Jo'i sebagai pemimpin dan wakil pemimpin BKR Yogya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas BKR ialah meyelenggarakan keamanan dan ketertiban dalam negeri. Tetapi yang jadi soal pertama dan utama bagi kami untuk mengemban tugas itu ialah bagaimana mendapatkan senjata itu. Hal yang sudah sejak semula saya pikirkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya dengar dan sempat bertemu dengan pemuda-pemuda dan pejuang-pejuang yang bersemangat, seperti Sundjoyo Sudarto, Sudomo, Syaifudin, Maya Retno, Sudirjo, Marsudi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sibuk. Hilir-mudik, berunding, hilir-mudik lagi, bergerak menyampaikan buah pikiran dan merundingkannya dengan orang-orang lain. Maka rencana pun kami rundingkan lagi dengan tokoh-tokoh muda waktu itu, seperti Umar Slamet, Sundjojo, Umar Jo'i, Muhamad Saleh dan lain-lainnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di Banyumas perebutan senjata dari tangan Jepang dapat berlangsung cuma dengan perundingan, lain halnya dengan yang terjadi di Yogyakarta. Di daerah saya, senjata baru kami dapatkan setelah melalui pertempuran yang cukup sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengetahui, bahwa ada sejumlah senjata yang dikirimkan dari Banyumas ke Yogya dan dibagi-bagikan kepada anggota-anggota BKR yang sedang menyusun kekuatan. Tetapi jumlahnya jauh dari mencukupi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa waktu itu Yogya mulai panas. Bara revolusi mulai membakar. Api perlawanan mulai menyala. Maka kemudian ketegangan pun terjadi antara pejuang-pejuang kita yang memerlukan senjata di satu pibak dan tentara Jepang yang bersenjata lengkap dan ingin mempertahankan kekuasaannya di lain pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Jepang bergerak lebih dahulu. Mereka melucuti polisi di Gayam. Kejadian ini menyebabkan rakyat marah, mengamuk. Akhirnya rakyat menyerang markas Jepang dan tentara Jepang angkat tangan, menyerah. Dengan ini sejumlah senjata sudah menambah yang ada pada kami. Berarti, persiapan untuk menyerang markas Jepang yang lain bertambah. Tetapi sesungguhnyalah, senjata yang ada pada pihak kami belum cukup dibandingkan dengan yang dipegang oleh pibak Jepang. Namun, sementara Slamet harus pergi dari Yogya menuju Madiun, saya mengambil oper tanggungjawabnya dan memimpin pasukan dan rakyat menyerbu markas Jepang. Saya yakin pada kekuatan semangat yang ada pada pihak kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Waktu itu umur saya 24. Saya bergerak di barisan paling depan, waktu serbuan itu dilakukan. Ternyata kami unggul. Tanggal 7 Oktober pukul 10.30 resmi tentara Jepang yang ada di Kotabaru itu menyerah. Mereka mengibarkan bendera putih. Senjata-senjata dan kendaraan mereka pindah ke tangan kita. Ratusan karaben dan sejumlah senapan mesin kami rampas. Senjata rampasan tersebut terus diangkut ke Markas Pemuda di Benteng, depan Gedung Agung, dulu namanya Benteng Kompeni Vredeburg. Tidak sedikit pemuda kita menjadi korban akibat tembakan peluru tentara Jepang, yang gugur 21 orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itulab saya bertemu dengan bekas Shodancho Widodo dalam pertempuran yang tetap terkenang sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira pukul satu siang saya kembali ke Markas Pemuda di Benteng untuk memeriksa senjata-senjata hasil rampasan dari Jepang tadi pagi. Sewaktu saya turun dari kendaraan, seorang staf saya datang dengan berlari menyambut saya, memberikan laporan bahwa senjata hasil rampasan di Kotabaru habis diambil oleh pemuda-pemuda yang datang secara ramai-ramai dari berbagai penjuru kota. Mereka umumnya pemuda-pemuda yang tak tahu cara menggunakan senjata. Yang tertinggal banya senjata berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar apa yang dilaporkan kepada saya. Gudang senjata kosong, semua senjata ringan dan pistol habis dibagi ramai-ramai. Saya mencoba menahan diri. Bukan main kesalnya hati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Semarang terjadi pertempuran sengit yang kemudian terkenal dengan sebutan "Pertempuran Lima Hari". Tentara Jepang mengamuk karena merasa diganggu oleh pejuang-pejuang kita yang mencoba merebut senjata mereka. Dalam kejadian itu saya diminta mengirimkan bantuan pasukan ke Semarang. "Ini dia, datang kesempatan baik," pikir saya. Saya umumkan kepada semua pemuda yang memiliki senjata supaya segera berkumpul untuk berangkat ke Semarang membantu pemuda-pemuda kita melawan tentara Jepang. Pagi harinya setelah semua berkumpul, saya susun pasukan dengan ketentuan tiap pemuda yang bersenjata didampingi oleh seorang bekas PETA atau Heiho. Letnan Wuston dengan pasukannya bergabung dengan pasukan bersenjata berat di bawah pimpinan Letnan Mardjuki. Mereka saya berangkatkan dengan kereta api sampai di Mranggen dan mereka bertempur di front Pandeanlamper.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taktik saya berbasil. Pemuda-pemuda yang membawa senjata mulai tidak kerasan, ingat pada orang tua dan pada ingin pulang kembali ke rumah. Semakin hari rasa panik mereka semakin menjadi. Pada saat itu datang peringatan dari tentara yang menjadi pendamping: "Siapa yang mau pulang, boleh, asal senjatanya tetap tinggal di garis depan". Pemuda-pemuda yang belum pemah mendapat latihan kemiliteran dan disiplin itu akhirnya lebih senang memilih kembali ke rumah orang tua dan menyerahkan senjatanya kepada pendamping bekas PETA dan Heiho yang saya siapkan sebagai pendamping. Maka plonglah hati saya ini. Lega bukan main. Coba bayangkan, kalau seandainya senjata-senjata itu diminta dengan cara paksa, apa jadinya? Tentu terjadi pertumpahan darah. Syukur hal itu tidak sampai terjadi. Dalam pertempuran lima hari ini, banyak penduduk jadi korban kekejaman tentara Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bersamaan dengan kejadian ini saya mengambil inisiatif menduduki lapangan terbang Maguwo yang waktu itu masih diduduki oleh tentara Jepang yang bersenjata lengkap. Pada waktu mendekati garis awal, pasukan saya berangkat dengan kendaraan truk, sedangkan saya naik sepeda motor, bersejatakan pistol Vickers. Saya memberikan komando menyerang penjaga lapangan udara itu dan Jepang menyerah tanpa mengadakan perlawanan. Serdadu-serdadu Jepang itu kami tahan di sebuah gedung sekolah di Kepatihan Danurejan. Dengan ini kami dapatkan beberapa buah pesawat terbang yang jadi salah satu modal pembentukan Angkatan Udara Republik Indonesia. Semua pesawat terbang saya serahkan pada Adisutjipto, seorang penerbang didikan Belanda. Pada hari itu juga, Adisutjipto mencoba menerbangkan pesawat cureng, basil rampasan. Umar Slamet dengan saya menyaksikan dengan rasa bangga, putra Indonesia bisa terbang sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lalu di Yogya dibentuk Divisi IX di bawah Sudarsono yang berpangkat Jenderal Mayor. Pasukan saya diresmikan menjadi Batalyon X dengan beberapa satuan pemuda. Sementara itu saya menguasai pula markas pemuda pelajar, antara lain yang berada di jalan Batanawarsa, dan yang di Jalan Mahameru. Juga ada bengkel kendaraan di Purwodiningrat dan di Gowongan Kidul. Maka lengkaplah susunan Batalyon X dengan kompi kendaraannya dan saya berpangkat mayor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sementara itu di tiap kampung dan desa di wilayah Yogyakarta dibentuk "Laskar Rakyat" sebagai pembantu Tentara Keamanan Rakyat. Semua penduduk bangsa Indonesia, laki-Iaki yang masih kuat badannya dan belum menjadi anggota TKR diharuskan masuk menjadi anggota Laskar Rakyat oleh Sultan Hamengku Buwono IX. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini jangankan seragam yang baik, pakaian pun masih compang-camping, tidak karuan. Tanda pangkat pun belum ada yang saya pakai. Cukup dengan wajah kita dan nama kita. Itulah jaminannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali saya ditanya oleh teman sesama perwira berkelakar tentang disiplin pemakaian tanda-tanda pangkat militer. Saya jawab, "Belum memikirkan untuk memakainya. Kita sekarang masih dalam revolusi. Mungkin nanti sehabis revolusi saya bersedia memakai lencana yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentara Sekutu datang di Semarang tanggal 19 Oktober dan Belanda/NICA "menggonceng' di dalamnya. Kabar-kabar tentang maksud tentara sekutu yang sebenarnya sudah tersebar luas di daerah. Bahwa Belanda ingin kembali berkuasa di atas bumi Indonesia ini pun sudah bukan rahasia lagi. Tindakan-tindakan mereka sesuai dengan perhitungan kita. Tetapi tokoh-tokoh politik kita menempuh jalan diplomasi. Dan kita pun percaya dan patuh pada kemampuan tokoh-tokoh politik kita, sementara para pejuang kita tetap waspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Semarang Pak Wongsonegoro selaku Gubernur Jawa Tengah dari pihak Republik mengadakan perundingan dengan Jenderal Bethel sebagai Panglima Sekutu di Jawa Tengah. Tetapi pihak Sekutu bukan memperhatikan aspirasi rakyat kita, melainkan malahan bergerak ke kota Magelang melalui Ambarawa. Dengan demonstratif mereka kemudian membebaskan interniran-interniran tawanan yang ada di kedua kota itu dan kekacauan pun timbul karena ulah pihak yang sombong itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengimbangi kegiatan Sekutu di Semarang, Magelang dan Ambarawa, segenap potensi kita kerahkan. Lasykar Rakyat yang dibentuk di tiap desa kemudian bersatu dengan pasukan TKR menghadapi Sekutu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kali Sekutu menyerang kota Yogya dengan mengirimkan pesawat jenis pembom dengan merusak studio RRI Yogya dan Sono Hudoyo serta menyebarkan pamflet yang mengacaukan, dan hal itu malah menimbulkan kemarahan rakyat kita kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentrokan tak dapat dihindarkan sehingga pada tanggal 31 Oktober, meletus pertempuran di Semarang, berkobar perlawanan pejuang-pejuang kita terhadap Sekutu, dan kemudian, keesokan harinya, rakyat Magelang mengangkat senjata melawan Sekutu dan NICA yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran berjalan terus. Kami tidak menginginkan Yogya berada di bawah telapak sepatu Sekutu/NICA. Kami bertahan, malahan berusaha keras mendesak supaya musuh mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan-badan perjuangan yang dibentuk di luar TKR mengadakan Kongres Pemuda Indonesia di Yogya yang melahirkan Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia. Tetapi justru pada waktu itu, tanggal 10 November puncak pertarungan terjadi di Surabaya dengan terbunuhnya Jenderal Mallaby. Hanyak sekali pejuang kita menjadi korban dalam peristiwa mengharukan itu yang kita kenang sampai sekarang sebagai "Hari Pahlawan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letnan Jenderal Urip mengorganisasikan rapat pimpinan TKR yang pertama, bertempat di Markas Tertinggi TKR di Yogya. Rapat dihadiri oleh para perwira senior, panglima-panglima divisi dan komandan-komandan resimen dari Pulau Jawa. Tentunya mereka yang dari Surabaya tidak bisa hadir, karena hari-hari itu di sana sedang sibuk-sibuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rapat besar ini Panglima Divisi V/Banyumas Kolonel Soedirman terpilih sebagai pemimpin tertinggi TKR, sedangkan Pak Urip yang oleh pemerintah sudah diangkat sebagai Kepala Staf Umum, terpilih sebagai Kepala Staf TKR. Satu kombinasi yang terpadu: Pak Urip meletakkan landasan-Iandasan teknis militer, sedangkan Pak Dirman meletakkan landasan-landasan kejiwaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perlawanan kita terhadap Sekutu yang terus mencoba mendesak kita berjalan tak henti-hentinya. Saya pimpin Batalyon X ikut menyerbu Magelang dan Sekutu pun meninggalkan kota ini, mundur menuju Ambarawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tentara Sekutu membuat pertahanan yang kuat di Ambarawa. Letkol Isdiman gugur dan pertempuran untuk menghalau Sekutu dari pertahanannya di Ambarawa bertambah hebat. Kolonel Soedirman, menjelang pelantikan sebagai Panglima Besar TKR, maju memimpin pertempuran. Batalyon Suryosumpeno, Batalyon A. Yani dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batalyon Kusen, di bawah pimpinan Letkol. M. Sarbini berhasil membebaskan penduduk Pingit yang diteror dengan kejam oleh Sekutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dari Yogya dengan membawa kekuatan empat kompi, yakni Kompi Sardjono, Kompi Mulyono, Kompi Sukoco dan Kompi Widodo maju juga. Begitu juga Letkol. Gatot Subroto dari Divisi V/Purwokerto, dan pasukan Batalyon 8 Divisi III di bawah pimpinan Mayor Sardjono. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat hari empat malam Ambarawa kami gempur dengan siasat "supit udang". Batalyon X yang saya pimpin ditugasi untuk menyerang Banyubiru lebih dahulu, kemudian mendudukinya, bertugas sebagai pengaman lambung dari pasukan induk yang bergerak ke Ambarawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyubiru saya serang setelah Magrib, dan Sekutu mundur ke Ambarawa. Batalyon yang saya pimpin terus mengejarnya dan mengambil atau menyusun pertahanan jauh di depan Banyubiru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam suntuk Banyubiru dihujani peluru meriam dari Ambarawa. Mendengar banyaknya tembakan meriam ke Banyubiru, Pak Gatot mengira batalyon saya sudah hancur. Kenyataannya tidak demikian, karena semuanya sudah saya perhitungkan. Mulai peristiwa itu Pak Gatot mengenal saya. Hebat pertempuran itu. Saya pegang teguh disiplin. Saya marahi prajurit-prajurit yang mundur dengan meninggalkan senjata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kesatrian Ambarawa, tempat saya menyusun kembali pasukan-pasukan saya, saya bicara keras di depan prajurit-prajurit yang telah meninggalkan medan pertempuran dalam keadaan panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya marah sekali, saya berterus terang. Kita masih belum mampu untuk membikin senjata modern apa pun, dan kita masih belum mampu membelinya. Kita semua mempunyai saham dan tanggungjawab yang sama dalam revolusi ini. Kita sangat memerlukan senjata itu. Akan saya hukum siapa saja yang tidak dapat memelihara senjatanya dengan baik." Tetapi akhirnya Sekutu mundur ke Semarang. Itulah "Palagan Ambarawa" yang terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 18 Desember 1945 Kolonel Soedirman dilantik menjadi Panglima Besar TKR dengan pangkat jenderal dan Urip Sumohardjo sebagai Kepala Staf dengan tetap berpangkat letnan jenderal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya daya upaya saya dalam "Palagan Ambarawa" mendapat perhatian Jenderal Soedirman. Dan sewaktu Pak Dirman berusaha mengadakan reorganisasi dan penyempurnaan tubuh TKR, saya diangkat menjadi Komandan Resimen III dengan pangkat letnan kolonel, menguasai daerah Yogyakarta, dengan wakil Komandan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayor Rekso. Saya membawahkan empat batalyon: Batalyon 8 di bawah Mayor Sardjono, Batalyon 10 di bawah Mayor J. Sudjono, Batalyon 19 di bawah Mayor Sumiarsono, dan Batalyon 25 di bawah Mayor Mohammad Basyuni.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-687495805709766930?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/687495805709766930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=687495805709766930' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/687495805709766930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/687495805709766930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/kisah-soeharto-menyusun-kekuatan-di.html' title='Kisah Soeharto Menyusun Kekuatan di Yogya'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-2413365859894285923</id><published>2008-02-05T03:41:00.001-08:00</published><updated>2008-02-05T03:41:35.054-08:00</updated><title type='text'>Senjakala Kekuasaan: Antara Soeharto dan Soekarno (Tamat)</title><content type='html'>Soekarno telah menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Ada sejarah yang belum terungkap dan masih diliputi kabut tebal misteri. Ada pula yang secara perlahan kian terang. Rezim Orde Baru pimpinan Presiden Jenderal Soeharto yang didukung Golkar sebagai mesin buldoser pendulang suara rakyat (saat itu tidak mau disebut partai politik) berkuasa selama 32 tahun. Negeri ini (katanya) tengah membangun, namun yang tak disadari oleh semua orang dananya ternyata dari hasil utang luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tega, Soeharto pada November 1967 pun telah mengkavling-kavling wilayah NKRI menjadi bancakan bagi perusahaan-perusahaan asing multinasional. Belum lagi jutaan rakyat Indonesia tak bersalah yang telah dibunuh rezim ini dalam kebiadaban yang tidak terperikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 27 Januari 2008, Soeharto telah menutup mata untuk selama-lamanya. Mantan orang nomor satu ini meninggal setelah diberi berbagai fasilitas canggih dari negara. Kontras sekali dengan kondisi ketika Presiden Soekarno wafat. Padahal jasa antara keduanya tak sebanding. Yang satu telah merelakan meringkuk selama 25 tahun di penjara Belanda hanya demi memerdekaan negerinya, sedangkan yang lain—mantan tentara KNIL, pelayan penjajah Belanda—malah merampok banyak kekayaan negeri ini selama puluhan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Korban Yang Berhak Memintakan Maaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, saat Soeharto sakit dan kritis, banyak pihak meminta agar dosa-dosa dan kesalahan Soeharto diampuni dan dimaafkan. Padahal, semua yang meminta itu bukanlah korban politik dari Soeharto. Mereka tidak pernah menderita puluhan tahun dipenjara tanpa pengadilan oleh rezim Soeharto. Mereka tidak pernah kehilangan anggota keluarga gara-gara ditembak mati rezim Soeharto. Mereka tidak pernah mengalami kesulitan hidup puluhan tahun lamanya di masa rezim Soeharto. Tiba-tiba mereka dengan enteng dan enaknya minta agar rakyat Indonesia membukakan pintu maaf bagi orang yang oleh media Barat sendiri disebut sebagai Diktatur, Pinochet-nya Indonesia. Betapa naifnya hal ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiman Sudjatmiko, eks Ketua PRD yang kini bergiat di PDIP, pernah kesal dengan orang-orang dan kelompok yang tanpa tahu diri menghimbau agar Soeharto dimaafkan. “Hanya mereka, para korban rezim Orde Baru-lah yang berhak mengatakan itu!” tukasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sama saja dengan jutaan orang yang tengah dibantai dan disiksa oleh seorang penguasa, lalu setelah para korbannya bergelimpangan berdarah-darah bahkan banyak yang meninggal, tiba-tiba ada penonton yang sama sekali tidak diapa-apakan lalu berkata, “Wahai semuanya, maafkanlah penguasa itu, ampunilah dia…” Sungguh, benar-benar tidak lucu! Apapun alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa-dosa Soeharto teramat banyak. Dan Soeharto tentu tidak memikulnya sendirian. Golkar sebagai mesin politik Soeharto, di mana para kroninya berkumpul, juga wajib bertanggungjawab. Jika para korban mereka telah memaafkan, ya itu lebih bersifat masing-masing. Tetapi kejahatan lainnya, perdata, KKN, HAM, dan sebagainya tetap harus diusut tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar Pahlawan Orde Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi wacana konyol yang disodorkan para kroni Soeharto agar orang ini diberi gelar Pahlawan Nasional. Ini benar-benar keterlaluan. Selesaikan dulu semua kasus hukum Soeharto, baru nanti diniulai apakah orang ini berhak menyandang gelar mulia itu atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling pas bagi Soeharto mungkin gelar ‘Pahlawan Orde baru’, karena dia memang telah sangat berjasa bagi para kroninya sehingga sekarang ini masih saja tetap jaya dilingkaran pusat kekuasaan. Bahkan banyak media teve dan media cetak nasional yang sekarang dikuasai oleh para kroni Soeharto sehingga dalam pemberitaan kemarin Soeharto diimejkan sebagai seorang yang baik, dekat dengan rakyat, tak bersalah, bak pahlawan pembangunan, dan segala macam julukan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal di tahun 1965 sampai dengan 1969, jutaan rakyat Indonesia tidak bersalah telah dibunuh atas perintah darinya. Generasi muda sekarang, generasi MTV, memang tidak pernah tahu akan hal ini karena mereka telah teralienasi dari sejarah bangsanya sendiri. Mereka telah menjadi generasi yang ahistoris, yang tercerabut dari sejarah bangsanya yang selama 32 tahun terus-menerus digelapkan hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno memang banyak pula kesalahannya. Tapi bagaimana pun Soekarno adalah orang besar. Namun beda sekali dengan penerusnya. Mudah-mudahan sejarah bangsa besar ini akan terbuka dan menjadi terang-benderang hingga anak-cucu kita bisa menilai dengan jernih mana yang harus ditiru dan mana yang harus dibuang. Amien.(rizki/tamat)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-2413365859894285923?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/2413365859894285923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=2413365859894285923' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/2413365859894285923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/2413365859894285923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/senjakala-kekuasaan-antara-soeharto-dan_6151.html' title='Senjakala Kekuasaan: Antara Soeharto dan Soekarno (Tamat)'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-4364925279347723940</id><published>2008-02-05T03:38:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T03:39:29.442-08:00</updated><title type='text'>Senjakala Kekuasaan: Antara Soeharto dan Soekarno (Bag.2)</title><content type='html'>Berita kematian Bung Karno dengan cara yang amat menyedihkan menyebar ke seantero Pertiwi. Banyak orang percaya bahwa Bung Karno sesungguhnya dibunuh secara perlahan oleh rezim penguasa yang baru ini. Bangsa ini benar-benar berkabung. Putera Sang Fajar telah pergi dengan status tahanan rumah. Padahal dia merupakan salah satu proklamator kemerdekaan bangsa ini dan menghabiskan 25 tahun usia hidupnya mendekam dalam penjara penjajah kolonial Belanda demi kemerdekaan negerinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwari Doel Arnowo, seorang saksi sejarah yang hadir dari dekat saat prosesi pemakaman Bung Karno di Blitar dalam salah satu milis menulis tentang kesaksiannya. Berikut adalah kesaksian dari Cak Doel Arnowo yang telah kami edit karena cukup panjang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi, 21 Juni 1970, saya sudah berada di sebuah lubang yang disiapkan untuk kuburan manusia. Sederhana sekali dan sesederhana semua makam di sekelilingnya. Sudah ada sekitar seratusan manusia hidup berada di situ dan semua hanya berada di situ, tanpa mengetahui apa saja tugas mereka sebenarnya. Yang jelas, semuanya bermuka murung. Ada yang matanya penuh airmata, tetapi bersinar dengan garang. Kelihatan roman muka yang marah. Ya, saya pun marah. Hanya saja saya bisa menahan diri agar tidak terlalu kentara terlihat oleh umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua di kota Malang mendengar tentang almarhum yang diberitakan telah meninggal dunia sejak pagi hari dan sudah menyiapkan diri untuk menunggu keputusan pemakamannya di mana. Sesuai amanat almarhum, seperti sudah menjadi pengetahuan masyarakat umum, Bung Karno meminta agar dimakamkan di sebuah tempat di pinggir kali di bawah sebuah pohon yang rindang di Jawa Barat (asumsi semua orang adalah di rumah Bung Karno di Batu Tulis di Bogor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi lain wasiat dan amanah, lain pula rezim Soeharto yang secara sepihak memutuskan jasad Bung Karno dimakamkan di Blitar dengan dalih bahwa Blitar adalah kota kelahirannya. Ini benar-benar ceroboh. Bung Karno lahir di Surabaya di daerah Paras Besar, bukan di Blitar! Bung Karno terlahir dengan nama Koesno, dan ikut orang tuanya yang jabatan ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru yang mengajar di sebuah Sekolah di Mojokerto dan kemudian dipindah ke Blitar. Di sinilah ayah Bung Karno, meninggal dunia dan dimakamkan juga di sisinya, isterinya (yang orang Bali ) bernama Ida Ayu Nyoman Rai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah matahari tinggal sepenggalan sebelum terbenam, rombongan jenazah Bung Karno akhirnya sampai di tempat tujuan. Yang hadir didorong-dorong oleh barisan tentara angkatan darat yang berbaris dengan memaksa kumpulan manusia agar upacara dapat dilaksanakan dengan layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak Komandan Upacara jenderal Panggabean memulai upacara dan kebetulan saya berdiri berdesak-desakan di samping Bapak Kapolri Hoegeng Iman Santosa, yang sedang sibuk berbicara dengan suara ditahan agar rendah frekuensinya tidak mengganggu suara aba-aba yang sudah diteriak-teriakkan. Saya berbisik kepada beliau, ujung paling belakang rombongan ini berada di mana? Beliau menjawab singkat di kota Wlingi. Hah?! Sebelas kilometer panjangnya iring-iringan rombongan ini sejak dari lapangan terbang Abdulrachman Saleh di Singosari, Utara kota Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Hoegeng yang sederhana itu kelihatan murung dan sigap melakukan tugasnya. Dia berbisik kepada saya: "There goes a very great man!!" Saya terharu mendengarnya. Apalagi ambulans (mobil jenazah) yang mengangkut Bung Karno terlalu amat sederhana bagi seorang besar seperti beliau. Saya lihat amat banyak manusia mengalir seperti aliran sungai dari pecahan rombongan pengiring. Sempat saya tanyakan, ada yang mengaku dari Madiun, dari Banyuwangi bahkan dari Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menuju ke arah berlawanan dengan tujuan ke rumah Bung Karno, di mana kakak kandung beliau, Ibu Wardojo tinggal. Hari sudah gelap dan perut terasa lapar karena kita tidak berhasil mendapatkan makanan atau minuman, sebab kalau pun ada warung atau penjual makanan, pasti sudah kehabisan minuman atau makanan apa pun yang bisa ditelan. Saya ingat bahwa orang Muhammadiyah tidak memberi hidangan, minum sekalipun, kepada kaum pelayat. Bung Karno adalah orang Muhammadiyah. Kota Blitar tidak siap menampung orang sekian banyak. Setelah dilakukan pemakaman jenazah Bung Karno, beberapa waktu di kemudian hari semua makam Pahlawan di Taman Pahlawan Sentul ini dipindahkan ke Mendukgerit, yang telah saya kenal sebelumnya sebagai Bendogerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemindahan ini dilaksanakan dengan alasan di lokasi pemakaman sudah penuh, tetapi pada kenyataannya kemudian ada proyek pembangunan makam Bung Karno yang memakan area cukup lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuburannya Pun Tidak Boleh Dijenguk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, sejak 1971 sampai 1979, makam Bung Karno tidak boleh dikunjungi umum dan dijaga sepasukan tentara. Kalau mau mengunjungi makam harus minta izin terlebih dahulu ke Komando Distrik Militer (KODIM). Apa urusannya KODIM dengan izin mengunjungi makam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersama ibu saya dan beberapa saudara datang secara mendadak pergi ke Blitar dengan tujuan utama ziarah ke Makam Bung Karno. Tanpa ragu kita ikuti aturan dan akhirnya sampai ke pimpinannya yang paling tinggi. Saya ikut sampai di meja pemberi izin dan sudah ditentukan oleh kita bersama, bahwa salah satu saudara saya saja yang berbicara. Saya sendiri meragukan emosi saya, bisakah saya bertindak tenang terhadap isolasi kepada sebuah makam oleh Pemerintah atau rezim? Nah, ternyata meskipun tidak terlalu ramah, mereka melayani dengan muka seperti dilipat. Mungkin dengan menunjukkan muka seperti itu merasa bertambah rasa gagahnya terhadap rakyat biasa macam kami. Akhirnya semua beres dan kami mendapat sepucuk surat. Apa yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di makam kami turun dari kendaraan kami dan saya bawa surat izin dari KODIM. Surat itu kami tunjukan ke tentara yang jaga makam. Waktu tentara itu baca surat, saya terdorong untukmenoleh ke belakang. Terkejut saya. Selain rombongan sendiri, Ibu saya dan saudara-saudara, telah mengikuti kami sebanyak lebih dari tiga puluh orang, bergerombol. Mereka, orang-orang yang tidak kami kenal sama sekali, melekat secara rapat dengan rombongan kami. Saya lupa persis bagaimana, akan tetapi saya ingat kami memasuki pagar luar dan kami bisa mendekat sampai ke dinding kaca tembus pandang dan hanya memandang makamnya dari jarak, yang mungkin hanya sekitar tiga meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengikut dadakan yang berada di belakang rombongan kami dengan muka berseri-seri, merasa beruntung dapat ikut masuk ke dalam lingkungan pagar luar itu. Ada yang bersila, memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangannya, posisi menyembah. Saya tidak memperhatikannya, tetapi jelas dia bukan berdoa cara Islam. Mereka khusyuk sekali dan waktu kami kembali menuju ke kendaraan kami, beberapa di antara mereka menjabat tangan dan malah ada yang menciumnya, membuat saya merasa risih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang dari mereka ini mengatakan bahwa dia sudah dua hari bermalam di sekitar situ di udara terbuka menunggu sebuah kesempatan seperti yang telah terjadi tadi. Tanpa kata-kata, saya merasakan getar hati rakyat, rakyat Marhaen kata Bung Karno! Mereka menganggap Bung Karno bukan sekedar Proklamator, tetapi seorang Pemimpin mereka dan seorang Bapak mereka. Apapun yang disebarluaskan dan berlawanan arti dengan kepercayaan mereka itu semuanya dianggap persetan. Dalam hubungan Bung Karno dengan Rakyat, tidak ada unsur uang berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibunuh Perlahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan orang banyak bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan mungkin bisa dilihat dari cara pengobatan proklamator RI ini yang segalanya diatur secara ketat dan represif oleh Presiden Soeharto. Bung Karno ketika sakit ditahan di Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno) di Jl. Gatot Subroto. Penahanan ini membuatnya amat menderita lahir dan bathin. Anak-anaknya pun tidak dapat bebas mengunjunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak resep tim dokternya, yang dipimpin dr. Mahar Mardjono, yang tidak dapat ditukar dengan obat. Ada tumpukan resep di sebuah sudut di tempat penahanan Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat di situ tidak pernah ditukarkan dengan obat. Bung Karno memang dibiarkan sakit dan mungkin dengan begitu diharapkan oleh penguasa baru tersebut agar bisa mempercepat kematiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan dari tim dokter Bung Karno untuk mendatangkan alat-alat kesehatan dari Cina pun dilarang oleh Presiden Soeharto. “Bahkan untuk sekadar menebus obat dan mengobati gigi yang sakit, harus seizin dia, ” demikian Rachmawati Soekarnoputeri pernah bercerita. (Rizki/bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-4364925279347723940?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/4364925279347723940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=4364925279347723940' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/4364925279347723940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/4364925279347723940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/senjakala-kekuasaan-antara-soeharto-dan_05.html' title='Senjakala Kekuasaan: Antara Soeharto dan Soekarno (Bag.2)'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-5883473838771013501</id><published>2008-02-05T03:37:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T03:38:23.456-08:00</updated><title type='text'>Senjakala Kekuasaan: Antara Soeharto dan Soekarno (bag.1)</title><content type='html'>akarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa—dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, Pak, ini Ega…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hatta.., kau di sini..?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, bagaimana keadaanmu, No?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal.(Rizki/bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-5883473838771013501?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/5883473838771013501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=5883473838771013501' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/5883473838771013501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/5883473838771013501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/senjakala-kekuasaan-antara-soeharto-dan.html' title='Senjakala Kekuasaan: Antara Soeharto dan Soekarno (bag.1)'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-616485068072782201</id><published>2008-02-05T02:28:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T02:29:36.316-08:00</updated><title type='text'>Warisan sistem nilai dari Soeharto</title><content type='html'>Tanggal :  05 Feb 2008&lt;br /&gt;Sumber :  Harian Terbit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERITA mantan Presiden Indonesia kedua, M Soeharto yang mendapat liputan, mulai sejak ia masuk rumah sakit hinga proses pemakaman, menunjukkan sepuluh tahun gerakan reformasi belum mampu menghapus pengaruh politik "Bapak Pembangunan" itu, bahkan serpihan kekuasaan simbolis Soeharto tetap tersebar di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu diungkapkan Amich Alhumami, mahasiswa doktoral Antropologi Sosial di Universitas Sussex Inggris dalam diskusi online mengenai "Warisan Sistem Nilai Soeharto" yang diselenggarakan Pengurus Muhammadiyah United Kingdom di Birmingham, akhir pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakannya, kekuasaan simbolis ini menjelma dalam berbagai ungkapan dalam konteks Soeharto yang terwujud seperti senyuman, bahasa tubuh, pangkat jenderal besar, bahkan sekadar frasa pendek "Keluarga Cendana".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kekuasaan simbolis ini menyimpan kekuatan pemaksa karena ia memiliki energi dahsyat yang bisa membuat orang lain bersedia tunduk-menyerah (submission) dan taat-mematuhi (obedience)," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu mantan wartawan majalah Tempo dan wartawan BBC London, James Lapian mengakui bahwa media massa turut berperan dalam proses tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada zaman Orde Baru, media banyak memuja-muja Soeharto. Saat ini ketika kebebasan pers sudah terjamin, keadaan tidak lebih baik lagi karena kepentingan ekonomi sekarang jauh lebih penting dari segalanya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga diakibatkan karena wartawan saat ini dikejar-kejar berita. Sehingga orientasi mereka hanya konferensi pers. Konferensi pers menjadi sumber utama pemberitaan. Investigasi oleh media sangat langka, bahkan ketika dilakukan, malah berbalik menjadi bumerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, James agak pesimis bahwa media dapat memainkan peranan besar untuk mengungkap berbagai warisan pelanggaran HAM dan korupsi Soeharto (tidak sekefar kroninyar-red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur bahwa menjelang Hari Pers Nasional ada pihak yang mengingatkan peran pers Nasional. Konon wajah pers itu wajah masyarakat zamannya. Jika benar Pers Indonesia saat ini serba ewuh pakewuh (sungkan) terhadap pejabat, terutama jika mempersoalkan Soeharto, ada kemungkinan "kasus" Soeharto pun akan tidak jelas penyelesaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, peliputan besar-besaran bahkan dengan siaran langsung atas sakit hingga pemakamannya Soeharto merupakan pertanda ada yang memaafkan. Jika benar wajah Pers itu wakil profil kondisi masyarakat maka Pers hanya sekadar memotret fakta. Meski demikian apakah Pers kita menjadi tergerus perannya dalam kedudukannya sebagai juru kritik keadaan, nampaknya bisa jadi polemik panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, bangsa timur kebanyakan tidak suka mempersoalkan orang yang sudah meninggal, apalagi mereka yang terbiasa yang memegang falsafah mikul dhuwur mendhem jero, terlepas pernah atau tidaknya ikut numpang makmur. Bahwa sistem nilai yang diwariskan Soeharto masih begitu kuat menyelimuti sikap elite politik dan elit negeri, kita tahu jawabnya bahwa suatu isme akan sulit padam meski reformasi digelar gegap gempita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mimbar ini hanya ingin kita katakan bahwa idealisme pers untuk mengadakan kontrol sosial memang tak boleh padam. Yang dibutuhkan adalah semangat untuk tidak sekedar menjadi wajah masyarakat, tetapi menjadi pemandu zaman. Namun jelas ini peran yang berat jika anak bangsa negeri ini tidak ada kemauan untuk menjadi agen perubahan dinamika bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kita tahu untuk menatap dan mengubah masa depan butuh kerelaan untuk meninggalkan masa lalu. Untuk itu yang lebih pas adalah bagaimana semua komponen bangsa menciptakan "tekad" baru setelah reformasi tak jelas arah dan jalannya. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-616485068072782201?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/616485068072782201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=616485068072782201' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/616485068072782201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/616485068072782201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/warisan-sistem-nilai-dari-soeharto.html' title='Warisan sistem nilai dari Soeharto'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-7884896766701157658</id><published>2008-02-05T02:27:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T02:28:16.927-08:00</updated><title type='text'>Setelah masa berkabung</title><content type='html'>Tanggal :  04 Feb 2008&lt;br /&gt;Sumber :  Harian Terbit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMINGGU sudah berlalu, hari ini seluruh anggota masyarakat yang mengibarkan bendera merah-putih setengah tiang, tanda berkabung nasional, telah menurunkan benderanya. Melipat lalu menyimpannya dengan segala kenangan atas almarhum Jenderal Besar HM Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang banyak kenangan indah bersama beliau yang ada dibenak bangsa ini, utamanya bagi kaum tani Indonesia. Di era Orde, para petani benar-benar merasa 'diuwongke', ekonomi pedesaan bergerak dengan pasti -- hingga minat banyak orang melakukan urbanisasi yang sebelumnya menimbulkan banyak masalah di daerah perkotaan pun bisa diminimilisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah ungkapkan pakar ekonomi pertanian, DR HS Dillon, era Soeharto adalah era dimana kemudahan didapat oleh para petani. Memang begitu kenyataannya, Pak Harto sangat peduli betul dengan namanya ketahanan pangan. Tak ada petani yang tersisih karena kebijakan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, ketika Indonesia berusia 20 tahun dan relatif muda, negeri ini diguncang konflik politik dengan puncaknya pemberontakan G 30 S/PKI, salah satu penyebabnya adalah faktor kemiskinan dan kelangkaan pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Pak Harto yang menjadi presiden RI pada waktu itu, mengawali masa-masa pemerintahannya dengan bertumpu pada sektor agraria dan mengeluarkan berbagai kebijakan yang mengarah pada revolusi pangan. Puncaknya, tahun 1984 Indonesia dinyatakan mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan beras atau mencapai swasembada pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi Pangan Dunia (FAO) pun mengundang Soeharto untuk menerima penghargaan atas prestasinya. Ini adalah salah satu prestasi besar yang pernah diterima Soeharto di kancah internasional. Sebagai wujud rasa syukurnya, Soeharto pun juga membawa buah tangan, yaitu gabah sebanyak 100.000 ton yang dikumpulkan secara gotongroyong dan sukarela oleh petani Indonesia untuk diteruskan kepada warga yang mengalami kelaparan di berbagai belahan dunia, khususnya di Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan antar petani ini merupakan sejarah yang pertama kali terjadi di dunia, sekaligus merupakan indikasi, keberhasilan pertanian saat itu di Indonesia. Prestasi itu membalik kenyataan, dari negara agraria mengimpor beras terbesar di dunia, menjadi negara yang mampu mencukupi kebutuhan pangan di dalam negeri. Pada tahun 1969 Indonesia hanya mampu memproduksi beras sekitar 12,2 juta ton, namun tahun 1984 bisa mencapai 25,8 juta ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pengairan diperbaiki dengan membuat irigasi ke sawah-sawah sehingga banyak sawah yang semula hanya mengandalkan air hujan, kini bisa ditanami pada musim kemarau dengan memanfaatkan sistem pengairan. Lahan-lahan percontohan pun dibangun, kelompok petani dibentuk di setiap desa untuk mengikuti bimbingan dari para penyuluh pertanian yang disebut Intensifikasi massal (Inmas) dan Bimbingan massal (Bimas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan ini telah membuat Edouard Saouma, Direktur Jenderal FAO, mengundang Presiden Soeharto untuk bicara pada forum dunia, pada tanggal 14 November 1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pasca keberhasilan ini sebagaimana diungkapkan Prof Emil Salim, Soeharto salah mempercayai pembantunya. Hingga kebijakan ekonomi selanjutnya juga salah arah. Dari seharusnya industri berbasis pertanian, ke industri padat modal dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau yang sudah tua renta, pun salah menerima tantangan pembantunya yang mengatakan, rakyat banyak masih membutuhkan kepemimpinan beliau. Padahal beliau jauh-jauh hari sudah ingin lenser menyerahkan tongkat estafet kepada yang lebih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya nasi telah menjadi bubur, Bapak Pembangunan itu pun telah pergi menghadap Sang Maha Pencipta, Maha Penguasa di alam jagat raya ini. Bagi kita yang ditinggalkan kasus kepemimpinan Pak Harto adalah bahan renungan yang tak akan ada habisnya. Hal-hal yang baik tentunya banyak yang bisa kita pelajari dari perjalanan kepemimpinannya hampir selama 32 tahun. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-7884896766701157658?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/7884896766701157658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=7884896766701157658' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/7884896766701157658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/7884896766701157658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/setelah-masa-berkabung.html' title='Setelah masa berkabung'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-9178890378492904065</id><published>2008-02-05T01:28:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T01:31:07.450-08:00</updated><title type='text'>Menakar Kejahatan dan Kebaikan Soeharto</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R6gsx1N4cHI/AAAAAAAAAEU/osUlyp3SwzY/s1600-h/Suharto1998-02b.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R6gsx1N4cHI/AAAAAAAAAEU/osUlyp3SwzY/s320/Suharto1998-02b.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163426207390789746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musni Umar, Sosiolog, PhD Bidang Sosiologi Politik UKM&lt;br /&gt;Tidak ada manusia yang sempurna. Pasti ada kebaikan dan kejahatannya. Begitu pula Presiden Soeharto, pasti banyak kebaikannya selama berkuasa, dan tentu banyak pula kejahatannya. Untuk memastikan Presiden Soeharto itu orang jahat atau orang baik, tidak bisa hanya melihat dan membincangkan salah satu sisi dari dirinya. Mesti meneliti keseluruhan dari kiprahnya selama memimpin bangsa Indonesia 32 tahun lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang politik kekuasaan, sebagai seorang aktivis mahasiswa 77/78 yang pernah ditahan sembilan bulan tanpa diadili, setelah keluar dari tahanan mendapat perlakuan tidak adil karena dicekal di mana-mana, dimata-matai, dan sulit mendapat pekerjaan, sehingga mengalami kepahitan dan kesulitan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula teman-teman aktivis mahasiswa 1974 dan tokoh pergerakan yang ditahan dan dipenjara seperti Dr Syahrir, Dr Adnan Buyung Nasution, Hariman Siregar, Judil Herry Justam. Juga para aktivis dan pimpinan dewan mahasiswa/senat mahasiswa 1978, tokoh-kampus dan tokoh masyarakat yang ditahan seperti Soekotjo Soeparto, Dr Rizal Ramli, AM Fatwa, Dr Arief Rachman, Lopez Da Lopez, Ibrahim Zakir, Musfihin Dahlan, Umar Marasabessy, Evert Matulessy , dan lain-lain, serta para tokoh masyarakat yang ditahan dan dimasukkan ke penjara seperti Ir Sanusi, Prof Ismail Suny, HR Soedarsono, dan banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Semuanya atau sebagian pasti menyimpulkan bahwa Soeharto jahat dan pantas diberi hukuman yang setimpal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang politik ekonomi, kebijakannya yang memberi angin dan perlindungan kepada pengusaha Cina dengan menempatkan mereka sebagai ''agent of growth" dalam pembangunan ekonomi, amat menyakitkan karena mengakibatkan terjadinya konglomerasi dan penguasaan ekonomi oleh segelintir orang. Padahal mereka atau orangtua mereka adalah mitra penjajah dan mendapat tempat terhormat sebagai "Timur Asing" di masa penjajahan. Sementara pribumi sebagai inlander yang dijajah, diperangi, disiksa, dibunuh, dan yang hidup dibiarkan bodoh, miskin dan terkebelakang, seharusnya mendapat ''affirmative action" dalam pembangunan ekonomi seperti di Malaysia, untuk memajukan mereka di bidang ekonomi dan pendidikan. Akan tetapi hal itu tidak dilakukan Presiden Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan ekonomi yang merugikan sebagian besar warga bangsa ini, sebenarnya dapat dikategorikan sebagai kejahatan ekonomi, dan selayaknya tidak dilanjutkan dengan mengamalkan persaingan bebas (free fight competition) kepada pengusaha pribumi yang kecil menengah dan koperasi seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang politik hukum, korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) yang dipraktikkan di era Presiden Soeharto berkuasa, kemudian dijadikan isu sentral oleh gerakan reformasi yang disponsori oleh kekuatan global untuk menggusur Presiden Soeharto, harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan secepat-cepatnya. Bukan saja menyelesaikan tuduhan itu dengan cepat dan adil, tetapi tidak boleh melanjutkan praktik korupsi di era Orde Reformasi. Namun amat menyedihkan, kejahatan korupsi yang dituduhkan kepada Presiden Soeharto diambangkan dan ditutup-tutupi, dan bahkan korupsi semakin semarak dilaksanakan di era Orde Reformasi. Sampai ada yang menggambarkan dahsyatnya dan beraninya pelaku korupsi sekarang dengan mengatakan: ''Kalau di era Orde Lama korupsi malu-malu, di era Orde Baru korupsi di bawah meja, di era Orde Reformasi korupsi di atas meja dan bahkan mejanya dikorupsi''. Kejahatan korupsi yang dituduhkan kepada Presiden Soeharto, kini telah menjadi isu internasional yang amat mencemarkan nama baik Soeharto, keluarganya serta bangsa Indonesia karena mantan Presiden Indonesia itu dituduh sebagai koruptor nomor wahid di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan dan jasa Soeharto&lt;br /&gt;Prof Emil Salim dalam "Soeharto Media Center Pusat Kajian dan Informasi" menegaskan bahwa Soeharto pernah berjasa menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran. Pertama, bidang ekonomi. Laju inflasi menjelang peristiwa G-30-S/PKI bisa dibilang edan karena berada di kisaran 650 persen. Indeks biaya hidup tahun 1960 sampai tahun 1966, naik 438 kali! Harga beras naik 824 kali! Harga tekstil naik 717 kali! Sementara harga-harga itu mengganas, nilai rupiah sekarat dari Rp 160 saja menjadi Rp 120 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui program rehabilitasi dan stabilisasi ekonomi yang cukup progresif dan komprehensif berhasil dilakukan, pertama, pengendalian inflasi melalui kebijakan anggaran berimbang, dan kebijakan moneter ketat. Kedua, pencukupan kebutuhan pangan. Ketiga, pencukupan kebutuhan sandang. Keempat, rehabilitasi berbagai sarana dan prasarana ekonomi. Kelima, peningkatan ekspor dengan mengembalikan share sepenuhnya pada eksportir. Hasilnya, laju inflasi bisa dijinakkan dari kisaran 650 persen (1966) melunak menjadi 100 persen (1967), turun lagi menjadi 50 persen (1968), dan bahkan terkendali di bilangan 13 persen (1969).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bidang politik. Presiden Soeharto berjasa menumpas PKI dan mewujudkan stabilitas keamanan dan politik dalam kurun waktu yang panjang. Emil Salim mengakui bahwa di era 60-70an Pak Harto begitu piawai memadukan komponen bangsa, sampai-sampai republik ini bisa selamat dari liang kubur di pertengahan tahun 60-an. Frans Seda menilai bahwa pada awal-awalnya, pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto bisa dikatakan sebagai pemerintahan demokratis, terbuka, transparan, dan komunikatif. Selanjutnya Frans Seda berpendapat, ''Memang setelah anak-anaknya (Soeharto) gede, kebijakan ekonomi jadi bias. Setelah merasa memperoleh personalized power, Pak Harto memborong semua sejarah. Seolah-olah, keberhasilan pemerintahan Orde Baru adalah berkat strateginya sendiri.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bidang sosial. Presiden Soeharto berjasa pula dalam pemberian bantuan sosial. Dia mendirikan puluhan yayasan, mengumpulkan dana dan mengalokasikan kepada kegiatan sosial. Yayasan-yayasan yang didirikan di antaranya, Yayasan Trikora untuk membantu beasiswa bagi anak-anak yatim yang orang tuanya gugur dalam perang merebut Irian Barat, Yayasan Dwikora untuk memberikan bantuan beasiswa kepada anak-anak yatim korban konfrontasi dengan Malaysia, Yayasan Seroja untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak yatim yang orang tuanya gugur dalam perang di Timor Timur, Yayasan Supersemar untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak cerdas yang orang tuanya tidak mampu untuk mengikuti pendidikan S1, S2 dan S3 di berbagai universitas. Selain itu, Presiden Soeharto mendirikan pula Yayasan Harapan Kita yang kemudian mendirikan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila untuk membantu pembangunan masjid, dan banyak lagi yayasan yang didirikan Presiden Soeharto. Berbagai yayasan yang didirikan itu jelas untuk kepentingan sosial, maka sangat tidak masuk akal dan bersifat politis kalau pendirian puluhan yayasan itu dituduhkan untuk memperkaya diri sendiri dan kemudian dijadikan sebagai entry point untuk menjeratnya melakukan perbuatan korupsi.&lt;br /&gt;Ketiga, berjasa menyelamatkan bangsa ini dari pertumpahan darah. Saadillah Mursyid mengungkapkan pada detik-detik terakhir ketika mendampingi Pak Haro sebagai Presiden Republik Indonesia sebelum menyatakan berhenti dari jabatan sebagai Presiden RI., Pak Harto mengatakan, ''Segala usaha untuk menyelamatkan bangsa dan negara telah kita lakukan. Tetapi Tuhan rupanya berkehendak lain. Saya tidak mau terjadi pertumpahan darah.'' Padahal kalau Pak Harto mau melakukan tindakan tegas dan keras terhadap para demonstran seperti rezim militer di Miyanmar, kekuasaannya bisa terselamatkan karena TNI semuanya tetap loyal dan mendukung kepemimpinan beliau. Begitu pula Golkar sebagai partai pendukung pemerintah dan single majority di parlemen, masih kukuh mendukungnya. Akan tetapi, Pak Harto tidak mau menggunakan kekuasaannya untuk bertahan dengan menumpas para mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari kegagalan dan kesuksesan&lt;br /&gt;Bangsa yang besar ialah bangsa yang dapat belajar dari sejarah, agar tidak mengulangi kesalahan serupa. Bangsa Indonesia bisa belajar banyak dari kegagalan dan kesuksesan Presiden Soeharto selama memimpin bangsa Indonesia. Pertama, kegagalan dalam membangun pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintah yang bersih (good government). Kegagalan itu tidak boleh dilanjutkan. Akan tetapi, amat menyedihkan justru hal itu diamalkan dan bahkan dikembang-biakkan, sehingga korupsi semakin merajalela di era Orde reformasi. Kedua, kegagalan dalam membangun ekonomi yang berpihak kepada rakyat banyak. Kegagalan ini seharusnya menjadi pelajaran, tetapi anehnya sistem ekonomi yang sudah gagal menyejahterakan seluruh rakyat, masih diteruskan bahkan semakin diliberalkan. Ketiga, kegagalan dalam penegakan hukum. Pemerintah Presiden Soeharto lemah dalam penegakan hukum, seharusnya menjadi pelajaran, tetapi hal itu tidak juga dijadikan pelajaran oleh para pemimpin bangsa ini di era Orde Reformasi. Adapun kesuksesan Presiden Soeharto yang sangat penting dan patut ditiru dan dikembangkan di antaranya ialah kemampuan mewujudkan swasembada pangan, stabilitas harga sembilan bahan pokok, kesehatan masyarakat, stabilitas sosial, politik dan pertahanan keamanan. Berbagai kesuksesan itu tidak diteruskan dan dikembangkan, karena pada awal Orde Reformasi muncul stigma buruk terhadap Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Presiden Soeharto sakit dan banyak dikunjungi para pejabat dan mantan pejabat, dan diliput media nasional dan internasional, kita kembali sadar dan membuka mata ternyata masih banyak yang menghormati belaiu. Itu semua karena kebaikannya lebih banyak dibanding kejahatannya di masa berkuasa. Wallahu a'lam. (RioL)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-9178890378492904065?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/9178890378492904065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=9178890378492904065' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/9178890378492904065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/9178890378492904065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/menakar-kejahatan-dan-kebaikan-soeharto.html' title='Menakar Kejahatan dan Kebaikan Soeharto'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R6gsx1N4cHI/AAAAAAAAAEU/osUlyp3SwzY/s72-c/Suharto1998-02b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-7693483793915509203</id><published>2008-02-05T01:13:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T01:14:35.585-08:00</updated><title type='text'>Bung Karno dan Pak Harto</title><content type='html'>Oleh : Noor Wee &lt;br /&gt;Ketika peristiwa 1965 itu terjadi saya masih duduk di kelas III SD, jadi belum begitu paham apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini. Dan ketika berkisar tahun 1968/1969 saya duduk di bangku SMP pernah mendapat pelajaran tentang Kewarganegaraan (Civic Hukum) di antaranya ‘kalau tidak salah ingat’ dalam pelajaran itu ada mengenai berdirinya PKI dan tokoh-tokoh pendirinya, mengenai PNI, SDI yang kemudian menjadi SI, BO (Boedi Oetomo), dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pelajaran itu kemudian secara drastis ditiadakan, diganti dengan kurikulum baru. Apa namanya, saya lupa. Saya yakin saat itu pasti ada policy pemerintah. Dan pada waktu itu masih ingat betul di berbagai instansi pemerintahan, AURI, ALRI, Kepolisian adanya pembersihan terhadap orang-orang yang setia dengan Bung Karno, ditangkap, ditahan, tanpa diadili dengan dalih termasuk Barisan Sukarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah bingung dengan berita pada waktu itu (1965) kejadian itu ada yang menamakan: Gestapu (Gerakan Tiga puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober), G-30-S/PKI, ada Dewan Jendral, ada Dewan Revolusi. Bak sinetron beberapa tokoh pelaku muncul menghias surat kabar atau berita radio seperti DN Aidit (konon kabarnya mati ditembak di Solo), Letkol Untung, Komandan Cakrabirawa (juga sudah dieksekusi), Soebandrio, Syam, Nyoto, dan sebagainya yang dianggap terlibat peristiwa ’65, muncullah sang pahlawan Letkol Soeharto, Komandan RPKAD Sarwo Edhie Wibowo dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEBINGUNGAN seorang bocah untuk mengetahui sejarah atau kejadian yang sebenarnya baik ditinjau dari berbagai sudut pandang sampai sekarang sudah berumur setengah abad ini masih mengharapkan adanya penulisan sejarah yang benar dari pihak ahli-ahli sejarah maupun pemerintah, kemudian dipublikasikan ke daerah-daerah sampai pelosok desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ketika Bung Karno sakit, keterangan Wilarjito (pengawal Soekarno) tentang Supersemar, pengakuan Letkol Latief, dan sebagainya. Semestinya ada respon positif dari pemerintah sehingga ke depan nanti kita terbiasa mengatakan merah ya merah, putih ya tetap putih, jangan sampai generasi mendatang menjadi generasi yang tak berani mengatakan hitam ya hitam, jangan hitam dikatakan putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini ada sedikit gambaran bagaimana akhir hayat Bung Karno dan Pak Harto, silahkan direnungkan baik-baik semoga dapat bermanfaat, kumpulan ini tulisan Saudara Rizky,  kolom Berita; Eramuslim.com&lt;br /&gt;Senjakala Kekuasaan: Antara Soeharto dan Soekarno (bag.1) - Sabtu, 12 Jan 08&lt;br /&gt;Senjakala Kekuasaan: Antara Soeharto dan Soekarno (bag.2) - Senin, 28 Jan 08&lt;br /&gt;Senjakala Kekuasaan: Antara Soeharto dan Soekarno (bag.3/tamat) - Jum'at, 1 Feb 08&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk penulisnya sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf jika tak berkenan kami sebar luaskan, terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senjakala Kekuasaan: Antara Soeharto dan Soekarno”  &lt;br /&gt;Bag.1. Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir. Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya. Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa, dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini&lt;br /&gt;“Pak, Pak, ini Ega…” Senyap.  Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi. Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata. Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia koma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah. “Hatta.., kau di sini?”&lt;br /&gt;Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur. “Ya, bagaimana keadaanmu, No?” Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini. Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hoe gaat het met jou…?” (Bagaimana keadaanmu?) Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno. Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis. Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani. “No…”&lt;br /&gt;Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang. Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa Bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya. Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis. Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya, Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya. Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada. Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bag. 2.  Berita kematian Bung Karno dengan cara yang amat menyedihkan menyebar ke seantero Pertiwi. Banyak orang percaya bahwa Bung Karno sesungguhnya dibunuh secara perlahan oleh rezim penguasa yang baru ini. Bangsa ini benar-benar berkabung. Putera Sang Fajar telah pergi dengan status tahanan rumah. Padahal dia merupakan salah satu proklamator kemerdekaan bangsa ini dan menghabiskan 25 tahun usia hidupnya mendekam dalam penjara penjajah kolonial Belanda demi kemerdekaan negerinya. Anwari Doel Arnowo seorang saksi sejarah yang hadir dari dekat saat prosesi pemakaman Bung Karno di Blitar dalam salah satu milis menulis tentang kesaksiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah kesaksian dari Cak Doel Arnowo yang telah kami edit karena cukup panjang: Pagi-pagi, 21 Juni 1970, saya sudah berada di sebuah lubang yang disiapkan untuk kuburan manusia. Sederhana sekali dan sesederhana semua makam di sekelilingnya. Sudah ada sekitar seratusan manusia hidup berada di situ dan semua hanya berada di situ, tanpa mengetahui apa saja tugas mereka sebenarnya. Yang jelas, semuanya bermuka murung. Ada yang matanya penuh airmata, tetapi bersinar dengan garang. Kelihatan roman muka yang marah. Ya, saya pun marah. Hanya saja saya bisa menahan diri agar tidak terlalu kentara terlihat oleh umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua di kota Malang mendengar tentang almarhum yang diberitakan telah meninggal dunia sejak pagi hari dan sudah menyiapkan diri untuk menunggu keputusan pemakamannya di mana. Sesuai amanat almarhum, seperti sudah menjadi pengetahuan masyarakat umum, Bung Karno meminta agar dimakamkan di sebuah tempat di pinggir kali di bawah sebuah pohon yang rindang di Jawa Barat (asumsi semua orang adalah di rumah Bung Karno di Batu Tulis di Bogor). Tetapi lain wasiat dan amanah, lain pula rezim Soeharto yang secara sepihak memutuskan jasad Bung Karno dimakamkan di Blitar dengan dalih bahwa Blitar adalah kota kelahirannya. Ini benar-benar ceroboh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bung Karno lahir di Surabaya di daerah Paras Besar, bukan di Blitar! Bung Karno terlahir dengan nama Koesno, dan ikut orang tuanya yang jabatan ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru yang mengajar di sebuah Sekolah di Mojokerto dan kemudian dipindah ke Blitar. Di sinilah ayah Bung Karno, meninggal dunia dan dimakamkan juga di sisinya, isterinya (yang orang Bali) bernama Ida Ayu Nyoman Rai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah matahari tinggal sepenggalan sebelum terbenam, rombongan jenazah Bung Karno akhirnya sampai di tempat tujuan. Yang hadir didorong-dorong oleh barisan tentara angkatan darat yang berbaris dengan memaksa kumpulan manusia agar upacara dapat dilaksanakan dengan layak. Tampak Komandan Upacara, Jenderal Panggabean memulai upacara dan kebetulan saya berdiri berdesak-desakan di samping Bapak Kapolri, Hoegeng Iman Santosa, yang sedang sibuk berbicara dengan suara ditahan agar rendah frekuensinya tidak mengganggu suara aba-aba yang sudah diteriak-teriakkan. Saya berbisik kepada Beliau, ujung paling belakang rombongan ini berada di mana? Beliau menjawab singkat di kota Wlingi. Hah?! Sebelas kilometer panjangnya iring-iringan rombongan ini sejak dari lapangan terbang Abdulrachman Saleh di Singosari, Utara kota Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Hoegeng yang sederhana itu kelihatan murung dan sigap melakukan tugasnya. Dia berbisik kepada saya: "There goes a very great man!!" Saya terharu mendengarnya. Apalagi ambulan (mobil jenazah) yang mengangkut Bung Karno terlalu amat sederhana bagi seorang besar seperti Beliau. Saya lihat amat banyak manusia mengalir seperti aliran sungai dari pecahan rombongan pengiring. Sempat saya tanyakan, ada yang mengaku dari Madiun, dari Banyuwangi bahkan dari Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menuju ke arah berlawanan dengan tujuan ke rumah Bung Karno, di mana kakak kandung Beliau, Ibu Wardojo tinggal. Hari sudah gelap dan perut terasa lapar karena kita tidak berhasil mendapatkan makanan atau minuman, sebab kalau pun ada warung atau penjual makanan, pasti sudah kehabisan minuman atau makanan apa pun yang bisa ditelan. Saya ingat bahwa orang Muhammadiyah tidak memberi hidangan, minum sekalipun, kepada kaum pelayat. Bung Karno adalah orang Muhammadiyah. Kota Blitar tidak siap menampung orang sekian banyak. Setelah dilakukan pemakaman jenazah Bung Karno, beberapa waktu di kemudian hari semua makam Pahlawan di Taman Pahlawan Sentul ini dipindahkan ke Mendukgerit, yang telah saya kenal sebelumnya sebagai Bendogerit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemindahan ini dilaksanakan dengan alasan di lokasi pemakaman sudah penuh, tetapi pada kenyataannya kemudian ada proyek pembangunan makam Bung Karno yang memakan area cukup lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuburannya Pun Tidak Boleh Dijenguk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, sejak 1971 sampai 1979, makam Bung Karno tidak boleh dikunjungi umum dan dijaga sepasukan tentara. Kalau mau mengunjungi makam harus minta izin terlebih dahulu ke Komando Distrik Militer (KODIM). Apa urusannya KODIM dengan izin mengunjungi makam? Saya bersama ibu saya dan beberapa saudara datang secara mendadak pergi ke Blitar dengan tujuan utama ziarah ke Makam Bung Karno. Tanpa ragu kita ikuti aturan dan akhirnya sampai ke pimpinannya yang paling tinggi. Saya ikut sampai di meja pemberi izin dan sudah ditentukan oleh kita bersama, bahwa salah satu saudara saya saja yang berbicara. Saya sendiri meragukan emosi saya, bisakah saya bertindak tenang terhadap isolasi kepada sebuah makam oleh Pemerintah atau rezim? Nah, ternyata meskipun tidak terlalu ramah, mereka melayani dengan muka seperti dilipat. Mungkin dengan menunjukkan muka seperti itu merasa bertambah rasa gagahnya terhadap rakyat biasa macam kami. Akhirnya semua beres dan kami mendapat sepucuk surat. Apa yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di makam kami turun dari kendaraan kami dan saya bawa surat izin dari KODIM. Surat itu kami tunjukan ke tentara yang menjaga makam. Waktu tentara itu membaca surat, saya terdorong untuk menoleh ke belakang. Terkejut saya. Selain rombongan sendiri, Ibu saya dan saudara-saudara, telah mengikuti kami sebanyak lebih dari tiga puluh orang, bergerombol. Mereka, orang-orang yang tidak kami kenal sama sekali, melekat secara rapat dengan rombongan kami. Saya lupa persis bagaimana, akan tetapi saya ingat kami memasuki pagar luar dan kami bisa mendekat sampai ke dinding kaca tembus pandang dan hanya memandang makamnya dari jarak jauh, yang mungkin hanya sekitar tiga meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengikut dadakan yang berada di belakang rombongan kami dengan muka berseri-seri, merasa beruntung dapat ikut masuk ke dalam lingkungan pagar luar itu. Ada yang bersila, memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangannya, posisi menyembah. Saya tidak memperhatikannya, tetapi jelas dia bukan berdoa secara Islam. Mereka khusyuk sekali dan waktu kami kembali menuju ke kendaraan kami, beberapa di antara mereka menjabat tangan dan malah ada yang menciumnya, membuat saya merasa risih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang dari mereka ini mengatakan bahwa dia sudah dua hari bermalam di sekitar situ di udara terbuka menunggu sebuah kesempatan seperti yang telah terjadi tadi. Tanpa kata-kata, saya merasakan getar hati rakyat, rakyat Marhaen kata Bung Karno!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menganggap Bung Karno bukan sekedar Proklamator, tetapi seorang Pemimpin mereka dan seorang Bapak mereka. Apapun yang disebarluaskan dan berlawanan arti dengan kepercayaan mereka itu semuanya dianggap persetan. Dalam hubungan Bung Karno dengan Rakyat, tidak ada unsur uang berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibunuh Perlahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan orang banyak bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan mungkin bisa dilihat dari cara pengobatan proklamator RI ini yang segalanya diatur secara ketat dan represif oleh Presiden Soeharto. Bung Karno ketika sakit ditahan di Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno) di Jalan Gatot Subroto. Penahanan ini membuatnya amat menderita lahir dan bathin. Anak-anaknya pun tidak dapat bebas mengunjunginya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Banyak resep tim dokternya, yang dipimpin dr. Mahar Mardjono, yang tidak dapat ditukar dengan obat. Ada tumpukan resep di sebuah sudut di tempat penahanan Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat di situ tidak pernah ditukarkan dengan obat. Bung Karno memang dibiarkan sakit dan mungkin dengan begitu diharapkan oleh penguasa baru tersebut agar bisa mempercepat kematiannya. Permintaan dari tim dokter Bung Karno untuk mendatangkan alat-alat kesehatan dari Cina pun dilarang oleh Presiden Soeharto. “Bahkan untuk sekadar menebus obat dan mengobati gigi yang sakit, harus seizin dia,” demikian Rachmawati Soekarno Puteri pernah bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bag 3 (Tamat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno telah menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Ada sejarah yang belum terungkap dan masih diliputi kabut tebal misteri. Ada pula yang secara perlahan kian terang. Rezim Orde Baru pimpinan Presiden Jendral Soeharto yang didukung Golkar sebagai mesin buldoser pendulang suara rakyat (saat itu tidak mau disebut partai politik) berkuasa selama 32 tahun. Negeri ini (katanya) tengah membangun, namun yang tak disadari oleh semua orang dananya ternyata dari hasil hutang luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tega, Soeharto pada November 1967 pun telah mengkavling-kavling wilayah NKRI menjadi bancakan bagi perusahaan-perusahaan asing multinasional. Belum lagi jutaan rakyat Indonesia tak bersalah yang telah dibunuh rezim ini dalam kebiadaban yang tidak terperikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 27 Januari 2008, Soeharto telah menutup mata untuk selama-lamanya. Mantan orang nomor satu ini meninggal setelah diberi berbagai fasilitas canggih dari negara. Kontras sekali dengan kondisi ketika Presiden Soekarno wafat. Padahal jasa antara keduanya tak sebanding. Yang satu telah merelakan meringkuk selama 25 tahun di penjara Belanda hanya demi memerdekaan negerinya, sedangkan yang lain—mantan tentara KNIL, pelayan penjajah Belanda—malah merampok banyak kekayaan negeri ini selama puluhan tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Korban yang Berhak Memintakan Maaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, saat Soeharto sakit dan kritis, banyak pihak meminta agar dosa-dosa dan kesalahan Soeharto diampuni dan dimaafkan. Padahal, semua yang meminta itu bukanlah korban politik dari Soeharto. Mereka tidak pernah menderita puluhan tahun dipenjara tanpa pengadilan oleh rezim Soeharto. Mereka tidak pernah kehilangan anggota keluarga gara-gara ditembak mati rezim Soeharto. Mereka tidak pernah mengalami kesulitan hidup puluhan tahun lamanya di masa rezim Soeharto. Tiba-tiba mereka dengan enteng dan enaknya minta agar rakyat Indonesia membukakan pintu maaf bagi orang yang oleh media Barat sendiri disebut sebagai Diktator, Pinochet-nya Indonesia. Betapa naifnya hal ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiman Sudjatmiko, eks Ketua PRD yang kini bergiat di PDIP, pernah kesal dengan orang-orang dan kelompok yang tanpa tahu diri menghimbau agar Soeharto dimaafkan. “Hanya mereka, para korban rezim Orde Baru-lah yang berhak mengatakan itu!” tukasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sama saja dengan jutaan orang yang tengah dibantai dan disiksa oleh seorang penguasa, lalu setelah para korbannya bergelimpangan berdarah-darah bahkan banyak yang meninggal, tiba-tiba ada penonton yang sama sekali tidak diapa-apakan lalu berkata, “Wahai semuanya, maafkanlah penguasa itu, ampunilah dia…” Sungguh, benar-benar tidak lucu! Apapun alasannya.&lt;br /&gt;Dosa-dosa Soeharto teramat banyak. Dan Soeharto tentu tidak memikulnya sendirian. Golkar sebagai mesin politik Soeharto, di mana para kroninya berkumpul, juga wajib bertanggungjawab. Jika para korban mereka telah memaafkan, yaitu lebih bersifat masing-masing. Tetapi kejahatan lainnya, perdata, KKN, HAM, dan sebagainya tetap harus diusut tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar Pahlawan Orde Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi wacana konyol yang disodorkan para kroni Soeharto agar orang ini diberi gelar Pahlawan Nasional. Ini benar-benar keterlaluan. Selesaikan dulu semua kasus hukum Soeharto, baru nanti dinilai apakah orang ini berhak menyandang gelar mulia itu atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling pas bagi Soeharto mungkin gelar ‘Pahlawan Orde baru’, karena dia memang telah sangat berjasa bagi para kroninya sehingga sekarang ini masih saja tetap jaya di lingkaran pusat kekuasaan. Bahkan banyak media teve dan media cetak nasional yang sekarang dikuasai oleh para kroni Soeharto sehingga dalam pemberitaan kemarin Soeharto diimejkan sebagai seorang yang baik, dekat dengan rakyat, tak bersalah, bak pahlawan pembangunan, dan segala macam julukan lainnya. Padahal di tahun 1965 sampai dengan 1969, jutaan rakyat Indonesia tidak bersalah telah dibunuh atas perintah darinya. Generasi muda sekarang, generasi MTV, memang tidak pernah tahu akan hal ini karena mereka telah teralienasi dari sejarah bangsanya sendiri. Mereka telah menjadi generasi yang ahistoris, yang tercerabut dari sejarah bangsanya yang selama 32 tahun terus-menerus digelapkan hingga sekarang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Soekarno memang banyak pula kesalahannya. Tapi bagaimana pun Soekarno adalah orang besar. Namun beda sekali dengan penerusnya. Mudah-mudahan sejarah bangsa besar ini akan terbuka dan menjadi terang-benderang hingga anak-cucu kita bisa menilai dengan jernih mana yang harus ditiru dan mana yang harus dibuang. Amien. (rizki/tamat)  Sumber: Eramuslim.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-7693483793915509203?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/7693483793915509203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=7693483793915509203' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/7693483793915509203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/7693483793915509203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/bung-karno-dan-pak-harto.html' title='Bung Karno dan Pak Harto'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-7595958557767667113</id><published>2008-02-05T01:05:00.001-08:00</published><updated>2008-02-05T01:05:50.256-08:00</updated><title type='text'>Hubungan Pak Harto dengan Tanda-tanda Alam</title><content type='html'>Oleh : Lilie Suratminto &lt;br /&gt;Entah sejak kapan orang Jawa mulai gemar memperhatikan dan menghubungkan tanda-tanda alam dengan peristiwa-peristiwa penting atau perilaku manusia baik secara spesifik maupun secara umum. Kebiasaan demikian juga ada pada beberapa etnik di Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia. Coba kita perhatikan, beberapa hari sebelum Pak Harto masuk rumah sakit telah terjadi banjir besar Bengawan Solo yang memorakporandakan daerah Ngawi, Tuban, Bojonegoro, Lamongan dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama Pak Harto sakit, mass media asyik menyiarkan kondisi Pak Harto detik demi detik, menit demi menit secara rinci mulai detak jantung, kadar haemoglobin, jumlah cairan yang harus disedot dari tubuh Pak Harto dan lain-lain. Sementara itu keadaan para korban musibah banjir Solo dan lain-lain dikesampingkan atau diberitakan ala kadarnya. Demikian juga berita tentang kesulitan ekonomi rakyat termasuk antrean minyak tanah  di mana-mana hampir luput dari pantauan. Semua perhatian jelas hanya tertuju pada orang nomor satu di Indonesia tersebut. Pada saat yang bersamaan langit tiba-tiba seperti ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta bahkan beberapa tempat di Indonesia hujan tidak turun sama sekali selama itu. Pada waktu itu kebetulan saya berkunjung ke beberapa tempat di Sulawesi Utara, terus ke Bali dan singgah di Makasar dan terakhir ke Malang dalam rangka meneliti warisan budaya kolonial. Pada siang hari teriknya bukan alang kepalang. Banyak orang mengatakan, selama Pak Harto masih sakit hujan tidak akan turun. Nanti kalau pak Harto wafat, pasti hujan dan malahan akan terjadi banjir besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang akademikus yang selalu berpikir logis  saya kurang yakin mengenai hal itu. Bukankah ini karena adanya global warming yang baru-baru ini ramai diperdebatkan di Denpasar oleh wakil-wakil dari seluruh dunia? Masa iya sih, sebegitu besarnya hubungan alam dengan orang nomor satu di Indonesia itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Jumat minggu lalu sekitar jam satu siang, saya kebetulan sedang menemani tamu saya dari Radio Nederland Wereld Omroep makan siang di sebuah rumah makan di Jl. Sabang. Tiba-tiba cuaca berubah menjadi gelap. Langit mendung pekat. Jam  menunjukkan pukul 13.20. Sementara makan saya mendapat SMS dari teman yang mengatakan bahwa Pak Harto telah wafat pada jam 13.10. Inna lillahi wa ina ilaihi rojiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mata pengunjung di restoran itu lantas tertuju pada layar TV yang menayangkan berita duka tersebut. Saya kemudian mengantar tamu saya ke hotel Cemara yang letaknya tidak jauh dari rumah makan tersebut. Sebentar kemudian hujan turun. Aneh sekali, ternyata pernyataan orang-orang benar juga. Kabarnya di Depok hujan turun sangat deras juga. Mudah-mudahan tidak ada banjir seperti yang dikatakan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Jumat kemarin (tanggal 1 Februari 2008) saya tidak dapat keluar rumah karena hujan sangat lebat. Jalanan penuh dengan air. Saya mendengarkan radio, ternyata hujan lebat tidak henti-hentinya dan merata di seluruh Jakarta-Tangerang dan Bekasi. Buntut dari hujan tersebut adalah meluapnya air di perumahan penduduk. Ini bukan banjir kiriman dari Bogor seperti biasanya, warga di Jakarta diberitahu sebelumnya bahwa ketinggian air di Katulampa dan Depok sangat tinggi dan diperkirakan banjir akan merendam beberapa tempat di Jakarta. Banjir kemarin itu akibat curah hujan yang tinggi dan mengakibatkan banjir yang sangat besar yang melanda tempat-tempat pusat kegiatan perekonomian di Jalan Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut perhitungan Jawa, kemarin adalah hari ketujuh wafatnya Pak Harto. Dan memang malamnya Metro TV menayangkan siaran live  "Selamat Jalan Pak Harto" dalam peringatan hari ke tujuh berupa tahlilan langsung dari Istana Kalitan Solo dan dari rumah Pak Harto di jalan Cendana. Metro TV dalam acara ini mewawancarai mBak Tutut puteri Pak Harto tertua dan I Gusti Nyoman Sueden ajudan pribadi Pak Harto yang sangat setia menemani Pak Harto sampai saat-saat terakhir beliau di RS Pertamina Jakarta. Beberapa kali Pak Harto dalam pidatonya mengingatkan bangsa Indonesia untuk pandai-pandai membaca zaman dan dalam keputusan-keputusannya yang menyangkut harkat hidup orang banyak beliau selalu mengatakan bahwa keputusannya itu adalah pilihan buruk dari yang terburuk. Artinya kita harus legowo atau rela menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Pak Harto wafat, saya teringat kembali ke masa sekitar 43 tahun yang lalu beberapa saat sebelum Pak Harto namanya melejit di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Pada waktu itu telah terjadi suatu tanda alam yang tidak pernah saya lupakan, yaitu munculnya bintang kemukus atau bintang berekor yang panjangnya hampir sepertiga langit dengan pangkalnya di ufuk timur dan ujungnya melengkung ke arah selatan. Bintang kemukus ini warnanya seperti asap putih terang di atas langit yang jernih. Bintang itu muncul hampir selama satu bulan dan hampir setiap pagi sekitar jam tiga saya pergi ke tanah lapang bersama banyak orang untuk menyaksikan terbitnya bintang berekor tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya menyaksikan sampai bintang tersebut pudar karena munculnya sang surya pagi. Munculnya bintang berekor ini telah mengilhami Akhmad Tohari dalam karya novel triloginya yang sangat terkenal Ronggeng Dukuh Paruk. Pada waktu itu saya masih duduk di kelas dua SMP. Saya mendengar dari orang-orang dewasa dan orang tua bahwa di negeri kita akan terjadi sesuatu yang luar biasa. Ada yang bilang bahwa akan ada orang besar turun jabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan tiba-tiba berubah. Penduduk  kota Kudus tempat kelahiran saya yang tenang itu tiba-tiba menjadi onar. Banyak orang yang ditangkapi dan dimasukkan tahanan tanpa diproses secara hukum. Banyak di antara mereka yang kemudian dipulangkan dan tidak lama kemudian mereka banyak yang meninggal. Entah siksa apa yang telah mereka jalani dalam tahanan, karena mereka pada umumnya diam dan tidak seorang pun berani bertanya, karena mereka takut terlibat. Kata orang mereka tersangkut partai terlarang. Kawan-kawan saya yang aktif di organisasi IPPI (ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) juga tidak boleh sekolah lagi. Mereka diskors. Seorang kawan saya yang piawai dalam menari Gambir Anom juga tidak boleh masuk sekolah karena ia telah ikut menari dalam rangka meramaikan ulang tahun Pemuda Rakyat di kota kami, padahal dia itu anggota GSNI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa menjadi kebingungan. Kejadian yang sangat memilukan adalah saat guru kami yang pada waktu itu sedang mengajar kami di kelas tiba-tiba didatangi tentara berbaju loreng dan beliau digelandang masuk ke dalam mobil pickup. Terus dibawa pergi entah ke mana. Kami semua menangis meraung-raung karena kehilangan guru yang sangat kami sayangi. Sampai kini saya tidak tahu bagaimana nasib bapak guru saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kacau itulah muncul nama Soeharto yang dalam selebaran yang ditempelkan di papan pengumuman dinyatakan bahwa beliau diberi wewenang oleh Bung Karno sebagai Panglima Komando untuk pemulihan kemanan. Sejak saat itu kami semua di sekolah memakai seragam mirip militer lengkap dengan emblem (badge) bertuliskan KOJARSENA atau Korps Pelajar Serba Guna. Sebagai pelajaran ekstra kurikuler kami belajar baris-berbaris. Beberapa di antara kami bahkan dilatih baris-berbaris dan kedisiplinan oleh tentara di lapangan KODIM. Sungguh, suatu kenangan yang tidak terlupakan oleh kami semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekat menjelang lengsernya Pak Harto tahun 1998, telah terjadi kekeringan di mana-mana. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika Indonesia dilanda gelombang El Nino. Telah terjadi kebakaran hutan di mana-mana. Hujan tidak kunjung datang  bahkan sampai bulan Januari-Februari 1998. Di mana-mana terjadi demo mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah. Mereka menuntut diadakannya reformasi di segala bidang. Korban Trisakti berjatuhan. Alam sepertinya ikut mendukung suasana hingar-bingar menjadi bertambah panas dengan tidak menurunkan hujan. Kebakaran hutan dan kebakaran lagi lagi. Panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali teringat bintang kemukus lagi yang ujungnya melengkung ke arah kanan seperti bumerang. Dalam statistik, mungkin sama dengan bentuk garis kurva menurun, apakah itu menandakan bahwa pamor Pak Harto sudah mulai menurun.&lt;br /&gt;Hampir selama tiga puluh dua tahun Pak Harto memegang tampuk kekuasaan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini kunci jawaban dari makna yang tersirat dari tanda-tanda alam berupa bintang kemukus yang penuh misteri itu yang panjangnya sepertiga langit, sama dengan kekuasaan Pak Harto yang lamanya sepertiga abad. Suatu masa pemerintahan di bumi Nusantara yang paling lama, yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan mudah-mudahan tidak terjadi di masa yang akan datang. Pada masa VOC gubernur jenderal yang paling lama memegang kekuasaan adalah Gubernur-Jenderal Maetsuycker yang memerintah selama 25 tahun (1653-1678). Gubernur-gubernur jenderal yang lain hanya memerintah satu atau dua periode saja. Satu periode berlangsung selama empat tahun. Banyak di antara gubernur-jenderal VOC yang justru meninggal saat sedang menjabat. Mungkin karena mereka kerja terlalu keras atau oleh sebab lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya kemukakan di atas itu hanyalah pengamatan saya mengenai tanda alam yang dipandang sebagai tanda dan  hubungan tanda tersebut dengan perilaku manusia, dalam hal ini Pak Harto yang kemudian memegang tampuk pemerintahan sebagai orang nomor satu di Indonesia. Makna dari hubungan tersebut diperoleh melalui proses semiosis atau proses pemaknaan. Proses pemaknaan ini saya pinjam dari teori semiotiknya Charles Sanders Peirce yang adalah seorang  semiotikawan dan ahli filsafat logika dari Amerika (1839-1914). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Representamen berupa tanda-tanda alam mempunyai hubungan dengan kognitif manusia berupa objek dan menghasilkan interpretan berupa makna yang terkandung dari kedua hubungan tersebut. Memang tidak ada hubungan langsung  antara representamen dan interpretan. Dalam proses semiosis ketiga unsur ini tidak dapat dipisahkan. Kalau kita  berbicara mengenai tanda, hubungan antar tanda dan makna tanda, rasanya tidak akan ada habis-habisnya, selalu menarik, oleh karena itu saya akhiri uraian saya sampai di sini. Terima kasih atas perhatiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber image: atelier-ojan.de&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-7595958557767667113?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/7595958557767667113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=7595958557767667113' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/7595958557767667113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/7595958557767667113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/hubungan-pak-harto-dengan-tanda-tanda.html' title='Hubungan Pak Harto dengan Tanda-tanda Alam'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-8422597487415071658</id><published>2008-02-05T00:51:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T00:53:44.112-08:00</updated><title type='text'>Suharto Bukanlah Pahlawan !!!</title><content type='html'>Oleh : Ayik Umar Said&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;05-Feb-2008, 09:27:34 WIB - [www.kabarindonesia.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KabarIndonesia - Tulisan ini dimaksudkan guna mengajak para pembaca untuk bersama-sama merenungkan adanya suara-suara (terutama dari tokoh-tokoh Golkar) yang mengusulkan supaya Suharto diberi gelar pahlawan nasional sesudah ia meninggal. Sebab, usul yang demikian ini menunjukkan bahwa perlu diragukan kejernihan nalar orang-orang yang mengusulkannya, atau, dengan kalimat lainnya, pantas disangsikan akan kesehatan cara berfikir mereka. Adanya usul atau fikiran yang segila itu, menunjukkan bahwa ada sebagian dari “ kalangan elite” di negeri kita yang sedang diserang penyakit rochani yang akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, gagasan atau usul untuk memberikan gelar “pahlawan nasional” kepada Suharto itu bukan saja merupakan tantangan yang tidak tanggung-tanggung atau provokasi besar sekali bagi banyak kalangan di negeri kita (dan juga kalangan internasional) tetapi juga membikin makin ruwetnya berbagai masalah Suharto yang selama ini memang sudah ruwet dan juga rumit. Usul gila ini merupakan salah satu di antara serentetan panjang blunder (kesalahan besar) dari Golkar yang sudah sering dilakukan selama berpuluh-puluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usul Golkar (dengan dukungan para Suhartois lainnya dalam berbagai kalangan, terutama dari kalangan militer) untuk memberi gelar pahlawan kepada Suharto menunjukkan bahwa Golkar -- yang sekarang mendominasi kekuasaan politik dalam Orde Baru jilid II dewasa ini -- menyangka bahwa meninggalnya Suharto merupakan kesempatan baik untuk “mengembalikan” nama baik dan kehormatannya, yang sudah rusak atau anjlok sejak turunnya sebagai presiden dalam tahun 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusaknya atau anjloknya nama dan kehormatan Suharto adalah akibat dari berbagai politiknya menjalankan rejim militer Orde Baru dan banyak kejahatannya di bidang HAM dan KKN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golkar, yang selama 32 tahun merupakan alat utama Suharto (ditambah militer) dalam menguasai sepenuhnya pemerintahan tangan besi Orde Baru, berkepentingan sekali bahwa Suharto dapat “merebut” kembali nama baik dan kehormatannya. Oleh karena adanya hubungan yang erat sekali antara Golkar dan Suharto maka kehancuran nama dan “kehormatan” Suharto bisa juga menyebabkan kemerosotan “nama baik dan kehormatan” Golkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan Golkar sekarang, kelihatan salah perhitungan atau keliru sekali membaca situasi, dengan mengajukan usul pemberian gelar pahlawan nasional kepada Suharto. Karena, usul ini telah menuai banyak reaksi keras yang mencerminkan dengan jelas kemarahan dan juga membangkitkan perlawanan dari banyak kalangan (Harap simak juga “Kumpulan berita” di rubrik “Meninggalnya mantan presiden Suharto’ dan “Sesudah Suharto meninggal”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlawanan keras dari berbagai kalangan (terutama dari kalangan generasi muda) terhadap usaha-usaha kekuatan Orde Baru jilid II untuk memberi gelar pahlawan kepada Suharto ini merupakan peristiwa yang cukup penting dalam sejarah gerakan perlawanan rakyat terhadap kekuatan Suhartois. Bisa diharapkan bahwa gerakan perlawanan yang sekarang ini akan berkembang terus kemudian sehingga merupakan kelanjutan dari gerakan besar-besaran dalam tahun 1998 yang bersejarah itu dan yang membikin jatuhnya kekuasaan Suharto sebagai presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuplikan dari beberapa di antara reaksi keras tersebut di bawah ini kiranya cukup jelas untuk mengukur suhu atau derajat kemarahan berbagai kalangan terhadap usul gila ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi Keras dari Kalangan Muda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah aktivis gerakan mahasiswa angkatan 1977/1978 menolak rencana pemerintah untuk memberikan gelar pahlawan kepada mantan presiden Soeharto. “Sampai sekarang kejahatan kemanusiaan Soeharto belum disentuh. Pemberitaan yang berlebihan tentang prestasi dan jasa Soeharto, dirasakan tidak adil dan melukai hati para korban kebijakan Soeharto. Seperti dalam kasus Aceh, Papua, Lampung, Tanjung Priok, Kasus Gerakan Mahasiswa 77-78, 27 Juli, Haur Koneng, Gerakan 30 September, Petrus, Waduk Nipah, Tapol-Napol, »ujar Mahmud Madjid, salah seorang aktivis angkatan 1977-1978 di Bandung (Tempo Interaktif, 31 Januari 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan mahasiswa di Bali menggelar aksi unjuk rasa menolak usulan pemberian gelar pahlawan bagi almarhum mantan Presiden RI Soeharto. Mereka justru menyebut Soeharto sebagai Bapak Pelanggaran HAM. Mereka juga membagi-bagikan pernyataan yang berisi tuntutan akan kasus korupsi Soeharto terus diusut hingga ke kroni-kroninya. “Tidak ada alasan untuk menghentikan apalagi hanya karena ingin memberi gelar pahlawan,” tegas Hasan yang menjadi Korlap aksi itu. Poster yang dibuat antara lain bertuliskan, “Adili kroni Soeharto”, “Tidak ada Kata Maaf untuk Pelanggar HAM”, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa yang berasal dari berbagai organisasi itu menilai, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah bertindak represif dengan mewajibkan pengibaran bendera setengah tiang sebagai tanda duka cita atas meninggalnya Soeharto. Padahal, sepanjang kekuasaannya Soeharto telah menyakiti hati rakyat dengan rangkaian pelanggaran HAM sejak pasca-peristiwa G-30S PKI hingga penerapan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh. Dalam tuntutannya, mereka meminta Presiden Yudhoyono menuntaskan pengungkapan kasus-kasus pelanggaran HAM, menetapkan rezim Orde Baru sebagai rezim pelanggaran HAM, menyatakan Soeharto sebagai penjahat HAM dan mengusut tuntas serta melacak harta hasil korupsi milik Soeharto (Koran Tempo, 30 Januari 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan pemberian gelar kepada mendiang Soeharto juga diungkapkan Mahasiwa Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang iyang mengatakan bahwa « tidak ada gunanya pemerintah memberikan gelar pahlawan kepada penguasa yang otoriter seperti Soeharto. Apalagi, masyarakat saat ini masih terbebani akibat kebijakan-kebijakan Soeharto yang menjerumuskan. "Gimana disebut sebagai pahlawan kalau ia menjerumuskan bangsa ini ke jurang kemiskinan," katanya. (Koran Tempo, 30 Januari 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakiti Hati Rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah kalangan menilai mantan Presiden Soeharto tidak layak diberi gelar pahlawan. Pasalnya, sampai ia meninggal dunia, statusnya masih sebagai terdakwa kasus korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, begitu banyak orang yang dibunuh dan dipenjara tanpa melalui proses hukum pada masa pemerintahan Soeharto. "Kalau ia diberi gelar pahlawan, justru menyakiti hati rakyat, terutama para keluarga korban kekejaman di masa pemerintahannya," kata Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kata Usman, sangat ironis kalau Soeharto diberi gelar pahlawan karena sejumlah mahasiswa yang tewas ditembak "anak buah" Soeharto pada 1998 karena menuntut dia mundur telah diberi gelar pahlawan reformasi. Sedangkan di sisi lain, Soeharto yang diduga kuat sebagai dalang peristiwa itu juga akan diberi gelar pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan itu, Koordinator Tim Advokasi dan Rehabilitasi Korban Tragedi 1965 Witaryono Reksoprodjo mengatakan kalau Soeharto diberi gelar pahlawan, selain menyakiti rakyat Indonesia, juga memalukan bangsa dan negara. Pasalnya, di mata dunia internasional Soeharto adalah mantan kepala negara yang mencuri harta negaranya paling tinggi dibanding kepala negara lain yang juga korup. Selain itu, ketika Soeharto meninggal dunia media massa asing memberitakan Soeharto sebagai seorang mantan diktator yang kejam. "Sudahlah. Ia tidal layak diberi gelar pahlawan," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Pakasi, salah satu korban pelanggaran HAM berat 1965, mengatakan Soeharto adalah diktator yang kejam, bahkan lebih kejam dari Hitler. "Mana bisa orang seperti dia diberi gelar pahlawan?" ujar pria yang dipenjara selama 9 tahun tanpa melalui proses hukum oleh Soeharto dengan alasan terlibat PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah mantan Presiden Soeharto dimakamkan, sejumlah warga kota Solo dan sekitarnya yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat untuk Kesejahteraan Rakyat mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri Solo. Mereka menolak masa berkabung nasional dan pengibaran bendera setengah tiang.Aliansi Masyarakat untuk Kesejahteraan Rakyat (Amuk Rakyat)—yang terdiri atas aktivis beberapa badan eksekutif mahasiswa (BEM) dari sejumlah perguruan tinggi dan aktivis lembaga swadaya masyarakat—juga mendesak kroni-kroni Soeharto yang terkait dengan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kasus korupsi segera diadili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para aktivis yang dipimpin Winarso, menemui Kepala Kejaksaan Negeri Solo Momock Bambang Soemiarso. Dalam pertemuan itu, Winarso menyerahkan pernyataan sikap Amuk Rakyat yang intinya menolak masa berkabung nasional tujuh hari dan pengibaran bendera setengah tiang. Alasannya, Soeharto tidak pantas mendapatkan penghormatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kasus-kasus Soeharto dan kroni-kroninya sampai saat ini belum jelas penyelesaiannya. Bagi kami, berkabung nasional tujuh hari hanya dikhususkan untuk pahlawan. Soeharto yang penuh dengan kasus apakah pantas disebut sebagai pahlawan," tutur Winarso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Yogyakarta, ahli sejarah dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, FX Baskara T Wardaya, mengingatkan agar pemerintah tidak buru-buru memberi gelar pahlawan kepada mantan Presiden Soeharto. Sebab, ketokohan Soeharto masih menyisakan kontroversi, di samping sebagian besar masyarakat dipastikan tidak akan mendukung pemberian gelar.&lt;br /&gt;Menurut Baskara, Soeharto tidak bisa digolongkan dalam kategori pahlawan nasional. Kematiannya bahkan menyisakan ketidakjelasan dalam hal sejarah, terutama menyangkut peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Soeharto juga dinilai sebagai tokoh yang bertanggung jawab dalam peristiwa gerakan 30 September 1965. Peristiwa itu telah menyebabkan munculnya dua tragedi, yaitu terbunuhnya sejumlah jenderal dan pembantaian rakyat secara massal (Kompas, 30 Januari 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan Asvi Marwan Adam mengatakan, untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi selain masalah prosedural. Sesuai dengan ketentuan, orang yang dianugerahi pahlawan nasional harus berjasa dan tidak memiliki cacat dalam perjuangan. Dari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sisi tersebut, Soeharto tidak memiliki kriteria yang tidak cacat. Saat ini dia masih berstatus tersangka kasus dugaan korupsi di tujuh yayasan dan terindikasi melakukan pelanggaran HAM berat. Untuk kasus korupsi, Soeharto masih berurusan dengan peradilan perdata. Adapun kasus HAM,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) juga sedang menindaklanjutinya. "Ini sangat berisiko mengangkat Soeharto sebagai pahlawan. Nanti bisa memalukan. Mengangkat tersangka korupsi dan pelaku indikasi pelangaran HAM berat akan merepotkan. Apalagi untuk mencabutnya nanti juga susah," katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu sangat berisiko tinggi. Sebab, misalkan gelar pahlawan sudah diberikan kepada Soeharto dan ternyata dia kemudian dinyatakan sebagai koruptor atau juga pelanggar HAM berat. Tentu pemerintah yang akan repot. Itu juga akan menjadi aib bangsa Indonesia. Masa gelar itu akan dicopot. Padahal, dalam sejarah, belum pernah ada gelar pahlawan dicopot," ujar Asvi di Jakarta,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto Bukan Pahlawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan LBH Indonesia, yang diketuai oleh Patra M. Zen juga mengeluarkan pernyataan yang berisi sikap politik mengenai gelar pahlawan untuk Suharto ini, yang nada dan isinya sangat tajam. Dalam pernyataan tersebut dikatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita kematian Soeharto pada 27 Januari 2008 menghiasi media massa nasional dan internasional. Beberapa media massa menampilkan dengan sangat berlebihan. Berlebihan, dalam arti mengajak pemirsa mengenang kembali 'jasa-jasa' penguasa Orde Baru selama 32 tahun itu. Tayangan tersebut berusaha menyeret simpati publik terhadap sosok Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap politik dan 'keberpihakan' terhadap Soeharto juga ditunjukkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Melalui Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa, pemerintah meminta rakyat Indonesia mengibarkan bendera merah-putih setengah tiang sebagai tanda berkabung selama tujuh hari berturut-turut. Sikap politik pemerintah terhadap Soeharto juga ditunjukkan dengan wacana berupa penyematan gelar pahlawan buat Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan LBH Indonesia (YLBHI) menilai sikap dan proses politik yang mengiringi kematian Soeharto yang ditunjukkan oleh pemerintah begitu gegabah dan berlebihan. Pasalnya, kita tahu, pada kematiannya di usia 86 tahun tersebut, Soeharto meninggal tanpa pernah diadili atas perbuatan-perbuatannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita patut mengerti, bahwa, Soeharto berpulang dalam kondisinya berlumuran darah atas perbuatan masa lalu di masa Orde Baru. Kasus pembantaian orang-orang yang dituduh Partai Komunis Indonesia (PKI) 1965, kasus penembakan misterius (Petrus), kasus Tanjung Priok, kebijakan daerah operasi militer di Aceh dan Papua, adalah contoh lumuran darah masa Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, perbuatan korupsi, kolusi, dan nepotisme, yang dilakukan oleh Soeharto dan keluarga serta kroni-kroninya, juga telah merusak mental bangsa Indonesia, selain memporak-porandakan bangunan ekonomi dan sosial bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, YLBHI bersikap, sangat tidak patut dan layak, pemerintah memberikan predikat pahlawan kepada Soeharto. Ketidaklayakan itu didasarkan pada alasan bahwa secara hukum, Soeharto tidak bisa dikatakan bersalah maupun tidak bersalah, karena proses hukum atas perbuatannya tidak selesai. Demikian pernyataan YLBHI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada Ma’af bagi Suharto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarahan juga telah dilontarkan oleh Keluarga Alumni SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi, organisasi di bawah pimpinan PRD), yang mengeluarkan pernyataan antara lain sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kami dan massa rakyat harus mengeja kata *"maaf"* dan *"mengenang jasa"* untuk orang seperti Soeharto? Mari kita buka kembali rentang panjang sejarah penindasan yang dialami rakyat Indonesia dan semua kekuatan yang berlawan dengannya. Adakah kita lupa bagaimana tanah-tanah rakyat petani direbut paksa demi kepentingan ekonomi para kroni Soeharto, contohnya di Tapos, Cilacap, Badega, Kedungombo, dan banyak lagi? Atau sudah lupakah kita pada pembunuhan aktivis buruh Marsinah dan penindasan terhadap kaum buruh lainnya? Sudah berapa ribu nyawa sekarat akibat digasak bayonet di Tanjung Priok, Lampung, Aceh, Papua, dan Timor Leste? Jutaan orang dijebloskan ke penjara pada tahun 1965 tanpa pengadilan berikut jutaan nyawa tak berdosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melayang sebagai tumbal kekuasaan ekonomi dan politiknya? Rezim Soeharto, beserta kolaboratornya, dan juga rezim sesudahnya, tak sekalipun berucap * "maaf"* atas kebiadaban ini. Kini kita dibujuk untuk memberi maaf atas rezim yang membunuhi rakyatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, mari kita bertanya secara arif, berjasakah jika, Soeharto, yang menurut data Bank Dunia menempati urutan teratas pemimpin politik dunia terkorup yang selama 32 tahun berkuasa, telah berhasil menjarah bumi Indonesia dengan total harta mencapai USD 15-35 miliar. Sementara, dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rentang masa penjarahan itu, menghasilkan puluhan juta rakyat miskin dengan pendapatan hanya USD 1 per hari atau sekitar Rp 9.200). Dengan tangan besinya, Suharto tak segan-segannya membantai rakyat sendiri. Memaafkankah kita jika ingat pembantaian tahun 1965, Timor Leste, Aceh, Papua, Jenggawah, pembunuhan Marsinah, peristiwa 27 Juli 1996, dan masih banyak kasus lainnya yang semuanya diselesaikan dengan pertumpahan darah dibawah kendali Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah hasil karya Soeharto yang paling nyata adalah pemiskinan rakyat yang luar biasa, penindasaan dan penghisapan terhadap kaum buruh yang juga luar biasa, barisan pengangguran yang tak kalah dahsyatnya, beserta juga kisah sebuah negeri, berikut kekayaan alamnya, dan harga diri rakyatnya yang telah digadai ke tangan kekuatan imperialisme. Soeharto, adalah peletak dasar kolaborasi dengan para imperialis ini. Demikian antara lain Keluarga Alumni SMID.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Kal. SMID ini senafas dengan isi wawancara di televisi oleh Sukmawati Sukarnoputri yang mengungkap berbagai hal tentang perbedaan yang jauh sekali antara perlakuan terhadap Bung Karno ketika wafat dengan perlakuan terhadap Suharto. Dalam wawancara inilah Sukmawati juga mengeluarkan kata-kata yang tajam dan keras mengenai Suharto, dengan mengatakan bahwa “tiada ma’af Suharto” dan bahwa Suharto adalah pengkhianat (wawancara yang menarik dan penting ini bisa disimak kembali lewat Youtube http://www.youtube.com/watch?v=PXvh_4MdFyw&amp;feature=related)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sedikit bahan-bahan yang disajikan di atas nyatalah - dengan jelas sekali pula - bahwa Suharto memang tidaklah pantas sama sekali disebut sebagai pahlawan nasional. Bahkan, seperti yang sudah dikatakan Sukmawati dengan tegas, ia adalah pengkhianat !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paris 3 Februari 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-8422597487415071658?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/8422597487415071658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=8422597487415071658' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/8422597487415071658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/8422597487415071658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/02/suharto-bukanlah-pahlawan.html' title='Suharto Bukanlah Pahlawan !!!'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-2932589852919703358</id><published>2008-01-31T04:54:00.000-08:00</published><updated>2008-01-31T04:55:03.220-08:00</updated><title type='text'>Jika Dipaksakan, Arwah Soeharto Tak akan Tenang</title><content type='html'>Kontroversi terkait usulan agar Soeharto diberi gelar pahlawan nasional makin menajam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bak bola sodok, usulan Partai Golkar itu kini menggelinding ke segala penjuru. Wakil rakyat, aktivis yang pernah ditangkap di era Orba hingga budayawan ramai-ramai mengomentari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kan hanya kerjaan Golkar. Pahlawan dari mana? Kalau mau memberikan penghargan, sebaiknya dilakukan uji kelayakan terlebih dulu untuk pembuktian apakah memang sudah layak atau belum,” tegas Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjoegoeritno di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (30/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Fraksi BPD Jamaluddin Karim mengamini pernyataan Mbah Tardjo. “Cooling down dululah, jangan terburu-buru seperti dikejar hantu. Biarkan Pak Harto tenang di alam baka. Apalagi masih kontroversial. Bagaimana bisa memberikan gelar pahlawan sementara pemerintah belum memberikan kepastian hukum,” kata Jamaluddin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekas aktivis Andi Arief pun angkat bicara. “Semangat menumbangkan sang diktator satu dekade silam, kini hampir sama kencangnya dengan gairah merayakannya kembali sebagai pahlawan,” ujar bekas Ketua Umum Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, lanjut Andi, Soeharto adalah produser sekaligus produk dari satu tradisi politik yang berbahaya bagi demokrasi. “Dia percaya rakyat tak butuh demokrasi, karena pemimpin tahu segalanya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budayawan kondang Emha Ainun Najib (Cak Nun) malah mengatakan, sebenarnya Soeharto tidak memerlukan gelar apa pun, kecuali doa dari anak-anaknya yang saleh. “Tapi kalau pemerintah mau memberikan gelar, ya monggo, kalaupun tidak juga nggak apa-apa. Wong sekarang ini banyak tokoh yang bergelar pahlawan tapi tidak dihormati, kok,” kata Cak Nun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ditentang habis-habisan, barisan pendukung Soeharto terus bergerak menyuarakan pentingnya gelar pahlawan nasional untuk Soeharto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau mau jujur, lihat saja bagaimana apresiasi masyarakat kecil kepada Pak Harto, bahkan ada semacam kerinduan masyarakat tentang kondisi di mana Pak Harto berkuasa. Semua kebutuhan pangan rakyat tercukupi dan harga-harga bisa terjangkau, tidak seperti sekarang ini,” kata Ketua FKPPI Indra Utoyo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Ketua MPR AM Fatwa juga mendukung pemberian gelar kepahlawanan kepada Soeharto. “Terlepas dari kontroversi soal status hukum Pak Harto, saya kira jasa-jasa beliau membangun negeri ini harus dilihat dari sisi positif, baik kemajuan di bidang ekonomi maupun fisik.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-2932589852919703358?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/2932589852919703358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=2932589852919703358' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/2932589852919703358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/2932589852919703358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/01/jika-dipaksakan-arwah-soeharto-tak-akan.html' title='Jika Dipaksakan, Arwah Soeharto Tak akan Tenang'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-4914608705551061471</id><published>2008-01-31T04:51:00.001-08:00</published><updated>2008-01-31T04:54:07.962-08:00</updated><title type='text'>Pak Harto, Demokratis dan Konstitusional</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R6HE4lN4cGI/AAAAAAAAAEM/Xeo_WCCnu5Q/s1600-h/jenazah4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R6HE4lN4cGI/AAAAAAAAAEM/Xeo_WCCnu5Q/s320/jenazah4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161623124285354082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita tidak bermaksud mengagung-agungkan masa lalu. Namun masa lalu janganlah dibiarkan berlalu begitu saja. Sebab masa lalu mengandung sejumlah pelajaran dan kearifan sebagai bekal Untuk menatap masa depan yang lebih cerah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kebijakan yang akan membawa kebajikan bagi seluruh rakyat Indonesia . Batu ujiannya adalah bagaimana sikap sebagai seorang pemimpin dalam situasi kenegaraan yang sangat gawat dan rumit dan harus memutuskan sesuatu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut tampak pada kebijakan Pak Harto yang menegaskan sikapnya, selaku Panglima Komando Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), terhadap Bung Karno pada 7 Maret 1967.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Harto berpendapat, tidak cukup menunjukkan sikap sebagai Pangkopkamtib, tapi lebih tinggi sampai di forum Sidang Istimewa MPRS dalam kedudukannya sebagai penjabat presiden pada 13 Maret 1967. Kedudukan Pak Harto pada 1965, 1967, dan 1968 berturut-turut adalah Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), pengemban Tap MPRS Nomor IX Tahun 1967, dan penjabat presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja pidato Pak Harto sebagai Pangkopkamtib di hadapan Sidang Istimewa MPRS pada 7 Maret 1967 dan pidato kenegaraan Pak Harto sebagai penjabat presiden pada 13 Maret 1967, antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Riwajat patriotik perdjuangan Bung Karno, jang sedjak masa remajanya telah berjuang secara aktif didalam gelanggang politik untuk kemerdekaan dan kebebasan Bangsa Indonesia secara berani dan tak kundjung menjerah sampai keluar masuk pendjara dan pengasingan, Bung Karno berjuang untuk melawan kolonialisme jang menjajah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Demikian pula beliau jang secara resmi menemukan kembali dasar-dasar falsafah kepribadian Bangsa Indonesia ialah Pantjasila jang hingga kini tetap berkumandang di dalam dan di luar negeri dan telah kita terima bersama dan bertekad untuk mempertahankan setjara mati-matian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kemudian kenjataan bahwa Bung Karno adalah Proklamator dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sungguh mempunjai arti yang tinggi yang harus kita hargai dan mulyakan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan-alasan jang mendalam itu, maka dengan segala pengertian dan pengetahuan mereka terhadap kesalahan-kesalahan Bung Karno dewasa ini, secara irrasionil dan dengan iktikad baik diharapkannja agar supaja Bung Karno tidak diperlakukan secara tidak adil. Jangan sampailah generasi dewasa ini dipersalahkan oleh generasi jang akan datang karena memperlakukan pemimpin rakyat jang patriotik tidak sewajarnya (Sidang Istimewa MPRS, 7 Maret 1967).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping alasan psycologic --praktis tersebut diatas, perlu kami jelaskan kepada seluruh rakyat Indonesia, bahwa berdasarkan keterangan team dokter yang kompeten, yang diberikan atas sumpah jabatan, bahwa sebenarnya keadaan kesehatan Bung Karno sudah sedemikian mundurnya, sehingga wadjarlah apabila kita sebagai Bangsa jang berjiwa kebesaran Pantjasila, akan memperlakukan beliau sesuai dengan keadaan kesehatannya tersebut (Pidato penjabat presiden, 13 Maret 1967).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penegasan Pak Harto pada waktu itu terhadap Bung Karno dapat dikatakan melawan arus, karena sebagian besar masyarakat menghendaki Bung Karno diadili. Walaupun ada Pasal 6 Tap MPRS Nomor 22, Februari 1967, yang bunyinya: "Menetapkan penjelasan persoalan hukum selanjutnya jang menjangkut Dr. Ir. Sukarno, dilakukan menurut ketentuan-ketentuan hukum dalam rangka menegakkan hukum dan keadilan, dan menyerahkan pelaksanaannya kepada Pejabat Presiden," Pak Harto memperlakukan Bung Karno tetap berdasarkan kepada sikap mikul duwur mendhem jero sampai akhir hayat Bung Karno. Bahkan untuk menghormati dan menghargai jasa Bung Karno, dibangunlah Patung Proklamator. Demikian pula Bandar Udara Cengkareng diubah namanya menjadi Bandar Udara Soekarno-Hatta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perlakuan seluruh bangsa Indonesia dewasa ini terhadap Bapak Pembangunan Indonesia , Bapak H.M. Soeharto? Karena apa? Karena umur manusia adalah di tangan Allah SWT. Karena itu, saya berpendapat, memulihkan kesehatan Pak Harto yang kondisinya menderita macam-macam memang merupakan masalah tersendiri yang berakibat timbulnya "komplikasi medis". Tapi, sebagai bangsa Indonesia yang berideologi Pancasila, mengapa kita tidak mewujudkan petuah mikul duwur mendhem jero. Artinya, kalau memulihkan kondisi kesehatan Pak Harto masih merupakan dilema tersendiri, mengapa kita tidak bersikap untuk memulihkan nama, martabat, dan kehormatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang "tangan sejarah" ada di tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyatakan: "Pulihkan nama, martabat, dan kehormatan Bapak H.M. Soeharto."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga "tangan Allah SWT" membimbing Bapak H.M. Soeharto pada saatnya dengan tenang kembali ke hadirat Allah SWT dengan "khusnul khatimah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil karangan Penulis; Ismail Saleh&lt;br /&gt;Penasihat pribadi H.M. Soeharto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-4914608705551061471?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/4914608705551061471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=4914608705551061471' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/4914608705551061471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/4914608705551061471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/01/pak-harto-demokratis-dan-konstitusional.html' title='Pak Harto, Demokratis dan Konstitusional'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R6HE4lN4cGI/AAAAAAAAAEM/Xeo_WCCnu5Q/s72-c/jenazah4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-7689537352582029245</id><published>2008-01-29T04:05:00.000-08:00</published><updated>2008-01-29T04:07:12.247-08:00</updated><title type='text'>SELAMAT JALAN HM SOEHARTO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R58W3lN4b_I/AAAAAAAAADQ/cZXA0sU6KII/s1600-h/Jenazah+Pak+Harto+siap+dimasukkan+ke+liang+lahat.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R58W3lN4b_I/AAAAAAAAADQ/cZXA0sU6KII/s320/Jenazah+Pak+Harto+siap+dimasukkan+ke+liang+lahat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160868842128830450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah ar-Rahman ar-Rahim, &lt;br /&gt;Setelah menderita sakit yang berkepanjangan sejak menyatakan berhenti sebagai Presiden, tadi siang, mantan Presiden Soeharto menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kita semua kepunyaan Allah dan kepadaNya jua kita akan kembali). Dengan wafatnya beliau, kita telah kehilangan lagi seorang mantan Presiden, yang pernah memimpin bangsa dan negara kita dalam kurun waktu yang cukup lama. Presiden Soekarno memegang jabatan Presiden selama lebih kurang 22 tahun. Itupun silih berganti sebagai Kepala Eksekutif dan Kepala Negara ketika kita menganut sistem parlementer. Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sjafruddin Prawiranegara hanya memegang jabatan kurang dari setahun. Presiden Soeharto memegang jabatan selama 32 tahun, sampai akhirnya menyatakan berhenti dari jabatannya pada tanggal 21 Mei 1998.&lt;br /&gt;Selama memegang kekuasan, Presiden Soeharto telah berbuat banyak dalam membangun bangsa dan negara kita, sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa kita menjadi bangsa dan negara yang disegani dikawasan Asia. Di bawah kepemimpinannya pula, pembangunan sosial dan ekonomi kita mulai dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Banyak kemajuan yang dicapai, baik pembangunan fisik maupun pembangunan non fisik seperti peningkatan kualitas hidup dan sumberdaya manusia bangsa kita. Bangsa kita yang hidup sangat miskin dan terbelakang di masa Orde Lama, di masa Orde Baru berhasil memperbaiki keadaan internalnya, sehingga kita bergerak maju mendekati taraf negara menengah. Andaikata tidak terjadi krisis moneter pada tahun 1997, pembangunan sosial ekonomi kita mungkin akan bergerak ke arah yang jauh lebih maju. Namun badai krisis yang begitu dahsyat, tidak saja merontokkan sendi-sendi ekonomi, namun juga meruntuhkan kekuatan Orde Baru sendiri.&lt;br /&gt;Karena Presiden Soeharto adalah tokoh sentral dalam Orde Baru, maka kejatuhannya otomatis meruntuhkan seluruh tananan yang telah berhasil dibangunnya. Semua ini memang menjadi pelajaran berharga bagi bangsa kita. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Jika ada awal, maka akan ada pula akhir. Demikianlah Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto. Orde itu berakhir, dan kita berada dalam masa transisi untuk memantapkan pola kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang baru di era reformasi. Biaya krisis kita sangat besar. Bukan saja biaya finansialnya, tetapi juga biaya sosial dan politiknya. Kita berupaya untuk bangkit kembali. Sistem kita perbaiki. Konstitusi kita amandemen. Kita melihat kekeliruan masa lalu, dan berupaya untuk melangkah ke depan dengan lebih baik. Kita merumuskan kebijakan-kebijakan baru di segala bidang. Hasilnya, belum sepenuhnya memuaskan.&lt;br /&gt;Ketika Orde Baru runtuh seiring dengan berhentinya Presiden Soeharto, sebagian masyarakat kita cenderung melihat masa lalu itu dengan pandangan yang kelam. Berbagai hujatan dilontarkan hanya untuk menyebut kesalahan, kekeliruan dan daftar dosa. Orang tak lagi berpikir jernih untuk melihat sisi-sisi kebaikan dan sumbangan yang telah diberikanya kepada bangsa dan negara. Gejala seperti ini juga terjadi saat kejatuhan Presiden Soekarno. Beliau yang begitu dipuja-puji, diberi berbagai gelar dan sebutan dan bahkan dikukuhkan sebagai Presiden seumur hidup. Namun ketika beliau jatuh, segala kebaikan dan sumbangannya yang begitu besar kepada bangsa dan negara, seolah dilupakan. Hal yang hampir sama terjadi pula pada Presiden Soeharto. Beliau terus-menerus dipilih menjadi Presiden setiap lima tahun kembali, diberi berbagai julukan, namun pada saat beliau jatuh, seolah kebaikan dan sumbangannya kepada bangsa dan negara, seperti tidak ada artinya samasekali.&lt;br /&gt;Bangsa kita memang harus belajar banyak bagaimana caranya mereka memperlakukan mantan pemimpinnya. Tidak ada manusia yang sempurna. Sebesar apapun seorang pemimpin, tetap saja ada kekurangan dan kekeliruan. Begitu lama Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto memegang kekuasaan, semuanya berawal dari ketidakjelasan konstitusi kita. Presidennya juga memanfaatkan celah dan kelemahan itu untuk mempertahankan kekuasaan. Kekuasaan itu menggoda dan mudah membuat pemimpin menjadi lupa. Sekarang, kelemahan sistem itu telah kita perbaiki. Kita harus berani mengakui bahwa, semua ini adalah kekuarangan kita sebagai bangsa yang kita harus berani mengakuinya. Kita harus memperbaiki kesalahan itu, dan berani melangkah ke dapan, tanpa harus terpenjara oleh masa lalu. Sikap terpenjara kepada masa lalu akan membuat bangsa kita terus-menerus bertikai, hujat-menghujat, salah-menyalahkan dan akhirnya tidak siap untuk melangkah ke depan.&lt;br /&gt;Kini H.M. Soeharto telah pergi untuk selama-lamanya. Secara hukum, dengan wafatnya seseorang, maka segala tuntutan pidana menjadi gugur demi hukum. Dengan demikian, dilihat dari sisi hukum, seseorang haruslah dianggap tidak bersalah, sebelum ada putusan pengadilan yang berlaku tetap. Upaya peradilan pidana kepada H.M. Soeharto telah dimulai untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 Ketetapan MPR Nomor XI Tahun 1998. Proses itu terhenti dengan sakitnya beliau. Kini beliau telah wafat. Semua tuntutan pidana menjadi gugur untuk selama-lamanya. Persoalan hukum tatanegara yang menyangkut beliau sudah lama selesai. Setiap lima tahun, pertanggungjawabannya diterima MPR. Beliau menyatakan berhenti tanggal 21 Mei 1998, juga sah dilihat dari sudut hukum tatanegara postif yang berlaku ketika itu.&lt;br /&gt;Apa yang tersisa kini ialah gugatan perdata oleh Negara Republik Indonesia terhadap H.M. Soeharto. Gugatan itu tidak hanya ditujukan kepada H.M. Soeharto sebagai ketua dari beberapa yayasan, tetapi juga ditujukan kepada pribadi beliau, dalam bentuk gugatan ganti rugi. Saya berpendapat, sebaiknyalah Presiden SBY mencari penyelesaian masalah ini di luar pengadilan. Tentu bukan dengan win-win solution seperti ditawarkan Jaksa Agung Hendarman, tetapi suatu upaya damai dengan pendekatan dari hati kehati, baik dengan pengurus yayasan yang lain, maupun dengan para ahli waris H.M. Soeharto. Untuk itu, semua pihak harus mendahulukan kepentingan bangsa dan negara. Jika semua berbicara dari hati ke hati dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, saya yakin pintu penyelesaian akan senantiasa terbuka.&lt;br /&gt;Saya ingin mengakhiri tulisan ini, dengan mengembalikan segala sesuatunya kepada perspektif keagamaan. Dari sudut pandang agama Islam, apabila seseorang telah wafat, maka yang wajib dikenang untuk selamanya ialah amal-kebajikan yang dilakukan orang itu. Segala kesalahannya wajib untuk dilupakan. Bangsa kita adalah bangsa yang relijius. Sudah saatnya sikap relijius itu kita kedepankan, pada saat H.M. Soeharto telah dipanggil Allah Ta’ala untuk menghadapnya. Segala kebaikan dan sumbangsih beliau kepada bangsa dan negara, wajib kita kenang untuk selamanya. Terhadap semua kesalahan dan kekeliruannya, kita wajib untuk belajar dan memetik hikmah, agar kesalahan itu tidak terulang lagi. Perjalanan bangsa dan negara kita masih panjang. Kita harus senantiasa menatap dan melangkah ke depan dengan segenap daya dan kemampuan. Sebagai bangsa kita tidak boleh terpenjara oleh masa lalu yang kelam.&lt;br /&gt;Selamat jalan Pak Harto! Semoga Allah SWT menerima segala amal kebajikan yang telah dilakukan, dan mengampuni segala dosa dan kesalahan.***&lt;br /&gt;Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 27th, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-7689537352582029245?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/7689537352582029245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=7689537352582029245' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/7689537352582029245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/7689537352582029245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/01/selamat-jalan-hm-soeharto.html' title='SELAMAT JALAN HM SOEHARTO'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R58W3lN4b_I/AAAAAAAAADQ/cZXA0sU6KII/s72-c/Jenazah+Pak+Harto+siap+dimasukkan+ke+liang+lahat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-3461543783260669039</id><published>2008-01-29T04:00:00.001-08:00</published><updated>2008-01-29T04:02:26.248-08:00</updated><title type='text'>`Mikul dhuwur` untuk `mendhem jero`</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R58VtVN4b9I/AAAAAAAAAC8/5f0ptfjFwr4/s1600-h/Ciuman+terakhir+Bambang+Trihatmojo.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R58VtVN4b9I/AAAAAAAAAC8/5f0ptfjFwr4/s320/Ciuman+terakhir+Bambang+Trihatmojo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160867566523543506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R58VtlN4b-I/AAAAAAAAADE/EYjioIr4qjU/s1600-h/Bunga+terakhir+dari+Siti+Hediyati+Hariadi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R58VtlN4b-I/AAAAAAAAADE/EYjioIr4qjU/s320/Bunga+terakhir+dari+Siti+Hediyati+Hariadi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160867570818510818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;`Mikul dhuwur` untuk `mendhem jero`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANTAN Presiden Soeharto mengajukan permintaan maaf bila ada kesalahan dan kekurangan selama memimpin bangsa Indonesia. "Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa Indonesia ini saya ucapkan terima kasih dan meminta maaf bila ada kesalahan dan kekurangannya. Semoga Bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 45-nya," demikian tulisan tangan Soeharto saat turun dari tampuk kekuasaan 21 Mei 1998. &lt;br /&gt;Tulisan tangan yang berparaf huruf S dan H itu dimuat blog http://yusril.ihzamahendra.com. &lt;br /&gt;Kita kutipkan naskah ini mengingat almarhum Soeharto, mantan presiden RI kedua itu ternyata telah melengkapi jati dirinya sebagai manusia yang tak luput dari salah, apalagi sebagai pemimpin besar di zamannya. Ia meminta maaf dengan tulisan tangan di bawah naskah asli pemberhentiannya sebagai presiden 21 Mei 1998 lalu.&lt;br /&gt;"Naskah asli pengunduran diri itu diserahkan kepada Arsip Nasional untuk disimpan di sana. Semua ini kami lakukan agar dokumen ini jangan sampai hilang seperti Naskah Supersemar tahun 1966. Hanya ada dua copy yang dibuat waktu itu, satu disimpan oleh Almarhum Pak Saadillah Mursyid, dan satunya saya simpan sebagai koleksi pribadi," tulis Yusril, mantan Menhuk HAM.&lt;br /&gt;Terlepas dari tulisan yang bukan rahasia negara, tapi tak pernah dipublikasikan ini maka keadaannya menjadi menarik setelah menyaksikan prosesi pemakaman Pak Harto Senin 28 Januari 2008. Sebab, sejak 4 Januari 2008 dirawat di Rumahsakit Pertamina Pusat Jakarta, kemudian wafat 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB hingga pemakamannya, masyarakat begitu antusias memantau keadaan Pak Harto. &lt;br /&gt;Kalangan Pers nyaris tak kenal lelah memburu beritanya, dan begitu meninggal, tidak saja beritanya menjadi headline semua koran di Indonesia, juga seperti berlomba menurunkan sejarah hidup perjalanan Soeharto hingga berpuluh-puluh halaman dalam sehari. Media massa elektronik malah berjam-jam menayangkan liputan sejak wafat hingga pemakamannya. &lt;br /&gt;Yang lebih menarik justru begitu banyak masyarakat kecil yang datang melawat, dan membaca doa buat Pak Harto. Ini sebuah kata hati yang jelas tentang rasa kasih pada sesama secara tulus karena melawat dan berdoa merupakan amal yang dilakukan tulus tanpa pamrih. Padahal mereka sangat mungkin tidak tahu bahwa Pak Harto menorehkan tulisan tangan permintaan maaf sebagaimana arispnya Yusril Ihza Mahendra, yang ketika itu guru besar ilmu Tata Negara di Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;Kita menjadi yakin benar bahwa Pak Harto itu orang besar yang disayang rakyat. Namun yang lebih menggembirakan adalah bangsa ini pandai mikul dhuwur (menghormati dan menghargai orang) dan mendhem jero (memaafkan atau tidak mengusik keburukan orang). Jadi ada pula orang yang tega larane ora tega patine (tega sakitnya tidak tega matinya).&lt;br /&gt;Kita juga tahu Pak Harto pernah mikul dhuwur mendhem jero kepada Bung Karno karena beliau tidak pernah memperkarakan Bung Karno meski dalam keadaan negara yang gawat akibat pemberoktakan PKI, Pak Harto 'mengamannkan' Presiden RI pertama itu dengan caranya. Yang jelas dua putra terbaik bangsa itu punya jiwa kebangsawanan patut kita ambil hikmahnya.&lt;br /&gt;Sebagai mukminin, tiap muslim terdidik dan membudayakan diri memohonkan ampunan bagi semua muslim yang masih hidup maupun yang telah meninggal, terutama justru sehabis sholat. Ini berarti memaafkan pula Pak Harto. Maka untuk mendhem jero pun kita harus ada kepedulian untuk mikul dhuwur (pandai menghormat) karena kita semua pemimpin sekaligus kaum yang terhormat. * &lt;br /&gt;Tanggal :  29 Jan 2008&lt;br /&gt;Sumber :  Harian Terbit&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-3461543783260669039?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/3461543783260669039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=3461543783260669039' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/3461543783260669039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/3461543783260669039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/01/mikul-dhuwur-untuk-mendhem-jero.html' title='`Mikul dhuwur` untuk `mendhem jero`'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/R58VtVN4b9I/AAAAAAAAAC8/5f0ptfjFwr4/s72-c/Ciuman+terakhir+Bambang+Trihatmojo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-6641976495919656557</id><published>2008-01-28T07:44:00.001-08:00</published><updated>2008-01-28T07:44:52.916-08:00</updated><title type='text'>MEMBESARKAN ANAK M ACAM?</title><content type='html'>&lt;span class="postbody"&gt;MEMBESARKAN ANAK MACAN?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluncuran buku “HM Soeharto, Membangun Citra Islam” karya Miftah H. Yusufpati pada 7 Juni 2007 di Wisma Antara Lt. 2 Jakarta meninggalkan catatan penting. Selain memperingati hari ulang tahun Soeharto ke-86, pada malam itu juga dilakukan dialog (bedah buku) yang menghadirkan Dr. dr. Tarmizi Taher (Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia), Sulastomo (Ketua Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila), Dja’far Assegaf (wartawan dan diplomat) dan Prof. Zainuddin Taha (Rektor Universitas Islam Makassar). Penulis mengeleluarkan sinyalemen kemungkinan ada kudeta oleh ICMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti buku-buku yang sudah terbit sebelumnya —yang lebih banyak bertabur puja-puji terhadap Soeharto—buku ini lebih banyak meninjau dari aspek kesejarahan pergerakan Islam (politik) di Indonesia serta keterlibatan Soeharto. Miftah dalam pidatonya melempar satu pernyatan cukup berani; mungkinkah Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) telah merancang satu skenario jauh-jauh hari untuk melengserkan Soeharto? “Ini butuh pembuktian sehingga perlu diteliti lebih dalam,” ujar Miftah.&lt;br /&gt;Dia tidak sendirian. Prof. Zainuddin Taha juga mempunyai spekulasi yang sama menyangkut masalah ini. “Persoalannya, Pak Harto lengser, ketika sangat dekat dengan Islam dan umat Islam. Kabinet dalam kondisi dipenuhi oleh tokoh ICMI. Tugas para sejarahwan untuk meneliti itu,” kata Rektor Universitas Islam Makasssar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miftah mengatakan Soekarno jatuh tatkala bandul politik diarahkan ke kiri (komunis-red) akan tetapi Pak Harto jatuh, tatkala bandul politik diarahkan agak ke kanan. “Pada saat berkuasa Banyak kalangan menuduh Pak Harto melakukan kudeta terhadap Bung Karno. Wajar saja bila kita juga curiga Pak Habibie melakukan kudeta. Ini yang harus diteliti lebih jauh.”&lt;br /&gt;Dia juga mencurigai peristiwa penembakan Trisakti, dilakukannya pembiaran terhadap kerusuhan di Jakarta, pendudukan mahasiswa di gedung DPR/MPR, lalu pernyataan Ketua MPR H. Harmoko agar Pak Harto lengser serta mundurnya menteri-menteri yang sebagian besar dari ICMI, sebagai sesuatu yang direncanakan. “Saya menuntut kejujuran para pelaku dan penulis sejarah,” katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miftah adalah seorang wartawan ekonomi dan sempat bergabung di Harian Ekonomi Neraca selama 15 tahun. Pada 2003 ia memimpin sebuah majalah politik, Majalah DewanRakyat dan pada 2005 menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Harian Proaksi. Setelah media yang diikutinya tutup, kini ia lebih memilih untuk menjadi konsultan media dan menulis buku. Ia tengah menyelesaikan satu buku lagi; Soehartois dan Soekarnois. “Doakan bisa segera selesai,” katanya sembari menambahkan bahwa karya itu diharapkan bisa memberikan penghargaan kepada para pemimpin besar bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati wartawan ekonomi dan politik, Miftah adalah sarjana dakwah pada Sekolah Tinggi Dakwah dan Publistik Jakarta, sehingga cukup kridible untuk menulis tentang Islam.&lt;br /&gt;Editor buku ini, Theo Yusuf dalam pengantarnya menyebut penulis lahir 42 tahun lalu dan sejak mulai melek huruf awalnya hanya mengenal satu presiden yakni Soeharto. Ketika meniti karir di jurnalistik presidennya masih Soeharto. Pada saat itu Miftah adalah wartawan ekonomi yang cukup idealis dan “berani”. Tulisannya tajam dan antimonopoli serta pro ekonomi kerakyatan. Oleh teman-temannya dia berjuluk “terlalu idealis”. Karena saat itu yang berkuasa adalah Orde Baru, maka tentu saja dia banyak “menyinggung” penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini perlu diungkap, menurut Theo, untuk memberi gambaran bahwa buku ini ditulis oleh orang yang tidak ada kaitannya dengan Orde Baru, apalagi keluarga besar Cendana. Sikap politik Miftah, menurut Theo, sangat dipengaruhi oleh Muhammadiyah dan Dewan Dakwah Islamiyah (DDI) yang tentu saja juga dipengaruhi budaya Jawa yang mikul nduwur mendem jero. Kini Miftah menjabat sebagai Ketua Hukum dan HAM Muhammadiyah Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan gugatan sejarah oleh Miftah ini sesusungguhnya bisa menjadi diskusi yang menarik. Sayang, saat bedah buku tersebut, masalah ini tidak disinggung. Mungkin; yang lalu, biarlah berlalu.&lt;br /&gt;Terlepas dari pada itu, Nur Hakim Kandow panitia serta salah satu eksekutif AsiaMark, penerbit buku ini menyatakan gugatan Miftah wajar adanya dan tidak ada tendensi untuk membela seseorang akan tetapi menghendaki agar sejarah ditulis secara benar..&lt;br /&gt;Buku ini, menurut Nur Hakim yang juga Ketua Umum DPP Mahasiswa Pancasila, lebih banyak bicara tentang sosok Soeharto yang Islamis dan pluralis. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Pak Harto yang namanya toleransi beragama begitu kental. Kini toleransi agama sudah menjadi barang mahal," kata Nur Hakim yang menyebut buku ini layak dibaca generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota DPR-RI, Irsyad Sudiro juga menyatakan agar ada keseimbangan dan pelurusan sejarah maka buku ini layak disebarluaskan. "Pak Harto memang ada kelemahan dan kekurangan. Akan tetapi sangat banyak yang bisa dilanjutkan dari program-program Pak Harto dan Orde Baru untuk membangun bangsa ini ke depan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irsyad yang saat Pak Harto lengser sebagai Ketua Fraksi Golkar menjelaskan kudeta itu sebenarnya tidak ada. "Justru ketika itu kita berusaha bagaimana agar Pak Harto turun dengan khusnul khotimah, menyusul begitu kuatnya desakan agar beliau mundur," katanya, kepada Koran Kabinet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH. Dr. dr. Tarmizi Taher dalam dialog publik menyatakan sejarah harus ditulis sebagaimana yang terjadi. Buku ini mencoba menceritakan apa yang sudah terjadi. "Tak bisa dipungkiri bahwa jasa Pak Harto sangat besar terhadap Islam," katanya. "Beliau membangun toleransi beragama sehingga NKRI tetap utuh sampai sekarang," lanjut mantan Menteri Agama zaman Orde Baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaenal Abdin, dari Korp Alumni Mahasiswa Islam Indonesia (KAHMI), menganggap HM Soeharto baru melakukan pemihakan kepada Islam pada tahun 90-an dan sebelumnya sangat memusuhi Islam. Akan tetapi Sulastomo, menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Komitmen Pak Harto dengan Islam tak pernah berubah, sejak dulu," kata Ketua Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila ini.&lt;br /&gt;Membicangkan HM Soeharto ternyata mengasyikkan justru ketika penguasa Orde Baru ini sudah uzur di tengah badai yang melanda keluarga besar cendana. Begitulah. DIKUTIP DARI LAPORAN KABINET INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-6641976495919656557?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/6641976495919656557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=6641976495919656557' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/6641976495919656557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/6641976495919656557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/01/membesarkan-anak-m-acam.html' title='MEMBESARKAN ANAK M ACAM?'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-833991886126223668</id><published>2008-01-28T06:57:00.000-08:00</published><updated>2008-01-28T06:58:22.578-08:00</updated><title type='text'>BERITA HM SOEHARTO 6</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;MEDIA UTAMA JEPANG BERITAKAN WAFATNYA SOEHARTO SECARA PROPORSIONAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Tokyo, 27/1 (ANTARA) - Media massa utama Jepang, di Tokyo, Minggu, menurunkan laporan mengenai wafatnya mantan presiden Soeharto pada usai 86 tahun, tidak lama setelah kematian mantan orang kuat Indonesia itu diumumkan secara resmi oleh pihak rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media massa nasional Jepang, seperti stasiun televisi dan radio NHK, kantor berita Kyodo, surat kabar terbesar Jepang Yomiuri Shimbun, dan harian ekonomi Nikkei Shimbun, serta sejumlah media on-line lainnya, semua menurunkan laporan itu melalui situs masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum media &lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:City&gt; Jepang menurunkan berita dengan judul "mantan Presiden Soeharto meninggal di usia 86", namun di dalam "lead" atau alenia pembuka disebutkan istilah Soeharto sebagai mantan orang kuat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor Berita Kyodo juga menurunkan berita yang mengutip pendapat warga umumnya yang meminta agar presiden kedua RI itu dimaafkan, berikut pandangan senada lainnya dari warga &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situsnya, kantor berita utama Jepang itu menurunkan pula sejumlah foto saat Soeharto bersama kaisar Hirohito pada 1968, yang diambil sewaktu Soeharto melakukan kunjungan ke Jepang dan merupakan kunjungan kenegaraannya yang pertama ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto berikutnya menampilkan Soeharto yang diapit oleh Presiden AS Bill Clinton dan PM Jepang Tomiichi Murayama, dalam pertemuan Apec Forum di Bogor, serta foto saat Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada Mei 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyodo menurunkan berita wafatnya soeharto dua jam setelah pengumuman resmi pihak rumah sakit, juga persis setelah berita kepulangan PM Yasuo Fukuda dari Davos, Swiss, usai mengikuti World Economic Forum 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan NHK dalam situsnya mencantumkan julukan Soeharto sebagai "Bapak Pembangunan", meskipun dalam alinea berita di bawahnya juga dituliskan Soeharto yang kerap dikritik karena menggunakan kekuatan militer dalam menjalakan roda pemerintahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs berita "JapanToday" juga menjadikan berita wafatnya Soeharto dengan panjang lebar, baik sisi buruk maupun sisi postifnya bagi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran bertiras terbesar di Jepang, Yomiuri Shimbun, bahkan membuat berita duka itu sebagai "flash news" sebelum menurunkannya dalam laporan yang cukup panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WNI belasungkawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementar itu, sejumlah tokoh warga Indonesia di Jepang, khususnya Tokyo, juga menyampaikan ungkapan belasungkawa atas wafatnya mantan presiden Soeharto di usia yang sudah lanjut, 86 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dikemukakan oleh Ketua Masyarakat Islam Indonesia (KMII) di Jepang Amir Radjab Harahap, Ketua Masyarakat Kristen Indonesia (KMKI) Bonifatius A Herindra, dan Ketua Persatuan pelajar Indonesia (PPI) Jepang Dedy Nurjaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita turut berbelasungkawa, walau sempat kaget begitu mengetahui Soeharto meninggal dunia," kata Amir Radjab Harahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada juga dikemukakan Bonafitius Herindra, yang mengatakan wafatnya Soeharto bagaimanapun merupakan catatan sejarah bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Soeharto tidak terlepas sebagai manusia yang bagaimanapun tercatat pernah menyumbangkan jasanya bagi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. (T.B011/B/M007) (T.B011/B/M007/M007) 27-01-2008 19:57:14 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;Ralat Berita - WARGA TIONGHOA MAAFKAN SOEHARTO MESKI ALAMI DISKRIMINASI SISTEMATIS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Berita dengan judul diatas pada alinea ke &lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;, diralat, menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Pontianak&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, 27/1 (ANTARA) - Meski mengalami diskriminasi yang sistematis selama masa kepemimpinan Soeharto, namun filosofi Tionghoa tidak mengajarkan untuk menyimpan dendam kepada seseorang ataupun suatu rezim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami memilih untuk melihat sisi positif yang beliau lakukan selama hidupnya demi kemajuan Bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;," kata Sekjen Dewan Pimpinan Pusat Majelis Adat Budaya Tionghoa (DPP MABT), Andreas Acui Simanjaya di Pontianak, Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, wafatnya Soeharto merupakan kehilangan besar bagi Bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; atas seseorang yang pernah berjasa. Namun, lanjutnya, tidak dapat dipungkiri bahwa ada sisi negatif selama masa Soeharto menjadi presiden antara lain pengekangan budaya dan segala sesuatu yang berbau Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi dengan wafatnya Soeharto, seluruh warga Tionghoa turut berduka cita karena jasa beliau yang hingga kini masih dirasakan manfaatnya selaku anak bangsa," kata Acui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskriminasi yang terjadi pada Tionghoa kini juga dapat terselesaikan dengan baik. Ia menambahkan, jangan selalu terbelenggu dan terpaku pada masalah melainkan bagaimana mencari penyelesaiannya. Terlebih berdasarkan undang-undang seluruh warga Tionghoa sejak kelahirannya dan tinggal di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; adalah warga Indonesia Asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apalagi yang mau dikejar selain berbuat sebaik-baiknya untuk memajukan bangsa ini dengan cara berusaha secara maksimal di bidang profesi dan keahlian masing masing tempat kita berkarya," kata Acui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mengenai persoalan hukum Soeharto yang belum selesai, MABT menyerahkan penanganannya ke institusi hukum sesuai aturan dan pertimbangan pihak yang kompeten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain telah memaafkan dan melupakan kesalahan Soeharto, kini warga Tionghoa berkonsentrasi agar arwah beliau di terima di sisi Tuhan yang Maha Penyayang serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan masa depan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acui mengingatkan, bangsa yang besar harus bisa menghargai jasa para pahlawannya dan orang-orang yang pernah berbuat untuk kemajuan. "Kita harus menjaga budaya kemampuan bangsa ini dalam menghargai jasa para pahlawannya. Jangan kita mengutamakan menghujat dari pada melihat sisi positifnya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; memiliki masa depan yang harus diupayakan agar mencapai prestasi yang terbaik. Terbelenggu masa lalu akan sangat banyak menguras energi. "Lebih baik kita fokuskan energi bangsa ini untuk membangun dan membuat kemajuan bangsa, kita sudah banyak tertinggal secara internasional," kata Acui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto tutup usia pada hari Minggu (27/1) pukul 13.10 WIB di Ruang VVIP Nomor 536 RSPP setelah dirawat di rumah sakit itu sejak Jumat 4 Januari 2008 karena gangguan jantung, paru-paru, dan ginjal, serta penumpukan cairan dalam tubuh. Sebelum dibawa ke rumah sakit Soeharto telah sakit selama seminggu dikediamannya di Jalan Cendana No.8, Menteng, Jakarta Pusat. Selama 32 tahun sejak 1966, bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dipimpin oleh Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T011/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.T011/C/N005/N005) 27-01-2008 19:45:31 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;ALUMNI PENERIMA BEASISWA SUPERSEMAR MINTA MASYARAKAT MAAFKAN SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Bandarlampung, 27/1 (ANTARA) - Mantan alumni penerima beasiswa Supersemar turut berduka cita atas wafatnya Mantan Presiden Soeharto, dan meminta masyarakat memaafkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walikota Bandarlampung, Drs H Eddy Sutrisno M Pd, selaku alumni penerima beasiswa Supersemar, di Bandarlampung, Minggu, selain mengucapkan turut berduka-cita, juga mengharapkan warga memaafkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kesan saya selama kepemimpinan Pak Harto, terasa mengayomi terutama bagi mahasiswa berprestasi yang tidak mampu dengan memberikan beasiswa. Dari beasiswa itu mahasiswa dapat menyelesaikan studinya," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, lanjutnya, ketika akan menyelesaikan S-2, Eddy melayangkan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kepada Soeharto dan mendapat tanggapan bahkan dibantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eddy, selaku Walikota Bandarlampung, mengharapkan warganya untuk menghargai, menghormati, dan mendoakan Soeharto serta yang terpenting memaafkan kesalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah saja pemaaf, mengapa kita sebagai hamba-Nya menutup diri untuk itu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alumni penerima beasiswa Supersemar lainnya, A.Fadoli M.Si, mengaku kehilangan dengan meninggalkan Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika tidak ada beasiswa Supersemar, mungkin kami yang tidak mampu namun berprestasi di akademik, banyak yang gagal menyelesaikan kuliah," kata dia, yang kini sebagai PNS di Kabupaten Tanggamus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan, beasiswa yang diberikan melalui Yayasan Supersemar itu, khusus bagi mahasiswa dari golongan ekonomi lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, kata dia, banyak alumni penerima beasiswa yang kini menjadi pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena itu, kami tidak sepaham dengan anggapan segelintir orang bahwa Yayasan Supersemar hanya untuk memperkaya diri Pak Harto. Dan meminta mereka yang mempermasalahkan untuk melihat secara jernih dan mendalam," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(L.T013*M023/B/M023) 7:37 PM 1/27/2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(L.T013*M023/B/M023/B/M023) 27-01-2008 19:39:43 NN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;KEPERGIAN SOEHARTO DAN LIBERALISASI PERBANKAN &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;INDONESIA&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; Oleh Muhammad Arief Iskandar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Tepat pukul 13.10 WIB, pada Minggu yang berlangit cerah, Soeharto menghembuskan nafas terkhirnya di ruang no 536 lantai &lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt; Rumah Sakit Pusat Pertamina, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, matahari menyengat &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, dan tubuh seorang wartawan yang menunggu berita di lobi rumah sakit itu terlihat dipenuhi peluh. Pada saat bersamaan, menurut kabar yang beredar, presiden di era orde yang dirawat sejak awal Januari masih dipasangi ventilator sebagai alat bantu pernafasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Minggu dinihari tepatnya pukul 01.00 WIB, pak Harto mengalami sesak nafas diikuti tekanan darah yang semakin menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu pula, mesin pernafasan, yang sebelumnya hanya berfungsi membantu, sepenuhnya mengambil alih proses pernapasan Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ventilator diusahakan bekerja maksimal untuk membantu mantan Presiden itu. Tapi, kehendak Tuhan tidak bisa ditolak. Presiden yang oleh penulis OG Roeder disebut sebagai jenderal yang selalu tersenyum tersebut akhirnya menghadap yang kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada eranya, soeharto terkenal dengan tiga mantra pembangunan, yaitu stabilitas, pertumbuhan, dan pemerataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stabilitas politik adalah fundamennya. Untuk itu, Soeharto menginginkan oposisi yang terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun segera mengubah peta politik dengan memerintahkan fusi partai-partai politik hanya menjadi dua partai politik yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) serta satu Golongan Karya (Golkar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk mencapai pertumbuhan, resep liberalisai dikembangkan, tak terkecuali liberalisasi perbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah paket kebijakan liberalisasi perbankan dikeluarkan pada Oktober 1988 atau yang dikenal dengan Pakto 88. Ketika itu, Bank &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dipimpin Adrianus Mooy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paket kebijakan tersebut berisi kemudahan untuk mendirikan bank. Paket tersebut memuat kebijakan untuk mendirikan bank hanya memerlukan modal Rp10 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu membuat para pengusaha berlomba-lomba mendirikan bank. Hanya dalam tempo tak lebih dari tiga tahun, dari 65 bank sebelum Pakto dikeluarkan, menjadi 200 bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada perjalanannya, bank-bank tersebut justru menjadi permasalahan. Hal itu karena banyak bank yang menghadapi kredit macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurangi masalah, Pemerintah pada Februari 1991 mengeluarkan paket kebijakan yang menyebutkan rasio kecukupan modal (modal yang dimiliki bank bersangkutan) haruslah sebesar delapan persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih berlanjutnya pertumbuhan bank yang luar biasa dan untuk mengurangi dampak negatifnya, pemerintah mengeluarkan Undang-undang Perbankan Nomor 7 tahun 1992 yang menyempurnakan UU nomor 14 tahun 1967.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan tersebut meniadakan pemisahan perbankan berdasarkan kepemilikan seperti pemilikan bank oleh pemerintah, swasta, dan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang tersebut juga mengatur berbagai syarat seperti susunan organisasi, permodalan, kepemilikan, keahlian di bidang perbankan, kelayakan kerja, dan lainnya bagi pendirian bank baru. Syarat itu ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan pertimbangan Bank &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1992, pertumbuhan perbankan luar biasa. Bank yang ada di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; mencapai ribuan. Untuk itu pemerintah kembali mengeluarkan peraturan, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 1992 yang menaikkan modal minimum pendirian bank, dari Rp 10 milyar menjadi Rp 50 Milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paket Mei (Pakmei) 1993 itu membuat liberalisasi perbankan diperdalam. Pakmei melonggarkan aturan soal CAR (capital adequacy ratio) sebesar delapan persen dengan memasukkan seluruh laba tahun sebelumnya dalam komponen modal sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sebelumnya, hanya 50 persen saja dari laba tahun lalu yang boleh dimasukkan dalam komponen modal sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BI pada 16 April 1996 kembali mencoba mengendalikan pertumbuhan bank dengan mengeluarkan kebijakan menaikkan cadangan wajib minimum bagi perbankan dari tiga persen menjadi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun semua paket tersebut akhirnya terbukti gagal. Pada 1 November 1997 enam belas bank harus dilikuidasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan perbankan yang tak terkendali tersebut diakhiri dengan ambruknya ratusan perbankan akibat krisis ekonomi 1997. Pada akhirnya negara harus membayar mahal dengan mengeluarkan program Bantuan Likuiditas Bank &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang menghabiskan dana sebesar Rp147,7 triliun untuk menambal kerugian yang dialami sebanyak 48 bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BLBI kemudian dikenal sebagai biaya terbesar yang ditanggung pemerintah akibat krisis, yang pada akhirnya merugikan negara dan hingga kini masih menyisakan masalah. (T.M041) (T.M041/B/s018/s018) 27-01-2008 19:26:11 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;PENGHORMATAN TERAKHIR ATAS SOEHARTO DI LANUD SOLO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Komandan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Marsekal Pertama Boy Sahril Qomar mengatakan penghormatan terakhir terhadap mantan Presiden RI HM Soeharto akan dilakukan di Pangkalan Udara Adi Sumarmo Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Proses keberangkatan jenazah dari Halim Perdanakusuma tidak akan dilakukan dengan penghormatan terakhir karena sudah dilakukan di kediaman Cendana," katanya pada wartawan, Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazah menurut rencana diberangkatkan pada pukul 08.30 WIB dari pangkalan Halim Perdanakusuma dan akan disambut dengan upacara penghormatan terakhir di Adi Sumarmo Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah dilakukan penghormatan terakhir di Adi Sumarmo, jenazah akan langsung dibawa ke Kalitan Astana Giribangun dikawal oleh Paspampres dan Kodam setempat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, tambah dia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla akan terlebih dahulu tiba di Solo untuk upacara penerimaan Jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Presiden dijadwalkan bertolak ke Solo sekitar pukul 06.30 WIB dan Wapres sekitar pukul 06.00 WIB," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut dia, Presiden Yudhoyono akan berangkat ke Solo dengan menggunakan pesawat Boeing 737-500 Garuda &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boy mengungkapkan untuk proses keberangkatan jenazah, pihaknya sudah menyiapkan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; pesawat Hercules, dua Fokker 28 VIP dan satu Fokker 27 VIP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(L.R018*P008/ (L.R018*P008/B/M020/M020) 27-01-2008 19:22:10 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;DIALOG "CAP GOMEH" DI &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;BOGOR&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; HENINGKAN CIPTA UNTUK HORMATI SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Bogor&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Suasana duka cita dan pelaksanaan mengheningkan cipta secara spontan atas meninggalnya mantan Presiden HM Soeharto terjadi di beberapa tempat di &lt;st1:city st="on"&gt;Kota&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, Minggu siang hingga petang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara Dialog Festival Budaya Pemersatu Warga Bogor untuk perayaan "Cap Go Meh 2008" di Bogor, pada sekira pukul 14.00 WIB terhenti sejenak, saat Ketua Panitia Penyelenggara dialog, Arifin maju ke depan dan menghentikan sementara dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arifin mengatakan, ia mendapat kabar bahwa mantan Presiden Soeharto telah meninggal dunia, pada pukul 13.10 WIB. Untuk menghormati jasanya sebagai pemimpin dan mendoakan agar arwahnya diterima di sisi Allah SWT ia meminta seluruh peserta dialog mengheningkan cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka seluruh peserta dialog pun segera mengheningkan cipta. Setelah selesai, maka dialog dilanjutkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana yang sama juga terjadi pada pelaksanaan Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) Partai Golkar (PG) Kota Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat sidang pleno ketiga yang dipimpin Pengurus DPD PG Jawa Barat Yoga Santosa dan menjelang pemilihan ketua PG Kota Bogor, tiba-tiba dua orang pengurus DPD PG Kota Bogor, Tubagus Tatang Muchtar dan Gatut Susanta maju ke depan dan mengajukan interupsi kepada pimpinan sidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gatut Susanta memberitahukan kepada pimpinan sidang, bahwa mantan Presiden Soeharto telah meninggal dunia. Gatut dan Tatang kemudian memimpin mengheningkan cipta kepada forum peserta Musdalub PG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengheningkan cipta, Gatut dan Dadang meminta izin lagi kepada pimpinan sidang dan kembali lagi ke tempat duduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada petang harinya, ketika Cheppy Harun terpilih sebagai Ketua PG Kota Bogor periode 2004-2009 melalui Musdalub, ia juga memimimpin lagi mengheningkan cipta kepada seluruh peserta Musdalub PG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Cheppy, mantan Presiden Soeharto sangat layak dihormati karena telah banyak berjasa ketika memimpin banngsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Soeharto adalah salah satu pahlawan, yakni pahlawan pembangunan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, seorang pengacara di &lt;st1:city st="on"&gt;Kota&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:City&gt;, Rocky F Subun SH mengatakan, Soeharto telah berjasa ketika menjadi Presiden Republik &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Pada masa kepemimpinan Soeharto, masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; lebih sejahtera dibandingkan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Soeharto memiliki sisi negatif, kata dia, itu manusiawi karena manusia itu tidak sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kasus Soeharto yang sampai saat ini masih menjadi kontroversial, kata dia, itu adalah kasus perdata, yakni mengenai keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, sebelumnya pemerintah telah menghentikan kasus Soeharto, tapi kenapa sekarang dilanjutkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau sudah dihentikan, sebaiknya tidak dilanjutkan lagi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat terpisah, seorang sopir angkutan &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt; (Angkot) di &lt;st1:city st="on"&gt;Kota&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, Dadang mengaku ikut berduka cita atas meninggalnya Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski mengaku tidak mengerti politik, tapi sepengetahuannya pada zaman Soeharto mencari nafkah lebih mudah dan ia merasa lebih nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat ini sudah zaman reformasi, tapi mencari nafkah lebih sulit, harga barang-barang juga terus naik," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.K-RH/B/A035/C/A035) 27-01-2008 19:12:57 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;SOEHARTO PENDENGAR YANG BAIK BAGI DUNIA USAHA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Mantan Presiden Soeharto dinilai sebagai pendengar yang baik bagi setiap keluhan dunia usaha dan mampu membangun industri sehingga pada masa pemerintahnya industri memberi kontribusi PDB (produk domestik bruto) sekitar 40 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beliau pendengar yang sangat baik bagi terhadap kesulitan dunia usaha," kata pengusaha nasional Rachmat Gobel di Jakarta, Minggu, ketika dimintai pendapatnya mengenai kepemimpinan Soeharto yang wafat hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rachmat yang merupakan generasi kedua penerus perusahaan elektronik hasil kerjasama dengan produsen elektronik Jepang itu, menceritakan dirinya pernah mengalami kesulitan dalam berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak harto mendengar dan mencermati setiap persoalan dan memberikan jalan keluar," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rachmat yang juga Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan menilai Soeharto telah mampu meletakkan dasar yang cukup kuat bagi perkembangan dunia usaha di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, sektor riil bergerak dengan cepat. "Pak Harto tidak terlalu peduli dengan makro ekonomi, yang terpenting baginya rakyat bisa bekerja dan sejahtera," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, industri saat itu bergerak dan terus dibangun untuk menggantikan ketergantungan impor &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahannya, kata dia, Soeharto konsisten menjalankan rencana pembangunan &lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt; tahun (repelita), sehingga &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sempat mencapai swasembada beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada masa pemerintahannya Soeharto juga sangat memperhatikan nilai tambah, bagaimana industri dibangun mendapatkan nilai tambah yang lebih besar dari kekayaan alam &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;," katanya. Rachmat mengaku kehilangan seorang pemimpin yang mau mendengarkan keluhan dunia usaha serta membantu mencarikan dan menunjukkan jalan keluar. (R016) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;KBRI &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;BEIJING&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; SIAPKAN BUKU DUKA ATAS MENINGGALNYA SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Beijing&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - KBRI Beijing selama tiga hari mulai Senin hingga Rabu (28-30 Januari) akan menyiapkan buku duka yang dapat diisi oleh pejabat tinggi negara sahabat dan perwakilan negara asing yang berkedudukan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;China&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; untuk menyampaikan duka atas meninggalnya mantan Presiden Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami mulai besok Senin hingga Rabu akan menyiapkan buku duka yang dapat diisi oleh pejabat tinggi negara sahabat dan perwakilan asing yang ada di China," kata Wakil Kepala Perwakilan RI Beijing Mohamad Oemar, di Beijing, Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, KBRI Beijing telah menyebarkan surat resmi kepada Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China, kedutaan besar negara asing di Beijing, kantor-kantor perwakilan dan organisasi nasional, regional dan internasional yang isinya menyebutkan bahwa mantan Presiden RI Soeharto telah meninggal dunia, Minggu (27/1) pada pukul 13.10 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pejabat tinggi negara di China, para duta besar, diplomat serta pimpinan perwakilan negara asing yang sedang bertugas di Beijing maupun di kota-kota lain di China yang ingin menyampaikan belasungkawa, dipersilahkan untuk datang ke kantor KBRI Beijing guna mengisi buku duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengisian buka duka dapat dilakukan di KBRI Beijing dengan alamat: No.4 Dongzhimenwai Dajie, Chaoyang District, pada pukul 10-12 dan pukul 15-17 waktu &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Beijing&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagi WNI yang kebetulan sedang berada di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Beijing&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dan ingin menyampaikan rasa duka atas meninggalnya Pak Harto, kami juga mempersilahkannya," kata Oemar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan meninggalnya mantan Presiden Soeharto, KBRI Beijing mulai hari ini juga telah mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang selama seminggu, terkait penetapan Hari Berkabung Nasional seperti yang diputuskan oleh pemerintah. (A025/C/N001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.A025/C/N001/N001) 27-01-2008 18:18:02 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;PM AUSTRALIA BERDUKA ATAS WAFATNYA SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Sydney&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA/AFP) - Perdana Menteri Australia Kevin Rudd menyatakan rasa duka atas meninggalnya mantan Presiden Soeharto pada Minggu, namun menggambarkan almarhum sebagai figur yang kontroversial mengenai masalah hak asasi manusia (HAM) dan Timor Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto meninggal dalam usia 86 tahun akibat menderita komplikasi penyakit setelah tiga pekan berjuang untuk bertahan hidup menghadapi problema gagal jantung, pernafasan dan ginjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PM Rudd memuji peran Soeharto dalam memajukan &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; dan membantu membangun ASEAN dan APEC, dan menggambarkan almarhum sebagai figur yang sangat berpengaruh di kawasan ini termasuk &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pemimpin sayap kiri-tengah itu tidak segan mengkritik Soeharto saat memimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mantan presiden itu juga merupakan figur kontroversial terhadap masalah HAM dan Timor Timur dan tidak menyetujui sejumlah pendekatan kebijakan Soeharto," kata Rudd dalam suatu pernyataan, dan menekankan pentingnya hubungan baik Australia-Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kini negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; menjalin hubungan baik dengan negara-negara tetangganya, di mana &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; berperan sangat penting untuk kepentingan politik dan keamanan," ujar Rudd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; sukses sebagai negara demokrasi modern menjadi sangat penting, bukan saja bagi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, tapi juga di kawasan ini dan dunia," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudd menyampaikan belasungkawa terhadap rakyat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; atas wafatnya Soeharto tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Uu.M043/C/S012)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Uu.SYS/C/M043/C/S012) 27-01-2008 18:17:31 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;PRESIDEN LIHAT WAJAH MANTAN PRESIDEN SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta, 27/1 (ANTARA) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla, dipersilakan melihat langsung wajah almarhum mantan Presiden Soeharto saat disemayamkan di rumah duka Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono yang didampingi Wapres Jusuf Kalla serta Ibu Mufidah Kalla yang tiba pukul 16.25 WIB didampingi sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memasuki ruangan, Presiden dan Wapres menyalami satu persatu para putra-putri dan anggota keluarga Soeharto, termasuk dengan Probosutedjo yang merupakan adik tiri mantan Presiden Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra-putri mantan Presiden Soeharto seperti Siti Hardiyanti Indra Rukmana, Sigit Hardjojudanto, Siti Hedijati, Situ Hutami Adiningsih tampak berada di sisi jenazah yang telah ditutup dengan kain putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, salah satu anggota keluarga yaitu Hutomo (Tommy) Mandala Putra tidak terlihat saat menerima Presiden dan Wapres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diiringi pengajian, Presiden dan Wapres tampak ikut serta melakukan doa bersama mendoakan yang terbaik bagi almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Presiden dan Wapresi serta para tamu akan meninggalkan ruangan dan berpamitan kepada anggota keluarga, Siti Hutami Adiningsih (Mamiek) membuka kain putih yang menutupi jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana di ruang tempat mantan orang nomor satu di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; disemayamkan tampak dipadati para keluarga terdekat, termasuk tamu-tamu negara, dan handai taulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan tidak diizinkan meliput secara langsung dan mengambil gambar suasana di ruang duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengambilan gambar hanya diperbolehkan dari Biro Pers Wakil Presiden. (T.R017*M011) (T.R017/B/M011/M011) 27-01-2008 18:13:20 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;SUDIRMAN: "SAYA BISA JADI SARJANA KARENA SOEHARTO"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Ternate, 27/1 (ANTARA) - Kesedihan yang mendalam menyelimuiti perasaan Ir Sudirman ketika mengetahui bahwa HM Soeharto telah wafat, pasalnya warga Ternate, Maluku Utara itu megaku bisa menjadi sarjana karena jasa Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya bisa menjadi sarjana karena mendapat beasiswa Supersemar dari Yayasan Supersemar yang disponsori Soeharto. Makanya saya sedih sekali ketika tadi mendengar beliau wafat," katanya di &lt;st1:place st="on"&gt;Ternate&lt;/st1:place&gt;, Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudirman yang kini bekerja di sebuah perusahaan di Malut mengaku dirinya dari keluarga miskin, namun karena mendapat beasiswa Supersemar dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Yayasan Supersemar&lt;/st1:City&gt;, &lt;st1:state st="on"&gt;ia&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; bisa meraih gelar sarjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kata Sudirman, banyak orang seperti dirinya (tidak mampu), yang kemudian bisa menikmati pendidikan di perguruan tinggi, jarena mendapat bantuan beasiswa Supersemar dari Yayasan Supersemar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tak bermaksud mencampuri kasus hukum Soeharto terkait Yayasan Supersemar, tapi saya ingin mengatakan bahwa saya dan banyak orang miskin bisa jadi sarjana karena jasa Soeharto melalui yayasan itu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudirman mengatakan, mantan Presiden Soeharto memiliki jasa besar terhadap bangsa ini, oleh karena itu sangatlah tidak bijak kalau masyarakat terus-menerus menghujatnya, apalagi kini beliau telah wafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun Soeharto pernah melakukan kesalahan selama memimpin bangsa ini, menurut dia, tidaklah harus melupakan semua jasa beliau, justru sebaiknya memaafkannya, apalagi sekarang beliau sudah wafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Presiden Soeharto wafat di Rumah Sakit Pusat Pertamina Minggu siang (27/1) sekitar Pukul 13.10 WIB setelah menjalani perawatan di rumah sakit itu sejak tanggal 4 Januari 2008 akibat penyakit yang dideritanya. (T.L002*M011) (T.L002/B/M011/M011) 27-01-2008 18:08:57 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;SOEHARTO AKAN DIKENANG SEBAGAI APA? Oleh Akhmad Kusaeni&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Soeharto mangkat. Akan dikenang sebagai apakah mantan presiden dan penguasa Orde Baru itu oleh rakyat dan bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibanding dengan mantan Presiden Soekarno yang mati dalam sunyi, wafatnya Soeharto berada dalam kegempitaan, setidaknya itulah yang diberitakan media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Hampir setiap hari dalam beberapa pekan terakhir, media menjadikan sakitnya "Jenderal Besar" itu sebagai fokus pemberitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media seperti sirkus meramaikan perkembangan penanganan penyakit Soeharto di rumah sakit oleh 40 dokter dengan alat-alat canggih berbiaya mahal. Sementara tokoh-tokoh yang membesuk diperlakukan sebagai selebriti: memberikan komentar di depan sorotan kamera televisi dan jurufoto ramai-ramai memotret dengan semangat paparazi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya tayangan diselingi gambar Soeharto yang tengah kritis digotong memasuki lorong-lorong rumah sakit. Alat bantu pernafasan menutup mulut orang kuat Orde Baru yang tampak tidak berdaya, sementara cairan infus dan tranfusi darah tergantung mengalir ke tubuh Soeharto yang "ditidurkan". Setiap mata yang melihat jatuh simpati. Doa-doa dikumandangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak tayangan televisi dan hingar bingar media itu luar biasa. Ajakan memaafkan Soeharto ramai-ramai dikumandangkan. Sebuah survei menyebutkan sebanyak 67 persen rakyat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ingin Soeharto dimaafkan. Hanya sebagian kecil saja yang ingin kasus hukumnya diteruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono tidak memberikan keputusan soal status hukum Soeharto, Istana Kepresidenan menaikkan bendera setengah tiang sesaat setelah Soeharto dinyatakan wafat oleh tim dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Negara datang ke rumah duka di Jalan Cendana, &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;, dan memutuskan tidak jadi berkunjung ke &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt; seperti dijadwalkan. Presiden Yudhoyono memilih untuk menghadiri pemakanan Soeharto di Solo. SBY ingin mengantar Soeharto ke tempat peristirahatannya yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi menyatakan hari berkabung nasional selama tujuh hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Soekarno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghormatan ini sangat jauh berbeda dengan detik-detik terakhir kematian Soekarno. Sejarawan Asvi Warman Adam dari LIPI menyoroti perbedaan perlakuan terhadap Soekarno dibanding Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sakit, Soekarno hanya dirawat seorang dokter hewan, dibantu seorang Kowad yang bukan perawat dan dilarang ditengok orang, termasuk keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Soeharto dirawat di Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP) dengan sewa kamarnya saja jutaan rupiah, Soekarno diisolasi di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala) yang penuh laba-laba, kecoa, tikus, kotor dengan penerangan redup seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau dibandingkan dengan keadaan Bapak (Soekarno, red), Soeharto masih lebih beruntung. Saat sakit anggota keluarga Soeharto masih bebas menjenguknya, sedangkan di waktu Bapak sungguh tidak enak," kata Dewi Soekarno seperti yang disampaikan kepada wartawan Antara Biro Tokyo pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi menceritakan bagaimana Bung Karno mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari Soeharto, padahal Soekarno merupakan orang besar bagi bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status tahanan rumah, larangan untuk dikunjungi dan perlakuan tidak semestinya terjadi pada Soekarno. Proklamator kemerdekaan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; itu menderita di saat-saat terakhir hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dialami Soeharto sekarang, menurut Dewi Soekarno, berbeda jauh. Soeharto lebih enak. Tidak diasingkan. Tidak dianiaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ada di Wisma Yaso, di saat-saat terakhir Bapak. Saya masih sempat menjaganya. Bapak juga dibuat seperti meninggal karena over dosis," kata wanita kelahiran &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Tokyo&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, 6 Februari 1940 itu emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi pada saat-saat akhir sakaratul maut menjemput Soeharto akan menjadi tanda-tanda bagaimana bangsa dan rakyat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; memandang mantan presiden yang berkuasa lebih dari 32 tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Presiden Abdurahman Wahid yang pernah sangat kritis terhadap Soeharto mengatakan, "Ia memang membuat kesalahan, tapi ia juga banyak jasanya terhadap bangsa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank Dunia dan PBB pada bulan September 2007 menempatkan Soeharto pada daftar pemimpin korup di dunia. Transparansi Internasional, sebuah organisasi anti korupsi, mengungkapkan bahwa Soeharto mencuri uang negara 15 miliar sampai 35 miliar dolar AS. Namun, laporan Transparansi Internasional masih diperdebatkan keabsahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahkamah Agung, misalnya, berpendapat lain. Mahkamah Agung memenangkan gugatan Soeharto dan memerintahkan majalah TIME untuk membayar ganti rugi Rp1 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIME dianggap telah mencemarkan nama baik Soeharto, karena menyiarkan pada tanggal 24 Mei 1999 suatu laporan mengenai kekayaan keluarga Soeharto yang diduga berasal dari hasil korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik dari Ne Win&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Soeharto, mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew yang membesuk Soeharto, menyatakan bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; semestinya lebih menghormati Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia memang memberikan kemudahan bisnis kepada keluarga dan kroninya. Tapi, ia juga mendidik rakyat dan membangun infrastruktur," kata Lee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lee mencatat sejarah bahwa Soeharto naik ke puncak kekuasaan pada 1965 beberapa saat setelah Ne Win berkuasa di &lt;st1:country-region st="on"&gt;Burma&lt;/st1:country-region&gt;, kini &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Myanmar&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bandingkan," ujar Lee, "siapa yang lebih baik" Siapa yang harus lebih dihormati?". Lee menjawab sendiri bahwa yang lebih baik adalah Soeharto ketimbang Ne Win.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa artinya beberapa juta dolar yang hilang sebagai dampak buruk dari apa yang dilakukannya? Soeharto membangun ratusan miliar dolar kekayaan bangsa ini," kata Lee seperti dikutip harian The New York Times edisi 15 Januari 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan Lee ini juga tampak diamini Presiden Yudhoyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jasa Soeharto bukan hal yang kecil bagi bangsa ini, khususnya pembangunan nasional yang dilakukannya, meskipun sebagai manusia dan seperti layaknya pemimpin lain, Pak Harto juga tak luput dari kesalahan," kata Yudhoyono yang mempercepat kepulangan dari kunjungan ke &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; saat Soeharto dinyatakan kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu yang membuat kita tidak bisa menghentikan untuk berterimakasih atas kontribusi dan jasanya bagi bangsa ini," kata Kepala Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto telah mangkat. Ia segera dimakamkan. Duka cita disampaikan. Doa dipanjatkan. Ia mengubur segala kontroversi yang terjadi atas dirinya. Siapapun tak akan menolak kalau Soeharto adalah seorang negarawan besar yang sangat berpengaruh bagi perjalanan bangsa ini. Terlepas dari segala kelemahan dan kesalahannya, ia menjadi bagian sejarah penting bagi bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pepatah Inggris mengatakan "All the good for the dead", maka bagi orang yang telah wafat hendaknya hanya yang baik-baik saja yang disampaikan. Soeharto sendiri mengamalkan pepatah Inggris ini. Buktinya, ia sering mengatakan perlunya bangsa ini "mikul dhuwur mendem jero".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu akan membuktikan kebenaran falsafah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.A017/B/N004/N004) 27-01-2008 18:06:12 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;DOA-DOA DIPANJATKAN UNTUK SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Yogyakarta, 27/1 (ANTARA) - Kader dan simpatisan Partai Golongan Karya (Golkar) di Gunung Kidul (Yogyakarta) dan Klaten (Jawa Tengah) memanjatkan doa bagi mantan Presiden Soeharto yang pada Minggu pukul 13.10 WIB menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Dewan Pimpinan Daerah Golkar Yogyakarta Gandung Pardiman memimpin doa bersama yang dilakukan sekitar seribu kader dan simpatisan Golkar pada acara pertemuan dengan Ketua Dewan Pimpinan Pusat Golkar Agung Laksono di pendopo Kabupaten Gunung Kidul, &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan doa yang dipanjatkan dalam bahasa Jawa, mereka memintakan ampunan bagi dosa-dosa penguasa Orde Baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duh gusti pangeran kulo mugi mugi ngapunteno sedoyo doso Pak Harto, ugi dosa kulo sedoyo (Tuhan, mohon ampunilah dosa-dosa Pak Harto dan dosa kami semua--red)," demikian doa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertemu dengan kader dan simpatisan Golkar di Yogyakarta, Agung melanjutkan perjalanannya ke Klaten untuk melakukan pertemuan serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Klaten Agung juga memimpin ribuan kader dan simpatisan Golkar memanjatkan doa-doa bagi Pak Harto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung yang rencananya meninggalkan Yogyakarta menuju Jakarta pada pukul 17.30 WIB, mempercepat kunjungan kerjanya di Jawa Tengah dan Yogyakarta dan memutuskan kembali ke Jakarta pukul 15.30 WIB untuk melayat ke kediaman keluarga Soeharto di Jalan Cencana No.8, Menteng, Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta, Ketua DPR RI Agung Laksono langsung menuju ke kediaman keluarga Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta Pusat untuk melayat sekaligus melakukan koordinasi terkait acara pemakaman Soeharto pada Senin (28/1) karena dia dijadwalkan memimpin upacara pelepasan jenazah Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazah Soeharto akan dimakamkan di pemakaman keluarga Astana Giri Bangun, Solo, Jawa Tengah dengan upacara yang dipimpin Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono. (L.S023*M035*M011) (L.S023*M035/B/M011/M011) 27-01-2008 18:05:24 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-833991886126223668?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/833991886126223668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=833991886126223668' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/833991886126223668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/833991886126223668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/01/berita-hm-soeharto-6.html' title='BERITA HM SOEHARTO 6'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-7713142904697275269</id><published>2008-01-28T06:56:00.000-08:00</published><updated>2008-01-28T06:57:25.357-08:00</updated><title type='text'>BERITA HM SOEHARTO 5</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;HM SOEHARTO-NY TIEN TELADAN BERPASANGAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Batam, 27/1 (ANTARA) - Perilaku HM Soeharto (1921-2008) dan Ny Tien (almarhumah) yang senantiasa tampil berpasangan selaku suami-istri maupun kepala dan ibu negara mengesankan kaum ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami, ibu-ibu, banyak yang ingin meneladaninya. Kedua beliau, kemana-mana tampil bersama-sama," kata Ny, Sri Soedarsono, di Batam, Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ny. Sri yang akrab dipanggil Ibu Dar adalah adik Bacharuddin Jusuf Habibie, dan dikenal sebagai salah satu sesepuh Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah istri almarhum Soedarsono. Suaminya pada 1978-1988 menjadi Kepala Batam Pelaksana Otorita Batam, suatu jabatan yang berada di atas gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping dekat dengan Soeharto sejak masa kecil di Pare-pare, selaku istri Soedarsono, Ny Sri sering menjadi nyonya rumah ketika Presiden Soeharto dan "first lady" berkunjung ke Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanpa kebijakan Pak Harto pada awal 1970. Batam takkan ada dan tidak akan seperti sekarang kemajuannya, " kata Ny Sri Soedarsono kepada ANTARA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memeriksa kemajuan dari kebijakannya, sedikitnya satu kali dalam setahun, Presiden Soeharto dan Ibu Tien ke Batam. Mereka bermalam kamar khusus di Wisma Otorita Batam, di Sekupang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sri, kedua orang paling berpengaruh itu menyukai ubi, jagung dan kacang rebus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ubi, jagung dan kacang, waktu itu masih harus didatangkan dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;," kata Sri yang kini mengurus lembaga sosial antara lain sekolah swasta dan PMI di Batam, Rumah Sakit Ginjal RA Habibie di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengenang, "Pak Harto jarang tidur sebelum jam 00.00. Jam 22.00-an biasanya beliau ke luar kamar untuk menikmati kacang rebus. Penganan yang sederhana".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri sering memasak untuk tamu yang dihormatinya itu kendati menekan rasa gusar sebab beberapa tentara pasti berdiri mengawasi ketika di dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang dikenang Ny Sri Soedarsono ialah pada waktu didampingi Ny Tien, pemerintahanan Soeharto sangat berwibawa. termasuk pada waktu upacara nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap upacara 17-an, misalnya, ibu-ibu berkain kebaya lengkap, dan perempuan berjilbab tidak ada yang bercelana panjang ketat macam sekarang, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B/A011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.A013/B/A011/A011) 27-01-2008 20:45:35 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;SANTRI AL-ISLAH BONDOWOSO DOA BERSAMA UNTUK SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Bondowoso, 27/1 (ANTARA) - Sekitar 800 santri yang menimba ilmu di Pesantren Al-Islah, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Minggu malam menggelar doa bersama untuk almarhum Soeharto, mantan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Presiden&lt;/st1:City&gt;  &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang pengasuh Pesantren Al-Islah, KH Toha Maksum ketika dihubungi ANTARA lewat telepon selulernya mengatakan, doa bersama dilakukan para santri dan akan dilanjutkan hingga beberapa hari ke depan atau lebih dari tujuh hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minggu malam hanya doa bersama, sedangkan Senin (28/1) siang juga diadakan salat ghaib untuk beliau dilanjutkan dengan doa bersama," katanya seraya menjelaskan bahwa pesantren itu mendapatkan bantuan dari Yayasan Dharmais sejak 1989.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengemukakan, dirinya kini sedang berada di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; sebagai utusan keluarga besar Pesantren Al-Islah untuk menghadiri atau melayat keluarga Soeharto. Ia mengemukakan dirinya masih akan mengikuti prosesi pemakaman di pemakaman Astana Giribangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, doa bersama yang digelar untuk Soeharto itu dipimpin oleh salah seorang pengasuh pesantren modern tersebut, yaitu Ustadz Azis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.M026/B/I007/I007) 27-01-2008 20:40:55 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;SULSEL BERDUKA ATAS WAFATNYA SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Makassar, 27/1 (ANTARA) - Masyarakat Sulawesi Selatan menyampaikan rasa duka yang mendalam atas wafatnya mantan Presiden RI HM Soeharto di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, Minggu sekitar pukul 13.10 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan Ahmad Tanribali Lamo mengemukakan hal itu kepada pers di &lt;st1:place st="on"&gt;Makassar&lt;/st1:place&gt;, Minggu malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mengajak seluruh masyarakat Sulsel untuk mendo`akan almarhum kiranya dimaafkan segala dosa selama masa hidupnya dan arwah almarhum diberi tempat yang layak di sisi Allah SWT sesuai dengan amal ibadahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita patut memberi apresiasi yang tinggi kepada almarhum yang pernah memimpin bangsa selama 32 tahun. Almarhum telah banyak berjasa dalam membangun dan memajukan bangsa ini," ujar Tanribali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan bahwa bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; kehilangan seorang putra terbaik yang hingga akhir hayatnya masih memikirkan kemajuan bangsa ini. (T.R007) (E.P005/C/T004/T004) 27-01-2008 20:37:48 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;KADER PDIP DIMINTA HORMATI PROSES PEMAKAMAN SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Juru bicara DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Dhia Prekasha Yoedha mengimbau kader PDIP agar tidak terprovokasi berita miring sehubungan dengan pemakaman mantan Presiden Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami mengingatkan kepada setiap jajaran partai dan kader agar tetap waspada dan tetap menjaga ketertiban umum. Jangan terpancing provokasi dan isu yang tidak bertanggungjawab," kata Dhia dalam pesan pendek yang diterima ANTARA di Jakarta, Minggu sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman keributan disebut Dhia berasal dari pesan pendek (SMS) yang beredar yang menyatakan bahwa ada berita dari BBC yang menyatakan ratusan toko milik keturunan China telah ditandai sebagai "milik pribumi", seperti yang terjadi pada tahun 1998 ketika Soeharto mundur dari kursi kepresidenannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan pendek yang dikirim dari nomor telepon 081319305466 itu dianggap mengandung hasutan yang dikhawatirkan bisa berakibat adanya keributan seperti penjarahan ditahun 1998 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami mengingatkan agar tiap pihak menghormati prosesi jenazah dan pemakaman Pak Harto," kata Dhia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengingatkan mungkin saja ada pihak perusuh yang mencoba memanfaatkan situasi wafatnya mantan Presiden Soeharto yang saat ini sedang disemayamkan di rumah duka di Jl. Cendana Jakarta Pusat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.A043/B/A011) (T.A043/B/A011/A011) 27-01-2008 20:32:57 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;PM JEPANG MENYATAKAN BELASUNGKAWA ATAS MENINGGALNYA SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda menyampaikan ucapan belasungkawa kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas meninggalnya Presiden ke-2 HM Soeharto pada Minggu siang, sekitar pukul 13.10 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangan resmi dari Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Minggu, selain PM Jepang, Menlu Jepang Masahiko Komura juga menyampaikan ucapan belasungkawa kepada Menlu Hassan Wirajuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu segera setelah menerima kabar duka itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas nama negara, rakyat, pemerintah dan pribadi menyampaikan ucapan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga mantan presiden Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden juga meminta kepada seluruh rakyat Indonesia untuk memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada HM Seoahrto yang merupakan pimpinan bangsa yang besar pengabdiannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana layaknya penghormatan pada para pemimpin Indonesia yang lain, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi mengumumkan hari berkabung nasional selama tujuh hari mulai hari Minggu( 27/1) sehubungan meninggalnya mantan Presiden Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, bendera Merah Putih di kompleks Istana Kepresidenan dan Istana Wakil Presiden diturunkan menjadi setengah tiang sehubungan meninggalnya Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Presiden Soeharto meninggal sekitar pukul 13.10 WIB setelah dirawat selama 24 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina karena sejumlah kegagalan organ vital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B/A011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.G003/B/A011/A011) 27-01-2008 20:30:32 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;SEJUMLAH KANTOR BERITA ASING TURUNKAN BERITA MENINGGALNYA SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Bandung, 27/1 (ANTARA) - Meninggalnya mantan Presiden RI kedua HM Soeharto pada Minggu pukul 13.30 di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Selatan mendapat perhatian dari sejumlah kantor berita asing di dunia dengan menurunkan beritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor berita Prancis, Agence France-Presse (AFP) menurunkan beritanya - Indonesia`s former president Suharto, whose iron-fisted rule became a byword for corruption and bloody repression but also brought economic growth, died Sunday after a long and public fight for life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Presiden Suharto yang pemerintahannya "bertangan besi " dan berlumur darah, namun juga berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menigggal dunia Minggu siang setelah berjuang lama untuk hidup, kata AFP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reuters yang berpusat di London, Inggris, menurunkan berita - Former president Soeharto, hailed as the father of development by some Indonesians during his 32 years in power and accused of corruption and rights abuses by others, died on Sunday after suffering multiple organ failure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Presiden Soeharto yang dianggap sebagai "Bapak Pembangunan "oleh sebagian besar bangsa Indonesia dan selama 32 tahun memerintah dengan kekuasaan namun didera isu korupsi dan melanggar ham azasi manusia oleh lainnya, meninggal Minggu siang setelah sebagian organnya tidak berfungsi,kata Reuters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara berita CNN (AS) menulis - Former Indonesian dictator Soeharto -- the "smiling general" who ruled his country with an iron fist for three decades -- died Sunday at a hospital in &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, said his doctor. He was 86.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan diktator Indonesia atau dikenal sebagai "smiling general" yang telah memerintah negeri dengan "tangan besi "selama tiga dekade, meninggal Minggu siang di RS di Jakarta dalam usia 86 tahun, demikian laporan CNN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ABC News menulis berita Former Indonesian president Soeharto dies Former strongman Soeharto, who died age 86 on Sunday, steered Indonesia through three decades of rapid economic growth and stability, only to see much of his work unravel in months as the country was plunged into chaos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kuat mantan Presiden Suharto meninggal Minggu siang dalam usia 86 tahun. Selama tiga dekade memimpin &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; berhasil meningkatkan pertumbuhan eknomi dan stabilitas, kata ABC Newss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B/A011) (U.K-ASR/B/A011/A011) 27-01-2008 20:19:22 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;JASA HM SOEHARTO DALAM MEMBANGUN CITRA ISLAM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Oleh: Theo Yusuf MS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 27/1 (ANTARA) - Tepat pukul 13.10 WIB hari Minggu 27 Januari 2008,Haji Mohammad Soeharto dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa, setelah 24 hari berada di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) menjalani pengobatan terhadap penyakit yang telah lama dideritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar meninggalnya H.M. Soeharto, merebak setelah Ketua Tim Dokter Kepresidenan,dDr Mardjo Soebiandono, menyatakan kepada pers, di Jakarta, bahwa mantan Presiden Soeharto meninggal dunia di RSPP, pada usia 87 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Innalillahi Wainalilahi Rojiun, telah wafat dengan tenang Bapak Haji Muhammad Soeharto pada hari Minggu 27 Januari 2008, pukul 13.10 WIB di RSPP Jakarta," kata Mardjo, dengan nada lirih, dan muka sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Soeharto telah tiada. Tetapi jasa-jasanya masih dapat diingat, utamanya jasanya dalam membangun citra Islam. Penulis beruntung, pada 2007 sempat berjumpa dengan almarhum sebanyak dua kali. Pertama pada 8 Juni 2007 pada hari ulang tahunnya ke-86 dan kedua, pada bulan puasa, 1428 H. menjalankan shalat taraweh pada deretan shaf terdepan di Jalan Cendana No 8 Jakarta, Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mantan Menteri Agama dr. Tarmizi Taher, jasa Soeharto dalam membangun citra Islam di Indonesia, cukup signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, banyak orang keliru melihat Soeharto yang dinilai banyak menindas dan menganaktirikan umat Islam di Indonesia, Dia (Soeharto, ... red) dibesarkan di lingkungan Muhammadiayah. Dia lahir pada 21 Juni 1921 di Kemusuk &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;. Jadi selama memimpin pun juga terlihat bekas-bekas dia pernah belajar tentang agama, yang secara khusus masih juga dipengaruhi oleh kultur Jawa. "Saya terkesan dengan pendapat Habib Husein Alatas, tokoh Islam dari &lt;st1:place st="on"&gt;Ambon&lt;/st1:place&gt;. Pak Tarmizi, katanya, Pak Harto itu punya jasa besar kepada pembangunan Islam. Siapa yang menggagas berdirinya 1.000 masjid di seluruh Indonesia.Pembangunan mesjid dilakukan melalui Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila atay YAMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah itu kini belum tercukupi. Tetapi sudah banyak yang terlaksana, sehingga banyak umat Islam mudah dan nyaman dalam menjalankan ritualnya karena ada masjid yang dibangunnya itu. Adakah ormas Islam, atau tokoh Islam yang menggagas ide besar seperti itu, kata Tarmizi mengutip Habib Husein. Jadi ada kesan mendalam bagi umat Islam yang mau mengakui, Pak Harto adalah bukan hanya sekedar Bapak Pembangunan, tetapi juga sekaligus salah satu tokoh pejuang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin dengan gagasan yang mulia itulah HM. Soeharto sampai dipanjangkan umurnya hingga 87 tahun," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan pernyataan Tarmizi, Alamsyah Ratuprawiranegara mantan Menteri Agama dan Menko Kesra. kepada Probosutedjo pernah mengatakan " Umat Islam itu seyogianya harus berterima kasih kepada Pak Harto, karena tahun 1965, jika Pak Harto tidak cepat mengambil alih kekuasaan, banyak orang Islam akan dibantai oleh PKI".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peryataan Alamsyah yang dikutip Probo, itu, disampaikan saat para tokoh reformis, khususnya yang juga dari kelompok muslim, banyak mengritik H.M. Soeharto, dan menuduhnya sebagai tokoh yang melakukan korupsi dan menyalahgunakan kewenangan, utamanya dalam pengelolaan yayasan-yayasan yang dipimpinnya. Semua yayasan yang terkait dengan kesehatan masyarakat, pendidikan dan pembangunan masjid-masjid itu, kini sudah diserahkan kepada pemerintah pusat atau pemerintah daerah. Penyerahan itu, kata Probo, dimaksudkan agar setelah Pak Harto meninggal, tidak ada lagi masalah hukum yang dipersoalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beliau tidak ingin keluarganya masih diseret-seret urusan hukum terkait dengan pengelolaan yayasan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disampaikan Alamyah itu, kata Probo, benar adanya, karena ketika Pak Harto masih sehat, juga mengatakan hal sama kepada Probo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Banyak orang, utamanya generasi dibawah tahun 1960-an, yang kurang memahami sejarah. Tahun 1965, banyak umat Islam yang akan dibantai oleh gerombolan Partai Komunis &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Tetapi hal itu dapat saya cegah dengan membubarkan PKI, meskipun pengaruh Presiden Soekarno kala itu cukup kuat," kata Probo mengutip Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HM. Soeharto juga berpesan kepada Probo, untuk tidak melawan kepada tokoh-tokoh yang mengeritiknya, karena sesungguhnya mereka itu kurang memahami sejarah perjuangan bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan dilawan, karena mereka itu hanya kurang mengerti sejarah lahirnya bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; saja," kata Probo mengutip pendapat Soeharto. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada jalan pintas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan yang dilaksanakan di bawah kepemimpinan mantan Presiden Soeharto, baik dibidang keagamaan, politik maupun ekonomi didasarkan pada Garis-garis Besar Haluan Negara/GBHN. Trilogi Pembangunan yang digagas Soeharto mencakup pembangunan dibidang stabilitas politik dan keamanan dan pembangunan ekonomi itu serta pemerataan tentunya tidak semua dapat dilaksanakan secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada jalan pintas untuk dapat menjalankan roda pembangunan yang dapat menyenangkan semua anak bangsa dalam kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibidang politik, misalnya, banyak pengeritik gagasan HM Soeharto yang menghapuskan multipartai menjadi hanya tiga partai, Golkar, PPP dan PDI sebagai upaya" mengkebiri" umat Islam untuk menjalankan misinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah keamanan juga dinilai sangat sangat "otoriter", dan mengandalkan kekuatan pada TNI dan Polri. Sedang dibidang ekonomi, Pak Harto dikritik terlalu memanjakan kelompok konglomerat, atau kelompok yang kecil yang menguasai perekonomian di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja, kelompok Liem Sioe Liong., Bob Hasan, Bukaka, dan Ciputra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kritik dibidang politik, keamanan dan ekonomi tersebut, kata sekretaris Pribadi HM. Soeharto, Anton Tabah, dalam buku "Empati di Tengah Badai" merupakan kewajaran, karena yang mendukung dan setuju dengan politik HM. Soeharto, jumlahnya jutaan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Surat&lt;/st1:City&gt; dari seluruh rakyat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; itu, kata Anton, dikumpulkan sejak 21 Mei sampai 31 Desember 1998. Semua &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; berisi mendukung kebijakan Pak Harto dalam berbagai hal, terutama dalam bidang pembinaan keagamaan, dan pemberdayaan ekonomi menengah dan kecil. Anton menyebutkan salah satu &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; simpati kepada HM. Soeharto dari Muh. Rustam Fadl, dari &lt;st1:place st="on"&gt;Ambon&lt;/st1:place&gt; mengatakan, banyak orang tidak adil, selama ini sudah banyak menikmati fasilitas dan pendidikan tingi, karena kebijakan Pak Harto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi setelah terjadi krisis ekonomi, semua kesalahan ditimpakan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HM. Soeharto yang dinilai sebagai tokoh pejuang pembangunan ekonomi dan membangun citra umat Islam itu juga diakui oleh sejumlah warga transmigrasi d luar Jawa, khususnya di Sumatera Barat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya kaget ketika melihat siaran di televisi, Pak Soeharto sakit dan terbaring di rumah sakit. Kini beliau (Soeharto) sudah meninggal dunia," kata Jamino (70) di Kecamatan Koto Baru, Kab. Dharmasraya, Sumbar, satu dari ribuan kepala keluarga asal Wonogiri, Jawa Tengah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi warga transmigrasi, kata Jamino, Pak Harto dinilai cukup besar jasanya, dan telah berhasil melakukan pemerataan penduduk, khususnya dari kota-kota di Pulau Jawa ke sejumlah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; di Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beliau (Soeharto) pemimpin yang begitu peduli akan nasib petani dan rakyat kecil," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Pak Harto jadi Presiden, bila petani mengeluh dan warga kelaparan, dan kemudian dilaporkan ke wartawan, keesokannya pejabat pemerintah sudah langsung datang ke warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh seperti itu, kini sudah tak ada lagi. HM. Soeharto meninggalkan masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; selamanya. Ratusan masjid yang diresmikan masih berdiri. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; pepatah, Gajah mati Meninggalkan Gading, Pak Harto wafat meninggalkan jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Y005)/B/A011) (T.Y005/B/A011/A011) 27-01-2008 19:34:50 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;JENAZAH HM SOEHARTO SEDANG DIMANDIKAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Jenazah mantan Presiden HM Soeharto pada pukul 19.30 WIB dimandikan oleh pihak keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jenazah beliau sekarang sedang dimandikan," kata Menteri Hukum dan Ham Andi Mattalatta saat selesai melayat di kediaman Cendana Jakarta Pusat, Minggu malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Andi proses memandikan jenazah hingga pukul 19.45 WIB masih berlangsung dan belum selesai. Seluruh anggota keluarga besar Soeharto ikut menyaksikan proses itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini di dalam rumah Cendana terlihat Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanyakan apakah jenazah akan dibawa ke Masjid At Tin, Andi mengaku tidak tahu dan dia tergesa-gesa meninggalkan lokasi karena akan berangkat ke Denpasar. (L.J004*P008/B/M007) (L.J004*P008/B/M007/M007) 27-01-2008 20:04:51 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;PARTAI GOLKAR SE KALSEL SHALAT GAIB DAN TAHLILAN SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Banjarmasin&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar se Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) diimbau untuk melaksanakan shalat gaib dan tahlilan untuk mendo`akan mantan Presiden Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imbauan tersebut disampaikan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kalsel H.Abdussamad Sulaiman H.B kepada ANTARA di Banjarmasin, bersamaan waftanya mantan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Presiden&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; yang juga mantan Dewan Pembina Golkar, Minggu siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DPD Partai Golkar Kalsel melaksanakan shalat gaib dan tahlilan untuk Pak Harto, Senin (28/1) malam, ujarnya saat dalam perjalanan sekembali dari Kandangan (135 Km utara &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Banjarmasin&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;), ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel, Minggu sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab ANTARA Banjarmsin melalui telepon selular, H.A.Sulaiman HB yang akrab dipanggil Haji Leman itu, menyatakan, Partai Golkar khususnya merasa kehilangan atas meninggal dunia Presiden Kedua Republik Indonesia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasalnya, almarhum Pak Harto, seorang yang berjasa besar, bukan saja bagi Golar, tapi juga terhadap negara dan bangsa ini," lanjut pengusaha terkenal di seantero Kalsel dan Kalteng, serta pendiri kesebelasan Barito Putra itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, sudah sepatutnya mendo`akan semoga almarhum mendapat tempat yang layak di sisi Nya, serta segala dosa dan kesalahannya mendapat ampunan dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sementara kita yang ditinggalkan atau yang masih hidup dapat melanjutkan cita-cita perjuangan positif untuk membangun negara dan bangsa ini, dengan semangan persatuan dan kesatuan," ujar Haji Leman singkat saat berada dalam mobil sekembali dari kegiatan Partai Golkar di "&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dodol" Kandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pecinta atau "penggila" bola itu dalam sepekan ini terpaksa harus bulak-balik ke Kandangan, untuk melakukan konsulidasi. Karena di "Bumi Antaluddin" HSS tersebut kini sedang memulai pemilihan kepala daerah (Pilkada), dimana Partai Golkan mengusung, Bahdar Djorhan, incumbent (Wakil Bupati setempat) untuk menjadi orang nomor satu di jajaran pemerintah kabupaten (Pemkab) tersebut. (T.P-SHN/B/M019/M019) 27-01-2008 20:00:17 NNNN&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-7713142904697275269?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/7713142904697275269/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=7713142904697275269' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/7713142904697275269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/7713142904697275269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/01/berita-hm-soeharto-5.html' title='BERITA HM SOEHARTO 5'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-4445655702139990203</id><published>2008-01-28T06:53:00.000-08:00</published><updated>2008-01-28T06:54:52.726-08:00</updated><title type='text'>BERITA PAK HARTO 4</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;SOEHARTO PERNAH SELAMATKAN RIBUAN NYAWA RAKYAT TIMTIM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Kupang, 27/1 (ANTARA) - Mantan Presiden Soeharto dinilai sangat berjasa bagi rakyat Timor Timur (Timtim), karena pernah menyelamatkan puluhan ribu nyawa rakyat Timor Timur ketika terjadi perang saudara di wilayah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada perang saudara di Timor Timur, Soeharto mengirim bala bantuan tentara, dan para prajurit itu telah berperan dalam menyelamatkan nyawa rakyat kecil di Timor Timur. Jasa almarhum dalam integrasi Timor Timur sangat besar," kata Juru Bicara Komunitas Timor Timur, Mario Vieira, di Kupang, Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagai warga Timor Timur, kami merasa sangat kehilangan karena almarhum Soeharto memiliki peran yang sangat besar dalam menyelamatkan nyawa ribuan rakyat Timor Timur dalam perang saudara. Almarhumlah yang memutuskan untuk mengirim bala tentara untuk menyelamatkan rakyat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, katanya, Komunitas Timtim yang ada di Nusa Tenggara Timur (NTT), menyampaikan selamat jalan kepada mantan Presiden RI HM Soeharto yang dikenal sebagai bapak integrasi Timor Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat jalan bapak integrasi Timor Timur, jasa baikmu bagi rakyat Timor Timur tidak akan terlupakan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mario menambahkan, HM Soeharto adalah seorang pemimpin ksatria yang telah menjadikan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sebagai negara yang disegani di dunia, selain sebagai bapa pembangunan yang telah membawa perubahan dalam berbagai dimensi pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.BK04/C/T004/T004) 27-01-2008 22:50:30 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;DIN SYAMSUDIN DUKUNG TINDAKAN HUKUM TERHADAP KRONI SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, mengatakan penegakan hukum terhadap kroni mantan Presiden SOeharto harus terus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terhadap yang masih hidup, hukum harus ditegakkan," katanya setelah melayat di rumah duka di Jalan Cendana, Jakarta Pusat, tempat jenazah mantan Presiden Soeharto disemayamkan, Minggu malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Din mengatakan penegakan hukum itu juga harus diselaraskan dengan cara penegakan yang sesuai dengan aturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk almarhum Soeharto, Din meminta masyarakat memaafkan jika penguasa Orde Baru itu telah berbuat salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesuai dengan ajaran agama maka kalau ada orang meninggal dunia kita diharapkan memeberikan permaafan. Oleh karena itu, tidak ada salahnya kita memberi maaf kepada pak Harto," kata Din yang mendapatkan kesempatan pertama mendoakan jenazah Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Din berharap, masyarakat bisa mempertimbangkan sisi kemanusiaan, terutama dalam suasana berkabung setelah Soeharto meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, kuasa hukum Soeharto, OC Kaligis yang juga datang melayat, menolak berkomentar soal kasus hukum yang menjerat Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak ngomong perkara, saya punya hak tidak ngomong perkara," katanya sambil bergegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengaku datang ke Cendana khusus untuk mendoakan presiden kedua &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, Kaligis juga enggan berkomentar ketika ditanya apakah keluarga sempat membicakan perkara yang sedang dihadapi Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, negara melalui Kejaksaan Agung sedang memperkarakan Soeharto secara perdata dalam kasus dugaan penyelewengan dana Yayasan Supersemar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara itu masih bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dan akan memasuki tahap kesimpulan. (F008)/B/A011) (T.F008/B/A011/C/A011) 27-01-2008 22:32:21 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;FUKUDA PUJI SOEHARTO PEMBANGUN PERSAHABATAN INDONESIA-JEPANG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Tokyo, 27/1 (ANTARA) - PM Jepang Yasuo Fukuda, di Tokyo, Minggu, menyampaikan belasungkawa atas nama pemerintah dan rakyat Jepang, menyusul wafatnya mantan presiden Soeharto akibat sakit pada usia 86 tahun di Jakarta , Minggu( 27/1) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PM Fukuda dalam kesempatan itu memuji Soeharto sebagai sahabat Jepang, karena presiden kedua RI itu merupakan presiden yang mengupayakan pembangunan persahabatan Jepang-Indonesia secara permanen, demikian Kyodo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fukuda langsung menyampaikan ucapan belasungkawa begitu mengetahui Soeharto wafat pada Minggu siang, tidak lama setelah ia kembali dari Davos, Swiss, mengikuti forum ekonomi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lantas memerintahkan stafnya untuk segera mengirimkan ucapan belasungkawa ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, guna menjadi kepala pemeirntahan yang merespon dengan cepat atas meninggalnya mantan presiden dari negara yang menjadi salah satu sahabat utama Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalnya Soeharto juga terjadi saat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dan Jepang sedang giat-giatnya memperingati 50 tahun hubungan bilateral kedua negara yang dibangun pertama kalinya pada 1958.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fukuda juga menyampaikan rasa duka cita yang mendalam rakyat Jepang kepada rakyat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, mengingat hubungan yang erat kedua negara dan bangsa itu di masa Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang memang merupakan negara yang pertama kali dikunjungi Soeharto saat mantan Pangkostrad itu baru saja dilantik sebagai Presiden kedua, menggantikan Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto kemudian membangun Orde Baru, orde yang mengkoreksi total rezim sebelumnya, terlebih dengan kodisi ekonomi yang sedang morat marit saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto lantas memilih Jepang dan segera bertolak ke Negeri Sakura itu, hal menjadikannya sebagai kunjungan luar negerinya yang pertama kali. Soeharto lantas meminta Jepang membantu pemerintahannya membenahi perekonomian nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah Soeharto menjadikan Jepang sebagai sahabat utama dalam membangun perekonomiam &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenderal Besar itu meninggal dunia di Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP) pada hari Minggu (27/1) pukul 13.10 waktu setempat, akibat sakit semakin melemahnya organ tubuh yang dideritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto memerintah Indonesia selama 32 tahun dan kemudian mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 sebagai presiden, menyusul gelombang reformasi yang melanda Indonesia dan menuntutnya lengser dari kekuasaan. (T.B011/B/A011) (T.B011/B/A011/A011) 27-01-2008 22:26:39 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;DPD PG KEPRI GELAR TAHLILAN UNTUK SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Tanjungpinang, 27/1 (ANTARA) - DPD Partai Golkar (PG) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menggelar tahlilan atau doa selamat untuk Soeharto, mantan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Presiden&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; yang meninggal dunia siang tadi sekitar pukul 13.10 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahlilan doa selamat untuk Pak Harto berlangsung di kantor DPD PG Kepri setelah salat Magrib berjamaah," kata fungsionaris DPD PG Kepri, Lamen Sarihi kepada ANTARA di Tanjungpinang, ibukota Provinsi Kepri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahlilan yang dilakukan seluruh kader dan simpatisan PG Kepri itu dimaksudkan agar arwah mantan Presiden RI-2 itu diterima Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semoga seluruh masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; memaafkan Pak Harto jika ada kesalahannya selama memimpin negara ini. Semoga Pak Harto berpulang dengan damai," ucap Lamen yang juga berprofesi sebagai pengacara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, seluruh kader dan simpatisan PG merasa kehilangan sesepuh partai yang berlambangkan pohon beringin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menilai, Soeharto yang pernah berkuasa selama 32 tahun itu adalah tokoh karismatik, pintar, berani dan bertangungjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Harto adalah tokoh politik yang andal. Dia salah seorang tokoh yang berjasa membesarkan PG di NKRI," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, penguasa orde baru itu juga memiliki jasa yang besar terhadap rakyat dan negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, lanjutnya, patut diberi penghargaan yang sebesar-besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Walau bagaimanapun dia berjasa terhadap negara ini. Kita semua bisa merasakannya saat itu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.PK-NP/B/A013/A013) 27-01-2008 22:20:18 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;PG KEPRI: SOEHARTO LAYAK DIGELARI PAHLAWAN NASIONAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Tanjungpinang, 27/1 (ANTARA) - Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar (DPD PG) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menyatakan Soeharto, mantan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Presiden&lt;/st1:City&gt;  &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;, layak digelari pahlawan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Badan Informasi dan Komunikasi DPD PG Kepri, Suyono, Minggu malam mengemukakan, Soeharto berjasa membawa masyarakat Indonesia mencapai jaman keemasan di era 1980-an selama 32 tahun memimpin NKRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia memimpin dengan program swasembada pangan, program pembangunan dengan repelita dan keluarga berencana. Keberhasilannya buat masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; layak dihargai negara," ujarnya kepada ANTARA di Tanjungpinang, ibukota Provinsi Kepri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto, katanya, layak dijadikan sebagai pahlawan nasional karena jasa-jasanya di bidang pembangunan, swasembada pangan dan pertahanan keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waktu dia memimpin, negara ini aman dan dihormati," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama memimpin &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, Soeharto berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Itu dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahkan &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; pernah digelar sebagai macan Asia setelah Jepang dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;China&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, keberhasilan Soeharto di bidang pertahanan keamanan juga patut dihargai. Soeharto merupakan tokoh TNI yang berhasil memimpin Trikora dalam rangka pembebasan Irian Barat dari tangan penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Negara ini kemudiann kokoh di zaman kepemimpinan Soeharto," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengimbau kepada seluruh masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; untuk tidak hanya memandang Soeharto dari sisi salahnya, karena dia juga memberi kontribusi besar bagi bangsa dan negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kini dia telah pergi. Sebagai umat beragama, mari kita sama-sama memaafkannya agar almarhum diterima di sisi Allah Swt," imbaunya. (T.PK-NP/B/A013/A013) 27-01-2008 22:20:18 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;BEREBUT MEREKAM HARI TERAKIR SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Oleh: Nur Istibsaroh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 27/1 (ANTARA) - Minggu pagi tanggal 27 Januari 2008, di lobi depan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) tampak tidak ada perubahan dari dua atau tiga hari setelah mantan Presiden Soeharto dinyatakan kondisinya membaik, karena Soeharto sudah bisa makan, bahkan sudah bisa minum obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu anggota Tim Dokter Kepresidenan Christian Johannes mengatakan pada Sabtu (26/1) bahwa kondisi paru-paru Soeharto sudah mengalami perbaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sejak Jumat (25/1) Soeharto sudah mendapat asupan makanan secara oral guna melatih Soeharto menelan sesuatu dengan menggunakan mulut dan tenggorokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita itu, membuat pada Minggu (27/1) hanya ada sekitar 20-an wartawan media cetak dan elektronik yang masih menunggu di RSPP untuk memantau keadaan Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tampak lesehan, menghabiskan waktu dengan membaca &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; kabar, atau sekadar ngobrol dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara jumpa pers yang biasa dilakukan pada pagi hari juga berlangsung seperti biasa. Saat itu, Tim Dokter Kepresidenan menyatakan Soeharto sangat kritis, pernapasan 100 persen diambil alih oleh mesin, dan hanya jantung yang berdenyut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak pukul 01.00 WIB, terjadi sesak napas, diikuti tekanan darah terus menurun. Segera dilakukan resusitasi antara lain dengan mengambil alih pernapasan 100 persen dengan mesin pernapasan," kata Ketua Tim Dokter Kepresidenan, dr.Mardjo Soebiandono didampingi anggota dokter yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 03.00 WIB-07.00 WIB, keadaan penguasa orde baru makin menurun, karena tekanan darah berkisar 90/35-70/35 mmHg. Pada pukul 10.00 keadaan Soeharto sangat kritis, pernapasan dangkal, dan pernapasan masih diambil alih oleh mesin pernapasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi itu, tidak lama kemudian membuat jumlah wartawan bertambah, yang sebelumnya hanya 20-an dalam waktu singkat menjadi sekitar seratusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh wartawan tersebut, ada yang berjaga-jaga di lobi rumah sakit, ada yang berjaga-jaga di pintu belakang, dan pintu belakang rumah sakit serta ada yang ada di dekat ruang jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terus memantau dan membaca perubahan suasana rumah sakit termasuk adanya sejumlah aparat kepolisian yang terlihat lalu lalang dan ada sekitar tujuh orang yang mengenakan seragam loreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 13.25 WIB, keluar seorang berseragam polisi dari dalam rumah sakit dan saat berada di depan lobi terlihat sibuk dengan alat komunikasi di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya tidak ada respon dari sejumlah wartawan, namun karena sikap polisi yang menunjukkan ada persiapan, menjadikan wartawan langsung menyerbunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, lah polisi yang kemudian diketahui Kapolsek Kebayoran Baru Kompol Dicky Sondani buka mulut dan menyampaikan berita duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; berita duka, innalillahi wa innalillahi rojiun telah berpulang ke rahmatullah, mantan Presiden Soeharto pada jarum jam pukul 13.10 WIB," katanya yang kemudian membuat seluruh wartawan terlihat langsung melaporkan berita tersebut ke kantor masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi tersebut, diperkuat dengan keterangan Tim Dokter Kepresidenan yang melakukan jumpa pers tidak lama kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Dokter Kepresiden bersama dengan Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) dan Siti Hedijati Hariyadi (Titik)-(keduanya mengenakan celana hitam, baju batik panjang, dengan kerudung warna hitam) dan Sigit ikut dalam jumpa pers tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Tim Dokter Kepresidenan Mardjo hanya mengatakan satu kalimat "Innalillahi wainna ilaihi rojiun...telah wafat dengan tenang bapak HM Soeharto pada hari Minggu 27 Januari 2008, pukul 13.10 WIB di RSPP, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu wartawan menanyakan lebih lanjut terkait meninggalnya Soeharto, Dr Mardjo mempersilakan Tutut untuk menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam kesempatan itu, Tutut hanya menyatakan terima kasih dan minta maaf setelah beristifgar tiga kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak kami telah dipanggil Allah SWT, kami atas nama keluarga mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya. Kepada siapa saja yang mendoakan atau yang datang menjenguk ke rumah sakit," katanya Tutut sambil terisak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami juga mohon maaf jika dalam sakitnya bapak, tidak semua dapat kita layani dengan baik. Kami mohon, jika ada kesalahan bapak selama ini dimaafkan. Kami mohon doa restu semoga perjalannan bapak lancar, diterima selurh amal ibadanya, diampuni segala dosanya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah," kata Tutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyemut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai jumpa pers oleh Tim Dokter Kepresidenan (di lantai tiga Gedung A), sudah ada satu mobil ambulans yang disediakan di depan lobi RSPP dan sekitar 16 orang berseragam loreng berbaris rapi, serta tampak lalu lalang sejumlah aparat kepolisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah wartawan dan fotografer yang berada di depan lobby RSSP bertambah sekitar tiga kali lipat dan saling berebut mencari tempat strategis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, posisi itu, tidak bertahan lama, karena setelah itu terdengar informasi bahwa jenazah Soeharto keluar dari pintu samping, sehingga mereka membubarkan formasi dengan berlarian ke gedung sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, wartawan tidak hanya berebut antar wartawan, kameramen, atau antar-fotografer karena mereka juga berebut posisi dengan masyarakat yang sekadar ingin melihat dari dekat prosesi pemindahan jenazah ke Cendana atau para aparat keamanan yang berseragam preman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tidak peduli, pemandangannya berubah menjadi berdesak-desakan karena mereka saling mencari tempat strategis, sampai-sampai ada balita yang bersama ayahnya terjebak di dalam kerumunan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, ada dua wartawan yang terpaksa dirawat di UGD RSPP karena mengalami luka ringan. Helmi Hendiarto, wartawan dari harian Neraca saat meliput prosesi keberangkatan jenazah Soeharto dari RSPP menuju kediaman di Cendana tiba-tiba dipukul oleh seseorang berseragam pada kepala bagian kiri di atas telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah itu ada seorang lagi yang memukul saya di daerah ulu hati terus saya jatuh," katanya saat menjalani perawatan ringan di instalasi Unit Gawat Darurat RSPP, Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Helmi selama di UGD kemudian diinfus karena mengalami muntah-muntah hingga tiga kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Helmi, reporter RCTI Lady Simarmata juga terpaksa harus menjalani perawatan ringan di UGD karena terserempet mobil yang melintas di depan lobi RSPP saat ia hendak melakukan laporan langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terpaksa duduk di kursi roda karena mengalami cedera di dekat pergelangan kaki kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kata dokter dalam dua hingga tiga hari akan bengkak dan disarankan tidak melakukan kegiatan dulu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi berdesak-desakan itu, menjadi pemandangan sampai mobil ambulans RSPP yang membawa jenazah Soeharto meninggal rumah sakit diiringi mobil keluarga dan mobil para menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Cendana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi di lingkungan Jalan Cendana tampak lebih dipenuhi oleh orang, selain wartawan, dan aparat kepolisian, banyak juga warga masyarakat yang berbondong-bondong ke Cendana. Mereka ingin melihat secara langsung situasi hari terakir meninggalnya Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi saya dengar radio dan melihat televisi ada berita Pak Harto meninggal. Kami ingin melihat secara langsung," kata Andi (39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi bersama istrinya, Eltri (35) dan Tessa (6) yang dipanggul di atas pundaknya dari Depok naik kereta api. Ketiganya tampak ikut berdesak-desakan dengan warga dan para wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kondisi yang terlalu menyemut, banyak wartawan yang memanjat tembok rumah yang letaknya berada di depan rumah Soeharto dan ada dua-tiga fotografer yang terpaksa memanjat pohon untuk mencari posisi yang menurut dia bisa mendapatkan "tembakan "yang bagus tanpa terhalang oleh obyek lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu malam, situasi di sekitar rumah duka Jalan Cendana masih penuh sesak masyarakat bukan hanya mereka yang datang dari &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt; tapi juga dari luar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti berlomba-lomba, mereka ingin melihat dan menjadi pelaku sejarah di hari-hari kepulangan penguasa orde baru dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; ke Astana Giri Bangun, Jawa Tengah tempat ia dimakamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tadi melihat kamar tempat Soeharto dirawat," kata Arif sambil menunjukkan foto kamar dari telepon genggamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya juga dapat video saat jenazah dimasukkan ke mobil jenazah," kata Tony yang saat itu masih terus merekam detik-detik pemberangkatan jenazah menuju Cendana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Soeharto masuk ke RSPP tanggal 4 Januari 2008, memang banyak pihak yang memuji dan ada juga yang mencibirnya. Namun, terlepas dari keduanya, ketika Soeharto menutup mata untuk selamanya, tidak sedikit masyarakat yang berharap menjadi saksi sejarah kepergian orang nomor satu di jaman orde baru itu. (T.N008) /B/A011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.N008/B/A011/A011) 27-01-2008 21:37:49 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;UMAT KRISTEN DI MINSEL DOAKAN SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Manado&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Sejumlah umat Kristen di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Sulawesi Utara (Sulut), turut mendoakan almarhum mantan Presiden Soeharto, yang meninggal di Rumah Sakit Pusat Pertamina &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, Minggu, melalui kebaktian antar jemaat dilingkungan gereja masing-masing. "Dukungan doa bagi almarhum pak Harto, sudah menjadi kewajiban bagi umat beragama dimanapun, dan kita turut melakukan disaat pelaksanaan ibadah," kata Maxi Mema STh, Vicaris Pendeta GMIM Eben Haezar jemaat Motoling, Kabupaten Minsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan doa melalui kebaktian yang dilakukan sejumlah umat Kristen itu, agar almarhum mantan Presiden di era Orde Baru itu, diterima disisi Tuhan. Sejumlah warga mengharapkan, dengan kematian Presiden kedua RI itu, bisa membawa makna bagi bangsa dan negara, terutama menunjukkan kepada masyarakat bahwa Soeharto mampu mengabdi untuk negara hingga akhir hayatnya. Sementara, sejumlah warga di Kabupaten Minsel itu, sempat terharu menyaksikan liputan kematian Soeharto disejumlah siaran TV nasional. "Kami sangat berkabung dengan kematian bapak pembangunan itu, selama memimpin tidak pernah terjadi resesi ekonomi hingga kerusuhan," kata warga Minsel, Freddy Lumenta. Bahkan selama kepemimpinan 32 tahun pak Harto, kondisi Indonesia aman dan kondusif, tidak ada pertikaian fisik akibat gesekan politik, hingga mampu mempertahankan pancasila sebagai dasar negara. (T.H013/C/K005/C/K005) 27-01-2008 21:30:26 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;MAHATHIR: &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;MALAYSIA&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; UTANG BUDI PADA SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Kuala Lumpur&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (Antara/Bernama) -- &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt; berutang budi kepada Soeharto yang berperan dalam menghentikan konfrontasi dengan &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt; setelah jenderal besar itu menjadi presiden &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, kata mantan PM &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; Dr Mahathir Mohamad, Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai balas jasanya kepada Soeharto, mantan PM Malaysia mengatakan, "Kami melihat dia sebagai pemimpin besar dan sebagai kepala negara internasional. Bagi saya, beliau adalah personal yang baik. Saya tahu dia dan saya telah bekerja sama dengan dia untuk waktu yang lama".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya menghargai dia sebagai kawan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan sebagai kawan pribadi," kata Mahathir di rumahnya di kawasan Sri Kembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang paling berharga dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; adalah saat-saat berakhirnya perang konfrontasi yang dipicu oleh Presiden Soekarno dan diselesaikan dengan damai oleh Soeharto. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; banyak keinginan baik, hasrat yang mulia untuk hentikan konfrontasi. Soeharto menghargai hubungan baik dengan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahathir mengatakan, Omong kosong tuduhan pers Barat kepada Soeharto karena telah melakukan pembunuhan terhadap hampir 500.000 rakyat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; setelah berkuasa dan menggagalkan kudeta komunis 30 September 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tahu ini berdasarkan fakta. Saya tahu apa yang terjadi. &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; saat itu merupakan negara anarki kemudian tidak ada yang berkuasa. Pada saat itu, dia belum menjadi presiden. Dia tidak perintahkan pembunuhan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan orang nomor satu ini mengatakan rakyat seharusnya tidak melupakan peranan Amerika Serikat selama periode konfrontasi antara 1962 dan 1966 karena mendukung tentara Indonesia menjatuhkan Soekarno yang menentang Barat pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barat juga perlu bertanggung jawab ata setiap kekerasan yang terjadi ketika pergantian kekuasaan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Orang seharusnya tidak begitu saja menyalahkan Presiden Soeharto sebagai orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan 500.000 orang sebagaimana dituduhkan pers Barat," kata Mahathir yang sempat menengok Soeharto saat dirawat di RSPP Jakarta baru-baru ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru pulihkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahathir menambahkan justru Soeharto yang memulihkan hukum dan kekuasaan pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Mahathir menilai Soeharto telah memainkan peran besar dalam pembangunan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dan populasi 200 juta penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahkan ada pemikiran &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; tidak menjalankan demokrasi sejati di era Soeharto, kenyataannya hal itu membawa stabilitas kepada &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Sudah tentu ada harga yang harus dibayar," katanya, mengakui mungkin ada yang menderita dibawah pemerintahan Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderitaan akan lebih buruk jika Soeharto tidak mampu mengatasi anarki dan kekacauan hukum dan pemerintahan di negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar ke empat di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Mahathir mengatakan tidak bisa komunikasi dengan Soeharto ketika berkunjung ke RS Pertamina, 14 Januari 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya pikir dia mengetahui kedatangan saya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas tuduhan korupsi selama pemerintahan Soeharto, Dr Mahathir mengatakan "Kalian tidak bisa menyalahkan kesalahan satu-satunya kepada Soeharto karena korupsi sudah berlangsung lama dan itu terjadi juga di banyak negara ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahkan korupsi pun terjadi di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Jadi jangan salahkan semuanya kepada beliau, itu tidak benar," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahathir mengatakan senang dapat bekerja sama dan punya hubungan baik dengan Soeharto ketika menjadi presiden dan ketika dia menjadi PM Malaysia karena mereka dapat berbicara dengan persahabatan satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; beberapa sengketa antara kedua negara tapi sengketa itu tidak pernah menimbulkan konfrontasi antar negara. Kita punya sengketa perbatasan namun kita tidak dapat menyelesaikan semua masalah," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita dapat kelola perundingan satu sama lain dengan sikap persahabatan," katanya terkait dengan sengketa Pulau Ligitan dan Sipadan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; dan &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt; sepakat membawa sengketa itu kepada Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, yang keputusannya kedua pulau itu adalah milik &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Sabah&lt;/st1:City&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B/A011) (T.A029/B/A011/A011) 27-01-2008 21:30:02 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;WARGA SULUT DIMINTA DOAKAN ALMARHUM SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Manado, 27/1 (ANTARA) - Pemerintah Propinsi (Pemprop) Sulawesi Utara (Sulut) meminta warganya untuk mendoakan almarhum Soeharto, yang meninggal di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), pada Minggu, pukul 13.10 waktu Jakarta, dengan harapan bisa diterima disisi Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meninggalnya mantan Presiden Soeharto, merupakan berita dukacita bagi seluruh warga &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; termasuk Sulut, sehingga Pemerintah dan warga Sulut menyatakan belasungkawa," kata Gubernur Sulut, SH Sarundajang, dikutip Kepala Biro Pemerintahan dan Humas Pemprop Sulut, Roy Tumiwa, Minggu di Manado.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Sulut diharapkan dapat memberi penghormatan terakhir bagi mantan Presiden Republik Indonesia (RI) kedua itu, dengan mendoakan menurut agama dan kepercayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, nilai perjuangan dan pengabdian mantan penguasa era Orde Baru itu, tidak bisa dihitung dengan jari, sehingga harus dimaknai dengan sisi positif, sehingga nilai-nilai perjuangan yang ditanamkan kepada bangsa dan negara, bisa dilanjutkan para generasi muda saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himbauan berkabung selama tujuh hari sepeninggal almarhum Soeharto, yang disampaikan Menteri Sekretaris Kabinet, Sudi Silalahi, harus ditindaklanjuti dan diimplementrasikan semua masyarakat di Sulut, dan aparat pemerintah diharapkan mempelopori himbauan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Himbauan itu harus ditindaklanjuti, karena &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; telah kehilangan pahlawan pembangunan," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota DPRD Sulut dari Fraksi Partai Golkar, AHJ Purukan, turut menyatakan belasungkawa atas meninggalnya almarhum Soeharto, sekaligus diharapkan mampu dimaafkan seluruh warga &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ungkapan belasungkawa akan ditindaklanjuti dengan irigan doa, agar almarhum Soeharto diterima sisi Tuhan," ungkap penasehat DPD I Partai Golkar Sulut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pengamatan wartawan ANTARA di Manado, bahwa sejumlah rumah telah memasang bendera merah putih setengah tiang sebagai tanda turut berkabung atas meninggalnya mantan Presiden Soeharto. (T.H013/B/K005/B/K005) 27-01-2008 21:25:13 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;round-up - UCAPAN BELASUNGKAWA MENGALIR DARI DALAM DAN LUAR NEGERI UNTUK SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Kepergian mantan presiden HM Soeharto yang terbilang mendadak --setelah sehari sebelumnya kondisinya dinyatakan membaik-- ternyata tidak hanya menyibukkan para pejabat di dalam negeri tetapi juga di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca pengumuman resmi Ketua tim dokter kepresidenan, Mardjo Soebiandono di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Minggu siang, bahwa mantan orang nomor satu di Indonesia itu telah berpulang pada pukul 13.10 WIB dalam usia 86 tahun, kesibukan pun dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita meninggalnya Soeharto tersebut mengejutkan tidak hanya publik Indonesia dan para kuli tinta yang kemudian segera berhamburan ke rumah sakit untuk memastikan jenazah akan dibawa ke rumah duka di Jalan Cendana Nomor 6 dan 8, Menteng, Jakarta Pusat namun juga para staf perwakilan negara sahabat di Indonesia ataupun staf perwakilan Indonesia di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga Soeharto adalah salah seorang tokoh yang cukup berpengaruh di kawasan di era 90-an melalui sejumlah sepak terjangnya di berbagai organisasi kawasan, antara lain ASEAN dan Gerakan NonBlok (GNB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan belasungkawa pun mengalir dari berbagai belahan dunia atas kepergian Soeharto. Menlu Malaysia Syed Hamid Albar segera setelah mendengar kabar wafatnya mantan Presiden Soeharto mengatakan kepergian Soeharto adalah suatu kehilangan besar bagi kawasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meninggalnya Soeharto sudah tentu membuat rakyat Indonesia berduka, tapi juga rakyat Malaysia dan kawasan ASEAN turut berduka karena kepemimpinan Soeharto telah berhasil menciptakan stabilitas politik di kawasan Asean yang memungkinkan negara-negara Asean melakukan pembangunan ekonomi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, lanjut dia, Soeharto bersama Menlu Adam Malik memprakarsai penghentian konfrontasi Indonesia-Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak Soeharto menjadi presiden &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, hubungan Indonesia-Malaysia mesra," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah Malaysia mengutus satu delegasi tingkat pejabat tinggi termasuk mantan PM Mahathir Mohamad dan Deputi PM Najib Razak guna menghadiri upacara pemakaman di Solo, Jawa Tengah, pada Senin pagi (28/1). PM Abdullah Ahmad Badawi tidak hadir. Mahathir --sahabat baik Soeharto-- juga menjenguk Soeharto saat ia dirawat di RSPP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filipina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya Soeharto dan mengatakan mendiang "tidak akan pernah dilupakan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gloria Arroyo memuji kepemimpinan Soeharto di kawasan Asia Tenggara dan sumbangannya untuk membangun perdamaian di &lt;st1:place st="on"&gt;Mindanao&lt;/st1:place&gt;, kawasan selatan Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Atas jasa-jasanya ini, Presiden Soeharto tak akan pernah dilupakan," ujarnya sebagaimana dikutip dari DPA .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gloria , yang saat ini melakukan kunjungan resmi ke Uni Emirat Arab, mengatakan, "generasi-generasi Filipina dan anggota ASEAN senantiasa akan mengenang Presiden Soeharto atas peran kuncinya dalam membangun masyarakat di kawasan ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagai salah satu dari Bapak ASEAN, Presiden Soeharto di antara pemimpin yang memiliki visi cemerlang untuk membangun perdamaian, kemajuan dan kemakmuran ASEAN, yang dibangun dengan penuh penghormatan dan saling-pengertian," katanya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Australia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian senada juga muncul dari mantan Menteri Luar Negeri &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, Alexander Downer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia memiliki visi yang sangat baik untuk membangun masyarakat Asia Tenggara yang kuat, dan memandang positif tentang &lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt; merupakan bagian dari visinya," kata Downer seperti dikutip kantor berita &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, AAP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan para pejabat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dengan Soeharto "mesra" di masa Perdana Menteri Paul Keating, yang melakukan kunjungan sebanyak enam kali dalam empat tahun menjabat perdana menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1995, Keating dan Soeharto menyepakati pakta pertahanan yang kemudian dibatalkan oleh Indonesia pada 1999 ketika Canberra memimpin pasukan koalisi di Timor Timor menyusul kemerdekaan bekas provinsi Indonesia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesianis, Greg Fealy dari Universitas Nasional Australia di Cenberra, menilai bahwa Keating tidak sendirian memuji jenderal purnawirawan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Umumnya, pemerintah &lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt; berturut-turut sangat puas bahwa Soeharto adalah presiden &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;," kata Fealy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pada umumnya, sikap terlalu pro-Barat dan menaruh penekanan terhadap stabilitas dalam negeri &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, dan dengan itu melindungi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dari banyak kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan seniornya, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd memuji peran Soeharto dalam memajukan &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; dan membantu membangun ASEAN dan APEC, dan menggambarkan almarhum sebagai figur yang sangat berpengaruh di kawasan ini termasuk &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pemimpin sayap kiri-tengah itu tidak segan mengkritik Soeharto saat memimpin. Dia juga menggambarkan almarhum sebagai figur yang kontroversial mengenai masalah hak asasi manusia (HAM) dan Timor Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; kini sukses sebagai negara demokrasi modern, (itu) menjadi sangat penting, bukan saja bagi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, tapi juga di kawasan ini dan dunia," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain para tokoh tersebut sejumlah tokoh lain juga turut menyampaikan ucapan belasungkawanya, antara lain mantan Presiden Timor Leste Xanana Gusmao, PM Singapura Lee Hsien Loong dan PM Jepang Yasuo Fukuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah duta besar negara-negara sahabat juga dijadwalkan mengikuti prosesi pemakaman mantan presiden Soeharto di Astana Giribangun, Solo, Jawa Tengah sekitar Senin siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisma KBRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain para perwakilan negara sahabat di &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, sejumlah perwakilan RI di luar negeri pun sibuk menyiapkan buku ucapan belasungkawa bagi seluruh diplomat ataupun warga yang ingin memberikan ucapan belasungkawa di KBRI atau Wisma &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KBRI Beijing selama tiga hari mulai Senin hingga Rabu (28-30 Januari) akan menyiapkan buku duka yang dapat diisi oleh pejabat tinggi negara sahabat dan perwakilan negara asing yang berkedudukan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;China&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; untuk menyampaikan duka atas meninggalnya mantan Presiden Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami mulai besok Senin hingga Rabu akan menyiapkan buku duka yang dapat diisi oleh pejabat tinggi negara sahabat dan perwakilan asing yang ada di China," kata Wakil Kepala Perwakilan RI Beijing Mohamad Oemar, di Beijing. Hal yang sama juga dilakukan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengibaran bendera Merah Putih setengah tiang sudah dilakukan, sedangkan anggota masyarakat yang mau mengisi buku duka di KBRI Canberra, mereka dapat melakukannya pada pukul 10.00-12.00 atau pukul 14.00-16.00 waktu Canberra," kata Juru Bicara KBRI Canberra, Dino Kusnadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KBRI Canberra juga menyelenggarakan doa bersama untuk Pak Harto pada Senin malam pukul 20.00 waktu setempat di ruang Balai Kartini, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian kesempatan kepada khalayak umum di &lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt; untuk menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Soeharto melalui buku duka juga dilakukan seluruh kantor perwakilan RI di Darwin, Melbourne, Sydney, dan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Perth&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor perwakilan pemerintah Indonesia di Tokyo dan Osaka juga memutuskan menggelar hari belasungkawa selama tiga hari berturut-turut bagi kalangan pemerintah Jepang, diplomat asing serta anggota parlemen Jepang untuk menyampaikan belasungkawa, kata Dubes RI untuk Jepang Jusuf Anwar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami juga menyampaikan bahwa Konjen Osaka membuka pintu dan menyediakan waktu untuk siapa saja yang ingin menyampaikan ucapan belasungkawa. Hal itu dilakukan selama tiga hari penuh," ujar Konjen RI di Osaka Pitono Purnomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman, Makmur Widodo kepada wartawan ANTARA mengatakan bahwa mantan presiden Soeharto masih memiliki reputasi yang tergolong positif di kalangan pemerintahan Republik Federal Jerman, tak terkecuali Presiden Republik Federal Jerman Horst Kohler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beberapa waktu lalu saat bertemu, Presiden Kohler sempat menanyakan bagaimana kondisi Pak Harto. Itu artinya memang dunia tetap mengikuti perkembangan kesehatan mantan presiden itu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Makmur Widodo , hubungan baik mantan penguasa Orde Baru itu dengan pemerintah Jerman adalah karena adanya kedekatannya dengan mantan Kanselir Jerman Barat (sebelum reunifikasi) Helmut Kohl dari partai CDU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apalagi dengan adanya Pak Habibie selama puluhan tahun sebagai orang kepercayaan Pak Harto dalam pemerintahan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan baik, tambahnya, juga dimiliki "The Smiling General" itu dengan mantan kanselir Gerhard Schroeder sehingga diperkirakan KBRI akan menerima banyak ucapan belasungkawa atas meninggalnya "Bapak Pembangunan" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedubes RI, katanya, langsung berencana menggelar shalat gaib bersama dengan seluruh WNI dan keturunan Indonesia di Berlin pada Minggu petang di Aula Kedubes RI yang kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan tahlilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tambahnya, KBRI juga akan memasang bendera Merah Putih setengah tiang selama satu pekan dan membuka kesempatan pemberian ucapan belasungkawa bagi pemerintah dan pihak-pihak yang berkepentingan di Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala kesibukan itu sedikit banyak menjadi bukti akan rekam jejak pengaruh sepak terjang Soeharto selama 32 tahun masa pemerintahannya di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B/A011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.G003/B/A011/A011) 27-01-2008 21:22:54 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;WARGA TERNATE BACA YASIN UNTUK SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Ternate, 27/1 (ANTARA) - Warga Ternate, Maluku Utara (Malut) banyak yang mengekpresikan rasa duka atas wafatnya Soeharto, dengan cara membaca Yasin untuk mantan Presiden itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami tidak mungkin bisa pergi melayat almarhum ke &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;, makanya kami mengekspresikan rasa duka dengan cara membaca Yasin untuk beliau," kata seorang warga &lt;st1:place st="on"&gt;Ternate&lt;/st1:place&gt;, Nuralam di Ternate, Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga yang sehari-harinya bekerja di salah satu dinas di lingkup Pemkot Ternate ini mengaku akan membaca Yasin setiap malam untuk almarhum Soeharto sampai hari ketujuh wafatnya almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuralam mengaku melakukan itu karena sejak kecil sangat mengagumi Soeharto. Di matanya, Soeharto adalah tokoh yang hebat dan selama memimpin bangsa ini sangat memperhatikan nasib rakyat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Kahar, warga lainnya di Ternate yang juga mengekspresikan rasa duka atas wafatnya Soeharto dengan melakukan hal yang sama mengatakan, Soeharto telah berbuat banyak untuk rakyat di bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OIeh karena itu, rakyat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; perlu membalas jasa almarhum Soeharto itu dengan membaca Yasin serta mendoakan almarhum agar mendapat ampunan dan tempat yang layak di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selama memimpin bangsa ini, Soeharto mungkin pernah melakukan kesalahan, tapi janganlah kesalahan itu dibalas dengan hujatan. Balaslah kesalahan itu dengan maaaf dan doa," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Presiden Soeharto wafat di Rumah Sakit Pusat Pertamina Minggu siang (27/1) sekitar Pkl 13:10 WIB setelah menjalani perawatan di rumah sakit itu sejak tanggal 4 Januari 2008 akibat penyakit yang dideritanya. (T.L002/27-01-2008)/B/A011) (T.L002/B/A011/A011) 27-01-2008 21:04:54 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;MENGENANG SOEHARTO PADA SEBUAH BUKIT YANG MERANA Oleh Iskandar Zulkarnaen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Samarinda, 27/1 (ANTARA) - Tajuk pohon akasia yang berjajar di kiri kanan menyebabkan perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda sejauh 120 Km tidak membosankan, karena berkat pepopohan itu Jalan Lintas Kalimantan di Kaltim pada poros utara itu selalu dibayangi keteduhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratu Beatrix dari Belanda termasuk tokoh yang pernah menyatakan kagum terhadap hasil pengelolaan konservasi atau reboisasi pada Taman Hutan Raya Bukit Soeharto pada pertengahan 1990-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu, Bukit Soeharto yang memiliki luas sekira 61.000 Ha termasuk beranda atau contoh keberhasilan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dalam melestarikan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu Menteri Kehutanan pada era pemerintahan Soeharto, yakni Djamaludin Suryohadikusumo selalu membawa tamu negara yang ingin melihat pengelolaan hutan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ke Bukit Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melekatnya nama "Soeharto" di bukit dengan ekosistem hutan tropis dataran rendah itu menyebabkan kawasan itu termasuk "angker" bagi mereka yang berniat melakukan kegiatan yang bisa merusak hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, Soeharto sangat peduli terhadap lingkungan di kawasan itu, sehingga dia mengintruksikan agar departemen kehutanan melibatkan seluruh pemegang hak pengelolaan hutan (HPH) di Kaltim dalam pelestariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kawasan itu terdapat bumi perkemahan yang indah karena terdapat kolam dan pondok-pondok, serta terdapat zona kawasan hutan lindung serta hutan penelitian Universitas Mulawarman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bukit itu juga rawan terbakar karena di bawah lapisan tanahnya terdapat batubara. Kebaran besar di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, misalnya, terjadi pada musim kemarau 1982, 1985, 1993, dan 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi pemberitaan, kebakaran di kawasan Bukit Soeharto akan menjadi berita besar yang juga akan diperhatikan dunia internasional karena keberadaannya yang dikedepankan sebagai contoh pengelolaan hutan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penamaan yang sesuai dengan nama &lt;st1:city st="on"&gt;Presiden&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:State&gt; kedua itu tidak lepas dari sejarah bahwa Soeharto pernah melakukan perjalanan darat dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Balikpapan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; ke Samarinda melintasi bukit tersebut. Penguasa Orde Baru itu juga sangat memperhatikan pengelolaan lingkungan di kawasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian Soeharto itu diimplementasikan dengan berbagai kebijakan, antara lain pada 1976 ketika Gubernur Kalimantan Timur mengeluarkan ketetapan bahwa hutan pada jalur jalan Samarinda-Balikpapan sepanjang 36 km sebagai zona produksi dan zona pelestarian lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1982 keluar Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor 818/Kpts/Um/11/1982 tentang Penetapan Hutan Lindung Bukit Soeharto seluas 27.000 hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan lain dilanjutkan pada 1987 tentang Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 245/Kpts-II/1987 tanggal 18 Agustus 1987; Perubahan status kawasan hutan lindung Bukit Soeharto seluas kurang lebih 23.800 hektar menjadi hutan wisata dan penunjukan perluasannya dengan kawasan hutan sekitarnya seluas kurang lebih 41.050 hektar sehingga luas Hutan Wisata Bukit Soeharto kurang lebih 64.850 hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pada 1991 dikeluarkan ketetapan bahwa kawasan Hutan Wisata Bukit Soeharto seluas 61.850 hektar sebagai kawasan hutan dengan fungsi sebagai Hutan Wisata melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 270/Kpts-II/1991, 20 Mei 1991.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2004 Perubahan fungsi Taman Wisata Alam Bukit Soeharto seluas 61.850 hektar menjadi Taman Hutan Raya melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 419/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika Pemerintahan Orde Baru berakhir, kini kondisi Bukit Soeharto benar-benar merana bukan hanya karena telah dikapling-kapling, baik oleh pejabat maupun pendatang liar, juga oleh kebijakan pemerintah daerah yang cenderung mengabaikan pengelolaan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, Pemkab Kutai Kartanegara pernah merencanakan untuk membuka tambang batu bara besar-besaran di Bukit Soeharto, namun puluhan LSM lingkungan hidup di Kaltim bersatu menolak rencana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Petani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat lingkungan Kaltim Niel Makinuddin mengatakan, keberhasilan pemerintah sebelumnya dalam menjaga kelestarian lingkungan Bukit Soeharto tidak terlepas dari kepedulian sang penguasa Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semangat Soeharto terhadap lingkungan sangat tinggi. Keperduliannya terhadap lingkungan tidak lepas dari latar belakang sebagai seorang anak desa dan petani sederhana," kata Niel Makinuddin di Samarinda, menanggapi keterkaitan Bukit Soeharto dengan penguasa orde baru yang meninggal pada Minggu (27/1) siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Direktur Ekskutif Walhi Kaltim itu mencontohkan bahwa selama pemerintahan Orde Baru, kerusakan kawasan hutan di Indonesia masih bisa terkendali karena diterapkan pola tebang pilih tanam, namun setelah Pemerintahan Presiden Soeharto tumbang dan memasuki era reformasi terjadi kerusakan luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus di Kaltim kerusakan hutan diperkirakan mencapai 500 Ha pertahun sedangkan secara nasional lebih dari dua juta hektare per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, selain para pemegang HPH dibebankan untuk membayar dana reboisasi, penerapan konsep tebang pilij benar-benar diawasi dengan ketat. Tapi, setelah reformasi bergulir, pola itu tidak dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niel yang merupakan salah satu peneliti pada Proyek Pesisir, upaya pelestarian kawasan pantai Kaltim, itu mengatakan, pada satu sisi ada kelemahan dalam pengelolaan hutan pada era Orde Baru, yakni nuansa KKN begitu kental karena HPH hanya dikuasai oleh segelintir konglomerat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, katanya, dari sisi pengelolaan kehutanan, pada masa itu, cukup bagus sehingga banyak perusahaan perhutanan kala itu mendapat penghargaan lingkungan berupa "eko label".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bandingkan dengan kondisi sekarang, laju kerusakan hutan sangat luar biasa, apalagi pengawasan juga kurang," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Bukit Soeharto saat ini terlihat merana. Kerusakan di bukit itu terus meluas, yaitu ditandai dengan terus bertambahnya kawasan perladangan serta meningkatnya jumlah pemukiman, termasuk warung-warung liar di sisi kiri-kanan jalan Samarinda-Balikpapan yang membelah kawasan konservasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era Orde Baru, warga yang bermukim di kawasan itu hanya sekira 2.000 orang. Namun, jumlah warga yang mengkapling serta tinggal di kawasan itu kini diduga mencapai 6.000 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondok dan kolam di kawasan bumi perkemahan juga kini tampak tidak terawat sehingga diselimuti tanaman dan semak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemkab Kutai Kartanegara mengeluarkan izin konsesi batu bara yang diperkirakan sudah masuk dalam kawasan konservasi itu. Beberapa bagian di kawasan itu kini terdapat jalan perusahaan untuk mengangkut batu bara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, menurut catatan pemerhati lingkungan, kawasan itu cukup penting karena menjadi tempat sebaran beberapa jenis flora antara lain Meranti (Shorea spp.), Keruing (Dipterocarpus sp.), Mahang (Hypoleuca), Mengkungan (Gigantea), Hora (Ficus sp.), Medang (Lauraceae), Kapur (Dryobalanops spp.), Kayu tahan (Anisoptera costata), Nyatoh (Palaquium spp.), Keranji (Dialium spp.) dan Perupuk (Laphopetalum solenospermum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman Hutan Raya Bukit Soeharto juga menjadi habitat beberapa jenis satwa langka, antara lain Orangutan (Pongo pygmaeus), Beruang madu (Helarctos malayanus), Macan Dahan (Neofelis nebulosa), Landak (Hystrix brachyura) dan Rusa sambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan hutan di bukit telah pula mengancam keberadaan berbagai jenis satwa langka itu. (T.I014/B/s018/s018) 27-01-2008 21:02:04 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;DUBES AS BERIKAN PENGHORMATAN TERAKHIR PADA SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Duta Besar AS untuk Indonesia Cameron R. Hume melayat dan memberikan penghormatan kepada mantan Presiden Indonesia Soeharto pada Minggu di rumah duka Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangan resmi dari Kedutaan Besar AS di Jakarta, Minggu, Duta Besar Hume menyampaikan rasa belasungkawa dari Pemerintah Amerika Serikat kepada Pemerintah RI dan keluarga mantan presiden Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan bahwa Amerika Serikat menyatakan rasa duka yang mendalam atas wafatnya mantan Presiden Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Presiden Soeharto memimpin &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; selama lebih dari 30 tahun, dimana dalam periode tersebut &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; mencapai pembangunan ekonomi dan sosial yang luar biasa. Di dunia internasional, Presiden Soeharto turut mensponsori pembentukan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), dan memberikan Indonesia peran yang penting dalam Gerakan Non-Blok sambil terus menjalin hubungan erat dengan Amerika Serikat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meskipun terdapat kontroversi mengenai kepemimpinannya, Presiden Soeharto merupakan tokoh besar dalam sejarah yang meninggalkan warisan yang abadi bagi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan wilayah Asia Tenggara," menurut keterangan resmi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana layaknya penghormatan pada para pemimpin &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang lain, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi mengumumkan hari berkabung nasional selama tujuh hari mulai hari Minggu( 27/1) sehubungan meninggalnya mantan Presiden Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, bendera Merah Putih di kompleks Istana Kepresidenan dan Istana Wakil Presiden diturunkan menjadi setengah tiang sehubungan meninggalnya Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Presiden Soeharto meninggal sekitar pukul 13.10 WIB setelah dirawat selama 24 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina karena sejumlah kegagalan organ vital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B/A011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.G003/B/A011/A011) 27-01-2008 20:56:33 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-4445655702139990203?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/4445655702139990203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=4445655702139990203' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/4445655702139990203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/4445655702139990203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/01/berita-pak-harto-4.html' title='BERITA PAK HARTO 4'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-545849650643251832</id><published>2008-01-28T06:52:00.002-08:00</published><updated>2008-01-28T06:53:45.964-08:00</updated><title type='text'>BERITA WAFATNYA PAK HARTO</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;TANGIS TUTUT IRINGI "PERJALANAN" ALM. HM SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 28/1 (ANTARA) - Salah seorang putri mantan Presiden Alm. HM Soeharto, Siti Hardianti Indra Rukmana yang lebih dikenal dengan mbak Tutut terlihat terus menangis sepanjang jalan dari kediaman di Jalan Cendana hingga ke Pangkalan TNI AU Halim Perdana Kusuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana duka juga masih terlihat jelas di wajah para keluarga yang berada di bus di belakang iring-iringan mobil jenasah. Mbak Tutut yang duduk di bangku paling depan tepat di belakang sopir terlihat sesekali menyeka air mata dengan sapu tangan. Sementara duduk disampingnya Sigit Hardjoyudanto hanya duduk diam terpaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dengan mata sembab, Mbak Tutut masih juga menyempatkan melambaikan tangan kepada warga yang berada di sepanjang jalan. Setidaknya saat berada di perempatan Jalan Teuku Umar, Mbak Tutut membalas lambaian tangan warga yang berada di sisi jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Tommy Soeharto yang duduk di bangku nomor dua tepat di belakang Mbak Tutut, hanya diam menatap jalanan. Salah seorang cucu laki-laki almarhum HM Soeharto terlihat duduk di samping Tommy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya saat menunggu pemberangkatan iring-iringan jenasah, Mbak Tutut terlihat terisak menangis. Warga yang kebetulan berada di samping kanan bus tempat mbak Tutut berada ikut terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 7.30 WIB rombongan mobil jenasah dan pengiringnya mulai bergerak meninggalkan kediaman. Mobil Ketua DPR RI Agung Laksono berada di belakang mobil jenasah dan diikuti empat bus lainnya yang diisi keluarga dan kerabat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus pihak keluarga juga menyediakan tiga buah bus lainnya yang bisa digunakan oleh siapa saja. Beberapa petugas bahkan menawarkan kepada para wartawan yang ingin ikut menuju Halim Perdana Kusuma. (J004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.J004/B/D012/C/D012) 28-01-2008 10:57:24 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;IRING-IRINGAN SOEHARTO BERDAMPAK PADA KONDISI LALU LINTAS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 28/1 (ANTARA) - Iring-iringan jenazah Soeharto dan rombongan yang melintas di sejumlah ruas jalan menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma pada Senin pagi( 28/1) menyisakan kemacetan yang panjang setelah dilakukan penutupan jalan selama beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemacetan terlihat mulai dari Jalan Diponogoro, Menteng Jakarta Pusat, Jalan HOS Cokroaminoto, Jalan Rasuna Said, Jalan Soepomo, dan Mampang Prapatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutupan setiap titik pertigaan dan perempatan selama beberapa menit di sepanjang jalan tersebut menyebabkan terjadi penumpukan ratusan kendaraan. Akibatnya banyak karyawan yang terlambat masuk kantor karena kemacetan yang cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemacetan kendaraan juga terjadi di ruas jalan tol seperti yang disampaikan seorang karyawati, Meirina yang terjebak padatnya kendaraan dari Tol Jatibening menuju tol dalam &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; memerlukan 2,5 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada hari kerja biasanya perlu 1,5 jam saja dalam keadaan kendaraan padat, tapi sekarang bisa lebih dari 2,5 jam," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu berdasarkan pantauan ANTARA, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; berderet di jalan sepanjang rute dari rumah duka di Jalan Cendana menuju ke Pangkalan Udara Utama TNI-AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu &lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:City&gt; juga memenuhi sejumlah jembatan penyeberangan orang di sepanjang Jalan Gatot Subroto untuk menyaksikan iring-iringan rombongan yang melintas di jalan tol dalam &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski rombongan melintas sekitar pukul 08.00 WIB, namun &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; mulai memadati jalanan mulai pukul 06.30 WIB. Keramaian ini dimanfaatkan pula oleh sejumlah pedagang asongan yang berjualan diantara para warga &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang ingin melihat rombongan mobil jenazah Soeharto dan rombongan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya minat warga untuk melepas kepergian tokoh yang dicintainya itu, membuat petugas kepolisian sempat kewalahan mengatur warga agar tidak sampai ke bahu jalan karena akan mengganggu gerak formasi rombongan kendaraan pembawa jenazah Pak Harto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kendaraan jenazah HM Soeharto melintasi ruas jalan sekitar Pancoran sekitar pukul 08.15 WIB, sejumlah warga berucap lirih "Selamat Jalan Pak Harto" sambil melambaikan tangan. Banyak juga warga yang berusaha mengambil foto dengan menggunakan layanan di telepon seluler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ibu menitikkan air mata sambil tak melepaskan pandangan dari kendaraan jenazah Soeharto yang melintas cepat di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarlah sebagian orang menghujat dia sebagai penjahat Orde Baru, tapi Pak Harto tetaplah orang yang banyak jasanya bagi negeri ini. Saya bisa berdiri di sini sekarang juga karena Pak Harto, bangsa kita menjadi disegani di mata dunia juga karena beliau," ujar Yuliati, karyawati yang berkantor di Jalan Gatot Subroto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.R022/ B/A011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.R022/B/A011/A011) 28-01-2008 10:47:45 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;DI &lt;st1:place st="on"&gt;TERNATE&lt;/st1:place&gt;, ANAK TK PUN DOAKAN ALMARHUM SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Ternate, 28/1 (ANTARA) - Di Ternate, Maluku Utara (Malut) anak-anak Taman Kanak Kanak (TK) pun ikut berdoa untuk almarhum Soeharto,walaupun mereka belum memahami sepenuhnya mengenai figur Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami bersama anak-anak membaca Al-Fatihah dan berdoa untuk almarhum Soeharto sebagai wujud rasa duka kami atas wafatnya beliau," kata seorang guru sebuah TK di Ternate, Munarti di Ternate, Senin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa SD, SLTP dan SMA di Ternate dalam upacara bendera hari Senin juga melakukan doa khusus untuk almarhum Soeharto, bahkan sebelum memulai pelajaran di kelas, mereka membaca Al-Fatihah untuk almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru di SMPN 2 Ternate, Djafar Nohu, S.Pd mengatakan, Soeharto adalah mantan Presiden dan jasanya terhadap bangsa ini sangat besar, baik sewaktu berkarir di militer maupun saat memimpin bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, wajar kalau rakyat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, termasuk di Ternate merasa berduka atas wafatnya almarhum Soeharto dan mengekspresikan rasa dukanya itu dengan berdoa atau dengan cara lainnya untuk almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di berbagai kantor pemerintah di Ternate, tampak banyak staf maupun pejabat yang meninggalkan pekerjaan, karena menonton siaran televisi nasional mengenai persiapan pemakaman Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sebenarnya ingin melihat langsung pemakaman almarhum di Solo, tapi karena tak sanggup ke &lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;, cukup menonton di televisi saja," ujar Rasyid, seorang PNS di kantor Walikota &lt;st1:place st="on"&gt;Ternate&lt;/st1:place&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu rumah tangga di Ternate banyak pula yang rela tidak ke pasar hanya untuk menonton siaran langsung sejumlah televisi nasional mengenai proses persiapan pemakaman almarhum Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ny. Subaidah misalnya, warga Kelurahan Akehuda Ternate ini, mengaku tidak mau pergi belanja ke pasar, karena ingin melihat almarhum Soeharto yang terakhir kalinya walaupun hanya melalui televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Presiden Soeharto wafat di Rumah Sakit Pusat Pertamina Minggu siang (27/1) sekitar Pkl 13:10 WIB setelah menjalani perawatan di rumah sakit itu sejak tanggal 4 Januari 2008 akibat penyakit yang dideritanya. (T.L002/28-01-2008)/B/A011) (T.L002/B/A011/A011) 28-01-2008 10:40:33 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;KONFERENSI UNCAC HENINGKAN CIPTA UNTUK SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Nus Dua, 28/1 (ANTARA) - Para peserta Konferensi kedua negara peserta konvensi internasional Antikorupsi (UNCAC) di Nusa Dua, &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;, Senin, menyisihkan waktu untuk mengheningkan cipta bagi mantan Presiden Soeharto dalam acara pembukaan konferensi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden UNCAC yang terpilih pada konferensi pertama di Yordania tahun 2006, Sharif Zubi, meminta para peserta konferensi dari 140 negara itu untuk berdiri sejenak mendoakan Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski media cetak dan elektronik saat ini didominasi oleh berita meninggalnya Soeharto dan acara pemakamannya, forum UNCAC tetap menarik perhatian media internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pembukaan yang dimulai pukul 10.00 WITA diikuti dengan pemilihan Presiden UNCAC untuk penyelenggaraan konferensi kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti tradisi sebelumnya, ketua tim delegasi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menjadi tuan ruman, Hendarman Supandji, dipilih menjadi Presiden UNCAC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNCAC yang akan berlangsung mulai 28 Januari 2008 hingga 2 Februari 2008 dibuka oleh Menkopolhukam Widodo AS, menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum UNCAC akan mengevaluasi penerapan konvensi internasional antikorupsi di masing-masing negara peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam forum itu juga akan dibahas tentang bantuan teknis pengambilalihan aset serta sesi khusus untuk membahas "stolen asset recovery" (Star) Initiative yang digagas oleh Bank Dunia. (D013/B/M007) (T.D013/B/M007/C/M007) 28-01-2008 10:38:52 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;VETERAN JAMBI KEHILANGAN KEPERGIAN SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jambi, 28/1 (ANTARA) - Para veteran di Jambi merasa kehilangan atas wafatnya mantan Presiden Soeharto pada Minggu Siang di RSPP Jakarta pukul 13.10 Wib dan dikebumikan Senin siang di pemakaman keluarga Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diungkapkan Wak Nur (78) salah seorang veteran di Jambi, yang mengagumi mantan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Presiden&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; kedua itu, yang selama menjadi Presiden dinilai selalu memberikan perhatian yang besar terhadap para veteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara warga Kota Jambi terlihat cukup antusias dalam menyaksikan siaran langsung dari televisi atas prosesi pemakaman mantan Presiden RI ke-2, HM Soeharto yang dikebumikan di pemakaman keluarga Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah, Senin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantauan dari beberapa rumah warga hingga di perkantoran yang ada Kota Jambi, masyarakat terlihat sangat antusias menantikan siaran langsung prosesi pemakaman dari seluruh saluran televisi nasional sejak Senin pagi, bahkan suasana jalan-jalan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; itu agak lengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak adanya kabar wafatnya Pak Soeharto, Minggu siang (27/1) pukul 13:10 Wib, saya tidak pernah ketinggalan menyaksikan seluruh prosesi sejak dari keluar rumah sakit hingga diterbangkan ke Jawa Tengah," tutur mantan pejuang yang turut berduka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami atas nama seluruh seluruh veteran yang ada di Jambi menyatakan, turut berduka cita atas wafatnya mantan Presiden RI Soeharto, semoga amal dan ibadahnya almarhumah dapat diterima di sisi-Nya, ucap Wak Nur yang turut berduka dan kehilangan kepergian Pak Harto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Wati (21), seorang ibu rumah tangga di Jambi, juga mengakui sejak adanya kabar meninggalnya Soeharto setiap menit kami sekeluarga selalu menyaksikan siaran langsung proses pemakaman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini merupakan sejarah dalam hidup kita, dapat menyaksikan proses pemakaman dari seorang negawaran seperti Pak Harto yang disiarkan langsung melalui saluran televisi nasional," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di beberapa perkantoran pemerintahan Kota Jambi juga terlihat para pegawai negeri setempat dengan tekun menyaksikan jalannya prosesi pemakaman Pak Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dari berbagai sudut &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; tampak bendera Merah Putih, dikibarkan setengah tiang oleh warga Kota Jambi sejak Minggu kemarin hingga pagi ini. (T.PK-NM/B/Z003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.PK-NM/B/Z003/Z003) 28-01-2008 10:31:30 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;JALAN YANG DILALUI JENAZAH SOEHARTO DIPADATI MASYARAKAT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Solo, 28/1 (ANTARA) - Ribuan orang warga Solo dan sekitarnya, sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 10.20 WIB, terlihat memadati pinggir jalan yang akan dilalui iring-iringan mobil jenazah mantan Presiden H.M. Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terlihat memadati kanan-kiri jalan yang akan dilalui iring-iringan mobil jenazah dari Bandara Adisumarmo Solo menuju Astana Giribangun, Kabupaten Karanganyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain warga masyarakat, juga terlihat anak-anak sekolah, baik tingkat sekolah dasar (SD) maupun SLTA. Mereka yang masih mengenakan seragam sekolah itu terlihat berjajar di antara warga yang menunggu kedatangan iring-iringan mobil jenazah Pak Harto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Guru Agama SD Tibela Barat, Mojosongo, Solo, Parlan, masyarakat dan anak sekolah ingin memberikan penghormatan terakhir kepada mantan penguasa Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami datang ke sini tidak ingin berhura-hura, tetapi berbela sungkawa dan memberikan penghormatan terakhir kepada Pak Harto," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, mobil iring-iringan mobil jenazah direncanakan dibagi menjadi dua rute, yakni mobil jenazah dan iring-iringan kendaraan kecil melalui Jalan Adi Sucipto-Jln. A. Yani-Jln. Kolonel Sutarto-Jln.Ir Sutami, Jln Raya Palur-Karanganyar-Giribangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, rombongan pengiring jenazah yang menggunakan bus, setelah Jalan Adi Sucipto dialihkan ke Jalan Slamet Riyadi dan tembus di Jalan Kolonel Sutarto. Hal ini dilakukan untuk menghindari kepadatan lalu lintas di sekitar Terminal Bus Tirtonadi Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memadati jalan yang akan dilalui iring-iringan mobil jenazah, warga &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; Solo yang tidak tahu rute iring-iringan jenazah juga terlihat memadati Jalan Slamet Riyadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara ribuan orang yang berjajar di tepi jalan, terlihat aparat kepolisian dan TNI serta ormas mengamankan jalan yang akan dilewati iring-iringan mobil jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(L.J005*K-HS/B/D007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(L.J005*K-HS/B/D007/D007) 28-01-2008 10:22:39 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;MASSA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt; BERDERET DI JALANAN LEPAS SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 28/1 (ANTARA) - &lt;st1:city st="on"&gt;Massa&lt;/st1:City&gt; berderet di sepanjang jalan yang dilewati rombongan iring-iringan jenazah Soeharto dan keluarga, karena mereka ingin menyaksikan sekaligus melepas jenazah mantan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Presiden&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; itu saat menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan ANTARA, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; memadati ruas jalan di Taman Suropati Menteng, titik Persimpangan Jalan HOS Cokroaminoto, hingga ke Jalan Rasuna Said Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Massa&lt;/st1:City&gt; di sekitar Taman Suropati sebagian besar adalah anak-anak sekolah dasar dan warga sekitar Menteng yang setiap pagi berolahraga di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biasanya saya olahraga pagi sampai jam tujuh saja, tapi karena kabarnya rombongan keluarga Pak Harto ada akan melintas di jalan ini maka saya pulang agak terlambat untuk melihat secara langsung rombongan yang melintas," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; juga berderet di sepanjang Jalan Rasuna Said, Kuningan. Sebagian besar dari mereka adalah karyawan yang berkantor di kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya memantau dari televisi, begitu diberitakan rombongan sudah berangkat saya dan teman-teman berhamburan ke depan kantor," kata Imam Wibowo, seorang karyawan yang berkantor di gedung Menara Imperium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang petugas keamanan di gedung Menara Gracia, Kliwanto mengatakan secara spontan puluhan orang di kantornya keluar dari ruangan kerja, beberapa juga menyaksikan dari dalam atap gedung bertingkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimanapun orang menghujat Pak Harto, dia tetap seorang mantan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Presiden&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;. Tentu saja di saat-saat terakhir beliau, saya ingin melihat untuk yang terakhir kalinya," ujar Rahmat, karyawan di Plasa Stiabudi, Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang berderet di pinggir jalan tersebut hanya berlangsung beberapa menit karena mereka harus segera kembali ke rutinitas kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai tanggapan dan komentar bermunculan dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang perlahan membubarkan diri. Sebagian orang mengaku sangat kehilangan pria yang disebut Bapak Pembangunan itu, sementara sebagian yang lain berucap kata doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semoga arwah beliau tenang dan keluarga besar Pak Harto tabah. Meski orang banyak yang tidak suka pada Pak Harto, tapi perasaan kehilangan itu tetap ada," ungkap Rahmawati, seorang karyawati yang ditemui di Taman Suropati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmawati mengatakan ia terpaksa masuk kantor lebih siang dari jam kerja biasanya karena sengaja ingin melihat iringan jenazah Soeharto dan keluarga. Perempuan yang berkantor di Jalan Pramuka ini mengaku Soeharto memiliki banyak arti bagi keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada saat dia menjadi Presiden rasanya mencari pekerjaan tidak sesulit sekarang, kondisi keamanan juga sangat kondulsif, harga kebutuhan pokok juga tidak melonjak seperti sekarang," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T. R022/ B/A011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.R022/B/A011/A011) 28-01-2008 09:38:55 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;APEL SENIN PEGAWAI KANTOR GUBMAL HENING CIPTA BAGI SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Ambon&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 28/1 (ANTARA) - Pelaksanaan apel Senin pagi di lingkungan kantor Gubernur Maluku kali ini secara khusus melakukan hening cipta dan doa bersama atas wafatnya mantan Presiden Haji Moh. Soeharto pada Minggu siang (27/1) di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dalam usia 86 tahun. Apel pagi para pegawai Pengprov Maluku yang dipimpin Sekda Said Aseggaf ini sebagai tanda turut berbelasungkawa dan tanda terima kasih atas jasa-jasa serta amal bakti mantan Prsesiden Soeharto yang telah memajukan bangsa dan negara serta rakyat Indonesia di mata dunia internasional. Selain itu Pengprov Maluku juga telah menginstruksikan bagi seluruh jajarannya untuk menindaklanjuti keputusan pemerintah untuk melakukan perkabungan nasional selama tujuh hari. Karo Humas Setda Maluku, Anthon Lekahena ketika dikonfirmasi menjelaskan, Gubernur Albert Karel Ralahalu dijadwalkan hari akan menghadiri upacara pemakaman salah satu tokoh pemimpin dunia ini di kompleks pemakaman keluarga Soeharto di Astana Giri Bangun, Karanganyar Jawa Tengah. Jenderal besar bintang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang juga selaku salah satu pendiri organisasi negara-negara ASEAN ini akan dimakamkan disisi almarhumah Ibu Tien Soeharto di Karanganyar , Jawa Tengah . Pemantauan Antara di Ambon, seluruh gedung kantor pemerintah maupun swasta, TNI dan Polri serta rumah masyarakat menaikkan bendera Merah Putih setengah tiang sebagai tanda turut mengikuti perkabungan nasional selama tujuh hari sesuai instruksi pemerintah. Disamping itu, meskipun berbagai aktifitas berjalan normal namun masyarakat masih tetap antusias mengikuti perkembangan proses pemakaman Soeharto lewat tayangan televisi mulai dari kompleks Cendana menuju lapangan terbang Halim Persanakusuma dan berakhir di Solo, Jateng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(U. L005/ABN01)/B/A011) (T.L005/B/A011/A011) 28-01-2008 09:26:49 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;RATUSAN SISWA SD MENTENG LEPAS ROMBONGAN SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 28/1 (ANTARA) - Sebanyak 400 siswa SDN Menteng I melepas jenazah Soeharto yang melintas di Taman Suropati , Menteng, saat menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambaian anak-anak kelas III hingga VI itu disambut lambaian keluarga Soeharto yang terharu di dalam bus. Salah satunya yang terlihat menangis sambil melambai adalah Situ Hutami Adiningsih atau yang akrab disebut Mamiek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; orang tua murid maupun guru-guru serta warga dewasa yang memenuhi pinggir Taman Suropati pun sebagian besar menitikkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"SD kami punya ikatan batin cukup kuat dengan keluarga pak Harto karena cucu-cucunya adalah siswa SD ini," kata Herawati, guru agama di SD tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengemukakan, para siswa biasanya bersekolah sejak pukul 07.00 WIB hingga 15.00 WIB, namun pada hari Senin sebagian jam pelajaran diganti dengan kegiatan melepas mantan presiden RI tersebut di Taman Suropati yang jaraknya sekitar 500 meter dari sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jam tujuh tadi anak-anak dan para guru berjalan dari sekolah kami di jalan Besuki ke Taman Suropati, untuk melepas Pak Harto," kata Herawati yang mengaku pernah menjadi guru privat cucu-cucu Soeharto selama beberapa tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut dia mengatakan SDN I Menteng akan melakukan doa bersama setelah dhuhur, dan para guru pada Minggu malam telah melayat ke rumah duka di Jalan Cendana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keluarga Soeharto banyak memberi bantuan moril maupun materiil kepada guru dan sekolah kami. maka pada saat-saat terakhir Pak Harto akan dikebumikan, kami lakukan yang kami bisa," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laras, seorang siswa kelas IV, mengaku tidak tahu mengapa dia dan rekan-rekannya diajak ke Taman Suropati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak tahu kenapa harus kesini," katanya. Dia menggeleng ketika ditanya apakah mengenal mantan presiden RI Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Disuruh orang tua melambai," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang warga, Rahma (45), mengaku sengaja menunggu lewatnya iring-iringan yang membawa jenazah Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biasanya saya langsung pulang setelah berolahraga di Taman Suropati, tapi karena katanya ada iring-iringan jenazah Pak Harto, saya ingin lihat langsung," kata warga kelurahan Cikini tersebut, didampingi suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman Suropati, yang terletak di sebelah rumah dinas &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Dubes&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;AS&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; dan Gubernur DKI, tampak dipenuhi warga yang bahkan memarkir sepedamotornya ke tengah taman. (L.R022*A038/B/A011) (L.D016*A038/B/A011/A011) 28-01-2008 08:15:27 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;TEPAT PUKUL 07.00 WIB UPACARA PELEPASAN JENASAH HM SOEHARTO DIMULAI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Tepat pukul 07.00 WIB , upacara pelepasan jenasah mantan Presiden Alm. HM Soeharto dilangsungkan dengan inspektur upacara Ketua DPR Agung Laksono di kediaman almarhum Jalan Cendana No 6 dan 8 &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah upacara militer dan penghormatan kepada jenasah, akhirnya jenazah diusung oleh pasukan pembawa jenasah menuju mobil ambulan yang berada di pertigaan Jl Cendana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjalan sepanjang hampir 300 meter akhirnya jenasah dimasukkan ke dalam mobil bernomor 6703-00 tepat pukul 07.20 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana hening terasa di sekitar lokasi kediaman Jl Cendana Jakarta. Ribuan warga masyarakat terlihat disepanjang jalan yang akan dilalui iring-iringan jenasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum iringan jenazah diberangkatkan, seluruh tamu undangan yang menghadiri upacara persemayaman yang tidak ikut dalam rombongan tersebut dipersilahkan untuk meninggalkan lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya sekitar 15 menit mobil jenash dan iringan yang menyertainya tetap menunggu di Jl Cendana hingga seluruh tamu selesai meninggalkan lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 07.30 WIB iringan jenasah diberangkatkan dari rumah duka Jl Cendana Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iringan dimulai dengan mobil jenasah, kemudian mobil ketua DPR, kemudian diikuti bus keluarga serta bus yang membawa para pejabat dalam &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; buah bus yang disiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak di dalam bus pertama, duduk di bangku paling depan tepat dibelakang sopir adalah Mbak Tutut dan Sigit Harjojudanto. Sementara di bangku kedua Tomy Soeharto dan salah seorang cucu alm HM Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(J004))/B/A011) (Uu.SYS/B/A011/C/A011) 28-01-2008 08:11:13 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;MALAYSIA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt; BERDUKA, WAFAT SOEHARTO JADI HEADLINE HALAMAN SATU&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Kuala Lumpur, 28/1 (ANTARA) - Malaysia turut berduka cita atas meninggalnya mantan presiden Indonesia ke-2 Soeharto dan pemimpin besar ASEAN yang ditunjukkan melalui berita kematiannya menjadi headline koran seperti The Star, The New Straits Times, Utusan Malaysia, dan Berita Harian pada Senin .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harian The Star, koran berbahasa Inggris, menurunkan potret Soeharto berbaju batik coklat dengan kopiah hitam dan judulnya Soeharto Dies, Utusan Malaysia menurunkan foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedang melayat Soeharto didampingi Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut dengan judul "Soeharto Meninggal Dunia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran Berita Harian menampilkan foto Soeharto menggunakan jas dan kopiah hitam dan memberi judul Soeharto Meninggal, koran The New Straits Times menurunkan foto hitam putih close up wajah Soeharto dengan tangan melambai dan judulnya "SUHARTO: A legacy divided".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafatnya Soeharto pada hari Minggu ( 27/1) jam 13.10 WIB membuat kaget rakyat Malaysia karena berita-berita terakhir menunjukkan kesehatan yang lebih baik, bahkan sebagian rakyat Malaysia dan WNI yang ada di Malaysia, mendengar berita Soeharto akan pulang ke rumahnya di Cendana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto bagi rakyat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sangatlah besar peranannya. Hal itu dikemukakan oleh PM Malaysia Abdullah Badawi. Ia memberikan pernyataan setelah kembali dari pertemuan di Davos, Swiss, serta pernyataan Wakil PM Malaysia Najib Tun Razak dan juga mantan &lt;st1:street st="on"&gt;&lt;st1:address st="on"&gt;PM Malaysia Dr&lt;/st1:address&gt;&lt;/st1:Street&gt; Mahathir Mohamad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; mengatakan Soeharto memiliki peranan besar dalam penghentian konfrontasi Indonesia-Malaysia. Selain itu, Soeharto memberikan stabilitas politik di kawasan ASEAN yang memungkinkan negara-negara di kawasan itu dapat melakukan pembangunan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, KBRI Kuala Lumpur akan menyediakan Condolecen Book, buku pernyataan belasungkawa, selama tiga hari bagi rakyat Indonesia, para diplomat, dan rakyat Malaysia di Malaysia yang ingin menyatakan duka citanya atas wafatnya mantan presiden RI Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B/A011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(T.A029/B/A011/A011) 28-01-2008 08:07:46 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;SOEHARTO MEMBUAT BANGGA WARGA KEMUSUK Oleh Bambang Sutopo Hadi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 28/1 (ANTARA) - Apalah arti Dusun Kemusuk, tanpa Soeharto? Tak berarti apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemusuk tak akan berbeda dengan dusun-dusun lain di Indonesia. Karena Soeharto lah, Dusun Kemusuk, yang terletak di Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mendapat tempat istimewa dan kerap disebut-sebut orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Kemusuk pantas berbangga karena Soeharto, Presiden Republik Indonesia (RI) ke-2, lahir di dusun yang terletak sekitar 12 km arah barat Kota Yogyakarta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dusun tersebut pada 8 Juni 1921 lahirlah Soeharto dari rahim Sukirah yang merupakan isteri Kartosudiro seorang petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meskipun berasal dari keluarga petani, Pak Harto berhasil menjadi presiden RI. Itu yang membanggakan kami sebagai warga Kemusuk," kata Suharno (58) warga dusun setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membanggakan karena tidak sembarang orang dapat menjadi presiden. Orang yang menjabat presiden adalah orang-orang pilihan, dan Soeharto pernah menjabatnya selama 32 tahun. "Itu prestasi yang sangat membanggakan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan presiden yang disandang Soeharto mengangkat nama Kemusuk. Dusun kecil tersebut menjadi terkenal, karena berbagai media selalu memberitakan setiap bapak pembangunan itu mengunjungi Kemusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Harto hampir setiap tahun pulang ke Kemusuk, terutama setiap `nyadran` (ziarah kubur leluhur pada bulan Ruwah menurut penanggalan Jawa)," kata Ny Noto Suwito isteri almarhum Noto Suwito adik Soeharto yang tinggal di dusun tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata kerabatnya, Soeharto tidak hanya merupakan sosok pemimpin bangsa, namun juga pemimpin keluarga yang selalu mengedepankan kesederhanaan. Soeharto tidak pernah minta dilayani macam-macam saat pulang ke rumah di Kemusuk, misalnya untuk jamuan makan dan minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Harto itu sangat sederhana. Contohnya, makanan sehari-hari yang disenangi adalah pisang rebus, kacang rebus, sayur pepaya, tiwul dan gathot. Makanan seperti itu `wajib` ada saat beliau pulang ke Kemusuk saat nyekar atau nyadran," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putera almarhum Noto Suwito, Aryo Winoto menyatakan kagum atas kesederhanaan "Pakde"-nya itu. "Pak Harto bagi kami orang yang luar biasa. Kami mengakui dan memahami jika ada orang yang tidak suka dengan Pak Harto, namun banyak juga orang yang suka," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mantan presiden, menurut Aryo, Soeharto tidak mau menjelek-jelekkan orang lain. "Meskipun sering dikatakan dan dituduh macam-macam, Pak Harto tidak mau membalas menjelek-jelekkan orang lain," kata keponakan Soeharto itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap tersebut membuat warga Kemusuk semakin bangga terhadap Soeharto. "Kami sangat bangga, karena dari Kemusuk lahir seorang pemimpin bangsa yang `mumpuni` dalam segala hal. Insya Allah, Pak Harto meninggal dengan khusnul khotimah," kata H Dasiman, tokoh masyarakat Kemusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa bangga itu membuat warga rela menggelar tahlil tujuh malam berturut-turut untuk mendoakan agar Soeharto diampuni dosa-dosanya dan diberikan tempat yang layak di sisi Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami hanya bisa mendoakan semoga arwah Pak Harto diterima di sisi Allah SWT. Pak Harto telah berjasa besar bagi bangsa, negara, dan agama, itu yang membuat kami bangga," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monumen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberikan "tetenger", rumah tempat kelahiran Soeharto di Kemusuk yang kini tinggal puing, rencananya akan dibangun monumen. Sekitar tahun 1995-an, Probosutedjo (adik Soeharto) mempunyai gagasan akan menjadikan rumah tersebut sebagai monumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monumen itu dimaksudkan untuk "tetenger" bahwa di tempat itu pernah dilahirkan seorang anak lelaki yang kemudian menjadi pemimpin besar dan berhasil menjadi presiden selama 32 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleks rumah itu semula ditempati keturunan Mbah Noto Sudiro (kakek Soeharto). Keluarga yang menempati rumah itu kemudian oleh Probosutedjo dicarikan tempat tinggal lain tidak jauh dari Kemusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu rencana pembangunan monumen sudah matang, yang intinya rumah Mbah Noto Sudiro akan dikembalikan seperti aslinya. Pembongkaran pun dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namun, dalam perjalanannya Pak Probo tersandung masalah dan bapak saya (Noto Suwito) yang dipasrahi menyelesaikan berbagai hal terkait pembangunan monumen meninggal dunia," kata Aryo Winoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, menurut Aryo, sampai sekarang rencana pembangunan monumen belum ada kelanjutannya. "Namun, nampaknya Pak Probo tetap akan mewujudkan monumen tersebut," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini di bekas rumah Soeharto dilahirkan itu masih bisa ditemui tembok tebal, sumur tua, dan beberapa bekas bangunan lainnya. Bekas rumah tua itu juga sering didatangi orang yang ingin mengetahui tempat kelahiran Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aryo menambahkan, hampir semua yang kini ada di Kemusuk merupakan bantuan Probosutedjo. Namun orang yang tidak tahu, menganggap semua itu pemberian Soeharto sewaktu menjadi presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, Soeharto tidak pernah memberikan perhatian berlebihan ke dusun tempat kelahiran beliau. Soeharto khawatir nanti dikira hanya mementingkan daerah asal dan keluarganya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oleh karena itu, yang membangun sekolah mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi, lingkungan dusun, rumah keluarga, dan makam di Kemusuk adalah Pak Probo," kata Aryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sendang Pengantin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain rumah, bekas rumah, dan makam leluhur, di Kemusuk banyak tempat yang dulu sering digunakan Soeharto dan sekarang tetap dirawat oleh masyarakat setempat. Di antaranya, Sendang Pengantin yang berada di sebelah timur rumah keluarga almarhum Noto Suwito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sendang Pengantin itu dulu sering dipakai bermain maupun mandi Soeharto semasa kecil. Tentu saja saat itu kondisi sendang belum dibangun permanen seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namun, ketika itu air yang keluar selalu jernih. Sendang Pengantin itu dulunya hanya semacam `suwakan` (kolam kecil). Namun dari situ air terus mengalir jernih," kata Mulyodikromo (84) teman bermain Soeharto semasa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ny Noto Suwito mengatakan, Sendang Pengantin memang erat kaitannya dengan masa kecil Soeharto. "Di situ ada dua sendang atau sepasang, sehingga disebut Sendang Pengantin. Di situlah dulu Pak Harto dan kawan-kawannya sering mandi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, air dari Sendang Pengantin itu juga sering dicari orang yang ingin mencari kesembuhan dari berbagai penyakit. "Katanya sih begitu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat lain yang selalu dikunjungi Soeharto sewaktu pulang ke Kemusuk adalah makam tempat para leluhurnya dimakamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leluhur Soeharto dimakamkan di Makam Sikepoh yang berada di belakang rumah almarhum Noto Suwito dan di Makam Pulerejo yang berada di Gunung Pule, beberapa ratus meter dari Makam Sikepoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kedua makam itu, menurut Aryo Winoto, terdapat pula makam Somenggalan yang dibangun Probosutedjo sebagai tempat pemakaman pejuang warga Kemusuk yang gugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makam Somenggalan dimaksudkan untuk mengenang dan menghargai jasa warga Kemusuk dan sekitarnya yang gugur saat berjuang melawan penjajah," katanya. (U.B015/B/T010/T010) 28-01-2008 07:14:37 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;UPACARA PELEPASAN JENAZAH HM SOEHARTO DIMULAI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 28/1 (ANTARA) - Upacara pelepasan jenazah HM Soeharto yang dilakukan oleh ratusan personel dari TNI AD, &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;AL&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;, AU, Kopassus serta Kepolisian digelar di depan kediaman keluarga mantan Presiden Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta Pusat, Senin pagi .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara pelepasan digelar pukul 06.58 WIB dengan inspektur upacara Ketua DPR Agung Laksono, sementara bertindak sebagai komandan upacara adalah Danrem Jakarta Timur Kolonel (Zeni) Afrianto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya setelah upacara ini digelar, jenazah HM Soeharto akan diberangkatkan ke Halim Perdanakusuma untuk kemudian diterbangkan ke Solo untuk dimakamkan di Astana Giribangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan rute yang akan dilalui dari Cendana, akan melalui Jalan Teuku Umar, Jalan Diponegoro, Kuningan, Jalan Gatot Subroto, dan Jalan MT Haryono (tol dalam kota) lewat Cawang hingga Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan wartawan media cetak dan elektronik serta para wartawan foto mengabadikan upacara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dalam sambutannya Inspektur Upacara Agung Laksono yang menerima langsung jenazah dari pihak keluarga untuk diserahkan kepada negara mengatakan, atas nama negara ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Pak Harto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semoga arwah almarhum diterima Allah SWT, diampuni segala dosanya dan diterima semua amal baiknya, dan keluarga yang ditinggalkan dapat tabah serta ikhlas menerima kepergian almarhum," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B/A011) (L.*SYS/B/A011/A011) 28-01-2008 07:13:25 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;WARGA PAMULANG SPONTAN NAIKKAN BENDERA SETENGAH TIANG HORMATI SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 28/1 (ANTARA) - Kendati belum ada pengumuman resmi dari pihak RT, RW maupun kelurahan, ternyata sebagian warga di Pamulang Timur, terutama di kawasan `Pamulang Estate` dan sekitarnya secara spontan langsung menaikkan bendera Merah Putih setengah tiang, tanda berkabung atas wafatnya mantan Presiden Soeharto, Minggu pukul 13.10 WIB di RSPP, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini aksi spontan warga untuk menghormati seorang pemimpin yang telah memberi banyak hal kepada bangsa ini," kata Marlon, 37, warga di RT 02/13 Kelurahan Pamulang Timur, Kecamatan Pamulang, Tangerang, Senin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemasangan bendera Merah Putih setengah tiang itu, dilakukannya sejak sekitar pukul 14.30 WIB, Minggu (27/1) dan tak diturunkannya kendati malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marlon sendiri akhirnya mengetahui dari berita di radio maupun televisi, tentang penetapan hari berkabung nasional selama tujuh hari, sejak Minggu (27/1) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kebetulan sudah ada pengumuman resmi dari pemerintah, berarti bendera setengah tiang ini akan kami pasang selama tujuh hari," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpaku Saksikan Siaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Marlon, seorang warga lainnya, Josepha, 17, juga mengaku terkejut dengan berita wafatnya mantan Kepala &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Negara&lt;/st1:City&gt;  &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; itu, dan begitu terharu menyaksikan berita-berita di sejumlah televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hampir semua anggota keluarga terpaku menyaksikan siaran televisi tentang Pak Harto, baik peristiwa wafatnya di rumah sakit, keadaan di rumahnya di Cendana, juga persiapan pemakaman di Jawa Tengah ," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa anggota keluarga juga, menurut Josepha , langsung masuk kamar berdoa menyambut peristiwa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di halaman rumahnya juga kini telah terpasang bendera Merah Putih setengah tiang, dan dikatakannya akan terus berkibar selama tujuh hari. (M036)/B/A011) (T.M036/B/A011/A011) 28-01-2008 06:05:15 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;AMIEN RAIS IKUT SHALATKAN SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 27/1 (ANTARA) - Mantan Ketua MPR Amien Rais ikut melakukan ibadah shalat jenazah untuk almarhum mantan Presiden Soeharto ketika ia melayat ke Jalan Cendana, Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adalah kewajiban sesama muslim untuk melakukan shalat jenazah. Bahkan Buya Hamka yang pernah dipenjara Bung Karno juga shalat jenazah ketika Bung Karno meninggal," katanya kepada wartawan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, Minggu malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien menuturkan, saat itu Buya juga ditanya wartawan mengapa menshalatkan orang yang pernah memenjarakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buya menjawab, pertanyaan tersebut sudah tidak relevan karena merupakan kewajiban orang Islam untuk melakukan shalat jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya dulu juga pernah berseberangan dengan Pak Harto. Tapi itu sudah menjadi catatan pada masa lalu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mengutarakan harapannya agar masyarakat berbesar jiwa untuk memaafkan mantan penguasa Orde Baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Amien juga mengemukakan akan tidak memaksa dan menyerahkan kepada setiap warga apakah bersedia memaafkan atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ia juga berharap agar Soeharto mendapat perlakuan yang wajar dan tidak berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien Rais yang memakai peci hitam dan baju koko berwarna gelap itu meninggalkan Jalan Cendana pada sekitar pukul 23.30 WIB. (T.M040/B/B010/C/B010) 28-01-2008 00:20:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;SOEHARTO WARISKAN KONTROVERSI SUPERSEMAR Oleh Masduki Attamami&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Yogyakarta, 27/1 (ANTARA) - Kepergian mantan Presiden Soeharto pada Minggu 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB, meninggalkan `warisan` kontroversi Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keaslian isi naskah Supersemar yang sekarang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) masih menjadi kontroversi, karena naskah tersebut hanya kopian dari naskah asli yang dinyatakan hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Budi Hartono SH dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta yang menjadi penasehat hukum Sukardjo Wilardjito (87), salah satu pengawal kepresidenan di Istana Bogor mengatakan pemerintah harus bisa menemukan keberadaan naskah asli Supersemar, mengingat naskah itu merupakan dokumen negara, sekaligus sebagai bukti sejarah yang sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apalagi dengan meninggalnya mantan Presiden RI Soeharto, kini tidak ada lagi pelaku utama Supersemar yang masih hidup, sehingga semakin sulit untuk menemukan keberadaan naskah asli Supersemar," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, pencarian terhadap keberadaan naskah asli Supersemar kini semakin sulit, karena para pelaku sejarah terkait Supersemar, yaitu Soekarno, Soeharto, M Jusuf, Amir Machmud, Basuki Rachmat dan M Panggabean, semuanya sudah meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukardjo Wilardjito yang saat itu berpangkat Letnan Satu (Lettu), dan kini masih bermukim di &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;, merupakan saksi hidup saat Presiden Soekarno menandatangani Supersemar di Istana Presiden di Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Budi Hartono, sejak empat tahun terakhir Sukarjo Wilarjito terus mendesak pemerintah untuk melacak dan menemukan keberadaan naskah asli Supersemar, karena naskah Supersemar yang saat ini tersimpan di ANRI merupakan fotokopi naskah asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terakhir kami memperoleh informasi naskah asli Supersemar disimpan oleh keluarga M Jusuf di suatu tempat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, kebenaran informasi tersebut yakni apakah naskah itu benar-benar asli, sampai sekarang belum bisa dibuktikan, karena pemerintah belum melakukan pengecekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena itu, menjadi kewajiban pemerintah untuk bisa menemukan naskah asli Supersemar, sehingga kontroversi mengenai dokumen negara yang sangat penting ini tidak berlarut-larut, dan fakta sejarah bisa terungkap sesuai kenyataan yang terjadi saat itu," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kesaksian Sukardjo Wilardjito ketika pengakuannya ditulis di berbagai media massa setelah Reformasi 1998 yang juga menandakan berakhirnya Orde Baru dan pemerintahan Presiden Soeharto, perwira tinggi yang hadir ke Istana Bogor pada malam hari tanggal 11 Maret 1966 pukul 01.00 dinihari waktu setempat tidak hanya tiga orang perwira, melainkan empat perwira dengan ikutsertanya Brigadir Jenderal (Brigjen) M Panggabean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pada saat itu, kata Sukardjo, dirinya melihat Brigjen M Jusuf membawa map berlogo Markas Besar Angkatan Darat (AD) berwarna merah jambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga melihat Brigjen M Panggabean dan Brigjen Basuki Rachmat menodongkan pistol kearah Presiden Soekarno, dan memaksa agar Presiden Soekarno menandatangani &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; tersebut, yang menurutnya itulah Supersemar yang tidak jelas apa isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lettu Sukardjo, dirinya yang saat itu bertugas mengawal presiden juga `membalas` menodongkan pistol kearah para jenderal tersebut, namun Presiden Soekarno memerintahkan Soekardjo untuk menurunkan pistolnya dan menyarungkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata dia, Presiden Soekarno kemudian menandatangani &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; itu, dan setelah menandatangani, presiden berpesan apabila situasi sudah pulih, mandat tersebut harus segera dikembalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan bubar, dan ketika keempat perwira tinggi itu kembali ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, Presiden Soekarno mengatakan kepada Soekardjo bahwa presiden harus keluar dari istana. "Saya harus keluar dari istana, dan kamu harus hati-hati," katanya menirukan pesan Presiden Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, yaitu sekitar berselang 30 menit, Istana Bogor sudah diduduki pasukan dari RPKAD dan Kostrad. Lettu Sukardjo Wilardjito dan rekan-rekan pengawal presiden kemudian dilucuti dan ditangkap serta ditahan di sebuah Rumah Tahanan Militer. Selanjutnya mereka diberhentikan dari dinas militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesaksian Sukardjo diragukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kalangan meragukan kesaksian Sukardjo Wilardjito itu. Bahkan salah satu pelaku sejarah Supersemar, Jenderal (Purn) M Jusuf dan Jenderal (Purn) M Panggabean membantah peristiwa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kesaksian AM Hanafi dalam bukunya "AM Hanafi Menggugat Kudeta Soeharto", ia membantah kesaksian Lettu Sukardjo Wilardjito yang mengatakan adanya kehadiran M Panggabean di Istana Bogor bersama tiga perwira tinggi lainnya (Amir Machmud, M Jusuf dan Basuki Rahmat) pada tanggal 11 Maret 1966 dinihari yang menodongkan pistol terhadap Presiden Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata dia, pada saat itu Presiden Soekarno menginap di Istana Merdeka, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; untuk keperluan sidang kabinet pada pagi harinya. Demikian pula semua menteri-menteri atau sebagian besar dari menteri sudah menginap di istana untuk menghindari apabila datang pada esok hari akan terhadang para demonstran yang sudah berjubel di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AM Hanafi sendiri hadir pada sidang tersebut bersama Wakil Perdana Menteri Chaerul Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia seperti ditulis dalam buku itu, ketiga jenderal tersebut yang pergi ke Istana &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; untuk menemui Presiden Soekarno yang telah mendahului berangkat ke Istana Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, menurut Hanafi dari Istana Merdeka Amir Machmud menelepon kepada Komisaris Besar Soemirat, pengawal pribadi Presiden Soekarno di Bogor untuk meminta izin datang ke Istana Bogor. Kata dia, semua itu ada saksinya-saksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyebutkan ketiga jenderal tersebut sudah membawa sebuah naskah, yang kemudian disebut-sebut sebagai Supersemar. Di Istana Bogor sudah ada Presiden Soekarno, tetapi tidak ditodong, dan mereka (para jenderal itu) datang baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di luar istana sudah dikelilingi para demonstran, dan sejumlah tank disiagakan di jalan-jalan di luar kompleks istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat situasi seperti itu, menurut Hanafi tampaknya Presiden Soekarno langsung menandatangani &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyatakan M Panggabean tidak hadir di Istana &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, tetapi berada di Istana Merdeka bersama menteri-menteri yang lain. Mereka yang datang ke Istana &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; tidak ada M Panggabean yang waktu itu menjabat Menhankam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya ANRI tanpa hasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai upaya yang pernah dilakukan Arsip Nasional RI (ANRI) untuk mendapatkan kejelasan mengenai Supersemar tidak pernah membawa hasil. Bahkan lembaga ini berkali-kali meminta kepada Jenderal (Purn) M Jusuf hingga akhir hayatnya (8 September 2004) agar bersedia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, selalu gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANRI juga pernah meminta bantuan Muladi saat menjabat Mensesneg, Jusuf Kalla, dan bahkan meminta DPR-RI untuk memanggil M Jusuf, tetapi tidak pernah terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Perintah 11 Maret yang disingkat menjadi Supersemar adalah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; perintah yang ditandatangani Presiden RI Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu guna mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supersemar ini adalah versi yang dikeluarkan dari Markas Besar Angkatan Darat (AD) yang juga tercatat dalam buku-buku sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kalangan sejarawan &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; mengatakan terdapat berbagai versi Supersemar, sehingga Supersemar yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno di Istana &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; perlu ditelusuri. (U.M008/B/T010/T010) 28-01-2008 00:02:02 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-545849650643251832?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/545849650643251832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=545849650643251832' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/545849650643251832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9087385618481823912/posts/default/545849650643251832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/2008/01/berita-wafatnya-pak-harto.html' title='BERITA WAFATNYA PAK HARTO'/><author><name>Miftah H. Yusufpati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345722823943000259</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IHi7Fa2rma8/SaQ1nvVXWoI/AAAAAAAAAGg/FOjRCIaWnLo/S220/mhy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9087385618481823912.post-8141737184951476117</id><published>2008-01-28T06:52:00.001-08:00</published><updated>2008-01-28T06:52:42.535-08:00</updated><title type='text'>KONSEKUENSI HUKUM DAN KEMANUSIAAN ATAS WAFATNYA SOEHARTO</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Medan&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;, 28/1 (ANTARA) - Pengamat hukum Abdul Hakim Siagian, SH, MHum menilai wafatnya mantan Presiden Soeharto menimbulkan sejumlah konsekuensi, baik dari sisi hukum maupun sisi kemanusiaan. "Wafatnya Pak Harto paling tidak membawa konsekuensi terhadap dua hal, yakni dari sisi hukum dan sisi kemanusiaan," katanya ketika menjawab ANTARA di Medan, Senin. Mantan penguasa Orde Baru itu menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta Selatan, Minggu siang, sekitar pukul 13.10 WIB, setelah menjalani perawatan intensif selama 24 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Siagian, wafatnya mantan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Presiden&lt;/st1:City&gt;  &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; kedua itu secara otomatis akan membuat segala kasus pidananya gugur demi hukum, sementara terkait kasus perdata kini sepenuhnya tergantung para ahli waris apakah akan tetap dilanjutkan atau justru dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kita merujuk kepada hukum Islam, wafatnya Pak Harto membawa konsekuensi bahwa seluruh tanggung jawab orangtua (Pak Harto, red) harus diambilalih keluarga, baik anak laki-laki maupun anak perempuannya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi kemanusian, Abdul Hakim Siagian mengatakan sejarah pasti mencatat keberhasilan Soeharto selama 32 tahun memimpin bangsa dan negara ini, meski juga cukup banyak persoalan yang harus dihadapinya termasuk terkait dugaan KKN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kita tidak bisa memungkiri banyak fakta-fakta pembangunan yang telah dilakukan Pak Harto bersama kabinet-kabinetnya dulu. Dari sisi kemanusiaan kita harus secara proporsional melihat semua persoalan, baik terkait segala kebaikan maupun keburukannya, dan mudah-mudahan kita bisa melupakan semua keburukan beliau," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga berharap segenap bangsa dan negara menjadikan perjalanan panjang mantan Presiden Soeharto menjadi iktibar bagi bangsa ini ke depan, khususnya bagi para pemimpin yang saat ini tengah berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harapan kita, sejarah dan perjalanan hidup Pak Harto menjadi pelajaran berharga bagi para pemimpin bangsa agar benar-benar amanah dalam mengemban kekuasaan. Kita berdoa semoga Tuhan menerima segala kebaikan Pak Harto dan menjadikannya sebagai amal di sisiNya," ujar Siagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir semua persoalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang sama juga dikemukakan Wakil Ketua Komisi A Bidang Hukum dan Pemerintahan DPRD Sumatera Utara, Ir.Edison Sianturi. Menurut dia, wafatnya mantan Presiden Soeharto otomatis menjadi akhir dari semua persoalan yang dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan wafatnya Pak Harto, segala bentuk gonjang-ganjing berkepanjangan yang selama ini mengikuti perjalanan hidupnya terutama sejak beliau lengser dari kekuasaan harus dihentikan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, politisi dari Partai Patriot Pancasila itu menggarisbawahi semua itu tidak berarti kasus-kasus para pejabat atau mantan pejabat yang selama ini dekat dengan Soeharto juga dihentikan. "Bagi Pak Harto semua persoalan sudah berakhir, tapi tentu tidak bagi mereka-mereka yang juga diduga terlibat dalam kasus-kasus Pak Harto," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara anggota Komisi A DPRD Sumut H.Ahmad Ikyar Hasibuan juga sependapat bahwa semua proses hukum pidana terkait mantan Presiden Soeharto harus gugur demi hukum, sementara kasus-kasus perdatanya menjadi tanggung jawab para ahli waris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagai umat beragama kita mendokan semoga beliau ditempatkan Allah SWT di tempat yang baik sesuai amal ibadahnya. Segala sesuatunya sudah selesai bagi Pak Harto dan sebagai umat beragama sudah saatnya kita memaafkan segala kesalahannya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasibuan juga berpendapat, kini sudah saatnya bagi bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; untuk terus menatap ke depan dan tidak lagi harus berkutat dengan persoalan seputar Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih banyak masalah bangsa termasuk program-program pembangunan yang jauh lebih penting daripada kita terus sibuk dengan masalah hukum Pak Harto," ujar politisi dari Partai Demokrat itu. (T.R014/B/M034/C/M034) 28-01-2008 11:07:53 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana; color: rgb(165, 19, 8);"&gt;WALIKOTA JAMBI AJAK WARGA TAHLIL UNTUK SOEHARTO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;"&gt;Jambi, 28/1 (ANTARA) - Walikota Jambi mengajak warga menggelar tahlilan dan pembacaan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yasin serta doa untuk mengiring kepergian mantan presiden Soeharto yang meninggal dunia pada Minggu siang (27/1) pada pukul 13:10 WIB di Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Warga Kota Jambi turut belasungkawa atas meninggal mantan presiden tersebut, untuk warga dapat menyampaikan rasa duka cita itu lewat pembacaan tahlil, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yasin dan doa di mesjid lingkungannya masing-masing," kata Walikota Jambi Arifien Manap, Senin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Kota Jambi menindaklanjuti instruksi pemerintah pusat yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, juga mengajak masyarakat melaksanakan pemasangan bendera setengah tiang sebagai hari berkabung nasional selama tujuh hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa belasungkawa atau meninggalnya mantan penguasa Orde Baru itu juga dilakukan segenap projurit Korem 042/Gapu bersama masyarakat menggelar pembacaan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yasin, tahlil dan doa bersama di Masjid At-Taqwa yang berada di komplek makorem 042/Gapu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dandrem 042/Gapu Kol Inf Sutrisno menyebutkan, sebagai rasa belasungkawa atas meninggalnya Soeharto segenap prajurit Korem 042/gapu menggelar tahlil, pembacaan surat yasin dan doa bersama selama tiga hari berturut-turut, mulai Minggu malam (27/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagi prajurit TNI Soeharto adalah sosok yang menjadi panutan dalam kemiliteran, selain itu jasanya dalam pembangunan bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; juga sangan besar, sehingga sudah seharusnya segenap warga turut berduka atas meninggalnya Pak Harto," kata Sutrisno. (T.M037/B/S015/B/S015) 10:53 28/01/08 (T.M037/B/S015/S015) 28-01-2008 11:07:34 NNNN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9087385618481823912-8141737184951476117?l=cinta-soeharto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinta-soeharto.blogspot.com/feeds/8141737184951476117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9087385618481823912&amp;postID=8141737184951476117' title='0 Komentar'/><link rel='edit' 
